
"Iya." jawab Shania.
Kemudian Kanaya menoleh pada Andro yang juga melihatnya dengan tatapan datar seperti biasanya, bisakah ia melukiskan senyuman joker saja di wajah pria ini, biar keliatan ramah sedikit.
"Perkenalkan nama saya Kanaya Dewi, pak." Kanaya membungkuk sopan di depan Arka, Deni, Guntur dan yang lainnya. Ekspresi yang sama ditunjukan Arka, memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
"Saya Arkala Mahesa, suami dari wanita yang ada di samping kamu. Ayah Andromeda," balas Arka mengulas senyuman setipis iman manusia.
Kanaya mengerjap seraya mengangguk, kini ia benar-benar yakin dengan dugaannya.
"Hay, aku Liyah! Calon artis!" ujar Afifah menghampiri Kanaya dan mengulurkan tangannya.
"Aku Fifah! Calon....calon apa ya oma?" Aliyah tersenyum manis dan bertanya pada Shania.
"Calon perusuh," desis Andro.
"Eh, aku deh yang Fifah!" ralat Fifah.
"Iya aduh, jadi amnesia gini!" Aliyah menepuk-nepuk jidatnya.
"Bunda! Yang namanya Fifah mana sih?" tanya Aliyah, sengaja untuk membuat Kanaya pusing, si kembar ini usilnya memang tak tertolong lagi, sudah akut!
"Kakak adek!" geram Shania, sementara Galexia hanya mendengus, "nama kalian berdua Mimin Mintarsih sama Mumun Hamidah!" jawabnya menggendong Arion. Kanaya menahan tawanya sementara Andro menjewer kedua telinga keponakan nakalnya itu.
"Aduduh om, aduhhh iya maaf!"
"Salam kenal dari aku Tata!" ujar Afifah.
"Dan aku ian!" timpal Liyah, yang langsung dihadiahi tatapan killer Fatur sang ayah.
"Kami berdua Tata...ia----aduhhh om!" aduh mereka.
"Oh iya. Kamu mau ke toilet kan? Maaf ya disini agak chaos alias riweuh binti paciweuh!" ujar Shania meringis menggiring Kanaya macam giring anak bebek ke arah belakang rumah. Kanaya tertawa kecil melihat kehangatan keluarga Shania, diliriknya Andro singkat sebelum ia benar-benar menghilang di belokan tembok.
Kamar mandi yang bagus. Jauh jika dibandingkan dengan kamar mandi yang ada di rumah Naya, ia menggantungkan tas miliknya di cantelan yang ada di dekat pintu. Kemudian gadis itu menempelkan badannya di dinding dan memejamkan mata. Kamar mandi ini cukup wangi tak seperti kamar mandi-kamar mandi yang pernah ia singgahi sebelumnya, bahkan toilet mall di Cianjur saja tidak se-wangi ini. Bisa-bisa ia tidur disini!
Kanaya meloloskan nafas lelahnya, *feelingnya so god*---sejak awal kedatangan Andro dengan kaos dan celana pendek di ruangan tadi ia tebak jika Andro memiliki tali kekeluargaan dengan bu Shania jika hanya karyawan tidak mungkin ia sesantai itu. Dan saat melihat foto suami bu Shania ia yakin jika Andro adalah putra pemilik Pawon Kurawa ini, itu dilihat dari kemiripan mereka.
Kanaya berpikir, apakah keputusannya menerima ajakan Andro itu benar? Apakah Andro tulus menolongnya? Apakah Andro seperti yang dikatakan bapak, hanya akan mengolok-ngoloknya sebagai gadis desa yang kebanyakan bersifat lugu mudah untuk dibodo hi? Atau Andro sedang mengujinya? Menguji untuk apa?
Kenapa Kanaya harus kesal? Sejak awal, Andro memang tidak mengelak jika ia anak bu Shania, bahkan ia tidak pernah mengatakannya, Naya sendiri yang salah tidak bertanya.
Ia mengganti pakaiannya dengan celana jeans andalan dan memang hanya satu-satunya milik Naya, lalu t shirt yang menurut Kanaya warnanya masih bagus meski bukan t shirt mahal.
Kanaya mencopot seluruh perintilan sanggul dan kebaya yang sejak tadi bikin kepalanya migrain, merubahnya jadi kepangan elsa sekenanya.
__ADS_1
Kini ia tau jika Andro bukanlah orang sembarangan, dugaannya ternyata benar.
Kanaya menatap lurus ke arah dinding kamar mandi yang ditempeli keramik cantik.
