Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 61. MARI MENGUDARA


__ADS_3

Kanaya segera berlari ke arah meja kasir, dilihatnya antrian yang mengular di belakang keranjangnya.


"Astagfirullah mbak, kalo masih mau belanja jangan dihalangin gini keranjangnya, udah ngantri nih dari tadi!" sewot pengunjung di belakang Naya.


"Ibu ngantri dari tadi, saya dateng dari jaman buaya kerokan! Lagian saya juga antri, cuma ada barang yang kelupaan diambil," jawabnya tak mau kalah berkilah. Suruh siapa tidak meniru caranya.


Ia mendelik sinis melihat dua keranjang lain yang dibawa Naya, "lupa sampe 2 keranjang gitu..."


"Namanya juga lupa, mau banyak mau sedikit tetep aja namanya lupa, lupa mau beli amplang, keripik nanas, dodol kedongdong, pastel ikan patin, bolu kemojo, sama kue bangkit..." jawab Naya di depan kasir membongkar isi keranjangnya, si kasir sampai mengulum bibirnya.


"Mas, bayar!" pintanya pada Andro.


"Kamu nih," gumam Andro menggerutu. "Berapa?" tanya Andro.


Kanaya tersenyum lebar dengan 3 kresek besar oleh-oleh yang di dapatnya, sebelum ia benar-benar keluar bersama Andro ia sempat mendengar seorang ibu bertanya pada karyawan toko, "mas merk amplang tenggiri Sinar Bahari tuh dimana ya? Kok dari tadi saya cari-cari ngga ada?"


Naya menggidikan bahunya acuh keluar dari toko.



Ia melirik jam tangan hitam yang cocok di kulit coklatnya, "udah selesai?" tanya nya pada Naya yang sedang menaruh kresek oleh-oleh di kamar bersama koper.



Wanita itu memeriksa lalu menoleh seraya mengangguk, "udah."



"Ya udah, orangnya udah nungguin...mas sempet buat janji sama seseorang kemarin siang,"



"Oh, siapa? Yang kata mas, bule itu?" Naya berlari kecil menghampiri Andro di ruang depan resort, Andro mengangguk denga tangan yang mengetik sesuatu di ponselnya. Selagi memasukan ponsel ke saku, Naya menutup kamar keduanya.



"Yuk!"



Perbedaan tinggi membuat Naya harus sedikit mendongak jika mengobrol berdampingan begini, "mas janjian mau ngapain emangnya?"



"Nanti juga kamu tau," balas Andro singkat.



Tak berapa jauh Andro membawa Kanaya ke sebuah bangunan cukup luas, masih berada di kawasan pantai Lagoi.



Seseorang menyambutnya di luar, nampak ramah dan akrab dengan Andro.



"Andromeda?"



"Ya, Felix?" Andro menyalami seorang lelaki bule berperawakan tinggi, hampir sama dengan Andro.



"Terimakasih, sudah mau menerima permintaan khusus saya..." ujar Andromeda padanya yang ternyata mengerti bahasa Indonesia, ia juga cukup fasih berbahasa nusantara.



"Sama-sama, untuk adik dari Faturrahman Al-Lail saya tidak bisa menolak." Jawabnya.



"Silahkan masuk," kemudian pria bule itu mempersilahkan Andro dan Naya masuk.



"Bagaimana Bintan?" tanya nya berbasa-basi.



"Paradise..." jawab Andro mengangguk singkat menunjukan kepuasannya.



"Istri?" tentu saja ia merujuk pada Naya yang sejak tadi cuma mengangguk sambil mesam mesem sopan, tak mungkin kan nanya istri sama guguk yang ada di kandang?!



"Kanaya," kembali jawaban singkat, padat dan jelas yang diberikan Andromeda. Ngomong apa kek biar panjangan dikit, seolah nafas tuh mubadzir!

__ADS_1



"Felix," ia memperkenalkan dirinya pada Kanaya begitupun Naya yang menyambut perkenalan, "Naya, om."



Ketiganya berjalan lebih dalam menuju sebuah area seperti landasan kecil dengan beberapa bangunan seperti garasi, namun disana terparkir pesawat amfibi super drifter 912, berjenis Challenger Ultralight XL65 berwarna kuning. Pesawat kecil yang hanya bisa ditumpangi 2 orang.



"Wahhaww..." Naya berdecak kagum dengan gumaman pelannya, ia bahkan mengedip irit tak ingin melewatkan memegang bagian badan pesawat ini meski sedikit berdebu.



"Sayang sekali wahana ini ditutup permanen." Ujar Andromeda.



"Ya, karena satu dan lain hal." Jawabnya.



"Jadi...mau sekarang? Waktunya cukup bagus untuk mengudara?" Felix yang hanya memakai celana selutut dan kaos putih itu menepuk bagian pan tat pesawat.



"Oke, boleh..." jawab Andro, "biar istri saya duluan," Kanaya yang tak tau maksud Andromeda cukup terkejut, "ngapain?!" serunya bingung dan panik bercampur jadi satu.



"Mau liat pemandangan dari udara, ngga? Kalo lewat pesawat komersil kamu kan huwek terus, kalo ini kan terbuka, jadi kamu ngga akan huwek?"



