
Upa sudah berseru kegirangan padahal jaraknya masih cukup jauh, sejauh pelupuk mata dan dosa sendiri yang tak terlihat.
Hanya saja, euforia pasar malam sudah terasa hingga ke ubun-ubun, pasar malam adalah hiburan rakyat yang memang ditujukan untuk kelas menengah ke bawah. Musik dangdut yang menjadi andalan, pemikat seluruh generasi terdengar jedar-jeder memicu semangat, bikin kuping budeg dan kotorannya berlompatan minta dibeliin tiket komedi putar.
"Mamah cepet ih! Ceceu jalannya lama!" gemas Upa marah-marah melihat ibu dan tantenya yang jalan santuy bak bebek angsa yang lagi nunggu tanggal lahiran.
"Sabar atuh neng," balas teh Marni tersenyum hangat, meski bukan hiburan yang ada di ibukota, namun cukup membuat senang.
Tak ada baju bagus yang dipakai macam mau kondangan, hanya bermodalkan sendal jepit dan jaket saja mereka percaya diri masuk ke dalam kawasan pasar malam, tak takut dicibir orang.
"Whhhooooooo!" teriakan para pengunjung yang bersuka cita dan berpacu dengan degupan adrenalin saat naik ke atas kora-kora mini. Pengaman keselamatan yang minim bahkan nyaris tak ada menjadi bahan pertimbangan Naya untuk naik, mengingat dirinya tengah hamil muda.
Padahal ia sudah gemas ingin ikut naik. Wati menghampiri Naya, "Ceu! Lama ih! Wati nungguin sampe pesek gini idung!"
Teh Marni cengengesan jika sudah dihadapkan dengan Naya dan Wati.
"Ini, dipakein beginian dulu sama ibu!" tunjuk Naya ke arah jaket bagian dalam, dimana panglai (bangle), bawang putih disatukan bersama gunting kuku kecil dicantelkan dalam pakaian Naya.
Wati tertawa, "lupa Wati, kalo kamu teh lagi hamil!" Wati menempelkan telapak tangannya ke arah perut Naya dan mengusapnya bak bola bohlam, "anak ba gong----anak ba gonggg!" jampenya langsung ditepis Naya, "sembarangan, saravv! Anak cowok ganteng nih, pake nyebut anak ba gong!" sewot Naya marah.
"Maksud Wati, jampe biar dijauhkan dari lelembut nakal ceu, biar dikira sama lelembut tuh yang keluar malam cuma anak ba gong," jelas teteh.
"Oh, ya pake mukadimah atuh! Mau jampein gitu, gimana ngga kaget tiba-tiba disebut anak ba gong!" gerutu Naya, memang kurang aj ar Wati, cowok secakep Andro disebut ba bbiii hutan.
"Kemana dulu nih?!" tanya Wati.
"Jajan dulu lah, Naya pengen jajan aja Wati..." ujar Naya, Wati sudah mengedarkan pandangan ke seluruh sudut area ini.
"Mau aromanis, kacang rebus, jagung rebus, baso ikan, suki-suki atau minuman bandrek, Nay?" tawar Wati.
"Teteh mau nunggu dulu seseorang ceu, Wati..." timpal teteh yang tak kalah menyapukan pandangan sejak tadi, padahal Upa sudah menggoyangkan tangannya agar segera mengeksplore tempat ini, "hayuk mah...hayuk!!! Hayuk mah!" dengan rengekan khas anak kecilnya.
"Yang kasmaran, gundah gulana, gelisah merana tanpanya!" cibir Naya.
"Teteh mau ketemu siapa?" tanya Arif.
"Kepo!" sahut Wati di kekehi Naya, "tos!"
Akhir-akhir ini sejak ia menikah dengan Andromeda, Arif jadi ngga asik, lebih berpihak pada Andro jika ia salah, sebenarnya kakak kandungnya tuh Naya atau Andromeda sih? Dan malam ini, Arif bertindak layaknya cctv, alarmnya Andromeda.
"Ck. Bukan kepo. Tapi teteh perempuan, perempuan ngga boleh keluar malem sendirian, apalagi kalo cuma berdua sama lelaki yang bukan mahrom!" jawabnya mirip pak ustadz.
"MasyaAllah! Ck---ck!" Wati menggelengkan kepalanya, "kayanya kehadiran kang Andro di keluarga kamu bawa dampak positif buat Arif, nih! Adek kamu jadi insyaf gini!"
Naya tertawa mendengarnya, "awas ya ceu. Jangan macem-macem apalagi naik wahana yang bikin bahaya!" Arif mewanti-wanti.
"Iya ah bawel!" ketus Naya.
Teh Marni terlihat melambaikan tangannya persis mau naik angkot, hingga seorang berpakaian rapi kaya mau foto ktp datang menghampirinya bersama rombongan kurang akhlaknya.
"Dek Marni,"
Yang disapa Marni yang kena mental Naya dan Wati.
"Njirrr adek," cibir Wati menyenggol Naya, padahal Naya sudah mengalihkan pandangannya ke lain arah demi tak bertegur sapa dengan pak Agung.
"Puspa," pak Agung menunduk melihat Upa.
"Salim dulu sama bapak," pinta Marni pada Upa yang malah melongo karena dimintai salim takzim pada seorang Agung. Puspa mengikuti permintaan ibunya di tengah keheranan, disusul Arif.
Tangan besar yang sudah melewati berbagai zaman dan sarat akan pengalaman hidup itu mengusap sayang kepala Upa dan Arif.
"Suthh!" Wati menyenggol bahu Naya, "salim sama calon kakak ipar! Dasar adik ipar ngga ada akhlak." Omel Wati.
