Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 68. DUO SERIGALA


__ADS_3

Naya bersama yang lain sampai di salah satu rumah sakit milik pemerintah, setelah urusan administrasi selesai pihak KBRI dan pihak rumah sakit Arab berpamitan pada keluarga.


Kanaya masih mencelos dengan keadaan kakaknya yang menyedihkan, teh Marni hanya bisa terbaring dengan sejumlah luka di tubuhnya, Kanaya bukan gadis rapuh yang bisanya hanya mewek saja, tapi melihat keadaan teh Marni begini membuatnya tak bisa untuk tak menitikan air mata.


"Ceu, teteh mau minta tolong...." ujarnya lemah, teh Marni memang sosok yang lembut sebenarnya tidak seperti Kanaya.


"Teteh tuh kenapa diem aja disiksa begini?!" akhirnya ia meledak juga di dalam kamar rawat teh Marni, dan mereka yang mengenal Naya tau jika gadis ini akan nyeroscos, maka bapak menahan Naya yang nampak emosi.


"Ceu,"


"Kenapa ngga kabur?! Kenapa ngga telfon Wati atau pak Akbar?! Mau nunggu sampe mati apa gimana?! Terus Upa yatim piatu?!" sentaknya lagi.


Teh Marni hanya bisa mengulas senyumannya, adiknya memang seperti itu, bisa terbayang kan kalo ia yang jadi tkw, maka majikan galak akan disikat habis oleh Kanaya. Mungkin saja telinganya akan digantung gadis ini di pohon seledri, ngeri-ngeri sedep!


"Nyari uang begini amat! Kalo tau kaya gini, bener kata bapak! Teteh mendingan nikah aja sama juragan di kampung, dia baik!" nada bicara Naya masih belum mereda, Andro yang baru saja selesai telah sampai di rumah sakit.


"Bapak tuh bukan tanpa alasan minta teteh nikah, walaupun caranya salah, dia tau kalo juragan calon teteh tuh baik!"


"Ceu, udah ceu." bapak menarik Kanaya.


"Teteh minta tolong sama ceceu, ibu sama upa jangan dulu tau teteh begini. Biar mereka kesini kalo kondisi teteh udah mendingan," lanjut teh Marni.


"Assalamu'alaikum," Andro mengucap salam meskipun sejak tadi ia melihat istrinya marah-marah.


"Wa'alaikumsalam," gumam mereka, Kanaya langsung menyeka matanya yang basah, tak boleh ada yang melihatnya menangis sekalipun itu Andromeda.


"Ini?"


"Ini Andromeda, suami ceceu, Marni..." jawab bapak.


"Saya Andromeda," Andro menyalami sosok kakak istrinya, usia yang lebih muda dari Andro namun perawakan dan raut wajah teh Marni terlihat lebih boros darinya, entah faktor apa yang menyebabkan begitu.


"Cih! Dari dulu kamu mah selalu sukses nyari pasangan teh, cakep-cakep," goda teh Marni berkelakar untuk merayu Naya.


"Marni." jawab Marni, "gimana Naya? Maaf ya kalo agak-agak nyeleneh," tawanya pada Andro, Andro mengulas senyum tipisnya, ia sudah biasa dengan perempuan nyeleneh.


"Gimana? Udah nentuin keputusan mau pake jalur hukum?" tanya Andro pada bapak dan Naya, melihat kondisi teh Marni yang mengenaskan.


"Mau!" jawab Naya.


"Engga usah," jawab teh Marni membuat Naya, bapak, pak Akbar dan Andro menoleh tak percaya.


"Teteh gila?!! Teteh hampir mati begini ngga mau dilaporin, buat apa atuh si Wati datang, buat apa pihak KBRI mau belain teteh?!" Andro menahan tangan Naya yang sudah kembali emosi lalu meraih badannya.


"Sut, berisik ah!" bisiknya.


"Naya mah ngga abis pikir sama teteh, mas?!"


"Ya udah sabar dulu, nanti dikasih tau baik-baik, jangan ngegas gitu," balas Andro.


"Serius kamu teh Marni? Ini teh bukan kasus sepele?" tanya pak Akbar pun sama tak percayanya. Bapak bahkan sudah menurunkan pecinya dan menggaruk kulit kepala gatal sekepala-kepala ,kaya abis ketempelan ulet bulu segede Naya.


"Ceu," Marni memejamkan mata, bibirnya mulai bergetar lalu air mata mengalir begitu deras.


"Teteh teh takut, kalo dia sampe datang ke Indonesia. Takut dia ambil Upa...." lirihnya.

__ADS_1


"Hah?!" Naya terkejut begitupun semua yang ada disana.


"Serius kamu?!!" bapak langsung naik pitam.


"Yang mana orangnya?! Tunjukin sama bapak dimana rumahnya?!" sentak bapak.


