
Andro mengangguk-angguk, oke rupanya dia mau jadi biduan dadakan, buat bayar gue!
"Mendung tanpo udan," bisik Naya sexy di mik miliknya seraya terus menatap Andro penuh makna.
Tunggu, Andro kini mulai salah tingkah di tatap begitu, tatapannya itu loh! Kaya penggoda. Sexy-sexy minta dibawa ke kamar, ehh! Astagfirullah!
"Cihuyyyy!!! Melow--melowww!" seru anak Taruna beserta tamu, Salman menahan kedutan di bibirnya yang hampir berubah jadi senyuman, nyatanya memang Naya tak bisa berpaling dan gagal move on darinya.
Sontak saja mereka berpikir seperti itu, jika Kanaya seorang romantic hopeless. Gamon dari Salman si anak kades, dan ini adalah nyanyian sang mantan yang tersakiti.
"Buat a Salman dan teh Desi, samawah ya..." ucap Naya, suaranya merdu bahkan mengalahkan biduan kampung ternama, sesekali Naya menarik kabel mik agar tak mengganggu langkahnya.
Salman mengangguk bangga, dialah sang arjuna, tak terbantahkan! Naya tak bisa hidup tanpanya.
"Buat mas Andro, terimakasih sudah hadir di hidup Naya di waktu yang tepat. Allah memang tau kapan harus menurunkan makhluk istimewanya,"
Sontak saja semua mata ikut melirik ke arah Andro yang sedang mengunyah makanan, satu kata yang Andro ucapkan, "NJIRRR!" umpatnya, Andro hanya bisa berwajah datar saja sambil mengacungkan sendoknya ke atas, padahal dalam hati ia sudah ingin melempar Naya dengan piring kaya lempar frisbee guguk! Gadis itu, awas saja!
Agus menatapnya penuh dengki, "awas aja orang kota!"
Salman tak ubahnya Agus, wajah yang awalnya sumringah kini penuh kekesalan menatap tamu pak Akbar itu.
Suara keyboard mulai mengalun merdu, bersama suara merdu gadis 19 tahun ini yang menyuarakan isi hati.
"Mendung tanpo udan....ketemu lan kelangan, kabeh kui sing diarani perjalanan..." (mendung tanpa hujan, bertemu dan kehilangan, semua itu yang dinamakan perjalanan...)
Kanaya memejamkan matanya untuk meresapi setiap bait lagu.
"Awa dewek tau duwe bayangan besok, yen wes wayah omah-omahan, aku moco koran sarungan kowe belonjo dasteran, nanging saiki wes dadi kenangan...aku, karo kowe wes pisahan, aku kiri kowe kanan wes bedo dalan." (diri kita pernah punya cita-cita, besok jika waktunya sudah berumah tangga, aku baca koran sarungan, kamu belanja dasteran, tapi sekarang sudah jadi kenangan, aku dan kamu sudah pisah, aku ke kiri kamu ke kanan, sudah beda jalan. )
Lalu suara saxophone melenakan pendengaran siang itu, membawa serta perasaan Naya yang penuh harap tapi kemudian harapan itu pupus, Naya menyampaikannya pada setiap hati manusia yang hadir, termasuk Andro, ibu, dan Salman. Ibu yang sudah berdiri melihat bahkan sampai mengusap ekor matanya.
"Angkat tangannya di atas yokk!" ajak Naya, karena ia pun melakukan hal yang sama, lalu menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan.
"Sedih euy!" ujar Siti, mereka mengikuti apa yang Naya lakukan.
"Mlaku bebarengan, ben dino sayang-sayangan, sedih lan kebahagiaan, dilewati tahun-tahunan...." (Jalan bersamaan, setiap hari sayang-sayangan, sedih dan kebahagiaan, dilewati bertahun-tahunan....)
Kemudian suara kendang mulai ikut campur memberikan irama sedikit gembira dan Naya bergoyang kecil dengan raut wajah yang kini sudah berubah gembira sebagai tanda jika ia sudah baik-baik saja dengan rasa sakit itu, ia sudah berdamai dengan hati dan takdir,
"Sikat yokkk!" imbuh pemain kendang.
"Padu meneng-menengan, bar kui kangen-kangenan, kadang bedo pilihan, nganti pedot balikan...." (ribut tidak tegur sapa, setelah itu kangen-kangenan, kadang beda pilihan, sampai putus nyambung....)
