Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 32. PINJEM DUIT DONG, PAK?!


__ADS_3

Kanaya menyunggingkan bibirnya julid hingga keriting, ia ditinggal Andro begitu saja tanpa kepastian di gawang pintu setelah balada kehebohan keluarganya barusan.


Dari tempatnya berdiri, Naya dapat melihat jam dengan angka yang langsung menempel di dindingnya dari ruang keluarga. Hari sudah hampir tergelincir ke sore, bagaimana nasib Naya selanjutnya, tak mungkin juga ia bermalam apalagi tinggal disini! Apa kata orang, tetangga, rt, rw, lurah, camat, walikota, gubernur presiden, tukang sayur, tukang tahu?!!! Seorang gadis yang bukan siapa-siapa numpang tidur di rumah bujang. Ck, kenapa tak terpikirkan oleh Kanaya, kemudian ia segera berbalik ke arah kursi demi memeriksa jumlah uang yang dibawa di dalam tas meskipun Naya tau, tuh uang ngga akan cukup buat nyewa kost-kostan atau mustahil beranak dalam saku!


Gadis itu meloloskan nafas berat sampai anak rambut yang menutupi keningnya ikut tertiup, "masa harus tidur di emperan toko?" gumamnya. Ia meraih sebotol teh manis kemasan yang botolnya berembun hingga netes-netes, sepertinya segar untuk menyiram tenggorokannya yang mendadak kering.


Andro menatap kakaknya yang menyipitkan mata dengan tatapan sinis, "jangan mainin anak gadis orang, Ndro! Dia masih lugu, pokoknya gue ngga terima kalo lo lamar si Kartini tanpa cinta," ancamnya, sebagai sesama wanita ia tentu dapat membayangkan bagaimana sengsara dan sakitnya jika dinikahi oleh seseorang yang tidak mencintainya.


"Ayah nikah sama momy apa udah cinta? Bang Fatur nikahin lo apa udah ada cinta? Bukannya cinta akan datang seiring waktu kalo sering bersama?" tanya Andro, Galexia berdecak memberikan Arion yang telan jank bagian bawah ke arah wajah Andro, sementara ia mengambil pampers dan celana.


Balita itu tersenyum lebar menunjukan gigi-gigi susu putihnya yang masih jarang-jarang, dengan lesung pipi di kedua pipinya. Arion tersenyum lebar hingga matanya terpejam membuat Andro tak bisa untuk tak luluh.


"Pegang dulu! Lo kan bapak keduanya," ujar Gale tersenyum lebar, Andro mau tak mau menerima beberapa belas kilo daging plus tulang dan liur, da rah daging dari kakaknya yang sering membuat statusnya berubah jadi seorang nanny.


"Gue heran sama lo, apa alesan lo milih si Kartini sampe berani bawa dia ke depan ayah sama momy? Nekat tau ngga?!" desisnya. Andro melihat gerakan Gale yang cekatan mengambil celana dan pampers lalu kembali.


Mata Andro berganti melihat ke arah gawang pintu menuju teras belakang, ia mengulas senyuman tipisnya tatkala melihat Kanaya sedang asik meneguk teh dalam kemasan, seraya menghitung sesuatu, sepertinya lembaran uang...pasti gadis itu sedang kebingungan dengan nasibnya ke depan.


"Gue belum nikah, orang ribut pada recokin, kapan kawin! Gue niat nikah, masih diragukan! Jadi gue mesti gimana?" tanya nya datar pada Gale yang telah kembali mengambil Arion. Balita itu malah merengek berpisah dari sang pengasuh, Andromeda.


"Karena lo bukan mau nikahin kambing, peak! Mau nikahin anak orang!" cebiknya kesal hingga menahan gertakan gigi.


"Karena gue butuh Kanaya, dan Kanaya butuh seseorang yang bisa lindungin dan nafkahi dia," jawab Andro.


"Simbiosis mutualisme," tambah Andro.

__ADS_1


"Kenapa mesti si Kartini? Apa cewek yang deket sama lo ngga ada yang cocok? Kenapa mesti cari sampe jauh, secara keluarga juga ngga kenal? Kalo emang alesan lo cuma karena simbiosis mutualisme, jangan muna deh Ndro,"


Andro kembali diam, bagaimana menjelaskannya pada Gale jika ia terlalu nyaman bersama gadis itu. Jika Kanaya masuk ke dalam kriteria gadis unik versinya dan sayang untuk ia lepas begitu saja. Galexia memang benar, ia terlalu gengsi untuk bilang bahwa ia menyukai Kanaya, yang notabenenya adalah gadis berusia 19 tahun, ia mungkin masih malu mengakui jika ternyata ia menyukai gadis yang usianya sedikit jauh darinya, menyukai Kanaya yang kelihatannya hanya gadis biasa tanpa kelebihan apapun, baik itu pendidikan, materi ataupun prestasi tertentu.


