Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA #97. MENDADAK MALAS


__ADS_3

Naya dan Wati menyerbu gerobak aromanis, lalu setelah itu membeli kacang rebus dan baso ikan, tak lupa jagung susu keju, sepanjang itu Agus tak sedetik pun tak ikut mengekori Naya dan Wati. Sampai-sampai Wati kesal dibuatnya karena dirisihi Agus.


"Bisa ngga kamu teh pergi, ngga bosen dari tadi ngikutin pan tat istri orang?!" bentak Wati kesal. Naya hanya menjadi penonton bersama Arif sambil nyemil kacang rebus.


"Aa mah ngga ngikutin neng Naya, tapi nemenin neng Wati... Aa udah move on dari neng Naya, cinta tak harus memiliki ya neng?!" ia melirik pada Naya yang diangguki bumil itu, dari tadi Naya tak henti-hentinya ngemil.


"Wati bilang ngga perluu! Ngerti bahasa Indonesia ngga atau harus pake bahasa kalbu?!" bentaknya lagi, niat hati mencari hiburan malah jadi cibiran.


Naya tertawa renyah, drama Wati dan Agus lebih seru ketimbang serial tv ratapan hati anak buaya.


"Wat, hayuk ah!" Naya beranjak setelah habis kacang miliknya, mendengar keriuhan di area belakangnya, membuat Naya penasaran, "nonton tong setan yuk!" tunjuk Naya.


"Hayuk! Daripada disini, malah liat setan beneran!" desis Wati melihat Agus tak suka.


"Ceu, beli tiketnya dulu!" Arif langsung berbaris di deretan pembeli di depan loket.


"3, Rif!" jawab Naya.


Naya memilih tempat yang agak dekat, melongokan kepalanya ke arah dalam lintasan tong dimana para drivernya sudah bersiap dengan motor rakitan mereka.



"Keren lah, ceu! Kata mas Andro, nanti kalo udah bisa bikin SIM, Arif bakalan dikasih motor sama mas!" ucapnya jumawa.



"Kerja! Bukan ngandelin minta!" sengit Naya.



"Arif ngga minta ceu, tapi mas Andro yang mau kasih!" ralatnya.



Obrolan mereka terhenti saat si mc dengan suara lantangnya meminta perhatian dari para penonton mengingat pertunjukan akan segera dimulai.



"Ceu, Wati kalo jadi joki tong se tan gitu pasti keren ya?!"



"Kaya yang bisa motor aja, di jalan kampung aja kamu nyuksruk ke sawah!" jawabnya disetujui Wati, "ngga bisa karena ngga punya, oh iya! Apa Wati beli motor ya, pake sisa tabungan..."



"Terserah kamu, uang--uang kamu..." balas Naya, lalu perhatian mereka terpecah oleh riuh sorak sorai para penonton yang berseru dan bertepuk tangan saat para pengemudi itu memulai aksinya dengan mengendarai motor di lintasan tong sepaket keberanian dan bakat, iya bakat! *Bakat ku butuh*! (saking butuhnya pekerjaan dan penghasilan)



Andro menutup laptopnya setelah mengecek jika persiapan launching telah rampung 70 persen.


"Semoga besok lancar ya mas," imbuh pak Akbar diangguki Andro, "aamiin."


Andro langsung menghubungi Kanaya, namun panggilannya tak jua diangkat oleh sang istri, sepertinya Naya sedang asik di pasar malam dengan segala keriuhannya.


Di area pasar malam, Naya dan Wati kini sudah beranjak menuju rumah hantu bersama Arif. Wahan yang menurut mereka aman-aman saja untuk bumil macam Naya.


"3 ya, a!" imbuh Naya memberikan lembaran uang birunya dari saku ke lubang loket. Dari luar saja terdengar suara jeritan dan backsound menegangkan agar semakin menambah suasana mencekam nan menakutkan bagi para pengunjung.


Boneka-boneka berbentuk hantu khas Indonesia menjadi andalan rumah hantu ini. Belum lagi ruangan-ruangan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan menyeramkan.

__ADS_1


Kendati demikian, Naya, Wati dan Arif bukanlah orang-orang penakut. Ketiganya justru masuk dengan santainya.


"Nightmareeee huuuuuu!" Wati menyeru lebih seram dari orang yang menakutinya, dan Naya bersama Arif malah cengengesan masuk ke dalam ruangan gelap.


"Lebih serem muka teh Wati daripada pocong!" tunjuk Arif ke arah orang yang cosplay jadi pocong dan sedang menakuti pengunjung lain, mereka sampai jerit-jerit dan berlarian kesana kemari.


"Aneh, masa pocong bisa lari gitu kaya ban cii kaleng!"


Entah mereka yang memang menyerupai jin atau memang ngga ada akhlak persis setan, bukannya ketakutan ketiganya malah ketawa--ketiwi mencibir kekurangan para cosplayer.


