Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 28. BELUM PAHAM


__ADS_3

Kanaya berjalan mengekor di belakang perempuan cantik yang sejak pagi menjadi tujuannya kabur dari rumah, dari acara lamarannya pagi itu. Mungkin sekarang namanya akan menjadi buronan kampung karena ninggalin pihak lelaki di acara lamaran. Mubadzir'in kue-kue pasar yang sengaja dibeli ibu dari uang pak Agung, biarlah ibu membagikan kue-kue itu untuk para tetangga itung-itung sedekah, biar pak Agung banyak pahala buat bekal di akhirat, kurang baik apa coba Kanaya?!


Tidak seperti yang ada di pikirannya, ia pikir kalo masuk ke rumah tukang kue maka yang akan ia hirup adalah aroma vanilla dan telur, atau minimalnya bau gosong kue saat di oven. Namun kenyataannya pada saat masuk ke dalam ruangan ini justru hidung Naya dimanjakan dengan wewangian woody dan citrus dari pengharum ruangan seperti sedang berada di dalam hutan dengan dikelilingin pohon jeruk serta pinus, Naya bahkan nyaris rebahan sambil gelar tikar terus piknik karena terbuai dengan wangi ruangan.


Gadis itu menyapukan pandangan ke seluruh sudut ruang tamu. Di pojokan kanan dekat sofa berwarna coklat tua ada guci dengan isian bunga kering setinggi pinggang. Meja dari kayu jati yang diatasnya terdapat toples-toples kaca bening berbentuk estetik berisi berbagai permen juga coklat sebagai kudapan menyambut tamu.


Deretan display produk Pawon Kurawa tertata rapi bak piramida menjadi icon ruangan ini, dapat Naya simpulkan jika ini adalah ruangan untuk Shania bertemu dengan para klien atau partner bisnis Pawon Kurawa, dan tempat drop para reseller.


"Kok duduk disitu?" Shania kembali menoleh saat merasa jika Kanaya tak lagi di belakangnya.


Gadis yang baru saja ingin merasakan empuknya sofa itu harus kembali berdiri, belum juga nyicip coklat udah dipanggil!


Ta tandain toples yang isinya penuh! Kanaya melihat sekilas ke arah toples sebelum akhirnya ia menghampiri Shania lagi, "saya kira mau interview disini bu?"


Kan enak tuh, interview sambil ngemil atau rebahan!


Shania tertawa kecil, "kalo masuk kesini jalur orang dalam, ya otomatis interviewnya di dalem," ia tersenyum usil. Kanaya mengernyit sebentar lalu kemudian ia mengangguk-angguk paham jika maksudnya orang dalam ya si bapack-bapack hot satu itu! Ah kemana dia saat ini, apa udah nyampe rumahnya?!


Dan ternyata setelah melewati ruangan barusan ruang kedua ini lebih santai, cozy dan hangat. Sebuah sofa besar dengan bantal warna-warni dan televisi yang segede papan baligho caleg di kampungnya. Terdapat sebuah foto frame besar di dinding yang membingkai potret Shania beserta seorang pria paruh baya tampan lainnya, mungkin foto pre-weed semacamnya, juga kedua frame foto berukuran lebih kecil potret anak kecil lelaki dan perempuan di samping kiri kanan.


"Itu keluarga ibu, ya?" tunjuk Kanaya ke arah potret di dinding, Shania lantas mengalihkan pandangan ke arah yang ditunjuk Naya, "iya."


"Oh. Anak-anak ibu lucu-lucu!" akuinya tersenyum.


"Oh ya? Udah pada gede loh sekarang. Sampe sekarang juga masih lucu kok, pasti kamu nanti suka! Apalagi yang lelaki," goda Shania.


Naya terkekeh kecil, "ayahnya aja ganteng bu, ya pasti anaknya juga ganteng!" ucap Naya namun kemudian ia membeliak menyadari kesalahannya, "maksud saya ayah sama ibunya cantik sama ganteng, kalo buah kan ngga jatuh jauh dari pohonnya, pasti anaknya ganteng..." Naya menunduk memainkan kedua telunjuknya sambil memejamkan mata, jangan sampai Shania tersinggung.


"Maaf bu, maaf ngga ada niat mau suka kok suer..." cicit Naya persis tikus.

__ADS_1


Namun Shania malah mendengus geli melihat kepolosan Kanaya, ia bukan anak kemarin sore yang tak dapat melihat karakter manusia dan menurutnya untuk kesan pertama melihat Kanaya, gadis itu manis----kaya madu satu tong sengaja ditumpahin semuanya ke dalam diri Kanaya biar orang-orang bisa kesirep sama manisnya-----mungkin juga termasuk Andromeda. Kanaya juga begitu polos. Emhhhh! Si bujang seneng yang polos-polos ternyata! Shania kembali melihat Kanaya dengan meneliti, bukan tanpa sebab Andro membawa seseorang padanya. Jarang bahkan langka sekali Andromeda merekomendasikan orang lain terlebih perempuan hanya untuk sekedar bekerja di Pawon Kurawa, Angkringan atau Route '78 karena tanpa harus lewat Shania dan yang lain pun Andro jelas memiliki kuasa untuk langsung merekrut karyawan.


