Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 87. NAYA KABUR, WATI MENGOMEL


__ADS_3

Naya tak bisa memuntahkan lagi isian perutnya, karena memang sudah tak ada apapun dalam perutnya.


"Nay," lirih seseorang.


Tangannya menggantung di udara, ketika mendengar suara Andro di balik pintu kamar mandi.


"Kamu sakit?"


Seketika rasa kesal dan marah menggunung di hati Naya, tentang Andro yang tak pamit, tentang ia yang terlambat datang ngampus, tentang hukuman, rasa mual dan semua termasuk kejadian barusan.


"Kenapa hape kamu mati? Mas telfon kamu berkali-kali dari pagi ngga aktif?"


Tak ada jawaban dari Naya, dosakah ia? Pasti! Tapi daripada ia yang mengomel dan mendebat ujungnya berantem, Naya lebih memilih diam.


Cukup lama Naya diam di dalam kamar mandi, sampai ia kesemutan, bahkan ibu dan kedua adik Wati sudah kembali sejak tadi.


Andro memilih duduk di ruang tamu rumah Wati, menunggu istrinya itu keluar dan bicara baik-baik. Lagipula di rumah pak Acep sudah ada Gemilang dan pak Akbar.


"Nay, keluar oy! si Husna mau ke kamar mandi, lagi ngapain sih?! Nanem saham?!" ketuk Wati.


Naya membuka pintu kamar mandi dan menyembulkan kepalanya, "mas Andro udah balik?" tanya nya.


"Kalo mas belum balik, kamu ngga mau keluar?" Andro melipat kedua tangannya di dadha seraya bersandar di dinding. Mata bulat Naya membeliak mendengar suaranya, dan sedetik kemudian ia meringis melihat Andro yang menatapnya lekat.


"Wati, bisa minta waktunya sebentar buat berdua sama Naya?"


"Oke!" Wati segera pergi dari sana, selagi Naya berdiri menunduk di dinding dan menggeser sedikit posisinya layaknya anak nakal yang sedang dihukum.


Punggung tangannya menempel di kening Naya demi mendeteksi suhu tubuh Naya, wanitanya itu terlihat begitu lusuh, kuyu dan pucat.


"Nay ngga sakit ah!" Naya menepis tangan Andro.


"Tadi pagi, mas buru-buru kesini karena pak Akbar telfon mister Ahmed labrak rumah bapak, mau bangunin kamu, kamunya masih tidur, mas yakin kamu pasti pengen ikut sementara kamu harus ngampus, makanya mas tinggal pas mau hubungi kamu, hape kamu ngga aktif. Dan untuk kesalahan itu mas minta maaf."


Naya hampir membuka mulut dan ingin membludakan seluruh isi hatinya, tapi ia urungkan saat mulutnya terlalu malas untuk bicara.


"Iya." jawab Naya singkat, "udah selesai kan?"


"Untuk masalah barusan,"


"Ngga usah dibahas!" tukas Naya.


"Harus, harus dibahas. Mas ngga mau ada masalah nanti ke depannya, apalagi hanya karena masalah sepele dan bukan salah mas,"


"Terus salah siapa? Naya?!" tanya Naya akhirnya buka suara, dan sekalinya buka suara, perkataannya memantik emosi.


"Mas mau tau ngga seharian ini Naya tuh kesel, capek hati! Pagi-pagi ditinggal sendiri abis dipake, selalu kaya gitu udah kaya pela cur! Naya kaya orang be go pas momy nanya mas kemana! Naya telat bangun sampe ngga sempet sarapan dan telat datang ke kampus, alhasil Naya kena hukuman karena tugasnya ngga keburu keambil. Perut Naya mendadak mual-mual hari ini, seharian full ngga bisa masuk nasi, sekalinya makanan masuk Naya muntah." Jeda Naya dengan air mata yang meleleh seolah menumpahkan segala kekesalan dan kesi alan yang menimpanya hari ini.


"Naya nyusul mas kesini, berharap ketemu sama suami sama keluarga, tapi jauh-jauh datang kesini Naya cuma liatin kakak Naya sendiri gelendotan di tangan suami Naya sambil ngaku-ngaku mau dinikahin. Menurut mas, Naya baik-baik aja?" Naya menghapus kasar air matanya, "hufftt!" Ia mengipasi wajahnya yang memanas dan tak berhenti mengalirkan air mata mencoba meredam emosi yang kian memuncak.


Andro langsung meraih Naya ke dalam dekapannya dan memeluk Naya, awalnya Naya berontak dan ingin mendorong Andro, namun lama-lama ia menyerah dan malah menangis di pelukan Andro semakin kencang. Naya tak butuh apapun saat ini, hanya butuh melampiaskan kekesalan dan seluruh beban yang sejak pagi ia tumpuk dalam hati.


Beberapa kali moment itu membuat Husna dan Sari, adik-adik Wati mengurungkan niatannya masuk ke dalam dapur.


