
Andro merangkak naik ke atas ranjang, lalu memeluk Naya dan memainkan daun telinganya, sesekali ia juga menciumi tengkuk Naya hingga membuat wanita itu meremang kegelian.
"Mas ihhh," gumamnya parau menyingkirkan mulut nakal Andromeda dari leher, telinga dan pundaknya.
"Bangun, mandi...." pinta Andro mengecup intens
"Iya sebentar lagi."
"Ini udah siang, Nay...cepet mandi, mas mau ajak kamu ke sawah kita," Andro bangun dan menarik-narik Naya agar wanitanya mau bangun.
"Mau ngapain mas, masih pagi udah maenan di sawah ih kurang kerjaan," jawabnya dengan mata terpejam, seolah sulit sekali ia buka karena belek yang menempel mirip lem kayu.
"Udah buruan bangun. Biasanya juga kamu bangun paling pagi dari orang rumah...kenapa sekarang paling males?!"
"Ngga tau ih, Naya ngantuk banget mas, capekkk banget ah!" keluhnya. Andro menarik nafasnya, "vitamin dari dokter ngga kamu minum, ya?"
"Lupa." singkatnya memaksakan diri untuk bangun.
Naya sudah mandi, meskipun ia kembali duduk bersila di atas kursi dan mendekap toples keripik. Kerjaannya di Giri Mekar ya tidur ya ngemil.
"Hayok!" ajak Andro memaksa Naya untuk menutup toples yang masih berisi setengah penuh keripik balado, lalu beranjak dari sana menghampiri Andro di luar.
"Kemana sih mas?"
Rupanya Andro sudah mengeluarkan motor miliknya yang waktu lalu ditinggalkan, dan meminta Naya naik di boncengan.
"Mas mau ngajakin jalan-jalan, kenapa ngga sore aja biar teduh?" cerewetnya tak urung naik ke belakang Andro.
Tak ingin berujung ribet, Andro hanya diam saja tanpa menggubris pertanyaan Naya.
Hangat pagi hari menemani sepasang suami istri ini, terkadang beberapa warga yang kini mengenal sosok Andro menyapa sekilas Naya dan Andro.
"Nay,"
"Mas Andro,"
Naya tersenyum meski sedikit tertawa sumbang dalam hati, dulu ia dipandang sebelah mata oleh warga.
Jalanan tanah agak berbatu dilindas ban motor trail Andro, sepasang tangan Naya melingkar di pinggangnya.
Dulu ia pernah seperti ini, saat ia masih menjadi Kanaya si pemimpi, bersama seseorang yang telah menggoreskan luka menganga di hati.
"Mas, cuti Naya abis hari ini. Besok Nay udah ngampus lagi..." ujarnya.
"Iya. Setelah launching angkringan kita pulang,"
Kanaya cukup terkejut melihat tanah miliknya yang terakhir ia lihat hanya ada lapangan kosong, dengan beberapa petak sawah kini sedang mulai dikerjakan. Bahan-bahan bangunan menggunung di samping kiri dengan beberapa tukang sedang mengaduk campuran pasir dan semen.
__ADS_1
Ia turun dari motor dan masih mencerna apa yang ia lihat, sementara Andro sudah turun dan menyapa mandor proyek, "gimana pak, aman?"
"Eh, pak Andro...aman pak, aman!" sosok pria paruh baya dengan kaos yang dimasukan ke dalam gesper celana itu melaporkan sudah sejauh mana proyek berjalan.
"Mas," colek Naya. "Mas tuh lagi bangun apa lagi?" tanya nya menyapukan pandangan pada keseluruhan inci tanah lapang dan para tukang.
Andro memutar badannya ke arah Naya, "rumah kita."
" Rumah?" ia membeo.
"Disana nanti rumah kecil kita sama anak-anak, di lahan sebelah sini....cukup besar untuk kamu membangun lahan agrowisata yang kamu pengenin, kamu bisa promokan itu lewat tante Melan yang seorang tenaga pengajar, biar nanti kebun agrowisata yang kamu bangun bisa bermanfaat buat anak-anak sekolah." Jelas Andro.
Naya tak pernah membayangkan jika impiannya bisa sedekat ini, Andro sudah berpikir jauh ke depan, bahkan jauh dari bayangannya yang sebatas galaksi bima sakti.
