
Kanaya sudah tak asing lagi berada di dapur, meskipun peralatan yang digunakan sudah modern ketimbang dirinya yang notabenenya bestie keluarga flinstone, tapi Kanaya sukses membuktikan jika ia seorang fast learner.
Gadis itu benar bersungguh-sungguh, tekadnya sekuat beton untuk bekerja. Kabar berita jika Andro membawa seseorang yang spesial ke Pawon Kurawa sampai di telinga personel Kurawa lainnya, siapa lagi jika bukan onta Guntur yang jadi biang gosipnya.
"Sha, jadi dejavu ngga sih?" tanya Leli memperhatikan gadis yang manggut-manggut paham dengan penjelasan Niken dan mulai mencoba memberikan kontribusinya.
Istri Denial itu selalu tampil modis meskipun sebentar lagi akan memiliki cucu kedua.
"Dejavu? Gue? Gale?" tanya Shania.
Lelicia mengangguk, "waktu lo 18 tahun, Gale 18 tahun, sekarang Kanaya 19 tahun...sementara pak Arka waktu nikah sama lo udah diatas 30, Fatur 27, sekarang Andro di usia yang hampir 29 tahun."
"Hm. Lo bener, jadi dejavu...dan satu yang gue sadari Li..." imbuh Shania ikut tersenyum saat disana Niken tertawa bersama Kanaya karena kecerobohan Kanaya.
"Apa?"
"Ternyata lo udah tua." Jawab Shania tertawa, sontak saja Leli tak terima, "si alan! Lo yang tua Sha," serunya sewot.
Kanaya celingukan, ia baru menyadari jika sejak pagi tadi saat Andro menjemput dan mengantarkannya ke tempat produksi Pawon Kurawa, ia belum melihat lagi bapak-bapak hot itu.
Kanaya melepaskan aprron dari badannya, sementara rekan lain mengeluarkan bekal makan dari loker masing-masing, Kanaya hanya bisa mengeluarkan mie instan cup yang Andro bawakan semalam. Ia benar-benar tak memiliki uang untuk sekarang, hanya sisa-sisa uang recehnya saja yang jumlahnya pun beberapa puluh ribu untuk berjaga-jaga jikalau ia butuh makan besok-besok.
Baru saja Kanaya hendak ke dapur untuk menyeduh mie cup miliknya seorang karyawan berseragam wangki Route '78 masuk.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam, pasti mau nganter makan buat bu Shania? Bu Shania lagi keluar bareng pak Roy, pak Ari sama bu Leli. Cuma ada bu Niken," tembak Wika pada Riko.
Namun Riko memberikan reaksi mengejutkan dengan menggeleng, " Alhamdullah! Soalnya kali ini bukan buat bu Sha."
"Eh, biasanya kan..." Wika memanjangkan lehernya ke arah paper bag yang dibawa Riko, "nih, tolong kasiin...buat yang namanya Kanaya!" lelaki berusia 22 tahun karyawan Route '78 itu celingukan ke arah dalam demi mengetahui manusia sexy mana yang bernama Kanaya, pasalnya...jarang sekali bahkan hampir tak pernah Andro mengirimkan makanan untuk perempuan selain dari ibunya sendiri. Wika cukup terkejut kalau ternyata karyawati yang baru masuk hari ini dan dibawa Shania ada something dengan keluarga pemilik.
"Yang namanya mbak Kanaya yang mana sih? Pegawai baru?" tanya Riko, perempuan 21 tahun yang tugasnya di meja kasir itu mengangguk.
"Tadi pagi, langsung bareng bu Shania....itu pak Andro yang kirim?" bisiknya bertanya.
Riko mengangguk, "wahhh, kayanya kerabat atau seseorang yang spesial. Jadi penasaran...coba panggil!" pinta Riko.
Wika belum begitu mengenal Naya, hanya saat pagi saja Shania mengenalkan gadis manis itu sebagai karyawan baru di Pawon Kurawa, karena tugas mereka yang berbeda membuatnya tak bisa banyak bertanya atau berkenalan lebih lama.
"Kanaya!" panggil Wika berjalan lebih ke dalam.
"Ya?"
"Ada paket buat kamu di depan," lanjutnya, sontak ucapan Wika membuat Kanaya mengurungkan niatannya untuk membuat mie.
"Ohhh..." jawabnya, namun alisnya berkerut kebingungan, paket? Paket bom? Atau paket apa, masalahnya Naya tidak merasa memesan apapun.
