Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 50. PEMANDANGAN PERTAMA


__ADS_3

Wajahnya sudah lecek dan lusuh, mirip kaya lap kompor yang abis dipake buat lap'in minyak jelantah terus bumbu rendang, pan tat wajan bahkan sampai noda kerak neraka.


Kanaya yang tak biasa begadang itu menguap lebar selebar badan jalan, sudah tak terhitung jumlah intensitas ia menguap, mungkin sudah bisa disamakan dengan jumlah candi prambanan 999.


Sejak tadi, ia sudah berdiri bak patung Pancoran bersalaman dengan tamu satu persatu termasuk menerima sesi foto yang tak ada hentinya bersama tetangga, kerabat, teman Karang Taruna termasuk Agus cs yang juga hadir, 11 12 lah sama orang utan di kebon binatang yang foto bareng pengunjung.


Ternyata jadi raja dan ratu sehari itu tak seindah ekspektasi Naya, ia pikir jika jadi ratu bisa rebahan bebas sambil merintah-merintah orang! Tapi rupanya ratu sehari dalam artian pengantenan adalah orang yang duduk di kursi singgasana mirip singgasana kerajaan sambil ditontonin dan diselamatin khalayak ramai, sepaket wajah gembira dan sumringah kaya orang gila di jalan simpang.


"Kenapa orang nyebutnya raja dan ratu sehari mas?" tanya Naya iseng demi mengusir rasa bosan.


Andro menoleh saat jeda di sesi foto, "serius nanya? Ya, karena acara ini dibuat untuk memeriahkan dan menghibur nikahan kita. Orang-orang sampe ngantri cuma buat liat, kasih salam dan selamat," jelas Andro yang juga sebenarnya tak mengerti kenapa gadis ini rajin sekali menanyakan hal yang tak penting, "lagian kamu ngapain nanyain begituan? Kurang kerjaan."


Naya menarik nafas jengah, "ini mah bukan raja ratu sehari mas, tapi udah kaya topeng mo nyet sehari! Ditontonin orang, dikasih uang...mesti dandanan sambil nyengir pas difoto, padahal kenal aja engga. Naya emang warga Giri Mekar, mas. Tapi ngga semuanya Naya kenal deket,"


Andro hampir menyemburkan tawanya mendengar pengertian mantenan ala Kanaya, tapi jika dipikir-pikir gadis ini pun tak salah.


Andro melihat arloji di pergelangan tangannya, jangankan Kanaya, ia saja sudah tak betah dengan kondisinya yang sekarang, ingin rasanya Andro mengguyur badan dengan air es sekalian biar seger, beku...beku deh tuh!


Sebenarnya ia hanya ingin pernikahan sederhana saja, tapi momy Shania merengek meminta untuk merayakan pernikahan dengan mewah, itung-itung ngabisin duit katanya! Anggaplah resepsi kali ini mengobati keinginannya atas resepsi pernikahannya dan Galexia dulu.


Andro mengendurkan dasi dan membuka jasnya, lebih nyaman menggunakan t shirt, yeah!


"Mas, abis ini kita kemana?" tanya Naya memutar lehernya hingga berbunyi kretek yang hampir saja kecengklak, juga kakinya yang hampir patah karena sejak tadi harus berdiri menggunakan hak tinggi, biasa telan jank kaki malam ini ia malah mesti selopan setinggi-tinggi egrang. Andro menekan pundak terbuka Naya dengan lembut, lalu membungkuk dan meminta Naya membuka sepatu hak tingginya, "buka aja sepatunya, saya tau kamu ngga biasa. Bikin pegel..."


Tentu saja Kanaya tersenyum lebar, tak peduli keduanya masih dilihat banyak orang yang jelas ia sudah tersiksa.


"Malam ini kita pulang ke rumah kamu, besok pagi sudah harus di Jakarta. Biar ngga bolak-balik, sambil packing baju kamu," jelas Andro menyampirkan jas dan duduk, menyisakan kemeja putih yang justru membuat Andro tampan karena kemeja itu jatohnya acak-acakan di bagian ujung bawah. Lelaki itu malah sudah menyenderkan badannya di kursi pelaminan, jika begini caranya maka malam ini yang akan mereka lakukan adalah saling pijit!


Mendengar kata packing baju, seketika membuat Naya terdiam dan menjatuhkan tatapannya pada ibu.


Hm, yeahhh! Tentu saja, sekarang dirinya sudah sah menjadi istri Andro, secara otomatis ia harus ikut kemanapun Andro pergi meski ke perut bumi sekalipun. Melihat wajah Naya yang mendadak mendung, Andro angkat bicara, "kalo kamu mau kesini tiap weekend juga boleh, lagipula nanti saya buka usaha disini, itu artinya kita akan sering pulang kesini...kamu ngga keberatan kan?"


Kanaya menggeleng, "engga. Kan dari awal Naya yang pengen kerja di Jakarta sampe kuliah di sana juga," jawabnya.


Andro mengangguk singkat untuk itu.



Shania dan yang lain memutuskan untuk pulang ke Jakarta malam ini juga setelah acara resepsi pertama selesai. Sementara Andro mengantarkan Kanaya sekeluarga pulang, karena mobil yang disewa pak Akbar penuh dengan barang seserahan.



Mereka sampai di rumah pukul 11 malam. Puspa bahkan sudah tertidur dalam gendongan bapak, sementara Kanaya? Andro tak tega jika harus melihatnya muntah, maka di jalan tadi ia membelikan Kanaya obat anti mabuk.



