
"Selamat sore ibu, bapak...mangga mau pesen apa?" suara seseorang membuat Naya terkejut setengah mati karena suara itu begitu ia hafal.
Dengan kaos bergaya wangki hitam beraksen orange dan rok span pendek, lengkap dengan appron dan stoking hitamnya ia berdiri di belakang Naya serta Andro.
Naya melipat bibirnya melihat tampilannya, "kan---kan---si alan emang si ceceu!" sewotnya dengan bibir merah plus julid.
"Edaannn gaya kamu sekarang Watiii!" Naya memeluk sahabatnya itu, ia tak mengira jika Wati akan bekerja di tempat Andro.
"Cocok ngga ceu?!" Wati memutar badannya dengan sombong seolah-olah ia boneka manequin.
"Bosen atuh kerja teh dasteran aja! Waktu di Saudi, Wati pakenya dasteran sambil jilbaban, panas! Sekarang mah nyobain yang cocok buat umuran Wati, menampulkan kemolekan Wati yang terpendam!"
Naya tertawa melihatnya, "gimana kamu aja lah, Naya mah lieur!" (pusing)
"Bu bos mau taster makanan atau cuma mau duduk-duduk ngelamun kaya embek sakit aja disini?" tawarnya.
Naya tertawa, "kalo pelayannya kaya kamu auto ngga laku cafe mas Andro, Wati. Masa iya pelanggan ditanyanya kaya gitu!"
Wati tertawa renyah, "ya ngga akan atuh, ceu. Sok duduk, mau makan aja atau mau minum sambil duduk gratis?"
"Mau duduk gratis sambil mandangin kamu kerja! Becus apa engga?!"
"Si alan." umpatnya lagi.
"Mas, ketemu pak Akbar dulu," ijin Andro yang ternyata pak Akbar sudah berada disana.
"Iya mas," Naya duduk di salah satu karpet dengan meja kayu disana, dengan bantal sofa di masing-masing karpetnya.
"Eh ceu! Tau ngga kalo teteh kamu kerja di Kinoy's sekarang?" Wati ikut melepaskan heels'nya dan duduk bersama Naya.
Alis Naya berkerut, "kerja? Di Kinoy's? Ngga ada yang kasih kabar ke Naya tuh!" jawabnya memainkan tempat tusuk gigi yang ada disana dan mengeluarkannya satu.
"Udah beberapa hari ini," angguk Wati.
"Hm. Selama Naya ngga kesini banyak yang Naya ngga tau...kamu kerja di cafe mas Andro, pak Yayat juga, teh Marni kerja di Kinoy's, termasuk di depan desa ada pasar malam ya?" tanya nya diiyakan Wati.
"Ada, baru 2 hari....kesana yuk! Mumpung potong pita cafe besok malem!" ajak Wati.
"Boleh," Naya melirik jam di tangannya yang sudah menunjukan pukul 5 sore.
"Kayanya sih kalo jam segini udah buka, tapi Naya harus ke rumah dulu. Soalnya Naya belum ke rumah...."
"Boleh, Wati tunggu disini aja sambil ganti baju!"
"Oke!"
Naya langsung masuk ke dalam halaman rumah bapak, menemukan Upa sedang main di halaman rumah di bawah pohon kemiri.
"Ceceu, om Andro!" ia menghambur pada Naya.
"Upa! Ceceu kangen sama Upa!" keluhnya pada sang keponakan.
"Ceceu yang ngga pernah datang lagi kesini, om Andro bawa ceceu lama!" keluh bocah itu menatap Andro sebal.
Naya mengacak rambut Upa dan hendak menggendongnya, namun Andro melarang Naya, "jangan digendong, Nay. Itu kamu lagi hamil."
"Oh iya, lupa mas. Tapi ngga apa-apa kali, masih rata perut Naya." Andro menatapnya dengan wajah datar, tanda jika ia tak mau didebat.
"Iya mas."
"Ceceu mau punya bayi?" tanya Upa, sedikitnya anak itu tau kata hamil artinya ada sosok bayi di perut Naya.
Naya melebarkan senyumnya pada Upa, "iya. Upa mau punya dedek."