Sudah jelas, maksud Andro merekomendasikan Kanaya adalah untuk tujuan lain yang membutuhkan persetujuannya beserta keluarga.


Kanaya masih memperhatikan lantai marmer yang ia injak, mungkin dibandingkan dengan harga sepatu yang dipakai Kanaya harga marmer itu jauh lebih mahal, hingga akhirnya lamunan Naya buyar dengan kedatangan beberapa orang dari dalam termasuk Andro.


Baik Kanaya atau Andromeda, keduanya sama-sama terkejut. Lain halnya Andro yang diam saja tanpa berkata-kata, ia hanya melampiaskan keterkejutannya dengan tatapan mengernyit seraya melihatnya dengan aneh.


"Pak Andro?" alisnya terangkat setinggi pelangi di langit.


"Busett! Penganten tanah kusir nyangkut dimari," seru Guntur cukup terkejut melihat penampilan Kanaya.


"Bapak gimana sih, katanya mau nungguin saya. Tapi tadi pas saya ke rumah pak Akbar, bapak udah ngga ada?!" semburnya menghampiri Andro tanpa menghiraukan Shania, Gale dan Guntur disana.


"Mana saya tau kamu mau ikut. Kamu bilang kan saya ajak kamu terlalu buru-buru. Lagian saya juga bilang kalo saya pergi jam 7!" ketus Andro.


"Ya kali aja kan bapak baliknya telat-telat dikit, ngopi dulu kek sambil makan gorengan, mejeng dulu di kamar mandi gitu sambil nikmatin alam Giri Mekar," jawabnya tak mau kalah.


Naya melirik Andro, "pak. Bapak kerja disini juga? Ko ngga sopan gitu pake kaos sama celana pendek di depan bos?"


Gale menyemburkan tawanya, "hahahah muka rakyat jelata ya gitu! Ngga pantes jadi bos!" ia sampai memegang perutnya dan terbatuk-batuk.


"Terus kamu pikir, kamu sopan pake kebaya semrawut gitu? Kamu tuh mau ngelamar kerja bukan mau cosplay jadi hantu penganten..." jawab Andro, bukannya sakit hati ia malah tertawa dan mendorong bahu Andro, "si bapak nih kalo ngomong suka kaya pengen di jepret mulutnya pake karet!"


"Saya emang pernah bilang sama kamu pake kebaya, tapi itu cuma bercanda Kanaya bukan buat ditiru, kamu bukan balita yang harus saya kasih tulisan 13 plus kalo lagi ngomong,"


"Bapak nih, makanya kalo saya ngomong di denger dulu....tadi pagi tuh ada accident sedikit yang harus bikin saya cosplay jadi sinden begini! Karena buru-buru jadi belum sempet ganti!" debatnya tak mau kalah.


"Pusing ! Pusing lah gue mah!" ujar Guntur.

__ADS_1


"Ohhhh, jadi bapak Andro ini yang bawa kamu kesini buat kerja?" tanya Shania 11, 12 usilnya.


"Sha, ampun gue!" Guntur menggelengkan kepalanya, belum habis cewek kartini ini berdebat dengan Andro, Shania sebagai orangtua malah memperparah situasi. Emang ni emak-emak satu, biang kerusuhan!


Andro sudah tak aneh dizolimi begini oleh tim absurd keluarganya.


"Saya Galexia," Gale mengulurkan tangannya pada Kanaya.


"Teteh kerja disini apa---"


Gale menggeleng cepat, "oh bukan--bukan! Saya anak momy Shania," jawab Gale membuat Kanaya berohria sambil manggut-manggut persis kakak tua.


"Bentar-bentar! Kamu manggil dia teteh?" tunjuk Guntur pada Gale.


"Terus sama dia manggil bapak?" tunjuknya lagi pada Andro diangguki Kanaya. Gale kembali tertawa kencang.


"Mata lo kelilipan!" tembak Guntur yang justru membuat Kanaya mengucek kedua matanya kencang-kencang, "ah engga perih kok!"


"Ndro," Guntur menepuk jidat yang kulitnya mulai berlipat-lipat kaya lembar kerja siswa.


"Saran onta, lo bikinin nih 3 cewek jadi trio dagelan! Atau trio semaput!"


Lalu ia berlalu dan berteriak, "pak Arka! Siap-siap gila di usia tua!"


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2