Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 77. NIAT HATI BALAS DENDAM


__ADS_3

Jadilah disini, setiap sore Andromeda berdiri melipat kedua tangannya di dada kaya penjaga sarkofagusnya Fir'aun, meluaskan kesabaran seluas padang rumput di New Zealand sambil komat-kamit baca istighfar kemudian nyembur istri nakalnya itu yang sedang belajar motor.


Andro menepuk jidat Naya, "yang halus Nay----yang halus lepas koplingnya, astagfirullah!" ucapnya menggertakan gigi.


"Kaki pendek kamu itu ya Allah! Harus mau turun, jadi biar ngga jatoh motornya nimpa badan kan jadinya, dahlah....mas cariin motor matic aja," Naya kekeh menggeleng meskipun lututnya sudah banyak luka goresan dan lebam, hasil seminggu belajar naik motor.


"Engga mas, ah! Kenapa harus beli sih kalo ada yang nganggur di rumah. Jangan kebiasaan apa-apa tuh beli deh! Bisa kok, bisa yok! Beneran ini sekali jadi! Nay udah mahir kok !" kekehnya sumekeh. Orang lain aja bisa, Andro aja bisa lantas kenapa dirinya tidak? Toh sama-sama makannya nasi kok! Bukan kopling!


"Oke, sekali lagi untuk sore ini! Kalo gagal di pengkolan depan, udah. Udah mau magrib," jawab Andro.


"Oke, sip!" jawabnya memberikan jempol di udara bukan hanya 1 tapi dua-duanya.


"Jangan bilang sip! Terakhir kali kamu bilang sip, sipnya kamu tuh nyebur ke got," omel Andro yang sesorean ini cosplay jadi ibu tiri, guru killer plus instruktur galak. Punya murid kaya Naya ia jadi banyak istighfar.


Kanaya mengangguk, telapak tangannya bahkan sudah merah-merah, jujur saja ia pun merasa sakit, perih dan pegal, tapi Naya memiliki kemauan yang tinggi untuk belajar naik motor milik Andro.


Andro memilih bersandar di tembok rumah orang lain yang ada disana, menunggu Naya yang sedang melancarkan mengendarai motor.


Memang dari sisi lelakinya, saat ini Kanaya terlihat gahar nan sexy, meskipun ia hanya memakai celana jeans panjang hitam dan kaos, tak kalah saat ia sedang memakai si merah. Apa jadinya jika Naya ke kampus memakai motornya, ditambah usia Naya masihlah sangat muda! Dan wajah cantik-cantik menggemaskannya.


Kanaya meniup anak rambut yang menghalangi dan menggelitik pipi, "oke." Ia menekan kopling dan menginjak persneling, ia lepaskan dengan lembut seraya menarik gas sepeda motor.


Mesin motor yang menggerung membuat Kanaya melaju jauh, di belokan depan ia pun berakselerasi dengan baik, setelah lutut habis dan siku babak belur akhirnya ia bisa juga mengendarai dan menjinakan motor milik suaminya.


Ia tersenyum bangga dan tertawa, "huhuuuu! Bisa euy!" serunya melewati tiap bangunan rumah mewah di komplek blok G.


Sepertinya esok ia siap turun ke jalanan, awas jalanan! Neng Naya siap turun bergabung! Teriaknya dalam hati. Atau ia mesti bikin gunungan tumpeng saja, buat rayain keberhasilannya mengendarai motor ini.


Naya membelokan arah motornya ke blok lain, area yang sedikit ramai, lumayan buat uji mental dan uji kelayakan di jalanan nanti tanpa sepengetahuan Andro.


"Jajal dikit boleh meren," ia menyeringai. Bila sore begini cukup banyak penghuni rumah yang keluar, termasuk Elyas.


Pemuda bernama Elyas itu boxer'an sambil nongkrong di depan rumah


bersama pasalnya teman sekolahnya yang biasa menjadikan rumah Elyas jadi basecampnya mereka.

