
Sesuai janjinya pada si kembar, Naya keluar dengan jeans selutut dan kaos kebesarannya. Simpel, no ribet-ribet pake heells, ataupun baju kaftan kaya sugar glider.
"Kakak Kartini ayokkk!" seru mereka.
Panggilannya itu, bikin orang gagal fokus kalo namanya memang Kartini kaya pahlawan bangsa yang mau menyetarakan hak wanita. Tapi Naya tak keberatan, toh kaum lelaki Kurawa pun dipanggil onta?! Pasangan dari onty ataukah hewan berpunuk?
Naya dan si kembar bak adik kaka kembar 3 jadinya, karena postur tubuh Naya yang hampir tersusul oleh twin.
Naya berlari mengambil tas selempangnya, disambar begitu saja karena ia tergesa-gesa, "yok---ayok-ayok-ayok! Sebentar Naya pamit dulu!" jawabnya panik. Sementara Andro memilih tak ikut dan membiarkan Naya momong si kembar.
"Elu ngga ikut?" tanya Gale. Andro menggeleng, "capek. Nanti dikira gue momong anak gadis 3 lagi," jawabnya memancing tawa Shania dan Gale di sofa tengah. Udah punya istri pun masih dikira bapak anak 3, istrinya muda sih!
"Lagian momy heran, ini keluarga doyannya cewek muda! Ngga ayah, ngga Fatur, sekarang kamu!" sungut Shania. Ketiganya duduk disana dengan posisi enak masing-masing melihat kehectican Naya yang di buru-buru oleh twin.
"Mas, aku mau pinjem motor pak Samsul aja ya. Ngga akan dipake keluar lagi kan? Biar lebih cepet!" ijin Naya.
"Tapi kamu kan ngga punya SIM?" tanya Andro.
"Halah, jam segini mah polisi jarang nilang. Lagian mall deket juga dari sini, palingan kakak-adek juga mintanya sundae," gidik Gale acuh menepuk-nepuk pan tat Arion yang justru tertidur di pangkuannya.
"Beneran neng? Bukannya kamu teh baru belajar motor? Ah, momy kok khawatir?!"
"Naya sebenernya bisa mii, kalo cuma matic. Trail juga bisa, cuma Andro ngga kasih lepas aja!" jawab Andro menyamakan Naya dengan kuda.
"Lepas, dipikir bininya kuda sumbawa!" tawa Gale, yang diangguki Naya.
"Bisa kan? Atau mau mas anter pake mobil?" tawar Andro, jelas itu bad idea, karena Naya akan pusing, khawatirnya ia akan muntah di depan si kembar dan itu lebih bahaya ketimbang jatoh dari motor.
Naya segera menggeleng cepat, "ngga usah. Biar mas istirahat aja!" jawabnya cepat.
"Ck lama ih! Pada ngomongin apa sih?" decak Afifah sudah tak sabar.
"Ya udah lah, kasih aja!" ujar Gale.
Andro akhirnya mengangguk, "jangan bikin masalah!" ia benar-benar mewanti-wanti Naya sebagai leader dari trio cabe-cabean itu.
"Sip! Makasih!" Ia meraih punggung tangan Andro lalu menempelkannya di pipi bukan hanya menempelkan di kening.
Gale menyunggingkan lengkungan senyuman, "meleleh bro?" bisiknya.
"Dah, bunda! Oma, omkuhhh! Bilang opa kita pergi dulu!" teriak Afifah.
"Jangan pada nakal, jangan bikin tante Nay susah!" balas Gale.
"Ashiapp bun!" jawab Aliyah.
"Pak! Mau pinjem motor dong!" Naya menyembulkan kepalanya di pos depan dekat gerbang.
"Mau kemana neng? Perlu dianter ngga?" tanya nya, kendati demikian ia tak mengurungkan niatannya mengeluarkan kunci motor dan menyodorkannya pada Naya.
"Mau jalan-jalan dong, pak! Mau jajan!" jawab Aliyah.
"Oh, emang neng bisa motor?" Kanaya merotasi bola matanya, kenapa semua orang meragukan kemampuannya, apakah wajahnya terlihat seperti orang be go yang ngga bisa apa-apa?
