
Semua jadi rumit karena ide bo doh teh Marni, Andro tak banyak bicara. Marahnya ia, benar-benar dingin nan diam.
Jika sudah begini siapa yang harus ia salahkan? Teh Marni! Kenapa bisa ide bo doh itu datang. Andro segera meminjam motor pak Akbar menyusul Naya yang entah pergi kemana.
Wajar saja ia tau jalanan kampung, baik itu jalan tikus sekalipun.
"Arghhh! Si al!" geram Andro, baru kali ini ia merasa jantungnya benar-benar jatuh, berasa ketauan lagi mendua padahal bukan ia yang begitu.
Naya menyeka air mata yang membuat penglihatannya buram, tanpa suara ia terisak lirih. Naya segera menuju rumah Wati, tempat pelariannya jika memiliki masalah.
Wati sedang menaruh tumpuan tangannya di tembok pembatas dan mengobrol dengan tetangga di sore hari, menceritakan betapa ia beruntung bekerja di Saudi sana.
"Enak atuh, da majikan Wati mah bos kurma. Jadi ampir tiap hari nyomotin kurma, udah bosen lah kalo mau mah Wati dagang korma di Indonesia, masoknya langsung dari kebonnya." ucapannya sendiri memberikannya ide untuk usaha.
Terdengar gerungan suara berat mesin motor, Wati menoleh, awalnya ia tak mengenali namun saat wanita itu turun dan membuka helmnya, Wati cukup terkejut karena Naya datang sambil menangis dan menghambur memeluknya, menumpahkan seluruh isi hatinya yang sudah berceceran kaya sampah.
"Eh, kunaon what happened?!" ia membawa Naya yang sedang memeluknya agar sedikit menjauh masuk ke dalam teras rumah.
Naya hanya terisak dan tak mau bicara, "Wat, kalo ada yang nyari Naya bilang kalo kamu ngga liat Naya atau Naya ngga datang kesini. Kamu juga ngga tau kalo Naya datang ke Giri Mekar!" ia melepas pelukannya dan segera membawa motor trail Andro masuk ke dalam rumah Wati, "bukain, cepet!"
Karena titah Naya yang tergesa terkesan panik, gadis semox itu menurut saja, "iya sebentar! Ini teh ada apa dulu?!" tanya nya, melihat kesulitan Naya mengarahkan kuda besi besar itu, lantas Wati membantu Naya mendorongnya ke dalam.
"Ibu sama adek-adek kamu ada engga?"
Wati menggeleng, "lagi ke warung."
Keduanya sudah masuk lewat pintu dapur, bahkan ban motor Andro menyentuh tungku yang ada di dapur kotor Wati.
"Sebentar lagi pasti ada yang nyari Naya, bilang kamu ngga tau. Seolah-olah kamu ngga tau Naya ada di Giri Mekar!"
"Apa sih?!" Wati menggaruk kepalanya mendadak ketombean seabrek-abrek, "kamu teh bikin ulah apa gimana? Ngga ngajak-ngajak ih!" ujar Wati.
Naya bersandar di tiang-tiang kayu bangunan dapur Wati mencoba menetralkan suasana hatinya yang kacau kaya balon hijau yang meletus.
"Kamu mah bikin masalah terus, Marni!" bapak berdecak kesal, selagi Marni meratapi kesalahannya barusan.
"Maafin Marni, Marni kira teh Naya ngga akan kesini," sesalnya. Ia bertindak tanpa berpikir.
"Ndro, maafin teteh."
"Apa yang kamu pikirin Marni, Andro teh adik ipar kamu!" ujar ibu marah. Marni mengusap wajahnya kasar, "karena itu! Karena Andro adik ipar Marni, Marni mikirnya bisa minta tolong, kalo mas Gemilang atau yang lain sudah pasti mister Ahmed ngga akan percaya kalo Upa anak mereka sekaligus calon suami Marni, karena mereka sudah memperkenalkan diri sebagai pengacara Marni, tapi Andro....ditambah kalo Andro kan ngga mungkin Naya teh khianatin ceceu, adik sendiri."
Andro menthesah lirih, "harusnya teteh jangan bertindak sendiri! Buat apa saya bawa Gemilang untuk mengurus kasus ini, saya ngga peduli apa pikiran Ahmed atau orang lain, tapi Naya?!"
"Bu, kira-kira saya bisa cari Naya kemana?" tanya Andromeda. Beberapa kali ia menghubungi nomor Naya, masih sama seperti tadi pagi, Naya tak meng-aktifkan nomornya.