Andromeda, selalu berpikiran matang, dewasa dan visioner. Sesuai namanya, pandangannya jauh menembus galaksi Andromeda.
Naya terisak bahagia lalu menarik dan menyarangkan pelukannya di tubuh jangkung Andro dengan berjinjit, "makasih mas."
"Engga gratis," bisik Andro menghentikan isakan Naya dan membuatnya mendongak seketika sambil memicingkan matanya, "itungan."
Naya menggeleng, "Nay mau ikut, kemanapun mas pergi, Nay ikut."
Andro menatapnya sangsi, "termasuk ke wese?" Naya mengangguk tertawa, "termasuk!"
Jika ada list hal kebahagiaan di dunia ini, maka hari ini adalah paling bahagia ketiga setelah yang pertama saat Andro mengucapkan ijab kabulnya dan kedua saat ia tau kehamilannya.
Si kembar bertindak menjadi yang paling besar bersama Arif di area taman bermain yang disediakan di angkringan and lesehan '78, mengasuh para cucu gen Kurawa & Pandawa, mereka tak menyangka kabar grand opening cafe lesehan ini akan tersebar hingga ke luar Giri Mekar, bahkan beberapa daerah se-Cianjur.
Parkiran sampai penuh sesak, pak Yayat dibantu beberapa anak-anak pemuda Giri Mekar mendulang nafkah dari hasil parkiran.
Suasana malam yang ramai nan hangat ini dibuka oleh ayah Arka, sebagai pemilik dari Route '78, induk dari lesehan. Disusul oleh para owner pendahulu angkringan dan do'a dari ustadz setempat.
"Ngga nyangka gue, usaha makin gede. Semoga makin banyak beranak cabang!" ujar Enzi.
"Kirain gue, lo mau ngomong beranak dalam kubur!" kekeh Andrew.
"Itu mah lo!" desis Enzi.
Andro tampak tampan seperti biasanya, Naya sampai tak mengedipkan mata ketika Andro maju sebagai pembicara.
"Suutt!" Wati mencolek Naya dari arah belakang.
"Ganteng banget ya laki orang!" tawanya sukses membuat Naya mendelik sinis, "suami Naya, Wat..."
Wati tertawa renyah. Merasa pusing berada diantara keriuhan acara, Naya memilih ijin keluar pada keluarganya dengan mencolek momy dan ibu.
"Kemana?" gumam Wati dengan gerakan mulut.
__ADS_1
"Keluar Wat, pusing disini. Pengen cari angin!" jawab Naya. Wati mengangguk dan mengikuti Naya ke arah belakang cafe, melewati dapur dimana sedang sibuk-sibuknya membagikan makanan.
Naya mengambil duduk benar-benar menghadap lahan kosong sedikit yang langsung dibatasi oleh pagar tinggi sebagai pembatas lahan cafe dan tanah warga lain.
Sepasang sahabat itu duduk bersama memandang gelapnya langit yang dihiasi beberapa benda angkasa, entah itu bintang berjarak milyaran cahaya ataupun satelit bumi, berjuluk bulan yang malam ini terlihat begitu besar di mata Naya, seolah impiannya sejengkal lebih dekat lagi.
"Kamu teh gimana, orang lain sibuk kerja kamu malah sibuk ngobrol disini sama Naya." kekeh Naya.
"Ha, ngga akan bikin kamu mecat Wati kan?" tanya Wati, sontak menggeleng sambil tersenyum.
"Kamu harusnya bersyukur ceu, bisa putus dan ngga jadi nikah sama a Salman."
Pernyataan itu diangguki Naya, "iya. Allah memang tau apa yang terbaik untuk hambanya. Dulu Naya sempet berpikir, kok Allah tega bikin a Salman ninggalin Naya, sampe kepikiran buat gantung diri segala," Naya terkekeh sumbang menertawakan kebo dohannya dulu.
"Halah itu mah kamunya aja yanh bo do!" Pikiran kamu sumbu pendek! Laki-laki mah masih banyak, kalo kamu ngerasa patah hati sama lelaki, anggap aja kalo kang Daniel lagi disiapin Allah buat kamu!" balas Wati, Naya menyemburkan tawanya, "kamu mah halu teh ketinggian!"
"Bukan halu ceu, tapi memotivasi diri sendiri, menyelamatkan diri sendiri dari keterpurukan!" jawabnya.
