
Kanaya menurunkan tangan yang barusan ia pakai untuk menutupi matanya, percuma juga ia tutupi toh badan Andro sudah tercetak jelas di otak ngerezz'nya sebagai postur badan lelaki idaman.
Jika Shania selalu berpura-pura amnesia, maka gadis ini berpura-pura oon disaat ia sedang berada dalam moment kejepit begini.
"Ck! Kaget mas, maklumin aja...biasa tidur sendiri sekarang ada bapak-bapak hot yang nemenin," Kanaya langsung membekap mulutnya yang dengan tak sopannya nyelonong girl berucap tanpa rem.
"Apa? Kamu sebut saya apa?" Andro tersenyum geli mendengar julukan yang diberikan oleh istri nakalnya.
Kanaya menggeleng seraya mengatupkan mulutnya kuat-kuat.
"Apaaaa?" tanya Andro menggoda seraya menghampiri Naya, lihatlah lelaki ini, baru beberapa jam menjadi suami sudah berani memakai singlet dalam aan dan celana pendek di depan bocah.
Naya memundurkan badannya hingga mentok ke pintu, matanya melotot melihat penampakan bapak-bapak hot yang dimatanya kini berubah menjadi serigala berbulu domba. Netranya meneliti hingga turun ke arah bagian bawah Andro, OMG! Matanya membeliak.
"Mas," ia bahkan tak berani menunjuk sesuatu yang terlihat menonjol dari area bawah Andro.
"Coba bilang dulu, apa tadi kamu sebut saya?" Andro semakin menggoda Kanaya, gadis ini kalau panik semakin menggemaskan dan menggelikan.
"Mas ituuu! Itu kamu Ya Allahhh, tolong Nayaaaaa!" jeritnya, dan Andro tak menyerah untuk semakin maju hendak menghimpit tubuh Naya.
"Bapak-bapak...ih! Bapak-bapak hot!" jeritnya lagi menggerutu dan menatap Andro sengit selagi Andro tertawa tergelak, "ohhh! Jadi selama ini otak kamu ngeresss kalo liat saya?"
"Ck! Normal kan?!" sengak Kanaya berdecak mendorong perut liat Andro untuk mundur darinya, namun usahanya sia-sia karena tak sedikit pun lelaki itu bergeser dari tempatnya.
"Normal," angguk Andro yang wajahnya masih menguarkan aura-aura bas tard.
"Minggir, Nay ngantuk mas. Mau cuci muka---gosok gigi dulu, abis itu nerusin tidur, katanya besok mesti bangun pagi..." pintanya memohon dengan mata beningnya. Cukup lama mata Andro mengunci pergerakan Kanaya dibawah temaram lampu kamar....bibir kecil merah muda milik Naya sepertinya akan manis jika ia cicipi, begitupun pipi mulus merona yang gembil minta di gigit, brrrrr! Andro meremang oleh ulahnya sendiri. Hingga akhirnya suara Naya kembali menyadarkan Andro, benar kelakar para onta, jika ia kebelet kawin! Ia nya saja yang tak peka dengan kode dari dirinya sendiri.
Andro berbalik memberikan celah untuk Kanaya kabur. Selagi Kanaya mengambil jurus langkah seribunya, ia memilih mengambil ponsel lalu mengecek persiapan acara esok beserta pekerjaannya seraya mendudukan diri di tepian ranjang.
Kanaya keluar dari kamar untuk segera menuju ke arah kamar mandi, hatinya berdegup begitu kencang sampai harus ia redam dengan pukulan-pukulan ringan di dadha...padahal Andro baru menggodanya memakai box er, bagaimana jika sampai lelaki itu telan jank bulatt, apakah ia akan pingsan atau justru kejang-kejang? Bayangan sesuatu yang menonjol itu membuat Naya resah dan gelisah sehingga mengetuk-ngetuk kepala, "ya Allah meni jelas pisan, itu teh masih tidur atau bangun?!" dumelnya pelan ketika tangannya sibuk mengambil sikat gigi.
Hingga ia selesai dengan ritual menggosok gigi, Naya ragu untuk masuk kembali ke dalam kamar.