"Aweu--aweu!" ujar pemain kendang sebagai penyanyi latar.
"Mendung tanpo udan....ketemu lan kelangan, kabeh kui sing diarani perjalanan..." Naya membuat gerakan mengajak teman-teman dan para tamu untuk bergoyang bersama, langsung saja beberapa pemuda--pemudi dan bapak-bapak yang sudah bersiap dengan goyangan dan sawerannya ikut naik menyerbu panggung. Bahkan yang tak kebagian tempat di atas menari di bawah panggung.
"Hoa---hoeeee!" seru semuanya sambil berjoget ria, suasana berubah jadi nge-beat dan gembira.
"Joget semua!!!" ajaknya, irama musik semakin nge-beat dengan tabuhan kendang dan alat musik modern. Anak-anak Taruna melakukan gerakan kompak nan serempak.
"Awa dewek tau duwe bayangan besok, yen wes wayah omah-omahan," tanpa diduga Naya membuat gerakan tangan menembak dan mengedip genit pada Andro.
"Aku moco koran sarungan kowe belonjo dasteran," tangan Naya menunjuk Andro lalu bergantian ke arah dirinya sambil tersenyum usil, tentu saja Andro langsung terkesiap, siapa juga yang tak baper apalagi di depan umum begitu, siapapun dapat melihat apa yang sedang dilakukan Kanaya padanya.
"Hm, ngga ada toleransi lagi buatmu Kanaya," gumam Andro. "siap-siap saja, kamu yang memulai maka kamu harus ikuti permainan, saya balas kamu!"
"Nanging saiki wes dadi kenangan...aku karo kowe wes pisahan, aku kiri kowe kanan wes bedo dalan." Naya berjoget dengan satu telunjuk di atas, meski goyangannya tak seerotis para biduan, namun ia berhasil mengajak semuanya bernyanyi dan bersenang-senang.
"Padu meneng-menengan, bar kui kangen-kangenan, kadang bedo pilihan, nganti pedot balikan....Awa dewek tau duwe bayangan besok, yen wes wayah omah-omahan, aku moco koran sarungan kowe belonjo dasteran. Nanging saiki wes dadi kenangan...aku karo kowe wes pisahan, aku kiri kowe kanan wes bedo dalan."
"Hoa---hoeee yakkk!" seru mereka gembira, Kanaya berhasil menjadi bintangnya hari ini. Nikahan Salman dan Desi, tapi ialah yang menjadi ratu wanna be nya.
Lembaran uang mulai dikibarkan, sesekali para pemuda menggoda namun Naya tak terperdaya, ia langsung menyambar saja dengan gayanya. Ada beberapa bapak-bapak nakal ingin mendekatinya, ia hanya makin mepet dengan teman Taruna jika ada kesempatan ia merebut lembaran uang sawerannya.
Andro menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan kelakuan Kanaya, sementara Salman sudah dirundung kalut nan emosi.
"Apa-apaan kamu Naya, kamu pikir bisa bikin saya panas kaya gitu?!" Salman mengalihkan pandangan dengan hati yang sudah berapi-api.
__ADS_1
Musik berakhir dan para tamu pun turun dari paggung, setidaknya penampilan barusan adalah ajang pembuktian diri bagi Naya, bukti jika ia sudah baik-baik saja, bukti jika ia gadis desa yang memiliki kemampuan bukan hanya bisa bermimpi saja. Plus bonus saweran, lumayan buat bayar Andro, permen upa, dan jajan baso atau seblak!
"Yeee !!! Huaaaa Neng Naya lop yu pulll!" teriak Agus seraya bersiul.
Naya tak kalah senangnya, karena lembaran uang saweran sudah penuh di tangan.
"Hatur nuhun!" Naya membungkuk.
"Enin, ceceu disawer banyak!!!" seru upa berjingkrak-jingkrak.
"Aduh neng Naya, suaranya meni sae pisannnn!" puji host.
"Mau nambah lagi ngga lagunya?" tanya host.
"Lagi! Lagi! Lagi!!!!" teriak Agus dan kawan-kawan, membuat Naya merasa tertantang.
"Tah, lagi cenah neng! Gimana?"
"Oke, satu lagi ya?! Mau apa?!" tanya Naya pada teman-teman perempuannya.
"Laleurrr hejoooo!" teriak mereka.
"Hahaha, si Agus eta mah!" tawa mereka.