"Wati, rumah Wati!" ibu mengangguk yakin.
__ADS_1
Arif membuka pintu dapur, ia sengaja masuk lewat pintu dapur karena melihat di depan begitu banyak bapak-bapak yang mengobrol serius.
"Rif, anter mas ke rumah Wati!" Andro segera meminta Arif yang baru saja pulang mengantarnya ke rumah Wati untuk mencari Naya. Bocah lelaki itu bahkan belum sempat masuk kamar mandi.
"Oh boleh mas, mau cari teh Wati mah biar sama Arif aja!"
"Bukan, cari ceceu." jawab Andro segera keluar.
"Ceceu kesini?" tanya nya tak dijawab Andro yang lebih memilih memikirkan istrinya itu.
/////
Wati masih memperhatikan Naya yang meminum kopi susu hangat instan di meja makan, "kamu teh mau cerita atau cuma mau ngopi aja disini?" kesalnya karena sejak tadi Naya hanya diam, jadinya Wati cuma nontonin Naya nyeruput kopi, mendingn nonton drakor kalo gitu!
Naya menatap temannya dengan sorot sinis, "sabar atuh Wati. Naya butuh tenaga buat cerita, tau ngga kamu teh, Naya kesini pake motor langsung dari rumah Jakarta, haus, lapar, capek, ngantuk! Musafir teh harus kamu muliakan!" jawabnya menyebalkan.
"Sok mau cerita apa engga?! Kalo engga Wati mendingan nonton drakor aja lah!"
"Naya menunduk dan memeluk gelas berisi kopi susu hangat, "mungkin Naya lagi baper aja, Naya teh lagi kesel sama mas Andro, sama teh Marni, sama semuanya weh lah! Sebel! Jadinya teh Naya lapar weh, punya nasi engga?!"
Sontak saja Wati mengernyit aneh, "kamu teh mabok kecubung apa karena kebanyakan nyium bau pertalite di jalan?" heran Wati.
"Ah ngga tau ah!" Naya beranjak berdiri kesal.
"Wati! Assalamu'alaikum!"
"Teh Wati!"
Naya membeliak, sementata Wati menjernihkan pendengaran, "si Arif sama mas Andro?"
__ADS_1
"Kalo nanyain Naya, bilang Naya ngga kesini!" Naya langsung berlari ke arah kamar Wati dan bersembunyi disana.
Wati bergegas ke arah pintu depan, "iya?!"
Benar saja, Andro dan Arif berada di luar pinth rumahnya, keduanya datang memakai motor pak Akbar.
"Wat, Naya ada kesini?" tanya Andro, Wati menatap wajah Andro bergantian dengan Arif, sempat diam sejenak kemudian Wati menjawab, "engga...emang ceceu ada kesini? Kapan? Kok Wati ngga tau?!"
Ia memejamkan matanya singkat, terpaksa harus berbohong atas permintaan Naya.
"Iya katanya, Arif juga ngga tau teh..." jawab Arif.
"Ada, barusan. Tapi dia langsung pergi lagi ngga sempat saya kejar, ada sedikit kesalahpahaman, kata ibu, Naya biasanya suka kesini..." jelas Andro.
Wati sungguh merasa bersalah jika terus berbohong, ia akan berdosa telah melancarkan kesalahpahaman yang akan berlarut-larut, tapi di sisi lain ia tak bisa menolak permintaan Naya. Mungkin setelah ini ia akan benar-benar menodong Naya untuk sebuah penjelasan.
"Oh, kemana atuh ya eta budak teh?!" Wati terlihat berpikir meskipun wajahnya tenang, Andro menyipitkan matanya merasa aneh. Tidak biasanya Wati setenang itu. Dimanapun, kapanpun Wati akan selalu paling heboh, apalagi masalah Kanaya.
Jikalau memang gadis ini tak tau, sudah pasti ia akan menghebohkan dunia dengan seruannya, karena sang kawan kabur entah kemana.
Namun sejurus kemudian lirikan mata Wati memberi Andro kode dengan mengarahkannya ke arah pintu rumahnya. Andro menghela nafas lega.
"*Maafin Wati, Nay. Masalah untuk dibicarakan bukan untuk dihindari*. *Lagian Wati ngga berbakat jadi wanita tukang tipu*!"
Baru saja Andro ingin melangkah masuk, terdengar suara orang muntah dari dalam rumah Wati. Dan jelas itu suara Naya.
Wati menepuk jidatnya, "euhh, niat bohong teh ketauan sendiri, hahahah!"
.
.
.
__ADS_1
.