
Andro bahkan masih terpejam saat bi Yani berteriak-teriak layaknya anji ng hutan.
"Mas, Mas Andro, itu neng Naya!" jeritnya. Bukan hanya Andro yang mendengar tapi Arka dan Shania ikut terbangun karena kehebohan bi Yani.
Andro menyadari jika Naya sudah tak ada di sampingnya, "Nay, Naya?"
"Mas Andro neng Naya nemu ular! Bibi takut dipatok!" teriaknya lagi. Sontak saja Andro langsung menyingkabkan selimut dan turun dari kasur, istrinya itu! Ck! Belum genap 24 jam disini udah nemu ular? Yang benar saja, masa rumah yang tiap hari dibersiin ada ularnya.
Andro turun dalam keadaan yang masih bermuka bantal, " ada apa bi? Sampe teriak-teriak gini?" tanya Shania.
"Itu bu, neng Naya nemu ular di kebon kosong komplek!" ujarnya, Andro sampai mencuci mukanya di wastafel saking khawatir dengan Naya lalu berlari keluar dari rumah tanpa jaket ataupun mengganti celana treningnya.
"Hah, ular?! Kebon kosong?" seru Shania langsung melirik kotak P3K, takut kalau-kalau kemungkinan terburuk terjadi.
"Emangnya Naya sama bibi mau ngapain ke kebon kosong?" tanya Arka ikut keluar dari kamar.
"Ngambil daun pisang pak, tadi neng Naya ngajakin bi Yani nyari daun pisang buat bikin pepes,"
Bi Yani menyusul Andro.
"Heh, itu kamu turunin pisonya!" ujar si lelaki, sementara si perempuan hanya bisa tertunduk malu dan beranjak berlindung di badan arjuna-nya.
Naya mendengus baru menyadari jika ia kini tengah mengacungkan pisau, namun itu tak lantas membuat Naya menurunkan itu.
"Itu kamu teh benerin bajunya, bukit kemana-mana ngga malu gitu?! Mau-maunya kamu teh diajakin maksiat di kebon kosong begini, meni ngga modal! Jadi cewek teh ngga ada harganya, di hotel kek, di apartemen gituh, gimana kalo yang masuk apem kamu teh ular beneran bukan ularnya dia!" sengak Naya melotot saking gemasnya, remaja jaman sekarang kelakuannya kaya dedemit. Dedemit aja kalah be jat.
Dedemit yang begini nih yang ngga mempan pake al-fatihah sama ayat kursi.
"Kabur beb," bisik si gadis.
Melihat gelagat mencurigakan Naya kembali meninggikan pisau.
Naas sekali nasib keduanya, dipergoki oleh istri magic Andromeda, seorang satpam komplek melintas melakukan patroli rutinnya, melihat Kanaya yang berdiri dari kejauhan membuatnya tak bisa untuk tak menghampiri, pasalnya jarang-jarang penghuni komplek berada disini, pagi-pagi pula!
"Bu! Mbak!" panggilnya.
Ketiganya menoleh ke arah satpam, mendengar kesempatan itu si remaja lelaki mengambil celah dan mencoba kabur sendirian.
Grep!
Apes bertubi-tubi, Kanaya langsung menangkapnya duluan dengan meraih punggung bajunya dari belakang dan menendang kakinya agar tertekuk di bawah agar tak kabur, "sok! Mau kemana siah! Udah enak mah ceweknya ditinggal?!"
Si gadis tak mau kalah, ia berlari untuk kabur, "pak! Tangkap pak, tangkap!!!" jerit Naya, refleks pak satpam menangkap si gadis.
"Kenapa mbak?"
"Ih awww! Itu pak, orang gila, liat tuh bawa-bawa piso!" tunjuk si gadis. Naya menaruh begitu saja pisaunya di bawah kaki, "enak aja orang gila! Justru kalian berdua yang gelo! Maksiat di tempat beginian, kaya hewan aja! Nih pak, saya abis grebek dua anak ini lagi enak-enakan...."
Pak satpam mengangguk, "pantes! Saya beberapa kali liat 2 anak ini masuk komplek kadang-kadang sore, kadang magrib....kalian bukan anak komplek sini?"
"Hah, *kapanggih modal siah*!" umpat Naya berapi-api. (**ketauan belangnya**!)
__ADS_1
"Yuk, masuk pos satpam! Kebetulan ada pak Dewa, beliau penghuni komplek sini, seorang Babinsa," jawab si satpam, si satpam terlihat memanggil rekan lainnya dari walkie talkie.
Andro langsung melangkah ke arah lahan kosong dengan rumput dan belukar bersama bibi, karena disana sudah cukup ramai dengan obrolan.