"Pak---pak," Andro dan pak Akbar menahan situasi chaos di dalam ruangan.


"Cep, sabar Cep!"


Teh Marni sudah menangis lirih dan mengusap sudut matanya, "dia ayah biologis Upa, ceu..."


"Terus apa yang teteh takutin, teteh pikir bisa dengan gampangnya ambil Upa?! Teteh denger ceceu, teteh jangan bo do atuh! Dia ngga punya bukti apa-apa kalo dia teh ayah Puspa, Upa udah masuk KK bapak sama ibu, apa yang mau dia tuntut, hah?! Apa yang dia punya, akte lahir Upa? Surat nikah sama teteh?! Apa coba, Naya tanya!"


"Terus kenapa teteh masih mau balik lagi kerja disana, teteh teh gelo apa gimana?!" hardik Naya mengumpat saking kesalnya.


"Gaji teteh belum dibayar, dia teh janji mau bayar kalo teteh kerja disana lagi," Marni menangis sejadi-jadinya.


"Itu teh namanya teteh jatuh ke lubang yang sama! Astagfirullahal'adzim!!!" geram Naya gemas sekali.


"Tuntut dia! Biar dia datang kesini sekalian, Naya teh pengen acak-acak mukanya dia!" wajah galak Naya mengancam.


"Dia orangnya nekat, ceu. Teteh ngga mau kamu kenapa-napa,"


Kanaya berdecih dengan jawaban bullshit teh Marni.


"Naya ngga akan kenapa-napa," jawab Andro mantap, ia langsung menghubungi Gemilang, "mas keluar dulu sebentar nelfon dulu bang Gem." ijin Andro keluar.



Wati baru kembali ke kamar rawat teh Marni, "jadi ini teh yang mau nunggu teh Marni siapa? Kenapa rumah sakit di Indonesia mah gelap!" ujarnya.




"Naya mah heran itu teh kenapa bisa nempel gitu, nyantel kemana kacamatanya, idung kamu pesek gitu?" tanya Naya mendapat cebikan Wati dan tawa teh Marni juga pak Akbar.



"Di tulang ekor! Ya tulang idung atuh, *cau*!" jawabnya bersungut. (**pisang**)



Naya tertawa renyah, "kamu mau pulang ke Cianjur dulu, Wat?" tanya Naya.



"Iya."



"Wati udah lama ngga liat Giri Mekar, udah jadi gimana sekarang Giri Mekar tanpa Wati, udah ngabarin si emak juga, meni heboh mau nitip baju sama pizza, gigi udah hampir ompong semua juga mau pizza!" dumelnya.


__ADS_1


"Ya Giri Mekar mah gitu we, ngga ada kamu malah adem!" jawab pak Akbar ditertawai Naya dan teh Marni.



"Hayuk atuh ceu pulang! Nanti Wati traktir baso mang Dasep," ajak Wati.



"Ih! Da sekarang mah Naya udah ngga tinggal di Cianjur," jawabnya menggidikan bahu acuh seraya mengambil buah dan mengupasnya untuk teh Marni.



"Hah?! Terus gimana atuh Cianjur, kalo duo serigala ngga ada?!"



Teh Marni tertawa lepas, terakhir kali ia bisa tertawa adalah saat terakhir ia pulang ke Cianjur 3 tahun lalu.



Pak Akbar berdecih, "duo serigala, kamu sama si ceceu mah emang serigala jadi-jadian!"



"Amit-amit ih," Naya terkekeh bergumam.



"Naya tinggal di Jakarta, Wati...dibawa sama suaminya," jawab bapak. Wati langsung mendekati Naya dan melihat keseluruhan penampilan sohibnya itu, memang sejak awal ada yang berbeda dari Naya, "suami kamu teh orang mana sih, Wati jadi penasaran. Juragan apa? Kaya? Ubannya udah segimana?!" tanyanya kembali.



"Beuh, kamu yang ngga tau! Ceceu di kampung mendadak juragan, tanahnya luas, sawah punya!" jawab teh Marni kini sudah mau bergabung sejak dari tadi ia diam saja.



"Ah, masa?!" seru Wati. "Duo srigala *kere* mendadak juragan gitu sekarang mah?!" tanya Wati, membuat Naya merotasi lagi bola matanya.



Teh Marni dan kedua bapak itu kembali tertawa selagi Naya memukul lengan si semox dari Arab ini, "emang bener, kamu tuh kerja di Arab malah tambah gelo! Apa muka Naya teh cocoknya sama aki-aki gitu?! Suami Naya mah anak juragan roti!" jawab Naya.



"Asik! Berarti kesampean janji kita dulu ceu, dulu kita dihina-hina orang kampung sekarang mah gunung di belakang kampung aja bisa kita beli! Ya walaupun bedanya Wati mah kerja, kamu harta suami aki-aki,"



Naya melotot, "suami ceceu bukan aki-aki, Wati! ! !"


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2