Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 70. BAUT DAN MUR


__ADS_3

Seandainya saja menggeret Wati ke kamar mandi lalu menghanyutkannya di toilet bersama sisa ampas tubuh tidak termasuk pada pelanggaran HAM, mungkin Naya akan melakukannya sejak tadi.


Momy Sha tertawa renyah dari pintu toilet, "yang ini mah suami saya, neng." Ia duduk di samping Arka dan menelusupkan tangannya di lengan Arka.


Wati nyengir kaya kuda lagi nyemil menatap Arka dan Shania lalu mengangguk dalam, "punteun bu, maaf pak..." ia mundur alon-alon, mencari lubang semut untuknya menyembunyikan wajah apalagi saat melihat wajah sekeruh com beran Naya. Teh Marni tertawa renyah melihat wajah mengenaskan Wati yang seperti penampilan tahu bacem, meski manis tapi pantas buat dikunyah dan ditelen!


"Peace ah! Damai!" ujarnya menunjukan kedua jari perdamaian pada pak Acep dan Naya yang saat ini terlihat layaknya pembunuh berantai dari timur Jawa.


"Emangnya gadis di Giri Mekar rata-rata nikahnya sama yang tua, gituh?" tanya Shania diangguki Wati mantap, "engga juga ah!" tukas Naya mematahkan jawaban Wati.


"Si Mia, nikah sama Wandi!" sewot Naya.


"Terus si Nanda sama Safar," jawab Naya lagi mengabsen daftar teman-temannya yang menikah dengan usia sebaya atau rentang usia tak jauh.


"Tapi kebanyakannya nikah sama yang tua katanya kalo yang tua mah lebih dewasa, tapi kerjaannya ngurusin anak sambil dasteran, pagi-pagi beli sayur sama lauk tempe sambil gosipan, banteran maenan pace book'an, tiap sore kalo abis bikin kopi buat suami yang lagi maenan burung sambil sarungan! Nungguin suami kelamaan mancing, malemnya dimintain kerokan, begituuuuu aja terus dari generasi ke generasi---" balas Wati nyeroscos tanpa rem membeberkan rutinitas gadis-gadis yang sudah menikah di Giri Mekar.


"Kan...kan?! Itu kenapa makanya kamu sama Wati menolak jadi gadis Giri Mekar," tunjuk Wati ke arah Naya, meminta gadis itu mengakui jika memang itulah faktanya rutinitas mereka, kalo ngga nonton drama bollywood ya sinetron poligami terus ribut sampe lempar-lempar semvak kalo adegannya ngga sesuai ekspektasi. Shania kembali tertawa dengan pengakuan gadis polos ini, namun dari pengakuan Wati, dapat Shania lihat jika kedua gadis absurd ini memiliki keinginan lain dari gadis-gadis desa pada umumnya, bisa dikatakan pikiran keduanya lebih maju.


"Tau ngga kalo mulut kamu teh diciptakan buat Naya sentil pake korek gas?!" tanya Naya membuat Wati mengatupkan mulutnya. Teh Marni dan Shania tertawa melihat menantunya dan Wati yang mirip baut sama mur'nya.


"Nah, kamu sendiri ngga tau kan sekarang nama kamu jadi trending topic di Giri Mekar ceu?!" tambahnya lagi.


Bapak sudah mengibaskan tangan pada Wati agar berita ini tak sampai di telinga Naya, namun memang dasar Wati ember retak, mulutnya sebocor genting belah.


Naya lantas mengerutkan dahinya, "gosip?! Gosip apa lagi?!" seru Naya sengit. Namun belum Wati meneruskan cerita serunya yang akan menghidupkan Naya ke dalam mode reog'nya pintu kamar terbuka dengan lebar.


"Assalamu'alaikum,"


"Siang,"


"Wa'alaikumsalam,"


Mata Wati langsung segar bak mendapatkan oase di gurun pasir, si arab gundul mah kalah sama Indonesia punya! Apakah tahun 2023 Indonesia isinya cowok cakep semua?! Padahal rencananya ia ingin pindah jadi tkw di Korea buat ngejar cowok-cowok sipit yang ganteng-ganteng sambil ngejar idolanya Kang Daniel! Tapi rupanya produk Indonesia ngga kalah saing.


"Gem," sapa Shania.


"Tante, om..." Gemilang langsung menyalami om dan tantenya.


"Nay," sapa Gem.


"Bang Gem, apa kabar?"

__ADS_1


"Baik Nay,"


"Ini...." tunjuk Gem pada Marni.


"Marni," jawab teh Marni pada Gemilang.


"Subhanallah!" bukan menggumam namun Wati berseru kembali.