"Ah, lebih sereman si Agus!" ujar Wati berjalan bersama melewati ruangan yang dibuat seperti pemakaman umum, ia malah duduk di salah satu properti mirip kuburan.


Naya menyemburkan tawanya, suatu kebetulan yang tak disengaja, nama di nisan itu adalah Wati binti Deden.


"Ceu, jangan deket-deket lelembut!" Arif menjauh.


"Saravvv!"


"Enak aja udah dikubur, Wati masih idup nih! Belum jadi bang kee!" seru Wati. Diantara gelak tawa yang tercipta, sesosok tuyul menarik-narik ujung baju Wati bermaksud menakuti. Cukup kaget, refleks Wati mendaratkan tamparannya pada sosok tuyul dengan tampilan telan jank dadha dan hanya memakai cawaatt saja, berikut lingkaran hitam di sekitar mata dan warna putih sebadan-badan karena bedak yang ia siramkan di tubuh.


"Astagfirullah!" ia terjengkat.


Plakkk!


Bahkan Naya dan Arif terkejut dibuatnya, mendadak suasana jadi diam.


Sampai sedetik kemudian Naya, Arif dan Wati berlari menyerbu pintu keluar, bukan karena mereka ketakutan melainkan karena sosok yang menjadi tuyul menangis sejadi-jadinya akibat ditabok Wati.


Naya tergelak sampai menahan bagian bawahnya begitupun Arif.


"Wati kamu teh itu anak orang kamu tabok sampe mewek!"


"Astagfirullah, aduhh masuk rumah hantu bukannya cape teriak sama ketakutan malah cape ketawa!" ujar Arif.


Naya merogoh saku demi mengambil ponsel, ternyata Andro sejak tadi menghubunginya. Ia bergerak agak sedikit menjauh mencari tempat yang tak terlalu riuh.


\\


Andro menjemput Naya di depan gate pasar malam, ia berjalan bersama Wati dan Arif dan pulang bersama.



Teh Marni sudah siap dengan seragam Kinoy's yang dirangkap kaos manset di dalamnya, ia berjilbab demi menutup auratnya.



Pagi-pagi saja ia sudah cekatan menyuapi Upa sebelum berangkat bekerja, "cepet Pa," pintanya, tak ada menu istimewa hanya perkedel kentang dan nasi hangat, full of karbo.



Arif masih meringkuk, setelah subuh berjamaah di masjid ia kembali menarik sarungnya dan terlelap kembali, untung saja hari ini sekolah siang.



Andro sudah sibuk mengecek persiapan acara sukuran angkringan dari tempatnya berada, belakang rumah sambil liatin pan tat ayam-ayam yang sudah berlarian mengejar bapak dimana sarapannya siap ditebar.



Ibu, begitu sibuk bikin dapur ngebul. Sementara Naya? Semenjak hamil, rasa malasnya menggunung. Jam segini ia masih ngalungin handuk di leher belum berniat mandi.


__ADS_1


"Kopinya," ia malah duduk di samping Andro, membuat Andro berdecak, "ngapain disini? Kamar mandi kosong kan?"



"Dingin mas, hamil kok bikin Naya anti air ya, kaya jas hujan!" adunya memeluk lutut yang terasa dingin.



"Ngaco. Itu cuma alesan kemalasan kamu," jawab Andromeda.



Naya tak bergeming, ia memilih menaruh kepalanya dan gelendotan di bahu Andro, malas.



"Momy jam berapa kesini, mas?"



"Nanti siang," singkatnya. Naya malah kembali menguap dan berohria lalu beranjak masuk ke dalam.



///


Sudah cukup lama Andro berada di belakang, bahkan kopi yang tadi dibuatkan Naya sudah tersisa setengahnya. Teh Marni pun sudah sejak sejam yang lalu berangkat dengan dijemput pak Agung. Ia memutuskan masuk mencari istrinya, ingin mengajak Naya ke satu tempat....



"Nay," panggilnya lirih masuk, namun di dalam rumah hanya ada Arif yang membereskan tempat tidurnya dan Andro semalam, yup! Andro dan Arif tidur di tengah rumah, sementara di kamar depan Naya, Upa dan teh Marni.



"Ceceu kemana Rif?" tanya Andro.



"Arif baru bangun mas," jawabnya tak tau.



"Loh, bukannya tadi masuk ke dalam belum balik lagi, Ndro." Imbuh ibu menaruh tumisan terakhir di meja makan.



"Oh," angguk Andro, berarti pilihan tempatnya hanya tinggal kamar, karena di rumah ini tak ada lagi ruangan.



Andro membuka pintu kamar, lengu han kasar keluar dari mulutnya bersama kalimat istigfar, "astagfirullah...." ucapnya saat mendapati bumilnya sedang kembali terlelap di kasur, meringkuk mirip trenggiling bersama handuk yang masih mengalung di leher.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2