"Asikkk! Tapi nanti ceceu sama dedeknya disini kan?!" tanya Upa.
Naya melirik Andro, "nanti dedeknya main kesini, nengokin Upa. Atau Upa yang ke rumah dedek..."jawab Andro, belum apa-apa mereka sudah mengatur jadwal tengok menengok.
"Udah ah, masuk! Enin sama abah mana?" Kanaya menggandeng Upa untuk masuk.
"Ada."
__ADS_1
"Mamah Upa?"
"Mamah belum pulang, mungkin sebentar----"
Suara mesin motor matic membawa sepasang wanita dan lelaki di usia yang tak lagi muda, sama-sama sudah memiliki anak dan tengah sendiri.
"Makasih kang," angguk Marni ketika pak Agung mengantarnya dengan motor matic miliknya.
"Sama-sama, dek Marni kalo tak keberatan mau saya ajak jalan ke pasar malam, malam ini..." ajaknya sopan.
Marni tersenyum hangat penuh rona malu, "boleh kang."
Naya melirik Andro dengan raut wajah geli, lalu Andro mengusap wajah istrinya itu sambil tertawa. Terkadang melihat adegan uwu yang tersuguh begini jadi malu sendiri, mungkin jika Wati disini sudah pasti ia akan mengeluarkan cibiran pedasnya.
"Yang begini tuh namanya kala cinta tumbuh di usia senja..." lirih Andro semakin membuat Naya mencibir.
"Kalo mas sama Naya apa?"
"Emhhhh, kala cinta tumbuh di beda usia?" usul Andro.
"Bukan!" Naya menggeleng dengan sebelah tangan yang bebas melingkar di lengan Andro lalu membawa mereka masuk ke dalam rumah, membiarkan teh Marni yang sedang kasmaran dengan pak Agung di luar.
"Apa atuh?"
"Terjerat cinta bapak-bapak hot!" tawa Naya.
"Mas, Naya mau ijin ke pasar malam boleh engga sama Wati, udah lama ngga datang ke tempat kaya gitu!"
"Ceceu mau ke pasar malam?! Ikutttt!" seru Upa.
"Mas ada perlu sama pak Akbar, ngga bisa nganter, gimana?"
"Mas ngga perlu anter, biar nanti Naya sama Wati aja!"
Andro memicingkan mata tak yakin. Sadar akan kekhawatiran Andro, Naya langsung angkat bicara, "janji ngga akan macem-macem! Janji ngga akan naik wahana yang bikin celaka atau ekstrem, cuma nonton dan jajan doang!" ia menaikan dua jari sebagai sumpahnya.
"Kalo ingkar?" tanya Andro meminta jaminan.
"Kalo ingkar Naya rela ngga jajan sebulan, Naya rela pake seragam merah tiap hari selama sebulan!" jawabnya menelan saliva sulit.
"Oke deal! Mas pegang ucapan kamu, inget! Orang tuh yang dipegang ucapannya!" sunnya di pipi Naya.
Naya mengangguk, "iya."
Upa terkikik melihat adegan 17 tahun plus di depannya itu, sudah kedua kalinya Andro mengecup ceceunya itu, "ceceu di sun gitu kaya Upa sama mamah!" akuinya.
__ADS_1
Naya menepuk perut Andro, "adegan tak seno noh di depan bocah !" ngambeknya langsung masuk bersama Upa.
"Mau kemana ceu?" tanya ibu, saat Naya sudah memakai jaketnya.
"Mau liat pasar malem sama Wati," jawabnya.
"Pamali atuh ceu, lagi hamil keluar malem!" ujar bapak diangguki ibu.
"Naya bisa jaga diri pak, bu...lagian ke tempat rame!" jawabnya berkilah. Keduanya saling melirik, "kalo gitu bawa panglai sama bawang putih plus gunting kuku kecil buat jaga-jaga," ibu beranjak mengambilkan barang yang ia maksud ke belakang.
"Ck. Kenapa harus pake begituan sih bu, kenapa juga bawa gunting kecil, kenapa ngga bawa golok aja sekalian! Jangankan se tan, manusia aja takut!" dumelnya.