"Bisa," jawab Naya singkat meraih kunci bergantungan doraemon.
"Kuy ladiest!" ajak Naya.
"Asikkk! Ditraktir penganten bauuu!" seru mereka tertawa, membuat Naya ikut tertawa.
"Seumur-umur baru kali ini Fifah ke mall pake motor matic tapi dempet 3 begini!" ujarnya duduk paling belakang lalu berpegangan.
"Udah? Sempit ngga?" tanya Naya dari depan.
"Engga kok, udah." jawab Aliyah di tengah-tengah dan mendekap tas selempang miliknya.
__ADS_1
"Hahaha, sekarang Fifah ngerasain rasanya jadi temen yang sering dibilang cabe-cabean motor mia!" tawanya.
Naya membawa motor itu keluar dari rumah menuju jalanan komplek, sepanjang jalan Afifah dan Aliyah yang notabenenya keseringan pake mobil begitu excited mengeluarkan pendapatnya, lalu tergelak bersama.
Hingga saat menuju jalan besar, mereka berhenti menunggu relawan portal memberikan aba-aba untuk melintas.
Diantara para pengendara yang menunggu, sebuah sepeda motor berisi pemuda terong-terongan tertawa so kecakepan khas pemuda komplek yang masih setengah mengkel.
"Ekhem cewek, godain kita dong!" goda mereka, Afifah tak menghiraukan para pemuda bau kencur itu yang mukanya aja kebakar, kebanyakan main layangan kayanya! Ia mendelik tajam ciri khas Fifah. Sementara Aliyah lebih memilih diam tak menggubris dan mengalihkan pandangannya ke lain arah, namun tangannya sudah memeluk erat pinggang Naya tanda tak nyaman.
"Yang baju putih, senyum dong! Salam dari si gue!" goda si muka bayi pada Afifah yang judes.
"Mau dibalas salam pake bogeman kanan apa kiri?!" galak Afifah. Naya terkekeh mendengarnya, rupanya tanpa harus ikut turun tangan sang kakak bersikap melindungi.
"Ih jutek amat, jangan jutek-jutek neng! Nanti makin cakep, kan akunya sayang!"
Afifah semakin mendesis marah, "haduhhh ampun anak jaman sekarang!" Naya buka suara.
"Hey, jang! Kalo mau godain anak gadis orang mendingan tunggu 10 tahun kemudian! Kalo udah kerja, udah punya uang sendiri baru...sekarang mah belajar aja dulu yang bener, pipis aja belum lempeng mau gangguin cewek!" wejangan dari si paling senior, sepaket muka nyinyir Naya kaya emak lagi marahin anak.
Mereka tertawa, "hahaha ujang! Seenaknya ganti nama orang, neng cantik yang baju item kenalin gue Lutfi," si pengendara malah berniat mengajak Naya berkenalan.
"Yah, dia malah ngajak kenalan! Sakit nih bocah!" Afifah bergumam.
"Cantik-cantik namanya mimin!"
"Hey jang! Kamu ngga sopan, dipikir Mimin cabe-cabean dempet 3 meren!" sewot Naya saat si relawan portal membunyikan peluit tanda majunya, Naya benar-benar menarik gas dan melesat sekencang mungkin meninggalkan mereka, sampai kakak-adek berpegangan erat takut terjatuh, Afifah berseru gembira, "wohoooo!" sementara Aliyah memejamkan matanya sambil terkekeh-kekeh.
Naya menyelipkan kertas parkir, lalu berjalan mengikuti keinginan keponakan kembarnya, sejenak ia jadi mengingat Upa dan Arif, apa kabarnya dengan mereka.
"Tante Nay, adek pengen itu!" tunjuknya ke arah pedagang coklat. Dimana berbagai macam coklat dan permen dijual dengan cara ditimbang nantinya.
"Boleh!"
Naya ikut memilih untuk nantinya ia bawa ke Cianjur di akhir pekan, "Upa pasti suka!"
Terbiasa bersama-sama, Naya selalu memikirkan kepentingan orang rumah terlebih dahulu dibanding dirinya.
"Tante Nay beli juga? Ini nih yang enak!" tunjuk Aliyah, sementara Afifah lebih memilih diam namun sudah mengambil berbagai coklat dari keranjangnya sendiri.
