Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 83. KESAL


__ADS_3

"Jangan-jangan bener dek, yang kata temen-temen di sekolah bilang kalo mitos kemah suka nelen korban," ujar Fifah setengah terkekeh.


Aliyah mendorong kepala kakak kembarnya, "ngaco!"


"Ini buktinya tante Nay ilang?!" jawab Afifah melengking.


"Siapa tau lagi ke kamar mandi, solat malem atau balik ke kamar?!" balas Aliyah menenangkan.


"Cari---cari! Kalo ilang beneran repot, nanti om Andro marah, istrinya ilang!" balas Afifah.


"Iya ah, mana masih cicilan lagi!" tawa Aliyah.


"Tante Nay!"


"Tante Kartini! Yuhuuuu!"


"Mas," Naya menahan wajah Andro yang sempat ditenggelamkan padanya, "itu kakak sama adek nyariin Naya,"


"Biar aja," jawab Andro lagi tanggung, ada saja gangguannya.


"Tapi mas ini udah malem, pasti ganggu yang lain," Naya sedikit kesulitan berucap karena Andro menyerangnya intens.


Afifah mengetuk pintu kamar mandi lantai bawah, namun nihil...tak ada Naya, selagi Aliyah mencari Naya ke ruang tamu, ruang tengah, dapur, gudang....ah! Ngapain juga ke gudang, mau apel sama tikus?!



"Pindah tidur ke kamar kali!" ujar Fifah.



"Coba cari!" angguk Liyah mengajak.



"Tante Nay!"



Andro sudah selesai, entah yang keberapa kalinya, entah keringat siapa yang mengucur paling deras yang jelas Naya terlalu lelah untuk kembali bergabung dengan si kembar di halaman belakang, bahkan ia tak repot-repot memakai beha, langsung menyambar piyama dan celana d4 laam.


"Tante Nay ilang!"


"Om Andro tante Nay ilang!"


Malam-malam rumah ini dihebohkan Fifah dan Liyah yang mencari Naya.


"Itu anak-anak ngapain coba, tengah malem begini nyariin Naya, coba cek sayang berisik ah!" Fatur membalikan badannya dengan mata terpejam.


"Aduh, abang aja lah. Gale lagi puk-puk pan tatnya Arion ih," tolaknya. Dengan berat hati Fatur beranjak dari tidurnya, memijit kedua pangkal matanya dan berthesah.


Begitupun Arka, "mii, itu twin ngapain malem-malem teriak-teriak?!" tanya nya, Shania tak bergeming, kuping oma satu ini kayanya kesumbat kotoran sebesar gajah.


"Ngga tau mas ah! Mas sampe mimpiin cucu ih, dahsyat! Saking sayangnya, opa idaman, makin sayang Sha sama mas," racau Shania salut pada suaminya itu.


"Kamu yang mimpi, ngga denger itu suara kakak-adek manggilin Naya?"


Shania membuka matanya sulit, "Allahu," ia mendesis lirih.


Andro berdecak, namun tak menghentikan pompaannya hingga Naya merasakan miliknya yang benar-benar penuh dan dialiri sesuatu dengan deras saat Andro semakin menekan dalam.


"Mas Naya capek, ngantuk." tanpa ada gai rah untuk kembali bergabung dengan club pramuka di bawah, Naya langsung menarik selimut dan terlelap.



"Ada apa ini, berisik! Kaka--adek?!" Fatur keluar bersamaan dengan Shania dan Andro.



"Udah malem, bukannya tidur malah teriak-teriak?!"



"Ini yah, om, oma, tante Nay ilang! Dicariin kemana-mana ngga ada!" adu mereka.

__ADS_1



"Bukan salah adek loh ya?!" ujar Aliyah.



"Ck, kirain apa bikin heboh serumah. Opa sampe bangun loh!" Shania melirik jam di dinding yang masih menunjukan pukul 2 dini hari.



"Om, tante Kartini ada di kamar ngga?" tanya Fifah dengan rambut yang masih semrawut.



"Ada. Kalian aja yang heboh." Andro mengambil air minum lalu meneguknya.



"Tuh kan! Adek bilang juga apa!"


"Ya kirain, tante Kartini digondol kol or ijo!"



Uhukk---uhukk!


Andro sampai tersedak karena disamakan dengan kol or ijo.



"Ngaco! Udah, sskarang tidur lagi. Mau tetep di tenda atau di kamar?!" tanya Fatur, "malah pada heboh tengah malem, kasian Arion sama opa, tidurnya keganggu."



"Di kamar ah! Kalo ngga ada tante Nay takut!"



"Huu, cupu!" balas Afifah sewot.