"Shhhh---" Naya menthesah lirih melotot pada Wati. Pak Agung menatap Naya penuh hangat layaknya seorang kakak atau ayah, "Nay..." sapanya. Mau tidak mau Naya meringis tersenyum garing, "pak."
"Sehat Nay? Kata bapak kamu, kamu sudah kuliah ya? Wah hebat--hebat," ujarnya ramah, Naya mengangguk lungguh, "iya pak."
"Mau rame-rame gini atau?" tanya pak Agung.
"Ah, kita bertiga misah aja pak!" tukas Naya, ingin membiarkan teh Marni, Upa dan pak Agung jalan bersama tanpa ketiganya, ia mengerti jika maksud dan tujuan teh Marni kesini memanglah untuk ngedate sama pak Agung. Kalau ada dirinya, Wati dan Arif auto gagal pedekate mereka.
"Ceu, sama-sama aja!" jawab Arif, Naya kembali menthesah halus, "shhh! Anak kecil diem. Teteh sama pak Agung udah sama-sama ngerti udah tau yang namanya halal haram, toh ada Upa. Emangnya kamu masih olol leho!"
__ADS_1
"Sembarangan dikatain anak ingusan!" dumel Arif.
"Teh, Naya sama anak-anak ba gong ini duluan!"
"Satt!" Wati sontak membeliak dan mendorong kepala Naya.
"Katanya yang keluar malem cuma anak ba gong, gimana sih?!" pungkas Naya sudah menepuk bahu Arif dan menggandeng Wati, "kemon lah! Kita jajan sampe wereu!" ajaknya.
"Aahhhhh, Upa mau sama ceceu sama mang Arif!" rengek Upa meminta namun Naya sudah pergi bersama kedua bodyguardnya itu.
"Mau jajan apa ceu?"
"Naya mau...."
"Kata mas Andro jangan yang pedes-pedes," pesan Arif sukses membuat Naya meliriknya horor, "tapi disini ngga dagang bubur bayi!"
Wati menyemburkan tawanya. Belum selesai pertengkaran mereka, dunia malam seolah tak mau ketinggalan makhluk-makhluk kamvrettnya.
"Eta teh si Agus?!" tunjuk Wati ke arah gerombolan pemuda yang berjongkok berjamaah di dekat wahana kincir kurung, sambil rokok'an ditemani secangkir kopi susu instan yang diseduh dalam wadah cup mineral.
Naya dan Arif mengedarkan pandangan ke arah telunjuk Wati, "iya, kenapa emangnya? Emang kamu selama disini belum ketemu a Agus?" tanya Naya, Wati menggeleng, "ngga ada waktu. Ngga penting juga..." jawab Wati so simpel.
"So sibuk, so penting!" cibir Naya.
"Halahh, bilang aja pangling...kamu suka!" goda Naya.
"Enak aja. Si Ganteng Arab gundulnya Wati lebih ganteng daripada Agus!"
"Ngga usah halu dapetin arab gundul, yang udah-udah juga ngga bener kaya teh Marni. Udah paling bener si Agus!" Naya membela Agus.
"Ya udah kamu aja kawin sama si Agus!"
"Hih, Naya mah udah punya suami, mau punya anak! Kamu yang masih jomblo," debat Naya.
"Engga. Mendingan Wati nikah sama domba ketimbang nikah sama Agus!" jawabnya.
"Cup! Naya pegang kata-kata kamu!"
"Ceu, jadi ngga jajan teh?!" tanya Arif yang bertanya karena kakaknya ini malah berdebat pasal orang tak penting.
__ADS_1
"Jadi---jadi!"
Arif berjalan duluan.
Hingga kehadiran keduanya menjadi atensi Agus, "neng Naya?!"
"Wati???" Agus berdiri dari jongkoknya, dengan celana jeans pensil yang menggambarkan betapa cungkringnya Agus, ditambah kaos bergambar tengkorak mencerminkan sifatnya yang nehi ia menghampiri Naya serta Wati.
"Neng Naya, ini teh...." Agus menghampiri dan menepuk-nepuk pan tatnya yang tepos takut kotor.
"Ngga usah tunjuk-tunjuk! Alergi ditunjuk sama orang dekil!" sarkas Wati.
"Eleh-eleh neng Wati?! Bener ini teh neng Wati, meni pangling!" ujar Agus, "neng Wati sekarang mah somse lah! Kapan balik dari Saudi?" tanya nya senyam-senyum anjayyy.
"Maaf siapa ya? Ngga kenal?!" Wati mendelik.
"Ah, masa lupa. A Agus atuh neng, Agus *bentar*!" jawabnya semangat nan berbinar, padahal yang diajak ngobrol udah kejijian.
Naya tertawa, dulu Agus dan Wati adalah teman bertengkar semasa Wati belum berangkat ke Saudi.
"Ceu!!" teriak Arif, "hayu atuh!"
"Eh iya hayuk!" Naya segera beranjak diekori Wati, "neng...neng Wati! A Agus kawal mau ya, sama temen-temen sambil ngawal neng Naya!"
"Ngga usah, udah dikawal malaikat sejak lahir!" jawab Wati.
"Eh, kenapa malah ngga diajak, kang Agus hayukkk!" Naya malah mengajak Agus dan langsung dihadiahi cubitan keras dari Wati.
"Kamu ih gelo! Ngapain dipanggil!"
"Awww! Buat nemenin kamu atuh, ngawal! Biar cinlok," kekehnya usil.
"Wati mah ngga perlu ditemenin mati aja dikuburnya sendirian ngga bareng-bareng!"
"Tanggung jawab itu si Agus kesini!" geram Wati panik melihat Agus mendekat.
.
.
.
__ADS_1
.