
Andro melirik ke arah kaca spion. Tidak biasanya momy Shania mau berdekatan dengan perempuan yang pernah dekat dengan Andro, pasti selalu ada jarak... momy'nya itu seperti memiliki kemampuan menilai orang dari kesan pertama atau memang ia memiliki begitu banyak pengalaman dengan berbagai tipe manusia termasuk yang akhlaknya rata dengan tanah saking rendahnya.
"Bu, kalo di Jakarta. Kampus yang prodinya pertanian gitu ada dimana?" tanya Kanaya. Shania kembali menatap ke arah samping, Andro tersenyum dari tempatnya Shania yang notabenenya tak pernah penasaran dengan orang lain selalu dibuat tercengang oleh ucapan Kanaya, entah itu iba atau memang respect.
"Kamu yakin mau kuliah?" ia balik bertanya, sementara di depan sana Andro hanya diam bak driver online yang tak mau tau urusan penumpangnya. Biarkan momy'nya menilai siapa Kanaya, maka ia tak perlu lagi bersusah payah menjelaskan ketertarikannya pada gadis itu sampai mulut bersoda.
"Yakin. Udah lama atuh bu, Naya pengen kuliah, sejak dari bangku smp kalo liat guru di sekolah teh bawaannya pengen kaya mereka, bukan proses mengajarnya, tapi tingkatan bicara, level wawasannya teh berbeda sama orang yang pendidikannya di bawah sarjana. Di kampung, jarang paling 1, 2 yang kuliah apalagi perempuan...rasanya tuh kaya jadi pahlawannya kampung kalo punya gelar. Bukan berarti gelar-gelar yang lain ngga berharga, tapi kaya lebih diistimewakan karena memang pendidikan dan wawasannya di atas sebayanya. Kalo dapet kerjaan juga pasti beda dari yang cuma sekolah sampe smp atau sma aja mah, selain itu..."
Kanaya menunduk melihat buku-buku kukunya yang nampak bersih, "Naya pengen bangun lagi desa jadi desa agrowisata bu, sekarang sawah-sawah, kebun-kebun sedikit demi sedikit berkurang karena banyak dibangun pabrik, orang taunya cetrak-cetrek mesin pembuatan kain yang ngeluarin polusi kemana-mana, padahal kan manusia tuh lebih butuh beras ketimbang baju seabrek-abrek, lebih butuh udara segar sama oksigen ketimbang uap kotor," jelasnya, Shania yang terbiasa menjawab celotehan orang dengan kalimat-kalimat absurd kini hanya bisa mengerjap spechless dengan impian anak desa di sampingnya, ia memperhatikan ucapan dan harapan mulia Kanaya.
Kanaya memang gadis lugu, ia memang masihlah muda tapi pemikirannya begitu matang dan dewasa.
"Coba nanti tanya Andromeda, dia sering ngisi acara seminar enterpreneur muda di berbagai kampus dan sekolah, siapa tau punya kenalan dosen atau mungkin rektor..." tunjuknya pada sang putra.
Kanaya mengangkat kedua alisnya menatap Andro yang tak melihatnya balik, pria itu! Kanaya mencebik nyinyir, kaya ngga punya kuping! Denger namanya disebut nyaut kek, atau seenggaknya lirik-lirik manja gituh! Emaknya baik loh, terkesan cerewet tapi anaknya kok ya bisu plus keji.
"Oh," Kanaya mengangguk-angguk mirip kakak tua.
Benar, hampir setiap rumah di ibukota minim penghijauan, semua padat berdesakan kaya penumpang kopaja terutama rumah-rumah dengan level kehidupan menengah ke bawah, yang penting satu keluarga bisa masuk meskipun isinya dari buyut hingga anak cucu. Namun diantara sesaknya dan gersangnya rumah-rumah warga, ada beberapa petak kebun milik seseorang dan jelas ia terlihat begitu tajir sepertinya meski tampilan rumah sederhana.
Untung saja perjalanan tidak terlalu jauh, Kanaya hampir saja muntah di dalam mobil, Andro membawa mobil berhenti di halaman rumah bersama dengan seorang perempuan paruh baya berjilbab keluar menyambut, "teh Sha! Andro,"
Shania turun duluan meninggalkan Andro dan Kanaya di belakang, Kanaya melirik-lirik singkat ke arah Andro, bukan takut lelaki itu nerkam, tapi takut suka!
"Ini istri yang punya kontrakan." Imbuhnya tanpa melihat Naya. Apakah si bapak takut juga menatapnya, *takut nemu pelangi dimata Kanaya, eaaakkk*! Kanaya mengulum bibirnya, *wah! Otaknya udah ngga beres*!
"Berapa kira-kira sebulannya pak, jangan yang mahal-mahal, kan saya ngga tau digaji berapa sebulannya nanti!"
"Udah dicariin nawar lagi."
Adiba dan Shania tertawa bersama seraya masuk duluan ke dalam, "Ndro hayuk!"
Adiba melirik manja ke arah Naya, dan dari matanya dapat Naya lihat jika Shania dan Adiba seperti sedang membicarakannya.
Andro berjalan duluan dengan Kanaya mengekori sambil menenteng tas miliknya.
"Pak. Hape saya gimana?" rengeknya masih ingat dengan ponsel yang rencananya akan Andro berikan.