Shania tertawa kecil, "ko lor ijo ya!" colek Shania di lengan putranya itu sesaat setelah si kembar digiring bapaknya masuk kamar.



Andro melirik ibunya dan tertawa renyah berjalan ke arah lantai atas, "ko lor ganteng mii, lagian kakak-adek doyan banget nempelin Naya."



Diantara sujudnya Andro selalu meminta diberikan kelancaran dan yang terbaik untuknya dan semua orang termasuk nama Kanaya tersemat di dalamnya.


Diliriknya Naya yang masih terlelap, Andro membuka songkok dan sarungnya untuk merebahkan diri di samping Naya. Lama ia menatap wajah damai yang mulutnya sedikit terbuka dengan suara dengkuran halus itu.


Hingga ia sendiri hampir ikut terlelap lagi, dan suara getaran ponsel menyadarkannya dari rasa kantuk.


"Pak Akbar?"


Andro melirik Naya sekilas lalu beranjak menuju meja rias, "assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam. Maaf mas, mengganggu malam-malam, aduhh gimana saya jelasinnya ya..."


Andro melirik jam yang sudah menunjukan pukul 3 pagi, "engga pak, kenapa?"


"Maaf mas, saya bingung harus minta tolong siapa. Keluarga di Giri Mekar didatangi oleh terdakwa kasus Marni bersama pihak lawyernya, dia ngamuk-ngamuk di rumah pak Acep, saya sudah meminta hansip dan pihak rt-rw setempat, sebelumnya ia meminta tuntutan hukum dicabut bersama Puspa..."


"Ya ngga bisa gitu pak, mau dia bawa lawyer selusin juga dia ngga punya kekuatan hukum atas apa yang dia inginkan," jawab Andro.


"Pak Akbar sudah hubungi abang saya, Gemilang?"


"Anuu mas, maaf belum. Takut mengganggu."

__ADS_1


Kanaya menggeliat pelan membuat Andro melihat ke arahnya, "ya udah pak. Saya kesana sebentar lagi," Andro mematikan sambungan telfonnya, lalu mencari kemeja miliknya di dalam lemari.


Dengan tanpa membangunkan Naya, Andro hendak ke Giri Mekar sendirian tanpa menyertakan Kanaya, mengingat esok hari istrinya itu harus kuliah.



Naya menggeliat dari tidurnya, pagi ini ia cukup kesiangan karena semalam tidur larut.



Tangannya menepuk ranjang samping yang terasa dingin, "mas?" ia membuka matanya lebar, melihat Andro tak ada disana.



"Mas, mandi?!" tapi tak terdengar suara gemericik air. Naya segera bangun dan berpakaian benar, ia masuk ke kamar mandi untuk cuci muka saja dan mencari Andro.



"Bi, liat mas Andro?" tanya Naya turun dari lantai 2.



Bi Yani menggeleng, "engga neng."



Naya kemudian mencarinya ke halaman belakang, namun hanya menemukan langit pagi yang masih menyisakan jejak-jejak malamnya saja bersama kedua tenda bekas semalam.



"Kemana ya? Masa udah ngantor jam segini! Ngga pamit dulu lagi," dumel Naya masuk kembali dan mencari ke arah garasi.



Rupanya mobil Andro sudah tak ada disana, "ih! Udah pergi, kok ngga pamit!"



"Kebiasaan banget! Kalo udah enaknya pasti ditinggal! Naya tuh istri atau pe rek sih sebenernya!" omelnya geram.



Selalu, Andromeda bersikap seenaknya. Sudah manis sepah dilepeh. Pagi ini Naya cukup dibuat kesal oleh Andromeda yang tak pamit padanya.



"Kaya apa aja, ditinggalin gitu aja!" omelnya lagi naik ke lantai atas untuk bersih-bersih. Hari ini ia harus berangkat lebih pagi.



Naya melirik ponsel yang padam, tak ada niatannya mengabari sang suami setelah tak ada pesan sama sekali dari Andromeda untuknya, bahkan info di kontaknya, ia terakhir kali melihat ponselnya pukul 3 pagi.



Naya dengan sengaja mematikan daya ponsel dan memasukannya ke dalam laci. Ia sungguh tak mau lagi melihat ponsel itu dan memilih pergi ngampus tanpa membawanya.



"Biar! Biar aja, ngga usah tau! Sekali-kali mas Andro harus digituin biar ngga seenaknya gini." Mungkin ini kali pertamanya Naya merasa kesal dan marah pada Andro. Marah yang betulan!



Malas, Naya sungguh malas. Entah kenapa hal sepele begini membuatnya kesal pagi ini. Ia tau Andro memang datar, dingin dan jutek, tapi pagi ini Naya menganggapnya sudah keterlaluan.



.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2