"Bu Niken mana?" colek Wika di bahu Tia.
__ADS_1
"Di ruangannya di atas," jawabnya menyuapkan nasi ke dalam mulut.
Wika berlari kecil menyamai langkah Kanaya, "sut! Kamu tuh sebenernya siapanya bu Shania?" tanya Wika penasaran, jangan sampai ia salah sikap di depan Kanaya jika benar Kanaya adalah kerabatnya.
"Saya?" tunjuknya pada diri sendiri, "saudara..." jawab Kanaya.
"Sodara?!" Wika cukup terkejut, tak habis pikir saja, saudara pemilik namun di tempatkan di dapur, saudara tiri kah? Atau saudara pungut, atau jangan-jangan Kanaya adalah mata-mata untuk pegawai disini?! Ah, buat apa?! Toh produksi di awasi langsung oleh Shania dan Niken, sesekali Inez ikut membantu.
"Saudara seiman..." tambah Naya terkekeh.
Wika mencebik kesal, padahal ia sudah meladeni ucapan Naya, "ih si alan!" cebiknya.
Nampak oleh Riko seorang gadis berkaos pink hitam dan berkepang menghampirinya, gadia yang wajahnya terlihat seperti anak SMA.
"Akang-nya kurir paket?" tanya Naya.
"Kamu yang namanya Kanaya?" tanya Riko. Kanaya mengangguk, *unbelievable!!! Bocah brother*!
"Ini buat Kanaya dari pak Andro," Riko masih mencerna wajah Kanaya di ingatannya dan mencetak jelas raut wajah bocilnya di printer otak bahwasanya seorang Kanaya itu ternyata bocah.
"Oh, makasih! Pak Andronya masih kerja ya? Pak Andro emang ngga kerja disini?" tanya Naya.
Kanaya sedikit loading, "Route '78, angkringan? Nama toko juga?"
Riko menunjukan label di kaosnya bagian punggung dan dadha sebelah kiri, "cafe!"
"Angkringan tuh cafe juga..." tambah Wika. Kanaya cukup tercekat dengan pengakuan kedua karyawan beda alam ini, yang satu---- satu alam dengannya di Pawon sementara yang satu di alam lain, Route 78.
"Oh. Ya udah, teteh, akang...saya masuk dulu ke dalem..." pamitnya, Kanaya mengeratkan cengkraman di tali paper bag kiriman Andro.
Andro bukanlah orang sembarangan, mungkin semacam CEO atau pemilik bisnis yang menjamur dimana-mana. Semakin ciut saja Kanaya dibuatnya, selama mengenal Andro ia cukup kurang aj ar, apakah Andro dendam? Apa Andro akan menuntutnya ganti rugi atau Andro akan menggepreknya bersama kencur dan rawit?! Kanaya meneguk saliva sulit.
Tapi ngomong-ngomong wangi makanan dari dalam paper bag yang ia pegang menguar membangkitkan selera makannya, alhasil perutnya dangdutan tak terkendali. Kanaya menaruh paper bag di lantai bergabung bersama rekan kerja lain lalu mengeluarkannya satu persatu, cukup banyak yang Andro kirim untuk gadis kecil macam Kanaya.
"Wow Naya, gaya amat makannya pesen dari Route 78..." ujar Tia melongokan kepalanya ke arah makanan-makanan yang sedang Naya unboxing. Kebiasaan manusia emang begitu, suka kepo punya nya orang!
"Dikasih teh, kalo mau ambil aja...kita makan sama-sama," Naya menawari, tanpa sadar adegan makan melantai bareng-bareng itu dilihat oleh Niken.
*Akhlak calon mantu lo, menurut gue lulus*!
Niken mengirimkan pesan pada Shania.
__ADS_1
"Buset, bocah Ka!" bisik Riko.
Wika mengangguk, "emang baru 19 tahun...katanya baru keluar sekolah setaun setengahan lah,"
"Bos gue kayanya doyan bocah! Tapi emang cantik euy! Gemesin, cantiknya natural, mana ngomongnya lembut banget, aduhhh gue berasa kakak-kakak ketemu gede, dipanggil akang!" tawanya.
"Ck! Ngga waras," geleng Wika.
Andro melirik arloji di tangan, menunggu adalah pekerjaan yang memuakan, ia berdecak kemudian memilih masuk ke dalam Pawon Kurawa, mendorong pintu kaca dan nyelonong masuk.
"Sore mas...eh pak Andro." sapa Wika tersenyum.