"Ceu, kamu teh kenapa ngga bilang kenal sama pria-pria tampan?! Tau gini Wati teh putus kontrak sama majikan Wati yang tukang korma, dan milih tinggal disini aja!" ia menatap kagum Andromeda, Gemilang dan tim lawyer, matanya berbinar terutama saat menatap Andromeda.


Kanaya mengerutkan dahinya melihat tingkah aneh Wati, roman-romannya Wati terkena virus ter'Andro-Andro dan ter'Gemi-gemi!


Naya berkacak pinggang saat temannya itu menatap lekat penuh kekaguman pada Andro yang berada di sampingnya.


"Abang pasti tim pengacara teh Marni, kenalin saya Sukmawati Bryan Adams..saksi kunci kasus teh Marni," Wati menyodorkan tangannya pada Andro yang langsung ditepis Naya. Marni benar-benar tergelak dengan tingkah keduanya, yang satu mode barongsai yang satu ga kapok-kapok nyari masalah, mode mr.bean.


"Bryan adams---bryan adams! Kamu teh mau jadi orang ketiga?!" sembur Naya.


"Ceceu ih!" sungutnya pada Naya menukikan alis, lalu tersenyum kembali melihat Andro, "maaf ya, Kanaya mah emang suka becanda!"


"Ngarang teh ngga kira-kira! Masa Bryan Adams!" sewot Naya.


"Saya Andromeda," jawab Andro membuat mata Naya memicing sadis.


"Suami perempuan yang kamu bilang suka becanda ini," lanjut Andro, mata Wati membeliak begitupun mulutnya yang terbuka lebar memungkinkan gajah buat masuk.


"Serius ceu? Ini teh suami kamu?"


Gemilang terkikik termasuk semua yang ada disana, "makanya! Nyesel ngga, punya mulut kaya sepeda fixie, ngga ada tuas remnya?" tanya bapak.


Wati menggaruk kepala tak gatal, kemudian ia tertawa dengan kelakuannya sendiri, "maaf ceu maaf! Dikirain teh bukan suami kamu," senggol Wati di bahu Naya.


"Kalo bukan temen, udah Naya santet kamu!" sengaknya sewot yang mendapat pelototan Naya. Andromeda mengulas senyuman dan tertawa tanpa suara melihat mode galak Naya.


"Canda atuh ceu, kirain belum sold out!" senyumnya.


"Jadi ini Sukmawati, saksi kasus kekerasan?" Wati mengangguk, "bisa duduk buat ngobrol?" pinta Gemilang.


"Bisa, dimana? Mau duduk di pelaminan juga boleh, kang!" tawa Wati, tiba-tiba saja tangan Naya mendarat di telinga Wati, "ngga usah gombal-gombal gembel kamu teh, bang Gem udah punya istri!"


"Aww! Aww! Ceu ih!" aduhnya.

__ADS_1


"Aduh ampun momy mah! Sakit ih, dari tadi kulit perut momy pegel!" ujar Shania.


"Naya kalo ketemu Wati udah kaya ketemu stelannya, bu." Balas Marni tersenyum melihat Wati dan Naya.




Gemilang beserta timnya sedang bercengkrama dengan Marni, bapak, dan Wati. Sementara Arka dan Shania sudah pulang duluan, kini Andro sedang bersama Naya menuju kampus pilihan Andro, "mas udah cari, klasifikasiin, sama milah-milah sesuai minat kamu, yang cocok ya disini...."



Di tengah rasa berputarnya Naya melirik Andro, "Naya pernah cari tau kalo jurusan Agroteknologi tuh yang di Jakarta cuma satu, mas. Kalo sampe Naya ngga diterima disana, apa boleh Naya kuliah di----"



"Ngga boleh. Ngga usah ber'kalo-kalo, yang penting kamu belajar aja yang bener! Biar bisa lulus tes," Tukas Andromeda langsung memotong ucapan Naya, ia tau arah bicara Naya akan kemana, "kalo memang kamu ngga diterima disini, kamu pilih prodi lain, option selain Agroteknologi."



Kanaya mengangguk paham, ia tak berani mendebat Andro melihat wajah dingin Andro saat ini, "mas..."



"Masih ada prodi botani lain selain Agroteknologi kalo kamu mau, dan itu ada lebih dari satu kampus di Jakarta," tukas Andro lagi.



"Bukan itu mas, maksud Nay...itu ada seat parkir buat mobil...kita udah nyampe parkiran," tunjuk Naya ke arah area parkir, membuat Andro berdehem tak nyaman kepergok mpokcecif.



*Ngebet amat mas buat ngurung istri, biar punya anak cepet*! Naya mengu lum bibirnya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2