
Kanaya masih terduduk di atas kasur mengumpulkan jiwa-jiwa yang masih berterbangan, sementara saat ia melirik ke samping, Andromeda masih nyungseb di alam mimpi.
Terang saja, ini baru pukul 04.00 wib, dan ia bangun disaat para penghuninya masih melayang-layang diantara alam bawah sadar.
Naya tak bisa untuk memejamkan matanya lagi, sudah stelan jam bangunnya semasa di Giri Mekar jam segitu, jadi percuma saja ia kembali terbaring pun ia tetap akan terbangun. Maka yang ia lakukan adalah beringsut turun dari kasur lalu ke kamar mandi.
Suasana rumah masih sepi, namun dari ruangan dapur sudah terdengar orang yang sibuk. Tak mungkin maling, karena rumah ini isinya kan bulldog! Itu berarti termasuk dirinya, Naya terkikik sendiri.
Naya berjalan cepat, ia sempat datang ke rumah ini makanya sedikit banyak tau dan mengingat jalan menuju dapur, meskipun besar namun rumah ini tak sebesar istana buckingham yang kalo mau ke toilet aja mesti pake peta atau nanya si Dora. Matanya jatuh menatap bi Yani yang sedang mencuci beras.
"Bi, lagi ngapain?" karena tak ada teman, jadinya Kanaya memilih ngerecokin kerjaan bi Yani saja.
"Eh, astagfirullah!" bi Yani sempat terkejut dengan suara bertanya itu, pasalnya selama tinggal disini tak pernah ada yang menemaninya sepagi ini.
"Ibu, bikin kaget aja!" ujarnya mengusap dadha dengan raut wajah tersentak.
Naya terkekeh, "jangan panggil ibu lah bi, panggil aja Naya...Naya belum jadi ibu-ibu soalnya," balasnya tak suka dengan julukan barunya, Naya tak diam atau duduk, ia menghampiri bi Yani lebih tepatnya sih ngepoin isi kulkas samping bi Yani, dimana isinya memang selalu full nan lengkap dengan bahan masakan, minuman, buah dan beberapa cemilan, ada madu dan beberapa suplemen juga disana, bukan cuma isi telur dan air putih.
"Kan ibu, majikan bibi...ibu Andromeda, istrinya mas Andro," jawab Bi Yani melihat tingkah majikan barunya yang tak mau duduk cantik, sepertinya ia gatal jika diam.
Naya menatap bi Yani sebentar, "masa suami Naya dipanggil mas, terus Naya dipanggilnya ibu--- kalo ibu mah ibu kita kartini, ibu pertiwi, ibu guru----jangan lah bi, panggil aja Naya kalo engga kaya momy aja neng," usulnya nyeroscos yang jelas lebih baik daripada panggilan ibu.
"Siap, neng!" jawab bi Yani menjempoli lalu melanjutkan pekerjaannya.
"Disini siapa yang suka masak, bi?" tanya Naya mengambil ikan dari dalam tempat daging dan melihat jenis ikan yang ia ambil dengan sembarang.
"Kadang bu Shania, tapi bibi juga sering. Ibu kan sering sibuk sama kerjaan, jadi masaknya tuh kalo pas ada waktu, kalo engga cuma masak yang sekali abis khusus buat bapak," jawab bibi. Naya mengangguk-angguk mengerti, lalu ia memilah-milah bumbu, harus ia masak apa ikan yang diambilnya, "kalo mas Andro tuh seneng makan apa?"
"Makan nasi," jawab bibi tertawa, kemudian Naya ikut tertawa, "si bibi ih, kalo itu mah Naya tau, masa mas Andro dikasih makan beling?!" tawanya lagi memantik tawa bi Yani.
"Ah si neng, suka ngaco!"
"Penghuni disini tuh ngga manja, dari mereka kecil sampai sekarang gede, mulai dari pak Arka sampe mas Andro sama teh Gale apa aja suka, kalo pak Arka jangan terlalu banyak yang mengandung minyak-minyak neng, soalnya udah pernah kena serangan jantung, jantung bapak sudah dipasang ring," jawab bi Yani.
__ADS_1
Naya kembali mengangguk seperti kakak tua dengan mulut yang ber'o' ria.
"Kalo gitu ini di pepes aja, bi!" jawab Naya, menunjukan ikan.
"Tapi daun pisang buat bungkusnya ngga ada neng," jawab bibi.
"Ngga ada warung sayur disini gituh bi?" tanya Naya, bi Yani menggeleng, "engga. Ada juga tuh di kebun kosong komplek, lahan sepetak yang kosong, 7 rumah dari sini," jawab bibi tertawa, karena menurutnya tak mungkin istri kecil majikannya mau mengambil daun pisang di kebon kosong yang jelas-jelas gelap dan menakutkan.