"Sore. Karyawan di dapur belum selesai kerjanya?" tanya Andro, "ini kan udah jam 4?"
"Udah pak. Mungkin lagi pada siap-siap pulang. Kalo bu Shania sejak makan siang emang keluar sama yang lain, cuma ada bu Niken... Mau saya panggilin?"
Andro menggeleng, "ngga usah. Saya nanya nya karyawan bukan tante Niken..." Andro langsung masuk lebih ke dalam hingga ke arah dapur, menemukan jika Kanaya baru saja melepaskan appron dari badannya sementara yang lain sudah menyampirkan tas, bahkan beberapanya sudah berpapasan di lorong tadi.
Andro menarik kerah baju Kanaya membuat gadis itu terkejut bukan main dan refleks memukul-mukul tangan si penarik.
"Ihhh! Oy!"
Kanaya menoleh, "pak Andro?"
"Kamu tau, ini udah jam berapa? Saya nunggu kamu lama dari tadi sampai bau debu jalanan! Yang ditungguin malah lelet, ngga tau terimakasih."
"Pak Andro apa-apaan sih, bapak nunggu saya? Kenapa ngga langsung masuk aja? Kaya anak terbuang aja nunggu di luar. Kan Pawon punya ibunya pak Andro...lagian saya mana tau kalo bapak nungguin,"
"Buruan! Ngga usah pake lama." ia menggeret Kanaya yang masih berusaha berontak untuk mengambil tas miliknya.
"Ck, pak Ih! Saya bukan kambing mesti di gusur-gusur...awas dulu, ngga perlu di seret juga saya pasti keluar," omelnya.
"Temenin saya makan. Lusa saya ajuin cuti sama momy buat kamu, kita ke Giri Mekar..."
Wika yang sedang touch up menghentikan kerja tangannya demi menyaksikan Andro yang mengomeli Kanaya seraya menariknya keluar persis domba dan gembalanya, "apa-apaan nih?" gumamnya, sampai tak sadar jika liptin yang sedang berada di bibirnya tergores ke area luar bibir.
"Tunggu dulu!" Kanaya menahan langkahnya tepat di pintu masuk.
"Saya karyawan baru, pak. Masa udah ngajuin cuti...ngga etis! Nanti dikiranya saya main-main, keenakan, mentang-mentang kenal sama anak pemilik." Kanaya menggeleng.
Andro melihat Wika yang tengah serius menjadi saksi keduanya berdebat, lalu melepaskan tangan Kanaya dan berjalan duluan keluar.
Setelah keduanya berada di luar, Andro kembali angkat bicara, "semalam bapak kamu datengin rumah pak Akbar sambil ngamuk-ngamuk. Katanya saya udah bawa anak gadis orang kabur, kasian pak Akbar...ngga tau apa-apa kena imbasnya! Katanya kalo dalam 2 × 24 jam kamu ngga balik, dia mau lapor polisi, rt, rw, lurah. Kamu tega? Sebenernya saya ngga takut. Bukan masalah besar buat saya kalo bapak kamu lapor polisi sama pejabat desa, silahkan saja, karena saya ngga merasa punya salah apa-apa! Tapi saya ngga mau bikin urusan runyam, kasian pak Akbar sama keluarganya. Belum lagi nanti bisnis saya yang sudah direncanakan dengan matang, pasti bakal terganggu."
Kanaya diam menatap Andro nanar, tak mengira jika keputusannya untuk kabur berdampak pada semua orang, "apa, ngga apa-apa saya ambil cuti? Apa saya harus pake alasan ibu sakit sama bu Shania?"
Andro menggeleng, "momy tau."
Refleks saja mata bulat itu membeliak, "bu Shania tau?! B...bu...bu Shania tau saya kabur?"
Andro mengangguk kembali.
"Bu...bu Shania tau saya kabur ninggalin duda kolot?" serunya bertanya sampai membuat orang-orang yang melintas disana ikut menoleh. Bukan Kanaya yang malu, tapi Andro.
"Emangnya penting momy saya tau kalau calon kamu duda kolot?" tanya Andro.
Kanaya menggeleng, "ya engga sih."
"Iya pak. Saya pulang..." Kanaya menghela nafasnya, mencoba mengumpulkan seluruh keberanian. Ada kilatan ketakutan yang Andro lihat dari gadis di depannya, "everything gonna be ok. Yuk balik! Bocah ngga boleh keluyuran sore...udah mau magrib, takut digondol jin!"
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1