Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA #21. MAKSUD DAN TUJUAN


__ADS_3

Kanaya memang sempat tersentak kaget, mungkin hatinya mendadak jadi yuppy saat seorang pria tampan mengajaknya menikah ia tau jika Andro sedang mengajaknya bercanda. Makanya tak ia masukan ke hati. Sejurus kemudian kalimat balasan Kanaya terlontar, "bisa ae tusuk lidi!"


Andro menarik garis sudut segitiga siku-siku di alisnya, yang benar saja! Diajakin nikah malah nyebut tusuk lidi! Apakah badannya sekurus itu?! Andro melirik badannya sejenak.


Kepalang tanggung Naya menganggapnya candaan, ia tertawa garing saja, biar ngga malu di depan pak Akbar dan bu Dewi. Andro adalah tipe manusia yang kadar gengsinya diatas normal seperti momy Sha, tak pernah bersikap gamblang mirip ayah Arka, lebih suka kasih kode ketimbang terang-terangan. Tapi rupanya gadis satu ini level kepekaannya serendah kodok lagi jongkok.


Andro berjalan ke arah mobilnya, "naik.." pintanya pada Kanaya dan Puspa.


Puspa berseru senang sementara Kanaya hanya diam membisu dengan raut wajah yang tak bisa ditebak. Ada apa? Andro mengernyit. Melihat Dena dan Devi yang melambai, Andro tak bisa membiarkan begitu saja kedua anak itu hanya melongo melihat kepergian mereka, terlebih Puspa sudah menceritakan niatan kemana mereka akan pergi.


"Devi, Dena...yuk ikut! Sekalian mas Andro beliin mainan!" ajaknya.


"Yeee, beli mainan!" seru keduanya.


"Eh, mas tapi takut ngerepotin?" ujar bu Dewi.


"Ngga usah mas, biar aja." Ucap pak Akbar.


"Ngga apa-apa, pak. Toh ngga setiap hari saya bisa kesini," jawab Andro mengangguk ramah.


Andro langsung membuka pintu mobil dan naik ke jok pengemudi sementara Kanaya, Puspa, Devi dan Dena mengambil duduk ke bangku belakang, hal itu membuat Andro berdecak, "kok pada di belakang? Dikira saya supir taxi online? Lagian kalo berempat gitu emangnya muat?" Ia tau sedang nyupirin bocah-bocah, tapi kan bocah yang satu udah bisa diajakin bikin bocah! Ayolah! Dikira mobilnya angkot 75?!


"Kamu di depan! Biar di belakang anak-anak," titah Andro pada Naya. Gadis itu mengangguk patuh, tak mendebat. Dari teras, bu Dewi dan pak Akbar memberikan aturannya pada kedua anaknya, mewanti-wanti agar tak menyusahkan Andro.


"Nay, titip Devi, Dena!" ucapan terakhir bu Dewi diokei Kanaya, "siap bu! Paling-paling kalo nakal ntar Naya tinggalin di emperan toko!" selorohnya tertawa dan masuk ke dalam mobil. Ia menghela nafas panjang dan mengambil posisi nyaman.


"Ngga pernah naik mobil? Pake seatbelt'nya," titah Andro kesal, semuanya harus ia suruh.


"Iya ah! Ngga mungkin mau lewatin lorong waktu yang sampe kepontang-panting gitu kan?" celotehnya.


Andro memutar bola matanya jengah, "biar safety!"


Ketiga anak di belakang sudah ketawa-ketiwi antusias berasa naik wahana yang mengasyikan begitu excited, "wah! Om Andro, ini mobil om Andro?" tanya Upa membuka sendalnya di bawah dan menaikkan kaki ke atas, meraba-raba lampu mobil kaya manusia purbakala, maklumlah anak-anak!.


Andro mengangguk, "iya."


"Waa, bagus ya Pa!" seru Devi memuji. "Iya!" ujar Upa mengangguk cepat.


Kanaya menoleh, "Upa duduk!" ia menatap Upa getir...bahagianya Upa begitu sederhana, ia tersenyum miring, "maaf ya pak, pada ngga mau diem!" ucap Kanaya.


"Ngga apa-apa." Andro menyalakan mesin mobil lalu AC agar anak-anak merasa nyaman.


"Siap semua? Duduk manis ya, mobil mau jalan!" lirik Andro ke arah spion mobil dan tersenyum sekilas.

__ADS_1


Sepanjang jalan menuju sebuah mall, Kanaya hanya diam. Bahkan ia sama sekali tak melirik Andro dan lebih memilih menatap jalanan di luar jendela mobil sambil menopang kepalanya, bersandar di jok mobil.


"Kenapa?" tanya Andro angkat bicara setelah sekian lama mereka diam. Kanaya menggeleng, "engga apa-apa," kemudian ia berdehem dan kembali asik dengan dunianya sendiri.