"Kakak--adek, mau makan apa?" tanya Naya.
"Pengen ayam tepung," jawabnya.
Tanpa harus membawa peta, toh kedua keponakannya ini sudah hafal dimana foodcourt, mall berasa rumah.
Melihat wajah puas twin cukup membuat Naya tersenyum, setidaknya ia sudah melunasi hutangnya.
"Abis ini mau main di game station dong kak!" pinta Afifah.
"Game station ya? Lama ngga kira-kira? Soalnya Naya ada sesuatu yang harus dibeli buat tugas kampus?!" tanya nya menggeser piring yang sudah habis isinya, hanya tinggal tulang belulang ayam saja.
"Gini aja, kakak Kartini beli barang yang dipengenin. Kakak sama adek ke game station?!" see, Afifah selalu memiliki jalan keluarnya.
Naya menatap sangsi, "beneran? Ini kalian kalo ilang Naya yang dimarahin loh?!"
"Ck, yakin ah! Toh mall ini udah kaya rumah sendiri!" jawabnya jumawa.
__ADS_1
"Oke, Naya janji ngga lama!"
Ketiganya berpisah sejenak di depan gerai ayam tepung, selagi Naya ke toko atk, twin masuk game station.
Naya berjalan menyusuri pertokoan sambil menatap menikmati perjalanannya, semenjak bersama Andro ia jadi lebih sering mengunjungi mall untuk membeli sesuatu, padahal rasanya sayang saja, harga barang jadi lebih sedikit mahal disini dengan fungsi yang sama saja.
Dari luar toko saja sudah terlihat jika itu adalah toko atk, Naya masuk ke sana dan segera membeli barang-barang yang diinginkannya.
"Tante Nay kok lama ya?" decak Aliyah merasa jika permainan disini cukup membosankan, karena keseringan main.
"Baru juga 20 menit, dek Liyah lebay deh!" ujar Afifah yang masih asik bermain tembak-tembakan.
"Pulang yu kak. Kalo kita ditinggal gimana?! Coba telfon!" pinta Aliyah.
Afifah berdecak saat keasyikannya terganggu oleh cerewetnya sang adik.
"Kamu tuh kaya udah ditinggal setaun aja, toh kakak Kartini baru aja pergi, baru 20 menit kayanya!" kesal Afifah.
Ia tak menggubris omelan kakak kembarnya, dan lebih memilih menelfon Naya, namun panggilannya tak juga diangkat.
"Kak Fifah, cari tante Nay yuk!" ajaknya memaksa.
"Ck, ih! Kan kakak Kartini nyuruhnya tunggu disini, kalo kita nyari juga nanti dia bingung nyariin!"
Dari tempatnya berdiri Aliyah melihat meja informasi lantai ini, dimana si announcernya tengah mengumumkan ketertinggalan barang penting di area game station.
"Kak, panggil tante Nay pake itu!" tunjuknya, ide usil tercipta dari otak gen Galexia ini.
Afifah mana bisa menolak jika tentang keusilan.
Naya masih memilih barang yang dibutuhkannya, ia cukup bingung dengan merk yang bikin harganya beda-beda tipis.
"Bagus yang mana ya?" gumamnya.
"Panggilan untuk Kanaya Dewi, Kanaya Dewi usia 19 tahun....dengan memakai pake kaos hitam, celana jeans serta sendal jepit buluk warna hijau...." si announcer sampai melipat bibirnya dalam-dalam karena informasi si kembar.
"Harap mendatangi meja informasi lantai 4 area game station, ditunggu oleh kedua keponakan kembarnya...."
"Sekali lagi panggilan untuk Kanaya Dewi, Kanaya Dewi usia 19 tahun dengan memakai kaos hitam, jeans serta sendal jepit buluk hijau ditunggu di meja informasi lantai 4 area game station!"
Sontak saja Naya memperhatikan dirinya terutama ke bagian kaki, yang ternyata masih memakai sendal rumah, "aduhhh, malu-maluin!" gumamnya.
Sontak saja orang-orang yang ada disekitar Naya pun melihat Naya dengan ciri-ciri yang disampaikan dan melipat bibirnya.
.
.
.
.
__ADS_1
.