
Andro sengaja membelikan nasi dan lauknya untuk Naya makan, tapi wanitanya itu menolak, "buat mas aja. Mas juga pasti belum makan kan?" dorongnya di kotak plastik ciri khas gerai ternama suka-suka bento.
Padahal ada beef teriyaki dan katsu di dalamnya yang menggugah selera, namun yang diambil Naya hanya saladnya saja.
"Mas beli banyak," tunjuknya ke arah Wati dan keluarga yang juga sedang memakannya, bahkan Andro tak lupa memberi Gemilang dan keluarga Naya, ia memang marah pada Marni namun tak bisa membiarkan kedua orangtua Naya ataupun adik Naya kelaparan.
"Mas, ngga ke rumah lagi buat nemenin bang Gemilang?" tanya Naya, kini ia masih duduk di ruang makan rumah Wati, tamu antimainstream memang Naya ini. Disaat orang-orang memilih duduk di ruang tamu, ia lebih mau di ruang makan saja yang menyatu dengan dapur.
Andro mengusap kening, "mau ngapain ditemenin? Disana banyak orang."
"Ya kali aja mau kawal kasus teteh sampe nikah, eh sampe selesai..." jawab Naya membuat lengu han kasar di mulut Andro, lalu ia merogoh ponselnya dan menghubungi Gemilang, "hallo bang!"
"Bisa tolong suruh Marni kesini? Bilang aja bang, ke rumah Wati.." Andro menatap tajam istrinya yang membeliak, "mas mau ngapain nyuruh teteh kesini?!"
Selera makan yang sedang on fire terpaksa harus hilang seketika setelah menghabiskan 2 piring nasi dan garam, hasil Wati bersusah-susah ria maenan kayu bakar.
"Karena kamu masih akan menyalahkan mas atas kejadian yang bukan salah mas, bukan mas yang harus minta maaf. Tapi kakak kamu," jawab Andro membuka kemejanya yang menyisakan kaos putih saja.
"Mas ngga bawa baju ganti apa?" tanya Naya, kok ngga rela kalo Andro kaosan gitu.
"Engga," ia membuka kotak makan miliknya dan mulai mengeluarkan sumpit.
"Ambilin mas air minum," titahnya pada Naya, yang langsung membuat Naya beranjak dari duduknya ke arah rak piring Wati.
"Ngga usah gelas baru, bekas kamu aja."
Naya menurut patuh, ia menaruh kembali gelas baru dan menuangkan air teh tawar hangat dari teko untuk Andro.
"Kita pulang malam ini," ucapnya tegas tak menerima bantahan.
Marni duduk seperti pesakitan, Andro memang baik, namun jangan pernah mempermainkan orang baik, jika tidak ingin singanya keluar.
Ia mendekap tangan di dhada dengan menatap tajam menusuk ke arah Marni di samping Naya.
"Maafin teteh, ceu." Marni langsung bersimpuh di depan Naya.
"Cuma ide itu yang kepikir di otak teteh biar mister Ahmed pergi. Teteh mah emang orang bo doh, sekolah aja ngga lulus smp, apa-apa bertindak menurut naluri."
"Teteh ngga mau Upa sampe dibawa mister Ahmed, dia memang menjanjikan bertanggung jawab atas Upa. Tapi teteh tau watak mister Ahmed, seperti apa," jedanya menatap ke bawah, bukan sedang mencari uang atau barang, namun ia kembali mengingat kejadian lalu yang membuat rasa trauma kembali menyerang.
Hingga tak sadar matanya sudah tergenang sesuatu yang hangat, "seperti yang kamu bilang, ceu....teteh jatuh ke lubang yang sama, karena apa?! Teteh udah kasih kesempatan buat mister Ahmed waktu hamil Upa lalu kembali lagi padanya, tapi rupanya memang sifat dan tabiat beliau sudah menda rah daging sampe adanya kejadian kemarin, teteh ngga mau jatuh untuk ke 3 kalinya dengan menerima tawaran pernikahan dari mister Ahmed...."
