
Andro menyelesaikan makannya cepat sekaligus menyudahi candaannya bersama sang istri lalu membawa piring kotor ke arah wastafel, "biar Nay aja mas, nanti sekalian." Saat terlihat jika Andro hendak mencuci piringnya sendiri.
Penghuni rumah disini terbiasa mencuci piring bekas makannya masing-masing selepas makan, bukan karena tak butuh bi Yani, tapi Shania dan Arka memang membiasakan baik Galexia ataupun Andro sejak dulu.
Adanya asisten rumah tangga, bukan berarti mereka bisa memperlakukan art seenak jidat dan membuat para penghuni jadi seorang pemalasan.
Naya segera beranjak dari duduknya bergantian dengan Andro di wastafel mencuci kedua piring kotor bekas keduanya makan.
Shania masih memakai pakaian rumahnya, memang tidak setiap hari ia datang ke Pawon Kurawa, paling hanya 2 sampai 3 kali dalam seminggu, untuk sisanya ia hanya ingin menghabiskan waktu menemani sang suami di usia senja.
Bagi Shania, waktunya dulu sudah ia habiskan untuk bekerja dan mengurus Gale juga Andro, maka sekarang ia hanya tinggal menikmati hasilnya dan setia bersama Arkala Mahesa hingga nanti ajal menjemput keduanya.
"Mas, masih gatel ngga tenggorokannya?" Shania membawa wedang jahe.
"Sedikit, bawa di belakang aja mii. Biar sambil jemur," Arka beranjak ke arah halaman belakang rumah.
"Mas tunggu di depan," ujar Andro.
Naya mengangguk, "Nay ambil tas dulu!"
"Nay, salam buat teteh kamu, momy jenguknya nanti aja kalo udah dirawat di Jakarta aja ya," ujar Shania.
"Iya mii," Naya berlari ke arah lantai atas dan mengambil tasnya serta beberapa barang, seperti minyak angin dan permen buah, berharap ia bisa belajar membiasakan diri untuk tak muntah.
"Bismillah!" ia menghela nafas berat.
Kanaya membuka kaca jendela mobil sampai mentok biar angin masuk semua, ia juga menge mut permen perasa buah tak lupa menggenggam minyak angin aromatherapy.
Andro terkekeh sekilas melihat wanitanya mesti se-prepare itu tangannya mengacak dan mengusap kepala Naya sayang, "cuma sebentar."
Mobil keluar dari rumah dan semakin menjauh, sejauh ini saliva yang biasanya keluar berlebih karena rasa mual dapat dinetralisir oleh permen buah, nafas yang biasanya mendadak sesak dan bikin kepala kleyengan bisa ternetralisir oleh udara yang masuk begitu bebas sebebas hewan di alam liar sana.
"Mas, kalo nanti Naya kuliah, Naya mau naik motor aja. Di rumah ada motor kan?" tanya nya.
Andro mengangguk ragu, "ada sih, tapi motor punya pak Samsul, inventaris...kalo nganter bi Yani ke pasar,"
"Emangnya mas ngga punya motor?"
"Ada. Tapi motor trail, kamu ngga akan bisa, kaki kamu aja ngga nyampe kayanya, tinggi mana berat! Lagian, emang kamu bisa naik motor?"
Kanaya mencebik, "sembarangan! Bisa lah, cuma tinggal di lancarin aja, setinggi-tingginya motor ngga akan setinggi langit yang ngga bisa dijangkau, seberat-beratnya besi motor ngga akan seberat dosa orang musrik," jawab Naya. Sebenarnya ia ragu juga, pasalnya dulu ia pernah belajar motor milik Salman, namun itupun hanya barang sekali dua kali saja, Naya meyakinkan dirinya jika ia bukan tipe manusia yang gampang menyerah.
"Ya udah, harus dilancarin dulu kalo gitu. Atau kamu mau beli motor matic second?"
Naya menggeleng, apa-apa beli! Beda sih kalo sultan, tak seperti dirinya, Kanaya si anak singkong!
__ADS_1
"Ck! Apa-apa beli, sayang uangnya, kenapa ngga pake yang ada aja sih?! Beli motor kaya beli cilok," decak Naya bernada sewot.
Andro mendengus, "ya udah, kalo mau lancarin motor, nanti aja di deket rumah kalo mas ada waktu," jawab Andro.
Meski Naya sudah hampir memuntahkan kembali sarapannya, namun kali ini ia berhasil tidak muntah sampai ke bandara.
Andro tak lepas menggenggam tangan Naya, mirip-mirip mau nyebrang jalan bawa bocah ingusan.
Saat dari kejauhan bapak dan pak Akbar yang setia dengan batiknya sudah terlihat datang dan menunggu. Pak Akbar melambai pada Andro dan Naya kaya manggilin tukang bakso lewat.
"Wah! Mau ketemu klien mas, gimana nih pengantin baru, maaf jadi keganggu acaranya loh," kelakar pak Akbar membuat senyuman tipis di bibir Andro tercipta.