"Ngga mungkin kan tidur di dapur?!" gumamnya pelan, rintik hujan semakin deras turun bahkan saking derasnya beberapa bagian di dapur sampai bocor dan meneteskan butiran air dari celah-celah gentingnya. Mau tak mau ia harus kembali masuk ke dalam. Ditatapanya Arif yang sudah terlelap berbagi tempat bersama barang-barang seserahan tadi. Kanaya sampai melupakan barang bawaan Andro untuknya dan tak tau apa saja yang lelaki itu beri.
"Channel," Naya bergumam sesaat setelah matanya jatuh pada salah satu kotak seserahan yang masih terbungkus rapi kain tile. Diangkatnya kotak itu lalu Naya duduk untuk membukanya.
__ADS_1
Matanya mengerjap beberapa kali, ia bukan tak pernah mendengar dari teman-teman perempuan di kampung jikalau Channel adalah merk dunia dengan harga selangit, impian para wanita. Meskipun Naya tak tau bagaimana cara membedakan barang asli dan palsu, yang jelas...sekarang tangannya sedang memegang sebuah kartu berlogo CC bersandar dengan garansi dan sertifikat, dari dalam tas kain berisi tas kulit hitam mengkilat.
Hatinya tersentuh untuk itu, berapa yang Andro keluarkan untuk pernikahan ini, untuk dirinya?
Kanaya menaruh kembali tas itu dan memilih membongkar barang seserahannya besok subuh saja, sebelum ia pergi.
Jemari lentiknya meraih handle pintu kamar, sebelum benar-benar membuka ia meloloskan nafasnya berat, "oke!"
Pemandangan yang didapatnya masih sama seperti saat ia keluar barusan, Andro masih berkutat dengan ponsel, namun sepertinya ia tak berniat lama lagi karena kini ia sudah menaruhnya kembali di meja.
"Mas tidur di ujung, Nay disebelah sini..." tunjuknya ke arah ranjang, namun Andro tak menggubris ucapan Naya dan malah merebahkan diri di ranjang tempat yang barusan Naya tunjuk untuk dirinya sendiri, sontak suara ranjang itu berdecit mengkhawatirkan, ranjang aja tau kalo cowok bongsor lagi bobo di atasnya!
Andro terpaksa harus menekuk lututnya agar muat karena ranjang Kanaya tak cukup panjang untuknya. Kanaya refleks tertawa melihat kondisi Andro, "mas geser ih! Aku mau lanjutin tidur yang tadi..."
"Kamu aja yang disana, saya ngga biasa di pojokan mepet dinding gitu..."
Kanaya meloloskan nafas lelahnya, kalau bukan karena hari yang sudah malam dan acara besok membutuhkan energi lebih, ia mungkin tak mau mengalah pada Andro.
"Ya udah, awas dulu...Nay mau kesitu!" ujarnya dengan hati was-was sedikit horor, ia membungkuk melewati Andro untuk sampai di pojokan.
Naya menelan salivanya sulit, bukankah dengan begini posisinya akan semakin terpojok? Ia menepuk-nepuk bantal agar nyaman untuk ia tidu ri lalu melangitkan do'a agar keusilan Andro tak kumat lagi dan membiarkannya tidur dengan tenang. Segera Kanaya menarik selimut hingga sebatas leher.
Kanaya memberanikan diri untuk menoleh ke samping setelah merasa jika di sampingnya tak terdengar lagi suara, entah kenapa kepalanya ini tak sejalan dengan otak, maunya sih ia tetap diam tak memancing-mancing di air keruh, namun hati menggerakan kepalanya untuk menoleh karena penasaran ingin menatap wajah seseorang yang mulai sekarang akan selalu menemaninya tertidur dalam satu ranjang. Wajah yang akan selalu ia lihat saat bangun dan terlelap.
Terlihat olehnya siluet pahatan wajah indah, hidung bangir kontras dengan rahang tegas dan alis tebal yang selalu tajam menatap lawan bicara. Rambut Andro rapi dan pendek meski tak sependek potongan prajurit, apakah ia selalu cukuran? Pasalnya Kanaya tak menemukan sehelai pun janggut membandel di dagu Andro, hanya bayangan hitam bekas tumbuhnya helaian kumis di atas bibir yang selalu berkata datar itu.