Andro bukan manusia kepo dengan urusan orang lain yang mesti bertanya mencecar layaknya detektif, ia memilih diam memperhatikan jalan dan beberapa kali melihat anak-anak yang masih sibuk mengagumi kepergian mereka ini. Bahkan Upa tak segan menghayal jika suatu saat nanti memiliki kendaraan ini.


"Nanti Upa mau minta sama mama! Kalo mama udah pulang dari Arab, nanti mama beliin Upa mobil, aahhh!"


"Dena juga mau beli, yang mirip om Andro! 2! Mau minta sama bapak,"


Sementara Devi hanya mengangguki celotehan kedua anak lainnya, sesekali ia menimpalinya dengan berohria.


"Upa yang warna pink,"


"Dena warna biru!"


Tapi Kanaya hanya diam, padahal Andro sudah terkekeh-kekeh mendengar celotehan mereka. Kira-kira apa yang tengah gadis ini pikirkan? Apakah nasibnya esok? Atau hal lain? Oh Ayolah, beritahu Andro!!


Jalanan terlihat ramai memasuki kawasan alun-alun kota dan tentu saja suara dari penumpang di belakang bikin ramai.


"Pak," Kanaya menoleh pada Andro.


"Ya?" akhirnya ia buka suara, Andro mengerjap melihat wajah pucat Kanaya.


"Bisa berenti dulu disini sebentar ngga?" tanya nya. Tentu saja ia mengernyit, "sebentar lagi sampai..."


Saat mobil menepi, secepatnya Kanaya membuka seatbelt dan pintu mobil dengan cepat.


Andro refleks mengikuti karena khawatir, "Nay?"


"Ceceu mabok, om..." imbuh Upa, sontak Andro menoleh pada Upa dengan wajah keheranan, "ha?"


Dan benar saja, Kanaya membungkukan badannya di dekat tempat sampah dan cukup sepi disana.


Andro meledakan tawanya puas kemudian menutup mulut dengan tangan, "astagfirullah, Nay--Nay...saya kira kamu kenapa?!" gumamnya masih di dalam mobil.


"Ceceu, emang suka mabok kalo naik mobil om...jadi harus minum obat anti mabok..." ujar Puspa membuat pengakuan.


Andro turun merasa kasihan, meski masih melipat bibirnya.


Sebuah tangan besar memijit tengkuk Naya, "saya kira kamu kenapa, dari tadi diem...ternyata nahan pusing?" Andro kembali tertawa renyah.


Huwekkkk!

__ADS_1


Kanaya menggidikan bahunya, pertanda meminta Andro melepaskan tangan sambil mencebik karena cibiran Andro.


"Tunggu disini sama anak-anak," ia pergi berlalu dan menghentikan seorang pedagang asongan, membeli air mineral dan kembali.


Saat kembali, ia menemukan Kanaya yang terduduk di pinggiran bahu jalan seraya meredakan rasa mual dan puyeng.


"Nih minum," sebotol air mineral disodorkan ke depan wajah Kanaya, gadis itu mendongak lantas mendesis manakala menemukan Andro yang masih mengulum tawa, "makasih!"


"Kenapa ngga bilang kalo suka mabok? Untung ngga di mobil saya," ia duduk di samping Naya.


"Ck! Bapaknya aja ngga peka!" ketus Naya meneguk air minum.


"Terus saya bawa kamu ke Jakarta mesti pake apa, gerobak?" kini Andro menatap wajah elok yang masih pucat itu. Dengan kernyitan khas Naya, gadis ini masih mencerna kata-kata Andro.


"Mau apa?"


"Katanya mau kuliah, terus gimana saya mau bawa kamu, saya cuma bawa mobil...ngga bawa kereta kencana?" tanya Andro.


"Bapak jangan becanda, tau ngga becandain orang ngga mampu itu dosa?" Kanaya menoleh kembali ke arah jalan seraya meneguk minumnya.


"Saya serius Kanaya," Andro merogoh saku belakang, mengeluarkan dompet dan dari lipatannya keluarlah sebuah kartu nama.


"Semoga bisa bantu,"


...Shania Cleoza Mahesa...


...Pawon Kurawa...


...VICTORI RESIDENCE 29 B,Jakarta...


...Telp. 0212345678...


...Hp. 08123456789...


"Apa ini?" tanya Naya menerima kartu nama berwarna cream dan pink soft dengan gambar animasi wayang kurawa memakai topi chef, rok balet dan rolling pin.


"Kamu coba datangin perempuan itu, bilang kalo saya yang bawa..." ujar Andro menarik senyuman miring. Ia sengaja mengirimkan Kanaya pada momynya, ia yakin jika Momy mengerti maksud dan tujuannya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2