"Mas ngga pandai menenangkan orang, tapi untuk yang barusan kita dengar dulu penjelasan kakak kamu. Kenapa bisa melakukan hal senekat itu, karena disini mas juga ngga habis pikir."

__ADS_1


Naya masih mencengkram kemeja Andro dan memintanya untuk tetap disini, ia masih menggeleng enggan untuk pulang.


Naya mengurai pelukannya, "Naya sengaja matiin hape, karena mau bales mas. Tapi akhirnya Naya kelupaan, hape Naya ketinggalan di laci meja kamar." jelasnya diantara isakan. Naya juga menyeka wajahnya, "kalo mas mau pulang ke rumah bapak, pulang aja. Naya mau disini aja, nginep di rumah Wati."


"Kita pulang ke Jakarta, besok kamu ngampus."


Naya menggeleng, "Naya cuti sakit."


"Kamu beneran sakit? Mau mas anter berobat?"


Naya menggeleng, "kayanya cuma karena ngga sarapan aja terus dijemur senior. Naya lapar, pengen cari makan aja! Sama numpang mandi," jawabnya melengos memanggil Wati ke ruang depan.


"Nay!" panggil Andro menahan Naya.


"Malu, kaya ngga punya rumah aja. Kasian jangan ngerepotin, biar istirahat aja di rumah atau di hotel?" Naya menggeleng, "Naya mau disini mas. Kangen Wati!" jawabnya tak mau dengar dan memilih melanjutkan langkahnya.


"Eh, ini teh Naya! Meni pangling, nikah teh ternyata bikin Naya makin cantik!" ibu Wati menangkup wajah Naya yang salim takzim.


"Ah ibu bisa aja! Bu, Naya mau nginep disini boleh kan?!"


"Ya boleh atuh! Biasanya juga dulu disini!" jawabnya tanpa pertanyaan macam-macam.


"Nih! Kamu udah kaya terasi rebon gini, kucel, dekil, kotor, bau!" Wati menyerahkan baju ganti miliknya. Andro menggaruk tengkuknya yang tak gatal, lalu bagaimana dengan nasib dirinya jika Naya menginap disini, tak mungkin juga ia menginap di rumah mertuanya, mengingat kamarnya hanya ada dua.


Padahal rencananya, hari ini Andro akan pulang ke Jakarta, tapi Naya malah nyusul dan minta menginap di rumah Wati.


"Kenapa jadi ribet gini?!"




"Nay, da ibu mah ngga masak apa-apa! Jadi seadanya aja ya!"



Naya menggeleng, "ngga apa-apa bu, makasih. Naya yang harusnya minta maaf udah ngerepotin!"



"Nah, tau kan ngerepotin! Balik sana!" jawab Wati ditertawai Naya.



"Nay?!" colek Andro dengan kode mengajaknya pulang, tapi Naya malah sudah mengambil piring dan nasi hangat, hidungnya mirip guguk pelacak, "Wat, nasi kamu teh kok bau ya?!"



Terang saja si tuan rumah tak terima, "wah! Wah! Emang tamu ngeselin! Udah minta, ngehina! Idung kamu yang kesumbat ee kucing meren!"



"Ini nasi pandan wangi, masa kamu ngga bisa cium baunya?! Mana masih ngebul asepnya nih!" Wati memajukan secentong nasi di depan hidung Naya yang langsung menutup hidung, "bau! Huwek ah!" gidik Naya mendorong piring miliknya.


__ADS_1


"Ngga mau lah! Naya ngga mau makan nasi!"



Andro ikut mengernyit, "kenapa? Nasinya wangi Nay," balas Andro.



"Mas, Naya pengen nasi yang ngga bau gini!"



"Nah---nah kan! Si alan kan!" umpat Wati, Naya nyengir ke arah Wati.



"Asepnya bau Wati! Tolong kipasin atuh, biar asepnya ilang!" pinta Naya pun sedikit aneh dengan dirinya hari ini, "Naya teh kenapa ya?!"



Wati dengan baiknya mengambil kipas bambu dan mengipasi nasi di piring Naya agar hilang.



"Kenapa? Kemaren ngga apa-apa kan?" Andro ikut aneh dengan istrinya.



Naya meraih mangkok berisi tumisan dengan bawang merah dan bawang putih yang cukup banyak, "emhhh! Bau, huwek!" Naya segera menaruh kembali mangkok itu, "Naya mau makan sama garem aja Wati!" pintanya lagi.



"Beneran, cuma sama garem?" tanya Wati.



"Tapi garemnya yang di kendi, yang di krusukin dulu ke tungku kayu bakar," kekehnya meminta lagi.



"Hah! Kamu mah nyusahin aja! Lama atuh ceu! Garem bakar gitu maksudnya?!" Sewot Wati mendumel ditertawai Naya yang mengangguk, "cepet atuh Wati, Naya pengen. Masa kamu tega, Naya belum makan dari pagi!" jawabnya.



"Aneh! Kaya orang yang lagi ngidam aja! Kalo iya, tuh mintanya sama suami kamu!" celetuk Wati.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2