
Tangannya bergerak ragu, antara memegang atau tidak. Posisi begini cukup bikin sulit hati, kalo ngga dipegang sayang, kalo dipegang takut udah ada yang punya, tak sopan.
Mungkin bagi sebagian perempuan memegang pinggang seorang lelaki lain sudah jadi hal lumrah, namun bagi Naya yang otaknya masih menganut budaya ketimuran yang begitu lekat, hal itu merupakan tabu. Hingga akhirnya setelah terjadi perdebatan antara setan dan malaikat di dalam otak serta hatinya, Kanaya memilih berpegangan pada handle besi motor pak Akbar saja kaya penumpang ojek, biar dingin dan keras yang penting aman, ngga akan dilempar baskom sama pacar atau pemilik bapak-bapak hot yang memboncengnya itu.
Pak Andro wangi banget gusti, hidungnya bergerak bak guguk pelacak yang berdenyut kalo nemu hero in.
Dengan penerangan lampu motor dan dilatari suara binatang malam, Andro mengantar Upa juga Kanaya ke rumah menggunakan motor pak Akbar.
"Sekarang malam kamu siap-siap, besok saya pulang jam 7 pagi, jadi tak boleh telat!" ujar Andro buka suara.
"Jangan lupa bilang sama orangtua, minta ijin dan restu..." tambahnya diselingi jangkrik dan kodok yang lagi paduan suara membentuk choir.
Pikiran Naya langsung terfokus pada ibu dan Upa, bagaimana jika dirinya benar-benar mengambil pekerjaan di kota, apakah mereka akan baik-baik saja? Bagaimana Upa? Tapi jika tak ia ambil pekerjaan itu---arghhh!
"Besok ya pak? Emhhh---"
"Kalo dadakan besok, kayanya saya ngga bisa...soalnya belum bilang sama ibu sama bapak..." balas Naya setelah sekian lama terdiam. Andro sempat mengerutkan dahinya demi mendengarkan ucapan Naya, ada rasa sedikit kecewa tapi Andro memaklumi itu, ia tak bisa memaksakan kehendak pada orang lain agar sesuai seperti keinginannya, ia sendiri yang terlalu berpikiran jika Kanaya akan menjawab iya dengan cepat, terkesan seperti ia mau culik anak gadis orang, ngajakin anak gadis orang buat kabur, come on dude! Lo berpendidikan dan beradab! Ia hargai keputusan Kanaya yang meminta restu orangtua.
"Sorry-sorry, saya terlalu terburu-buru. Kapanpun kamu mau, datang saja." Andro kembali menjadi orang yang datar ngalahin papan triplek.
Kanaya mengangguk tanpa berbicara, lalu menatap sekitar, dimana siluet pepohonan dimakan gelapnya malam menjadi pemandangan saat melintasi sawah dan kebun ini. Beberapa lampu temaram rumah warga membuat jalanan tak terlalu gelap gulita, keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing termasuk Upa yang tadi begitu cerewet kini malah banyak diamnya, mungkin karena sudah masuk jam tidurnya.
Pagar sederhana diantara jajaran rumah yang berdiri adalah ciri khas rumah Kanaya, siapapun tak akan bingung mencari tempat tinggal gadis ini.
Andro menghentikan laju sepeda motor tanpa mematikan mesinnya di ujung halaman rumah Kanaya dan rumah sampingnya, ia menurunkan Upa terlebih dahulu beserta kresek besar berisi mainan pemberiannya.
"Awas, hati-hati bawanya..." pesan Andro pada Upa.
"Om Andro, makasih banyak ya. Horee! Upa jadi punya banyak mainan baru, bagus lagi! Om Andro tidur di rumah Dena lagi kan? Om Andro mau tinggal disini kan?" mata bening Upa berbinar melihat Andro, mungkin bagi gadis kecil ini Andro adalah sosok ayah barunya.
Andro melemparkan senyuman tipis, "Puspa, jadi anak yang soleha ya, martabaknya dibagi sama yang lain...om Andro pulang dulu ke Jakarta besok pagi,"
__ADS_1
Raut wajah Upa yang awalnya ceria kini meredup, "kenapa? Mamanya om Andro nyuruh pulang ya?"
"Iya." Jawabnya singkat.
Puspa mengangguk mengerti, "tapi om Andro nanti kesini lagi kan?"
"Iya kan ceu?" ia menoleh juga pada Kanaya yang terlihat kebingungan menjawab pertanyaan keponakannya itu, dan hanya bisa nyengir plus mengusap pucuk kepala Upa.