"Mau sampe kapan, teteh terjerat kurungan mister Ahmed, orang yang sudah menyiksa sampe sekarat, tidak menutup kemungkinan besok lusa teteh mati di tangan dia, tidak menutup kemungkinan esok lusa Upa pun menerima perlakuan sama?"
__ADS_1
"Untuk Andro, maaf. Teteh terkesan kurang aj ar! Tidak ada niatan dalam hati teteh untuk merusak rumah tangga adik sendiri...demi apapun!"
"Adik yang selalu jadi garda terdepan untuk teteh, adik yang teteh biayai dan asuh sejak kecil, adik yang selalu ada untuk teteh di kala duka..." air matanya sudah menganak sungai mengingat masa sulit bersama Naya sejak masih dikandung ibu.
"Teteh hanya berpikir cuma sama Andro teteh bisa minta tolong sebagai adik ipar, karena diantara semuanya hanya Andro yang memiliki peluang dipercaya mister Ahmed sebagai lelaki seumuran teteh, Salman tidak mungkin akan mengakui karena jelas ia orang lain, dan teteh tau dia sempat marah sama ceceu saat tau kembang desa satu ini menikah, jadi teteh berpikir tidak mungkin ia mau menolong."
"Itu sebabnya, teteh larang Upa keluar, karena teteh ngga mau mister Ahmed liat muka Upa yang pasti mirip dengannya, teteh ngga berpikir sejauh ini kalo ceceu sampe datang tiba-tiba dan melihat kejadian barusan." Ia menyeka air matanya.
Naya masih terdiam, jujur saja ia bingung saat ini, logikanya mengatakan apa yang dikatakan teh Marni patut dipertimbangkan, namun hatinya mengatakan apa yang dilakukan kakaknya sudah di ambang batas! Hatinya cukup sakit.
"Ceceu sama Andro boleh marah sama teteh, teteh maklumi. Sekali lagi teteh minta maaf."
"Jelas, neng cantik?" tanya Andro pada Naya, sontak saja Naya menepuk lengan Andro karena merona malu.
Naya akhirnya mau pulang ke rumah setelah teh Marni menjelaskan, namun bukan untuk menginap.
"Jadi gimana keputusan finalnya?" tanya Naya pada Andro.
"Mana mas tau, mas udah kasih semua keputusan dan urusan kasus Marni sama Gemilang dan bapak, mas juga kasih bapak hape biar bisa langsung berhubungan dengan Gemilang. Tanpa melalui perantara mas, biar ngga salah paham kaya gini lagi," jawab Andro.
Memang begini pria dewasa, selalu prepare, aware dan berpikir untuk kedepannya, jadi makin sayang!
"Udah makan kamu Nay?" tanya bapak.
"Udah! Nih bawa bekel juga dari Wati!" tunjuknya membawa serta kendi di tangannya dengan warna sedikit gosong di beberapa bagian akibat dari bakaran kayu.
Ibu mengernyitkan dahinya merasa tak asing dengan barang yang dibawa Naya, meski yang jelas bukan abu manusia untuk dilarungkan di laut.
__ADS_1
"Itu teh garem krosok bakar?" tanya ibu berseru. Naya mengangguk cepat, "1000 buat ibu!" jawabnya duduk bersila di ruang dekat tv tanpa digelari karpet.
Arif tertawa keras, "udah basicnya orang susah melarat mah pasti balik lagi kaya orang susah!" dibalas tawa bapak dan teh Marni.
"Ngga bisa hidup tanpa garam!" cibirnya lagi.
Naya mendengus kesal, karena adiknya memang benar!
Andro ikut tertawa tanpa suara melihat Arif yang mencibir istrinya, namun Naya mendekap kendi berisi garam itu, "biarin! Biar cepet kaya, makan sama garem doang!" jawab Naya semakin membuat Arif tertawa puas menggoda kakaknya itu.
"Punteun!"
Diantara keramaian rumah, seseorang datang dan mengucapkan salam.
"Mangga!" seru mereka langsunh menoleh.
"Siapa?"
"Kaya Agung, bu."
Arif langsung bangkit menuju pintu depan.
"Pak Agung, pak...bu...ada pak Agung!"
Naya langsung beranjak dan berlari masuk ke dalam kamar heboh.
.
.
.
__ADS_1
.
.