"Pikirin lagi, kalo udah serius dan mantap! Gue adalah orang pertama yang dukung lo," Gale berlalu membawa Arion kembali bergabung dengan keluarganya, Shania dan Arka melirik ke arah Andro sekilas, mereka tau Andro cukup dewasa untuk mengambil keputusan untuk hidupnya.


Dari tatapan kedua orangtuanya itu, dapat Andro simpulkan jika keduanya akan setuju saja jika Andro memang sudah mantap. Buktinya, momy tidak mencoba melarang Andro atau mengusir Kanaya apalagi menolaknya sejak dari pintu seperti sebelum-sebelumnya.


Andro kembali menghampiri Kanaya, "ngitung apa? Hasil ngamen lagi?" cibirnya menggoda Naya.


"Pak," Kanaya sudah memasang sepasang mata gelas kaca alias bening-bening berair. Senjata wanita, balita, anak-anak dan para tokoh antagonis yang lagi drama queen kalo warisan ngga turun.


Kedua tangannya mengulurkan lembaran uang, yang jika dihitung jangankan untuk menyewa kost-kostan atau kontrakan, untuk makan aja cuma cukup 2 kali makan.


"Kalo ngekost atau ngontrak di Jakarta cukup engga?"


Kanaya mendelik sinis, "terus gimana dong, pak? Masa saya harus balik lagi ke kampung? Bapak harus tanggung jawab!" ketusnya galak.


Melihat reaksi keheranan Andro, Kanaya kembali bersuara, seolah tak mau memberikan kesempatan untuk Andro mengelak, "Kan bapak yang ngajak saya kerja disini! Mana buru-buru, jadi saya ngga punya modal !"


"Emangnya kalo saya ngajak kamu bulan depan, kamu udah punya modal?" tanya Andro.


Kanaya nyengir, "mungkin! Kan rejeki ngga ada yang tau, jangankan bulan depan, siapa tau besok saya jadi jutawan dapet rejeki nomplok tak terduga!" jumawanya masih bisa menghayal dan sombong.


Kanaya menepuk pa hanya seraya berseru, "gini aja pak, emang sih kedengerannya kurang aj ar. Mau bapak bilang saya ngga tau malu ngga apa-apa deh! Saya mau pinjem uang bapak buat ngontrak, nanti kalo udah diterima bapak bisa potong utang saya dari gajih, dicicil loh pak! Kan saya juga butuh buat makan sama kelangsungan hidup ke depan, belum lagi buat kirim ke kampung, terus nabung buat kuliah?!"

__ADS_1


Belum apa-apa gadis ini sudah memiliki rencana hidupnya sendiri, menata hidup di ibukota. Andro tak menjawab atau menyela ucapan Kanaya, hanya memandangnya seperti sedang memikirkan sesuatu. Andro sudah merencanakan akan menitipkan Kanaya di salah satu kontrakan milik Guntur saja, agar ia bisa mengawasi gadis ini.


"Pak, gimana? Malah bengong merhatiin saya!"


"Saya dari tadi merhatiin kamu, kamu ngga cape gitu, ngomong ngga pake titik koma?" tanya Andro.


Kanaya mengerutkan dahi seraya berdecak, ingin sekali ia menyiramkan teh manis sisanya minum barusan ke arah Andromeda, kalau bukan calon atasan yang akan menolong hidupnya ke depan sudah ia kubur hidup-hidup manusia datar bin nyebelin satu itu.


"Kamu udah rencanain hidup ke depan. Kalo seandainya momy saya ngga nerima kamu gimana? Terus uang saya yang kamu pinjem gimana? Oh iya, saya baru inget, nomor kamu kenapa belum aktif?" tanya Andro. Sontak saja Kanaya kembali mengernyit, "nomor apa pak? Nomor tog3l?!" tanya Naya sewot dengan nada ketus nan berapi-api, nih orang kalo ngehina kebangetan! Udah tau kan Kanaya adalah salah satu manusia purba yang ngga kenal ponsel, pake nanya nomor!


"Jangan di be go-be goin mukanya! Ya nomor ponsel lah, ponsel yang saya kasih itu mana? Yang saya titip lewat pak Akbar, jangan-jangan kamu jual lagi?!!" tanya Andro dingin. Awas saja jika itu terjadi! Akan ia tagih dengan pengabdian seumur hidup!


"Ponsel apa?! Kapan bapak kasih saya ponsel? Pak Akbar?!" tanya Naya kebingungan.


"Astagfirullah!" Andro mengusap wajahnya frustasi.


"Jadi...." Andro mele nguh, ia beranjak ke dalam untuk mengambil ponsel miliknya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2