"Ndro, kenapa ceceu ngga dilarang?" tanya bapak.
"Ngga apa-apa pak. Biar nanti saya nyusul..." jawab Andro kalem.
"Arif aja yang ikut, mas! Pak! Buat jagain ceceu!"
"Sip, nanti mas kasih kamu uang buat modal jagain ceceu kamu sampai mas datang," balas Andro.
"Upa juga!" seru Upa.
"Boleh, nanti om kasih juga. Asal Upa jagain ceceu sama dedek bayi yang di dalem!" balas Andro.
"Biar sama teteh juga," Teh Marni yang baru keluar dari kamar selepas solat isya ikut bersuara.
"Kenapa jadi ikut semua sih?!" tanya Naya.
"Buat jagain bumil!" jawab Arif dan teh Marni. Andro terkekeh melihat wajah masam Naya.
Naya memberikan pesan pada Wati untuk bertemu di gerbang pasar malam saja, sementara ia berjalan bersama rombongan keluarganya. Datang ke pasar malam kaya datang ke hajatan.
Arif dan Upa berjalan duluan, kadang saling senggol kadang mereka saling goda dan tertawa melewati jalanan berkerikil desa Giri Mekar.
"Teh, teteh kerja di Kinoy's?" tanya Naya memperhatikan Upa dan Arif yang saling usil colek-colekan.
Teh Marni mengangguk, "iya ceu. Baru beberapa hari." Kemudian teh Marni memandang langit yang seolah lebih terang malam ini, sorot lampu dari pasar malam nampak menembus gelapnya langit secara vertical.
"Hidup teh harus terus berjalan, dan seperti kata kamu...teteh ngga mau jatuh ke lubang yang sama."
Naya menyimak dengan alis mengernyit, sementara teh Marni menatap langkah kaki yang terbalut sendal jepit dengan ikhlas dan pasrah seolah ia memasrahkan seluruh langkah hidupnya pada Yang Kuasa dengan ikhlas.
"Teteh hanya sedang menafkahi anak teteh dan diri teteh sendiri." ia tersenyum penuh arti diantara wajah lembutnya.
"Kenapa teteh ngga kerja di cafe mas Andro?" tanya Naya, "teteh bisa bilang sama Naya atau sama mas Andro?"
Marni menyunggingkan senyumnya dan menggeleng, "teteh ngga mau kejadian yang lalu terulang. Cuma ingin semuanya damai, teteh juga lagi menjaga silaturahmi entah itu dengan kamu dan Andro...ataupun dengan pak Agung, yang sudah pernah tercoreng karena waktu lalu..." kekehnya membuat Naya menunduk, "maaf, gara-gara Naya yah..."
"Engga apa-apa, ngga ada yang salah." jawab Marni masih memperhatikan langkah takut jika ada batu besar atau lubang.
"Awas jalannya Pa, hati-hati..."
"Teteh ngga takut ada udang di balik batu gituh dari pak Agung?" selidik Naya.
Marni menoleh sejenak pada adiknya itu, "pak Agung orang baik ceu, kalaupun ada udang di balik batu. Jika memang beliau jodoh teteh, maka akan teteh terima." lirihnya, seketika Naya mengangkat kedua alisnya, dulu Marni sampai kabur karena tak mau dijodohkan, lalu sekarang?
"Akhirnya teteh sadar, setelah melihat kamu dan Andro. Usia bukanlah soal untuk menjalin hubungan, pak Agung pribadi yang baik, beliau juga memiliki anak dari pernikahan sebelumnya, teteh yakin beliau sudah belajar dari yang sebelumnya, teteh pun begitu....bukan pasal wajah atau kekayaan dan usia yang teteh pikirkan sekarang...."
"Tapi kebahagiaan Upa, bisa bersama Upa setiap hari, mengurus Upa, dan sosok ayah untuk Upa...mendapatkan seseorang yang menyayangi, mengayomi, dan melindungi teteh seperti Andro yang begitu sama kamu...." jelasnya begitu tenang.
.
.
.
__ADS_1
.
.