Raut wajah Kanaya ragu, ia menatap pesawat yang terparkir di sampingnya dengan Felix yang tersenyum lebar.



"Tidak semua bisa dapet kesempatan ini, karena wisata air adventure flying club ini sudah tutup permanen untuk umum, mas meminta ini secara khusus lewat nama bang Fatur,"



"Tapi...." Kanaya menggigir bibir bawahnya masih ragu.



"Saya pilot berlisensi, dan telah mengudara sejak remaja..." jelas Felix meyakinkan, hingga akhirnya Kanaya mengangguk setuju.




Naya mengangguk paham, lalu setelahnya Kanaya mencermati dan sesekali mengangguk paham dengan setiap penjelasan Felix, Naya juga menjawab semua pertanyaan tentang data diri dengan jujur.



"Oke, mari kita menjelajahi dan nikmati Bintan dari udara!" seru Felix.



Pria berkebangsaan Amerika itu menyerahkan earphone agar dipakai Naya, namun belum wanita ini memakainya, Andro sudah merebutnya duluan dan memasangkannya di telinga Naya, membuat ia mendongak memperhatikan wajah cool itu serius memasangkannya.



"Udah pas?"



Kanaya mengangguk, "mas, aku ngga akan tiba-tiba kecemplung ke laut gara-gara ketiup angin kan?" tanya Naya.



"Kalo kamu kecemplung nanti teriakin aja nama mas 3 kali, mas pasti denger!" jawab Andro tak mau kalah berseloroh, membuat Naya meninju pelan lengannya.



"Ya udah titip dulu," Naya menyerahkan tas miliknya pada Andro yang langsung diterima suaminya.



"Oke, ready?" tanya Felix.



"Ready."



Kanaya menghela nafas panjang dan duduk di bangku belakang yang hanya ada satu saja, safety belt terpasang sempurna di badannya dibantu Felix. Wanita ini menatap Andro dengan sorot mata gugup, panik, takut, sekaligus excited.

__ADS_1



Kemudian Felix naik ke bangku pilot dan mulai menyalakan mesin pesawat.



Deru mesin pesawat terdengar memacu tenaga bersama degupan jantung Naya yang cepat. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan, Andromeda memberinya *dunia dan seisinya* untuk Naya.



Pesawat melaju bersiap melesat terbang, Kanaya berpegangan kuat setengah panik, namun saat sedikit demi sedikit roda pesawat mulai terangkat dan mengambang di udara, adrenalinnya ikut terpacu.



10 kaki, 50 kaki, 100 kaki, Andromeda terlihat semakin kecil di bawah sana, hingga tak sadar Kanaya berseru gembira, "wohoooo! Naya terbang mas!"



Felix terkekeh di tempatnya, "this is beautiful Bintan, a pieces of little heaven----Indonesia...."



Kanaya sampai menganga, kini dibawahnya telah terhampar lukisan indah tangan Tuhan berjuluk Bintan.



Kanaya begitu takjub, suara deru angin dan guncangan kecil tak mengurangi rasa kagumnya, Lagoi Bay, Ria Bintan Golf, Lagoon Resort, Mangrove Bintan, Nirwana Resort, dan beberapa kepulauan di bagian utara Pulau Bintan berada di bawahnya. Pesawat mengudara hingga ketinggian 1400 kaki.



"MasyaAllah!" teriak Naya menjerit di atas sana, ia candu! Candu akan keindahan!



Felix kembali tertawa renyah, ekspresi dan reaksi yang sering ia dapatkan saat mengajak pengunjung mengudara, lalu ia bertanya lewat alat komunikasi, "bagaimana Naya?"



"Seru banget om! Bagus banget, masyaAllah!" jawabnya excited.



Lalu kemudian ada suara lain disana selain Felix.



"*Saya memang tidak romantis Kanaya, saya memang lelaki datar yang bisanya marah-marah...tapi saya tulus menyayangi kamu*,"



Kanaya tertegun, meski raganya tak terlihat oleh Naya, tapi suara itu jelas milik bapak-bapak hotnya. Kanaya terisak terharu, belum pernah ada lelaki, bahkan Salman sekalipun yang membuat Kanaya begitu istimewa seperti Andro, Salman justru membuat luka menganga di hatinya yang membuat Naya kapok untuk jatuh cinta, namun Andromeda kembali menyembuhkannya.



"*I Love you from 1400 feet, mas*..." jawab Naya.



Wanita itu memejamkan matanya merasakan langit diatas daratan Bintan yang diiringi hembusan angin kencang, kedua tangan yang ia rentangkan memberinya perasaan bahagia yang teramat.



Hingga kemudian Felix kembali memutar kemudi ke arah semula dan menutup aksinya dengan gerakan landing di atas air membuat air terciprat ke samping, pesawat kembali ke area semula saat take off.



Sementara Kanaya masih mengudara, Andro terganggu dengan suara dering ponsel Kanaya dari dalam tas istrinya itu.



Lantas ia membukanya, "pak Akbar?" gumam Andro.



"Hallo pak?"



Alis Andro bertaut mendengar kabar dari pak Akbar.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2