"Iya," jawab Andro lagi.
"Yeeee! Kalo om Andro kesini lagi, nanti Upa anterin lagi nyari impun!"
"Iya. Makasih ya, Upa masuk ya...om Andro pulang," pamit Andro, gadis itu mengangguk seraya kepayahan membawa kresek besar.
"Sini sama ceceu bantuin, pa!"
"Ngga usah ceu! Upa kuat kok!" tolaknya sudah berjalan menuju pagar rumah.
"Iya pak, makasih banyak atas semuanya, udah nolongin saya di acara resepsi, udah mau senengin Upa juga, maaf kalo saya sering nyebelin selama bapak disini...saya takut kualat kalo ngga minta maaf..." tawanya renyah, dan tawa renyah yangencibir itu tak mampu membuat Andro ikut tertawa, justru semakin membuatnya dirundung kekecewaan.
Andro meloloskan nafasnya, bukan dirinya jika harus memaksakan kehendak. Ia merogoh saku celana, lalu menyerahkan lipatan uang pada Naya, "uang kamu,"
Gadis itu mengernyit, ia bahkan sudah lupa dengan kejadian tadi siang.
"Loh, tapi..." namun raut wajah terkejut itu kembali normal, dia tau....Andro tak akan butuh uang receh, kusut, dekil, bau miliknya yang sudah seperti kembalian terasi, kan uangnya lebih banyak. Tangan Kanaya terulur mengambilnya.
"Kalau kamu butuh buat ongkos atau jajan..." ucap Andro lagi, Naya menatap lekat lipatan uang dengan lembaran hijau membalut lembaran lain rapi. Tanpa berkata lagi, Andro membalikan sepeda motornya lalu melaju menjauh dari tempat Kanaya berdiri, semakin jauh dan mengecil, hingga hilang diantara gelapnya malam.
Jadi, bapak-bapak hot ini balik beneran nih? Mendadak hatinya mencelos, kenangan seharian yang berkesan di hati semacam one stand day with Andromeda, right! Ngena di hati, perdebatan mereka mengalahkan perdebatan tergokil sepanjang sejarah. Mungkin wajah Andromeda akan selalu ia kenang sebagai wajah lelaki tampan terkalem yang pernah Kanaya lihat.
Lama Kanaya berdiri, lantas ia masuk ke dalam halaman rumah.
__ADS_1
Pemandangan pertama yang netranya tangkap saat masuk ke dalam adalah Upa beserta hamparan maianan berserakan di tengah rumah, gadis kecil itu begitu heboh menceritakan pengalaman barusan saat ia bersama Andro, mulai dari mobil milik Andro, hingga makan di gerai cepat saji. Ibu dan Arif mengangguk-angguk menjadi pendengar setia seraya menyuapkan martabak pemberian Andro.
"Wah, ceu! Pacar ceceu kaya euy!" seru Arif saat melihatnya masuk ke dalam rumah, "kenalin atuh, ceu. Masa cuma Upa yang dibeliin mainan, aku juga mau atuh!" mulutnya penuh dengan makanan, sontak saja ibu menyikut Arif, "malu-maluin minta!"
Bapak berdehem di kursi melihat mainan dan martabak dengan pandangan meremehkan, "halah, sekarang aja dibeliin nanti mah kalo udah dapet yang di mau, kamu dibuang ceu! Orang kota mah begitu, nganggap gadis desa rendah---bo do, mentang-mentang ngga berpendidikan, jangan mau! Kalo kamu udah pacaran, putusin aja!"
Kanaya mengernyit, "bapak kenapa sih?! Salah makan?"
"Lagian bapak sudah menyanggupi permintaan pak Agung, tuh! Di kamar kamu, pak Agung sudah kirim baju kebaya buat kamu! Cobain dulu!"
Ibu menghentikan kunyahannya, mendadak rasa nikmat hilang dari lidahnya, begitupun Kanaya yang terkejut, "kebaya buat apa?!!"
"Buat lamaran besok lusa!"
Naya terjengkat dan menganga di tempatnya, "apa?!!"
.
.
.
.
.
.
.
Taqabbalallahu Minna Wa Minkum π€π€
__ADS_1
Dengan segala kerendahan hati, atas nama author Sinta Amalia beserta keluarga memohon maaf lahir bathin atas segala kesalahan lisan dan tulisan baik disengaja maupun tidakππ. Minal Aidzin Walfaidzin bagi semua yang merayakan, happy Eid Mubarak all ππ