"Ada bi? Kebun siapa, pohon pisang siapa?" tanya Naya.
"Punya orang neng, tapi orangnya ngga disini...ngga ada yang mau cabut juga disini, paling kebuang, robek terus pada kuning, dijadiin mainan anak-anak komplek, sekarang tuh neng...buat apa repot-repot ngambilin begituan, yang gampang aja tinggal beli," bibi menggidikan bahunya acuh, ia mulai menyiapkan bahan masakan sesuai keinginan Naya.
"Kalo beli mah mesti pake uang, udah gitu nunggu tukang sayur lewat lama, itupun kalo ada...ya udah, kalo gitu mumpung masih gelap...anterin Naya ke lahan kosong itu buat ambil daun pisang, bi. Daripada tuh daun pisang mubadzir," Bibi langsung menghentikan gerakan tangannya dan melirik Kanaya tak percaya, jika majikan barunya senekat ini.
"Ngambil daun pisang, neng?" tanya nya meyakinkan. Naya mengangguk mantap.
"Tapi lahan kosongnya banyak rumput tinggi-tinggi neng, mana gelap, ngga takut gitu?"
"Hayuk atuh, bi!" ajak Naya mengikat rambutnya dengan membawa pisau. Bibi mengekori Kanaya ke arah pintu belakang menuju luar rumah, langit bahkan masih gelap tapi gadis ini sudah bawa-bawa pisau. Orang-orang bahkan masih terlelap tapi gadis ini sudah masuk kebun terbengkalai bareng bibi, dengan hanya bermodalkan sendal jepit dan baju tidur.
"Besok-besok tanah yang aga kosong di halaman belakang rumah---Naya tanemin pohon-pohonan dapur hidup bi, biar apa-apa tuh ngga usah beli, ngga susah!" ujarnya berjalan bersama bibi.
"Iya bagus neng, biar kalo buat bumbu dapur ngga usah ke pasar, kadang bibi suka lupa, kaya lengkuas, sereh, sama kunyit," balas bibi.
"Ada bi, nanti Naya nyari atau bawa indukannya dari rumah."
Bi Yani membawa Naya melewati beberapa rumah hingga sampai pada tanah sepetak yang memang kosong terbengkalai dengan rumput yang meninggi, pohon-pohon pisang entah siapa yang menanam hanya ada jantungnya saja tanpa ada buahnya apalagi hati dan perasaan.
Suara jangkrik bahkan masih nyaring bersama binatang malam lainnya, mungkin mereka lagi gelar konser musik cadas.
Gelap malam masih menaburkan beberapa benda langit yang terlihat bercahaya begitu indah.
__ADS_1
Dan bi Yani merapatkan badannya menempel di badan kecil Naya, "neng, gelap banget! Bukannya bi Yani takut hantu, tapi takut tiba-tiba ada ular atau ulat bulu gitu, hihhh gatel!" bi Yani bergidik dan menggosok-gosok lengannya mendadak merasa dingin dan geli.
Namun Naya seakan tak takut, ia justru semakin masuk lebih jauh dengan tanpa bersuara.
Bi Yani sebenarnya malas untuk mengikuti, namun ia takut terjadi apa-apa dengan istri majikannya itu, jadinya bi Yani mengekor dengan mengendap-endap.
Naya sudah mengacungkan pisaunya demi melihat pohon pisang berdiri kokoh dengan daunnya yang lebat-lebat dan sedikit sobekan.
Naya teramat hati-hati memperhatikan langkahnya, namun baru beberapa langkah ia mendengar sesuatu yang terdengar aneh dari kebun terbengkalai dan penuh dengan rumput setinggi-tinggi lutut orang dewasa.
Kanaya menoleh pada bibi dan menaruh telunjuknya di bibir meminta bibi untuk senyap. Suaranya semakin jelas, seperti....kening Naya berkerut.
*Suara syahdu saat ia sedang bersama Andromeda di kala malam*.
"Eh," gumamnya, ketika melihat pergerakan di balik rumput dan pohon pisang.
"Astagfirullah, ulet bulu eh ular bulu eh...!!!"
Naya mendapati kedua insan muda yang sedang kepergok bercin ta diantara semak belukar.
Bi Yani yang takut tak pikir panjang lagi, ia berlari kembali dengan cepat, yang penting ia selamat duluan.
"Inalillahi!!! Lagi pada ngapain di kebon kosong gini?! Heh! Eta celananya naikin ya Allah!" seru Naya.
Kedua remaja ini tentu saja tergelonjak kaget, saat sedang eaaa---eaaa ada orang lain yang memergoki ditambah Naya sedang mengacungkan pisaunya.
Bibi berlari ke rumah, "mas! Mas Andro!" teriaknya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.