__ADS_1


"Yoi, itu mah kalo dipakein NOS mantep lah!" angguknya menyesap vape sambil berjongkok di area carport, pagar besi disana dibuka selebar dunia sampe mentok ke ujung biar bisa nikmatin cuaca sore.


Ia mengecek mesin mobil sedan rakitan milik temannya.


"Gampanglah kalo cc diatas----"


Grunggggg!


"Anjimmmm, siapa itu! Ganggu gue ngomong!" omel temannya, sekilas Elyas melihat sosok wanita yang mengendarai motor trail.


Alisnya bertaut merasa tak asing lagi, tapi dimana?! Sejenak ia terdiam sampai akhirnya ia langsung menaruh vape miliknya dan berlari mengejar ke arah perginya Naya.


"Siapa Yas?" tanya teman-temannya.


"Argghhh! Tuh cewek yang bikin gue dihukum papah!" Mesti gue kejar! Gue bikin perhitungan!"


"Cewek mana nih?! Cantik ngga?! Boleh lah buat gue kan lo dah punya Dita."


Elyas meraup kunci motor milik temannya tanpa menghiraukan pertanyaan yang terlontar, "gue pinjem dulu!"


Elyas langsung menggeber motor temannya cepat mencari Kanaya, ia sempat ragu celingukan mencari arah motor trail itu belok.


Arrgghhh si al!


Ditengah komat-kamit dan sumpah serapahnya yang ia tujukan untuk perempuan pengganggu kenikmatan orang lain, matanya menyipit melihat sebuah motor trail dengan wanita di atasnya tengah berhenti di depan seorang lelaki yang tentu saja Elyas tau.


"Oh well! Lo lagi belajar motor rupanya, oke...i see!" satu ide jahat muncul di kepalanya. Elyas memutar sepeda motornya kembali ke rumah dan meminta teman-temannya untuk ikut dalam aksi jahatnya.


Naya meminta satu putaran lagi pada Andro untuk menutup aksinya sore ini.


"Oke, satu kali lagi. Udah itu kita balik!" ucap Andro. Naya mengangguk dengan ucapan pak guru, ditambah sudah sore ia pun harus mandi dan siap-siap menyiapkan makan malam untuk Andro.


Naya kembali menggeber motornya melaju melewati blok G, namun dari kejauhan ia melihat segerombol pemuda memblokade jalan, seperti sengaja melakukannya.


"Woyyy awas!" seru Naya, rasanya tadi sebelum ini belum ada para pemuda itu, lalu kini apa yang mereka lakukan, apakah sengaja ingin menjegal jalannya, atau semacam begal? Mana ada begal pake boxer!

__ADS_1


Lantas Naya baru mengingat wajah salah satunya, meskipun di gelap subuh namun wajah itu terlihat jelas.


"Itu!"


Pemuda itu menyeringai saat Naya memelankan laju sepeda motornya, "lo pasti masih inget gue!" seringainya bergumam ingin memberi pelajaran pada Naya.


Naya terkejut di tempat sampai ia sedikit oleng, karena rasa keterkejutannya, ia sampai lupa dengan semua ilmu yang telah melekat barusan layaknya cat yang belum kering udah kekikis air lagi.


"Woyyy! Awas!!! Kamu mau nyari mati?!" teriak Naya. Namun Elyas malah tertawa bersama teman-temannya, "takut dia Yas!"


"Woyyy elah! Kalo Naya sampe nabrak, jangan salahin Naya! Naya ngga mau ganti uang rumah sakit!"


Lama kelamaan arah motor Naya semakin oleng tak terkendali, membuat anak-anak barusan ikut mengernyit, "itu dia bukan takut sama kita kayanya Yas, tapi takut...."


"Woyyy ahhh!"


"Bro! Bro! Awas nabrak!" seru mereka.


"Rem woy! Rem!" pintanya ikut panik karena Naya mengarah padanya.


Naya oleng seketika membanting stang ke arah mereka yang seketika berlarian menjauh dari area oleng Naya.


Brakkk!


Pukkk


Naya jatuh dari motor yang ia belokan sehingga menabrak batas bahu jalan dan pohon sawo.


"Aduududuhhhh!" aduh Naya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2