"Ceu, udah nyampe!" ibu mengguncang lengan Naya, ketika mereka sudah berada di halaman rumah pak Akbar. Suasana malam disini sudah cukup sepi hanya lampu-lampu dari sekitaran rumah warga dan pabrik yang berpendar diselingi suara binatang malam.



"Aduhh, ceceu bangun ceu! Sekalinya dikasih obat malah pingsan!"

__ADS_1



Arif mengekori bapak yang menggendong Upa berjalan duluan menuju rumah seraya membawa sebagian barang seserahan, dibantu pak Akbar dan bu Dewi, "saya langsung antar pake motor saja biar cepet bu Arum," ujar pak Akbar.



"Iya pak, makasih banyak! Padahal bisa besok saja....sudah malam, mana mau hujan!" imbuh ibu yang mendongak melihat gelapnya langit malam namun sudah terasa hawa-hawa seperti akan turun hujan beriringan dengan suara petir kecil beberapa kali.



"Ngga apa-apa, bu. Takutnya kalo besok bikin geger warga bawa beginian..." jawab bu Dewi merujuk pada barang seserahan.



Andro terkekeh masih di bangku pengemudi saat ibu dengan susah payah membangunkan Kanaya yang mirip bang keee kucing karena sulit sekali membangunkannya, bahkan wanita paruh baya itu sudah mencubit-cubit pipinya sekaligus memencet hidung Naya namun tetap saja, gadis ini tak bergeming, "bu, biar Naya nanti saya saja yang bangunkan." sela Andro.



"Ya sudah. Cepet nak Andro takutnya ini turun hujan, udah kedenger *geledek'nya*..." ibu ikut membawa serta beberapa kotak bersama sebundel map mahar milik Naya, kini gadis itu sah menjadi juragan baru di desa Giri Mekar!



Sejenak Andro menatap Naya yang masih terdapat sisa-sisa make up di wajah cantiknya. Beberapa kali ia membangunkan namun tak jua ia terbangun, hingga Andro memutuskan meninggalkan Kanaya di sana sendiri untuk membantu membawa barang seserahan lain terlebih dahulu.



Tak berapa lama, hawa dingin dan suara binatang malam sayup-sayup terdengar di telinga Naya bersahutan dengan geledek, memaksanya membuka mata dan mengumpulkan kesadaran, "eh!" Naya mengucek kedua matanya seraya celingukan.




Ia keluar dari mobil selagi menunggu orang lain datang kembali, memperhatikan langit dan kondisi malam desa Giri Mekar seraya mengumpulkan kepingan-kepingan nyawa yang barusan tercerai berai dalam mimpi singkat.



Mungkin mulai sekarang Naya akan jarang berada disini....ia tak akan bisa setiap hari memandang desa seperti yang sedang ia lakukan sekarang.



"Ceu! Malah ngelamun disitu!" Arif kembali untuk mengecek kotak seserahan terakhir di bagasi mobil Andro.



"Yang lain sibuk angkutin barang ceceu, eh ceceu malah sibuk ngitungin laron!"



Naya mendengus tertawa, "lagi nangkepin nyawa! Belum ngumpul semua, yang lain mana?" Naya ikut menghampiri.


__ADS_1


"Di rumah, mas Andro juga di rumah...ini disuruh nge-cek ceceu sama bagasi, masih ada barang apa engga, mas Andro juga nyuruh buat ngunciin mobilnya, soalnya dia ngga akan balik lagi kesini..." bocah lelaki itu mengangguk mantap, seolah bangga karena Andro mempercayakan urusan sepenting ini padanya.



Naya mencebik melengkungkan bibirnya sangsi, "emang bisa?"



Arif mengangguk mantap, "bisa dong! Tadi kan mas Andro udah ngajarin. Nih liat!" adik lelakinya itu mengecek seluruh pintu mobil, jendela lalu mematikan pemutar musik dan menekan remote, sebagai sentuhan terakhir ia meniup remote di tangannya seperti seorang koboy pada senjatanya dengan seringaian khas, membuat Kanaya mendesis lirih, "sombong!"



Arif tertawa, "tandain ceu! Kelak nanti, aku bakal punya mobil kaya mas Andro!" ujarnya berjalan bersama Kanaya menuju rumah.



"Aamiin!" jawab Naya, tetes-tetes hujan mulai turun satu persatu hingga kini semakin ramai dan deras, untung turun rame-rame ke buminya ngga pada bawa golok! Sontak saja Arif dan Naya berlarian menuju rumah yang sudah dekat, sempat pula mereka berpapasan dengan pak Akbar dan bu Dewi yang memutuskan untuk segera pulang.



Temaram lampu teras rumah yang berwarna oranye menerangi halaman depan yang menampakan beberapa pasang sepatu-sendal penghuninya.



Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah ibu bersama seabrek-abrek barang seserahan dan bapak yang baru saja keluar kamar sambil sarungan, lalu...dimana Andro? Mungkin di kamar mandi!



Lantas Naya memilih masuk ke dalam kamarnya begitu saja untuk meneruskan tidurnya.



Ceklek!



"Astagfirullahaladzim!" Naya berseru seraya menutup matanya dengan sebelah tangannya, "mas kenapa masuk kesini?!"



"Terus saya mesti masuk mana? Kandang ayam?"


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2