Mungkin mulai saat ini, ia harus menjaga jarak, sikap dan sadar diri! Apakah bisa??! Pokoknya apapun itu, tujuannya datang ke kota tak boleh sia-sia, ia ingin bekerja, kuliah, kirim uang buat bantu ibu di desa, hanya itu. Maka ia harus menjaga sikap mulai sekarang terhadap Andro.
Kanaya tersenyum optimis lalu meloloskan nafas kasar dan membuka pintu.
Kanaya cukup tersentak kaget saat matanya langsung menangkap sosok seseorang di dekat pintu kamar mandi sedang bersandar di tembok dengan satu kaki bertumpu disana.
"Pak," Kanaya menunduk sopan.
"Kenapa?" tanya Andro. Kanaya menggeleng, "bapak mau ke toilet juga? Kenapa ngga ketok aja pak, biar saya tau...kenapa juga harus nunggu disitu? Kalo saya lagi ngeden gimana?"
Tanpa berucap Andro berlalu mengambil sebotol minuman teh manis lalu menatap Naya sebagai kode agar gadis itu mengikutinya ke arah halaman belakang.
Kanaya mengekor dengan hati-hati, mengeratkan pegangan di tas miliknya jika sampai Andro macam-macam ia akan langsung menimpuknya dengan tas berisi buntelan pakaian. Pusing-pusing deh tuh!
Andro menaruh botol teh kemasan itu di meja bulat kecil kursi halaman, lalu ia duduk disana menunggu Kanaya duduk juga. Namun gadis itu tak kunjung duduk.
"Kamu mau saya paksa duduk atau duduk sendiri? Tenang aja, keponakan saya tidak cukup usil buat naro paku disana!" ujarnya.
Kanaya menyipitkan matanya lalu mencebik, "ish! Sensi amat pak, ngga gitu juga! Takut ngga sopan aja," Kanaya duduk di kursi satunya dengan memangku tas miliknya mirip lagi duduk di angkot.
"Saya ngga akan sampai hati ambil tas kamu, dikekepin kaya isinya ada berlian aja..."
"Saya baru tau kalo bapak julid!" aku Naya.
__ADS_1
"Maaf bukan maksud saya mau memperolok kamu, atau main rahasia-rahasiaan, tapi niat saya memang tulus bantu kamu biar bisa kerja di Pawon Kurawa, daripada kamu harus datang ke kota terus bingung nyari kerjaan yang belum tentu bisa dapet. Makanya saya bawa kamu langsung sama ownernya, karena saya seperti yang kamu bilang---cuma kaki tangan, jika saya menyebutkan bu Shania itu ibu saya atau mengajak kamu dengan menyebutkan saya memiliki bisnis dan kamu boleh masuk, apakah kamu mau langsung menerimanya? Saya ngga yakin kamu mau! Pandangan kamu terhadap orang asing, terlebih lelaki sepertinya sudah buruk." ujar Andro.
"Saya tau kok. Saya tau bapak anak bu Shania. Cuma saya so be go aja, mau tau perlakuan bapak sama saya gimana, saya yang cuma cewek kampung dengan pendidikannya cuma sampe SMA, saya yang gaptek karena jauh dari kata teknologi! Maaf," Kanaya menunduk.
Andro kemudian menatap Naya dengan penuh makna, "saya juga tau kamu ngga se be go itu!" dorong Andro di kening Naya, "tapi saya maklumi itu, mungkin kamu bisa percaya saya ngga punya niat macem-macem kalo udah buktiin sendiri...Pawon Kurawa memang bisnis kuliner, seperti namanya, pawon....dapur."
"Terus bu Shania ngomong apa pak? Saya bisa kerja? Kan interviewnya juga belum?" tanya Kanaya.
"Kamu mau saya interview?" tanya Andro. Kanaya mengangguk, "biar keliatan nyata gitu...ya meskipun lewat jalur orang dalem biar kaya pengalaman-pengalaman temen-temen saya di kampung!"
"Oke!" Andro menepuk kedua pa hanya.
"Ekhem. Siap?!" tanya nya membuat Kanaya mengangguk mantap dan menghela nafasnya, "tapi saya belum ngafalin, pak! Tapi ngga apa-apa, sedikitnya saya tau tentang perkue-an terigu, telur, rolling pin, mixer, nastar, bolu...oke!!"
"I'm ready!" seru Naya.
"Ngga mau minum dulu?" tanya Andro, Kanaya menggeleng.
"Okelah," Andro menatap Kanaya dengan lekat seolah mengunci netra bulat nan bening itu agar tak kemana-mana selain dari melihatnya.
"Udah punya pacar lagi setelah anak Kades itu?" tanya Andro.
"Ya?" Kanaya membeo, alisnya sontak saja bertaut, "pertanyaan apaan tuh?! Mana ada interview kaya gitu?!"
.
.
.
.
.
__ADS_1