"Nanti pak Akbar kirim kesini, biar saya yang langsung kasih ke kamu. Awas jangan sampai hilang, kalo engga mau ganti rugi!" galaknya membuat Kanaya langsung menghormat, "siap pak!" ia tertawa senang, akhirnya setelah penantian panjang selama hampir 19 tahun, seumur-umur baru kali ini ia kejatohan rejeki nomplok.
*Rejeki anak soleha*, gumamnya.
__ADS_1
Dengan dilatari percakapan tentang kegiatan panen jengkol yang baru saja Adiba lakukan bersama orang suruhan Guntur, Adiba membawa Shania ke belakang rumah dan menunjukan beberapa karung hasil panen tadi siang.
"Wah, jengkol! Ibu--- juragan jengkol, biasanya kalo kata ibu saya, biar ngga terlalu bau terus empuk di kubur dulu di dalem tanah, bu." Kanaya melongokan kepalanya ke arah karung berisi puluhan kilo jengkol.
"Iya bener kamu. Kata enyak juga gitu, favorit keluarga saya di semur..."
"Wah, kalo di kampung mau masak semur tuh suka rame-rame, bu pake wajan gede!" tawa Kanaya, "kebanyakan sih yang masak udah sepuh, karena yang muda-muda pada kerja di pabrik!"
"Emang kamu ngga kerja juga?" tanya Adiba, Kanaya menggeleng, "belum punya kerjaan. Cari kerja susah bu, harus punya mahar buat ngasih orang dalem...jadi paling cuma bantu ibu ngumpulin daun cengkeh, atau ngga jaga kambing orang!" jawabnya tak malu.
"Wah! Kamu gaulnya berarti sama yang sepuh-sepuh dong?" kelakar Diba.
Kanaya mengangguk, "ngga apa-apa, berarti saya yang paling kenceng!" Kanaya bersama Adiba tertawa bersama, baru kenal 5 detik saja gadis ini sudah berhasil akrab dengan hampir semua orang yang ditemuinya.
Shania melirik Andro yang kini sejajar dengannya, "calon mantu momy."
Restu sudah turun, hanya tinggal bagaimana Andro bicara pada Kanaya, itu hal tersulit sepanjang sejarah bagi lelaki itu.
"Mi, sebenernya ada masalah sedikit...." ujar Andro, membuat Shania mengerutkan dahinya.
Shania semakin mengernyit lalu meledakan tawanya mendengar cerita Andro, membuat Kanaya dan Adiba menoleh ke arah keduanya.
Shania mengatupkan mulut, "momy banget! Sukur-sukur tuh bapak duda ngga k.o hari itu juga!" imbuh Shania.
"Kanaya harus tau, mungkin keluarganya lagi kesulitan karena ulahnya hari ini...kamu bantulah, momy jadi penasaran sama desa Giri Mekar...."
"Teh, Ndro...mau liat kontrakan sekarang?" Adiba menghampiri keduanya.
"Iya, hayuk atuh! Kasian si neng yang abis lari dari kenyataan, butuh istirahat..." cibir Shania menggoda lalu tertawa, Kanaya mengernyit dan bertanya pada Andro, "kenapa?"
Andro menggidikan bahunya, sebelum mereka benar-benar mengikuti Adiba, Andro menahan Kanaya.
"Saya mau ngomong sebentar sama kamu,"
__ADS_1
Kanaya menoleh dan mengerjap, "ngomong aja mesti narik-narik, tinggal ngomong aja pak...ada apa? Mau ngomongin harga kontrakan? Di bawah 1 juta kan?" tembaknya.
Andro menggeleng dan malah mendorong kepala Naya, "denger dulu jangan so tau!"
"Kamu kabur di acara lamaran tadi pagi?" tanya Andro membuat Kanaya membeliak tak nyaman.
"Kata pak Akbar, semua orang nyariin kamu...pak Agung, minta ganti rugi sama keluarga kamu..." jelasnya jujur.
Kanaya mengernyit tak percaya, "kok gitu! Kan saya ngga mau, emang bapak saya aja yang main terima, jadinya gini! Saya udah bilang orang baik tuh pasti ada maunya! Bener kan, giliran keinginan ngga terpenuhi sekarang malah jadi utang!" sewot Naya. "Biar aja! Biar bapak mikir!"
"Terus ibu kamu?" tanya Andro, sudah pasti ibunya akan terkena imbas.
Kanaya yang semula marah kini meredup tak bisa bicara. Ia tak berpikir sampai situ.
"Kita selesaikan urusan di Giri Mekar, sebelum kamu memang ingin bekerja dan kuliah dengan tenang disini...jangan meninggalkan urusan yang belum selesai," ujar Andro memberi usul.
"Tapi pak...saya belum siap pulang. Kalo pak Agung maksa nikah, pake nagih uang? Saya belum punya, belum lagi bu Lurah...pasti bilang saya pembohong, fitnah saya lagi! Bapak juga..." jawabnya memelas takut.
Andro meloloskan nafasnya panjang, bukan lelah namun grogi.
"Semua pasti ada jalannya Naya, biar saya bantu..."
"Utang saya sama bapak aja udah berapa pak, saya mau bayar pake apa?!"
"Apalagi kalo datangnya sama pak Andro, waktu itu bapak pernah ngakuin kita mau nikah...nanti bapak di tuntut buat nikahin saya, pak!" tambah Naya.
"Ya udah gampang! Kita nikah aja!" lirih Andro.
Kanaya tertawa, "bapak kepentok atau mabok kendaraan juga?!"
.
.
.
.
__ADS_1
.
.