"Pak," Andro dan Naya menyalami pak Akbar dan bapak.
"Pak, maaf Andro ngga bisa nunggu sampai teh Marni keluar dan ikut anter ke rumah sakit rujukan, ada janji ketemu klien hari ini. InsyaAllah nanti kalau sudah selesai bisa jenguk teh Marni sambil jemput Naya," jelasnya.
Pak Acep mengangguk singkat, sejak awal bertemu sampai detik ini, keduanya telah melalui berbagai kejadian, namun satu yang pak Acep lihat dari seorang Andromeda yang membuatnya semakin yakin jika Andromeda lelaki baik-baik, adalah Andro yang tak pernah melemparkan sorot mata dendam, menusuk, dan merendahkan pada Naya ataupun keluarganya.
"Ngga apa-apa, makasih. Kerja yang tenang dan semangat, bapak do'ain semoga urusannya lancar." Sorot mata pak Acep seolah menafsirkan ucapan syukur dan rasa terimakasihnya pada Andromeda.
"Pak, teteh kesini ditemenin siapa?" tanya Naya memutus kontak mata bapak pada Andro.
"Dianter pihak KBRI, pihak dari rumah sakit Arab, sama Wati..." jawab bapak.
Naya mengernyitkan dahi, "Wati?! Si Wati?!" serunya ia begitu mengenal Wati, terang saja ia dan Wati berteman dekat sudah lama sekali, namun karena Wati lebih memilih jadi tkw selepas lulus smp kedekatan mereka merenggang.
"Iya. Jadi ternyata Wati itu saksi kunci semua kelakuan kdrt majikan Marni, Nay. Semua bukti ada di ponsel Wati," jelas pak Akbar.
"Kok bisa?" tanya Naya.
"Jika memang benar, maka siap-siap saja majikan teteh kamu di laporkan pihak KBRI atas dugaan kekerasan." Lanjutnya.
"Wati itu siapa, Nay?" tanya Andro.
"Wati temen Naya, mas. Dia juga kerja di Arab, tapi nasib Wati beruntung, dia punya majikan baik. Mungkin karena sama-sama di Arab, teteh lebih gampang hubungin Wati..."
"Oh oke. Kapan pun butuh pendampingan hukum untuk kasus teh Marni dan keluarga...kamu tau harus hubungin siapa," jawab Andro.
Andro menjatuhkan pandangan ke arah arloji di pergelangan tangannya, "ya udah, mas pergi dulu takut macet di jalan," Andro pamit pada Naya dan yang lain.
"Iya. Hati-hati."
Tak ada kecupan seperti tadi di kamar, karena memang begitulah Andro di luar terutama di depan orang lain, terkesan dingin kaya pabrik es balok.
Kanaya menunggu bersama pak Akbar dan bapak di ruang tunggu kedatangan.
Naya melihat sebuah gerai kopi dan roti disana, ia jadi mengingat kejadian roti dan kopi yang kembali ia muntahkan di Bintan, padahal rasanya begitu enak.
"Pak, Naya kesitu dulu sebentar ya," ujarnya beranjak dari duduknya menuju gerai tersebut.
"Kanaya yang sekarang bukan Kanaya yang kemarin, Cep." Lirih pak Akbar.
"Iya, Bar. Terimakasih sudah membawa Andromeda ke Giri Mekar," balas bapak tersenyum memperlihatkan kerutan di ujung matanya, bahkan saking banyaknya sampe ngga bisa dihitung jari.
"Naya sekarang lebih ngota alias metropolitan,"
"Tapi saya mah berharap, Naya tetaplah ceceu nya Giri Mekar." Pak Akbar terkekeh mengingat semua ulah Naya dulu dan segala kesederhanaannya.
"Gimana tentang gosip ramai kemarin?" tanya pak Akbar pada pak Acep.
"Tidak usah dibahas. Lagipula Naya sudah tidak punya urusan dengan Salman, kalaupun pernah memiliki hubungan, saya yakin anak saya anak baik-baik, saya yakin juga Andromeda tidak akan terpengaruh jika nanti datang ke Giri Mekar," pak Acep meloloskan nafasnya lelah, selalu saja Kanaya menjadi bulan-bulanan warga, padahal ia sudah tak ada di Giri Mekar.
__ADS_1
Kanaya memesan 3 gelas kopi dan 3 roti mocca, ia mengeluarkan uang cash dari dalam dompetnya, jika dulu untuk membeli donat seharga 5 ribu saja Naya harus nunggu sampe ibu dapet uang dari minyak cengkeh, sekarang ia bahkan bisa membeli roti seharga 3 kali lipat itu begitu mudahnya.
Naya menerima pesanannya lalu kembali keluar untuk menghampiri bapak, kemudian ia menyerahkan roti dan kopi untuk bapak dan pak Akbar.
"Wah, nuhun atuh Nay. Bedalah sekarang mah, kedepannya bakalan ditraktir terus ini mah sama Naya!" kelakar pak Akbar menerima itu.