"Nay?"
"Mas Andro,"
"Mas!"
Andro berjalan dengan mengerutkan dahinya, "kata bibi kamu nemu ular? Kamu ngga apa-apa?"
Naya dan kedua remaja itu saling tatap terutama si remaja lelaki yang sudah dilanda malu.
"Iya, ular mas! Ular lagi kawin! Halalin dulu, baru kamu jamah!" Naya mendorong kepala si pemuda yang ia sergap.
"Ini siapa? Kamu...." tunjuk Andro pada si remaja lelaki.
"Bukannya kamu anak komplek sebelah? Anak pak Muhaimin, kan?"
"Mas kenal?"
"Pak," seorang satpam lain datang, dan kini semakin ramai saja.
"Nih pak! Bawa, dari tadi dia berontak terus," Naya menyerahkan si pemuda pada pak satpam.
"Makasih mbak Naya," ucap kedua satpam itu.
"Sama-sama pak,"
Naya melihat ada benda yang tertinggal disana, "woy! Tuh ketinggalan kon dom kamu, biasakan buang sampah pada tempatnya!" Naya menyepak sesuatu ke arah mereka. Dan hal itu membuat semuanya mengerti apa yang Kanaya lihat tadi.
Bibi menyemburkan tawanya karena gagal paham. Si gadis malu bukan main, ia bahkan sudah menangis, sementara si remaja lelaki menatap Naya penuh kebencian, "apa?!" sengak Naya berkacak pinggang, "kamu mau nandain saya?! Sok tah tandain muka saya, kalo ketemu lagi! Kalo dendam pingin ngajak du-----mmpphhh," Andro langsung membekap mulut istrinya itu, khawatir jika akan jadi masalah di kemudian hari.
"Udah---udah, bawa aja pak ketemu sama orangtuanya di komplek sebelah, blok G no 19..." imbuh Andro.
Ck! Andro berdecak, padahal ia sampai belum apa-apa saking khawatirnya, tapi istrinya itu ternyata pagi-pagi sudah mergoki orang lagi enak-enakan, apes betul kedua remaja itu.
"Kamu ngapain disini?!"
"Eh piso Naya mana?" Naya celingukan mencari pisau yang ia bawa tadi, lalu melanjutkan maksud dan tujuannya tadi, gadis itu nampak mendatangi satu pohon pisang dan mendongak.
__ADS_1
Crakk!
Selembar daun pisang jatuh terpotong dari pohonnya, kemudian Naya mengambil batang dengan hati-hati agar tak terkena getahnya lalu menggusurnya, "yuk pulang, dah dapet!"
"Allahu," Andro menggaruk keningnya.
"Naya mau ambil daun pisang mas, mau masak pepes!"
Bi Yani kembali menyemburkan tawanya, "bibi kira teh, neng Naya beneran nemu ular neng, makanya lari! Eh ternyata ular jaha nam!"
"Bibi maen lari aja ninggalin Naya, kalo Naya ketemu ular beneran gimana?" tanyanya.
"Makanya bi Yani manggil mas Andro, da percuma atuh kalo sama bi Yani mah ngga bisa apa-apa kalo nemu ular beneran,"
"Itu mah demit neng, tapi ngga mempan pake ayat kursi!" keduanya tertawa bersama.
"Pulang!" ajak Andro, "pagi-pagi udah bikin heboh komplek! Matahari aja belum melek,"
"Mas belum mandi?" tanya Naya melihat baju dan tampilan Andro.
"Ya belum lah, kata bibi kamu nemu ular!"
Naya tertawa renyah dengan memperhatikan langkahnya.
"Neng Naya hebat lah, 2 lawan 1 tadi teh?" tanya bibi.
"Iya, Naya teh baru sadar bi, kenapa mereka takut---ternyata Naya mergokin sambil bawa-bawa piso!"
Hahahaha! Kedua wanita ini tertawa terbahak-bahak menceritakan kejadian barusan dalam perjalanan pulang, sementara Andro tak berniat ikut tertawa, hanya menyimak saja obrolan keduanya di samping Naya yang menyeret-nyeret daun pisang.
"Mungkin dia teh takutnya neng Naya mau nyunat si laki-lakinya!"
Hahahaha! Naya dan bi Yani sampai memegangi perutnya karena tertawa, dan Andro masih diam saja.
"Berarti kamu liatin kepunyaan si anak lelaki tadi?" tanya Andro seketika menghentikan tawa keduanya.
"Iya ya, mas! Mata Naya terkontaminasi, Naya bakalan apes ngga ya?!" jawabnya bertanya.
"Hah, neng! Mandi besar neng, takut si al," tawa bi Yani.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.