"Next, cita-cita Naya bakalan tercapai Wat..." Naya menoleh tersenyum simpul.
"Cita-cita yang mana nih? Kamu mah kan cita-citanya kebanyakan!"
"Cita-cita jadi sarjana pertanian, sama bikin kebun agrowisata, ngajakin para petani buat kerja sama bangun desa jadi desa agrowisata!"
Wati tersenyum mendengus, "selamat ceu, kira-kira cita-cita kita selanjutnya apa?"
Naya mengetuk-ngetuk dagunya, "emhhh, belum kepikiran. Kayanya cita-cita Naya sama kamu udah beda jalur, bakalan ada cita-cita lain salah satunya...." Naya mengusap perut datarnya dan menatap sayang.
Wati ikut mendaratkan pandangannya kesana, "semoga lungsur--langsar ceu. Wati ikut bahagia."
Grepp!
Sebuah jas menyelimuti badan Naya, "di luar dingin, baju kamu pendek."
Wati tergelonjak kaget, ketauan makan gaji buta, "kang, eh...Ceu kalo gitu Wati masuk dulu, permisi!" Wati langsung berlari ke dalam, Andro tersenyum melihat Wati lalu duduk menggantikan posisinya tadi di samping Naya.
"Wati jangan dipecat, mas. Naya yang minta dia buat temenin Naya."
Andro menggeleng, "lagi ngapain, kenapa ngga di dalem?"
"Naya nyari angin mas. Di dalem pusing, kebanyakan orang. Berisik."
"Mas ngapain disini, kenapa ngga di dalem ketemu yang lain sama pengunjung?"
"Ngga perlu. Mereka udah tau, mas nyariin istri sama calon anak." Ucapan yang biasa saja namun mampu membuat Naya tersenyum merona, "makasih. Mas udah buka mata Naya, kalo hidup ngga harus melulu diam di tempat, mas buka wawasan luas dunia bahkan ke tempat yang ngga pernah Naya bayangin sebelumnya, memberi perasaan yang lebih dari satu makna. Naya berasa menjelajahi cinta sampai ke galaksi Andromeda." tunjuknya ke langit malam menembus atmosfer bumi.
Andro tersenyum memiringkan wajahnya menatap bumilnya yang terlihat semakin cantik dalam balutan dress hijau bunga-bunga. Beberapa anak rambut mencuat keluar dari kepangan Naya, dan tangannya begitu usil untuk tidak menyentuhnya.
Dibawanya rambut Naya ke belakang telinga, "mau menjelajahi rasa baru?" tawarnya.
"Apa?"
"Rasanya menjadi seorang ibu..." jawab Andro.
Naya tertawa, "kalo sama mas, Naya siap!" senyumnya melesak ke dalam pelukan Andro.
"Dingin mas..." rengeknya.
"Masuk yuk! Yang lain nungguin nyonya Andromeda buat gunting pita..."
"Yuk." Keduanya beranjak dari tempat itu.
...THE END...
Yeee, akhirnya kisah Naya dan Andromeda harus berakhir sampai disini kita kepoin. Terimakasih untuk semuanya yang sudah memberi dukungannya untuk bapak-bapak hot dan Neng Naya, mulai dari sekuntum dan seikat mawar, kursi panas, silet buat cukuran, vote termasuk tip buat minSin. Sangat terharu dengan apresiasi dari para pembaca yang begitu besar, hingga di bulan Mei kemarin karya recehan ini bisa masuk ke dalam jajaran rangking bersama karya-karya hebat lainnya. Suatu pencapaian yang selama hampir 4 tahun disini baru min Sin dapatkan. Semoga min Sin masih bisa memberikan suguhan-suguhan yang berkualitas untuk semua pembaca meski terkadang menyesatkan 😂😂
Tak ada balasan yang bisa saya berikan buat para pembaca semua, selain dari do'a semoga sehat selalu, dan dilancarkan rejeki serta urusannya, aamiin 🤲
Just information 📣📣📣
Coming soon 🔜 "MANUVER CINTA ELANG KHATULISTIWA"
Bagi sahabat ambyarnya abang Saga jagoannya abi Fath dan nyak Fara juga Cimoy anak gadis abi Ray---momy Eyi, siap-siap ketemu mereka ya 😋😋 see you say!!!
__ADS_1