Naya tertawa, "uang jajan perdana Naya nih pak, besok-besok mesti di awet-awet pake formalin, soalnya Naya udah mulai milih-milih kampus buat nerusin kuliah, katanya sih kuliah butuh uang jajan banyak, kadang fotocopy lah tugas ini, itu lah..."
"Bagus atuh bagus!" angguk pak Akbar menikmati rotinya, "beda ya, kalo roti mahal mah!"
"Bedanya kalo mahal mah, langsung geleser ke perut ya pak? Beda sama yang 2 ribuan mah, seret di tenggorokan?" tawa Naya melemparkan candaannya di tertawai bapak, "ceu, kalo bapak mau dibeliin lagi boleh engga? Buat ibu, Arif sama si Upa?" pintanya.
Naya mengangguk, "boleh banget atuh pak, nanti kalo mau pulang Naya beliin!" jawabnya.
Hingga candaan mereka menghabiskan satu cup kopi selagi menunggu kedatangan teh Marni.
"Ceu! Pak Akbar! Pak Acep!" suara toa menggelegar memanggil ketiganya, menghentikan tawa yang tadi tercipta.
"Ceu, ukhti!! Assalamu'alaikum Indonesia!" teriaknya cempreng berlari dengan pakaian serba hitam plus kacamata hitamnya menyerbu Naya terkesan malu-maluin. Sosok gadis seumuran dengan Naya yang kini berdiri dengan gaya wadidaw'nya.
"Ukhti?!" Naya meledakan tawanya, "heh cakue! Sejak kapan ngomong kamu jadi ukhti-ukhtian?! So ngarab!"
Wati, si sohib lama yang kini kembali karena sebuah kasus menggemparkan memeluk Naya erat, "ya Allah Ceu! Kamu teh ngga miss you sama Wati?! Apa kabar, masih kurus aja kamu teh, ngga dikasih makan atau hati kamu yang sulit?!" tembaknya tanpa tedeng aling-aling.
"Cih! Sombong, mentang-mentang udah kaya!"
"Kamu yang sombong, mentang-mentang udah nikah ngga kabar-kabari sama sohib! Kenapa, takut Wati ngga ngamplop gede sama kamu?!" sengitnya kesal karena Naya melupakannya.
"Engga gitu atuh Wat, soalnya nikahnya juga dadakan." akui Naya.
"Hah?!! Kenapa, kamu teh hamil duluan sama si Salmon?! Udah dibilangin si anak kades teh lelaki ngga bener, ceu! Borokokok! Diem-diem doyan pan tat sama apem cewek!" sarkas Wati tanpa saringan, Naya sampai mengedarkan pandangan dan nyengir saat mulut tanpa rem Wati los dol ngga ada akhlak. Berasa ngobrol di rumah.
"Enak aja! Engga yah, ceceu sama a Salman udah kandas---das---dasss!" tukas Naya.
"Ck, bagus lah! Asa ada yang beda dari kamu ceu? Asa cantik!" jujur Wati melihat tampilan Naya, "biasanya mah dekil!" tawanya menggelegar tak peduli dengan pengunjung bandara lain yang melihat kehebohan mereka, Wati hanya menganggap mereka mo nyet di Ragunan. Wati tak tau saja, jika 5 menit ke depan ia masih begitu petugas bandara tak segan-segan memulangkannya lagi ke Arab.
"Kapan-kapan kenalin Wati sama suami kamu atuh," ujarnya.
Naya menggidikan bahunya, "engga ah! Nanti kamu suka sama suami Naya," balas Naya.
Wati mencebik, "Wati juga punya pacar atuh, Nay. Orang arab, idungnya mancung! Brewok-brewok gemesin, putih, pokoknya mah cihuy lah buat memperbaiki keturunan! Paling-paling suami kamu mah modelan si Agus," tawanya.
"Si Wati, meni tambah gendut, semox aja Wat," pak Akbar menepuk-nepuk pundaknya.
Saat Wati dan Pak Akbar saling bercengkrama melepas candaan satu sama lain, Naya celingukan ke arah belakang Wati, dimana dua orang berseragam perawat berjilbab bersama pihak KBRI berbatik mendorong kursi roda.
DEG!
Naya sampai menutup mulutnya dan memegang lengan bapak, "ya Allah teteh!" ia berlari bersama pak Acep ke arah wanita yang berada di atas kursi roda.
Sosok wanita, pahlawan devisa yang pergi dengan senyuman demi sesuap nasi kini duduk di atas kursi roda, tubuhnya kurus, luka lebam di hampir sebagian wajah dengan bagian putih mata memerah semerah da rah di sebelah kanan dan luka bekas sundutan rokok juga beberapa benda tumpul di lengan dan pipi.
"Astagfirullah!"
Naya memeluk teh Marni, "ceu," gumamnya lirih nan pelan meneteskan air mata, begitupun Naya, "teteh..."
.
.
.
.
.
__ADS_1