"Laki-laki bersih," gumam Naya pelan.
"Saya sering cukuran," jawab Andro dengan mata terpejam.
"Eh?!" Kanaya membulatkan mata, rupanya Andro belum tidur, lelaki itu kini membalikan badannya ke arah Naya dan memperhatikan wajah Naya yang juga memperhatikannya.
"Kirain mas udah tidur?"
"Belum bisa..." jawab Andro.
"Mas kan besok nyetir, harus istirahat..." imbuh Naya lagi.
__ADS_1
"Hm." Gumaman Andro yang kembali terlen tang mencari posisi enak untuk terlelap. Namun di tengah keheningan situasi saat ini keduanya dapat mendengar sesuatu dari balik bilik samping kamar Naya, meski hanya sayup-sayup namun telinga keduanya belum tuli.
"Aduhhh pak, jangan kenceng-kenceng...nanti encok, ahhhh!" suara itu setengah menthe sah.
Andro tertawa begitupun Kanaya yang menenggelamkan kepalanya ke dalam selimut, malu akan kelakuan kedua orangtuanya.
Andro bahkan sampai terpingkal-pingkal dibuatnya.
"Ihhh bapak sama ibu ngapain sih!!! Malu-maluin! Udah tau dindingnya bilik begini!" gerutu Kanaya tak berani keluar dari dalam selimut, wajah Naya benar-benar memerah di dalam sana. Semakin saja sepasang pengantin baru ini terjaga diantara malam bersama rintikan hujan.
"Biarin aja Nay, toh mereka sudah sah...pahala," jawab Andro.
Kemudian gadis itu menyembulkan kepalanya, "ya tapinya liat situasi kondisi atuh, mas! Ngga tau apa kalo di sebelah..."
"Pengantin baru?" tembak Andro, membuat Kanaya serba salah, meski gadis itu berada di bawah sorot lampu yang sedikit gelap namun dapat Andro lihat jika wajah Kanaya benar-benar merah bak tomat.
Efek suara bapak dan ibu cukup dahsyat, membuat Andro harus mati-matian menahan sesuatu, menurutnya situasi saat ini belum pas untuk melakukan sesuatu yang dihalalkan bersama Kanaya, ia masih bisa menahannya sampai waktu yang pas, tapi jika Andro mencuri kecupan-kecupan manis sah-sah saja kan?!
Andro mendekatkan dirinya ke arah Kanaya dengan sigap, lalu menahan badan yang terbungkus selimut bak lontong itu takut kalau gadis ini memberikan reaksi berlebihan seperti berubah jadi grandong, untuk kemudian ia menyarangkan kecupan hangatnya di kening Kanaya cukup lama, benar saja....Kanaya tersentak kaget dan ingin berontak, namun Andro sudah sigap mendahului menahan badan Naya, "mas."
Jantung Naya mendadak terhenti saat Andro menyarangkan bibirnya di kening, sengatan bak lebah berubah jadi aliran hangat yang membuai, aroma tubuh menenangkan ini....Kanaya memejam.
Cup!
Mata Kanaya membeliak untuk kemudian mendadak sayu pasrah saat Andro turun ke area bibir kecil yang berwarna merah muda, menegaskan dan memberi jejak singkat disana seraya mengangkat dagu Naya agar menerima serangannya.
Namun sesuatu membuatnya terkejut dan tergelonjak, "Nay! Bocor!" Andro membuka selimut yang membalut badannya, tepat di atas kasur tetesan air hujan membasahi bagian celana tepat saat junior Andro tak sengaja terbangun.
"Haaaaa!!!! Mas sampai rembes??!!!" kagetnya. Sadar akan kesalahpahaman Kanaya, Andro menunjuk langit-langit kamar Kanaya, "itu bocor! Bukan saya yang bocor!"
Kanaya lantas tertawa, "kirain mas mimpi basah sampai rembes?!"
.
.
.
__ADS_1
.
.