"Sembarangan!" desis Agus.
Naya kemudian mengangguk pada personel band dan host, musik mulai kembali mengalun dengan irama beat.
Naya langsung mengambil suara dan bernyanyi, suasana kembali memanas dan riuh.
"Boga kabogoh hayang nu geulis, boga kabogoh hayang nu modis, beungeutna nu mulus siga artis jeung seueur acis!" suara Naya beradu dengan suara para kaum hawa disana, seolah sedang menyuarakan suara hatinya. (punya pacar mau yang cantik, punya pacar maunya yang modis, wajahnya mulus kaya artis, dan banyak uangnya! )
Mereka berjoget ria dengan didominasi suara kendang.
"Gayana mah emang siga sultan, tapi geningan loba samet'an, di samperkeun kalah bebelecetan jeung poho ingetan!" (gayanya memang seperti sultan, tapi ternyata banyak hutang, di hampiri malah kalang kabut dan lupa ingatan! )
"OLOHOKKKK !" teriak para tamu termasuk Agus dan kawan-kawan yang tertawa tergelak. (MANGAP!!!)
"........Laleur hejo, apaaaa?!!!!" tanya Naya kembali.
"LALAKI LIEUR HESE JODO!!!!" teriak mereka kembali. (lelaki ngga bener susah jodoh!!!)
Gelak tawa tercipta disana terhibur dengan suara dan nyanyian Naya, semakin banyak saja saweran untuk Naya bukan hanya dari kaum adam tapi pun emak-emak.
Salman berdehem tak nyaman di tempatnya apalagi saat kini Desi sudah kembali, wajah cantiknya bahkan tak bisa membuat suasana hati Salman membaik.
"Aa kenapa?" tanya Desi.
Salman menggeleng, "aa ganti baju ya, neng!" Desi mengangguk.
Andro menarik senyumannya, Naya memang gadis berbeda, keberaniannya memang patut diacungi jempol.
"Gimana, sudah neng?" tanya host saat lagu berakhir, Naya yang sudah berkeringat mengangguk menyudahi nyanyiannya.
"Okelah kalo mau menyudahi saja, kita kembalikan lagi sama para biduan. Ngga ada niatan mau jadi juniornya teh Neli sama teh Mawar?" tanya host lagi merujuk ke arah kursi biduan yang melambai ramah, sebuah tawaran kerja jadi biduan yang tak terduga untuk Naya, namun Naya menggeleng menolak.
"Oke kalo gitu, silahkan turun *atuh geulis ah*!"
__ADS_1
Naya mengatupkan tangannya lalu turun.
Naya turun dan berjalan, bukan menuju Andro melainkan menuju ibu dan upa yang sudah menatapnya penuh bangga.
"Ye ye ceceu! Dapet uang, upa mau beli gulali, ya ceu ya?!" serunya menarik-narik dress Naya.
"Minum dulu neng, suara ceceu mah emang bagus! Ibu akuin!" puji ibu.
"Bagus suaranya neng Naya!" puji tetangga lain yang berada di dapur. Lalu kemudian Naya ingat akan Andro dan ktp'nya.
"Bu, ceceu ke luar dulu sebentar ya! Ada perlu," tunjuknya ke arah luar.
"Ceceu, upa boleh ikut ngga?" tanya upa. Naya sedikit terkejut, jangan sampai upa tau dengan Andro, pasalnya bocah ini *cepu*.
Naya menarik selembar uang ungu yang masih kusut karena re mas an, lalu memberikannya pada upa, "upa mendingan beli gulali!"
Ibu tersenyum melihatnya, Naya memang tak pernah pelit, apapun yang ia punya selalu diberikan untuk keluarganya terutama upa.
"Yeee, makasih ceu! Upa sayang ceceu!" bocah itu berlari keluar untuk segera membelikan uangnya.
"Hati-hati ilang uangnya, awas kembaliannya lupa!" teriak ibu. Naya memilih jalan ke samping gedung, dimanna disana tak terlalu ramai oleh tamu untuk mendatangi Andro.
*Grepp*!
Naya tertarik oleh seseorang yang tiba-tiba membawanya sedikit menjauh, "eh!"
.
.
.
.
Noted :
\* frisbee : piringan mainan guguk.
\* sae pisan : bagus banget.
\* atanapi : atau.
\* lamun : kalau, andaikata.
\* cenah : katanya.
__ADS_1