Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 47. SEDERHANA NAMUN....


__ADS_3

Masjid Agung Cianjur....


Sejak selesai salat ashar tempat ini mulai di sterilkan oleh pihak WO.


Tak banyak perubahan yang terjadi. Hanya kini di taruh meja kecil tertutup kain off white sebagai tempat di adakannya prosesi ijab kabul. Juga karpet merah yang dibentangkan di area pintu masuk sepanjang 20 meter, bahkan area depan masjid pun dikosongkan dan ditaruh beberapa pot tinggi berisi bunga-bunga mawar putih dan lily.


Tak terlalu mewah namun pula tak sederhana. Satu persatu kerabat dan keluarga berdatangan, begitupun tamu VIP dan saksi yang jumlahnya terbatas agar tak cukup memadati area masjid.


Salman awalnya tak mau hadir, namun paksaan dari Desi akhirnya ia datang juga bersama pak lurah dan bu lurah yang bertindak sebagai saksi.


Prittt!


Sosok berpakaian batik parang rapi mengatur parkir kendaraan yang hadir, jauh dari kesan baju ijonya hansip. Keamanan disini pun bername tag dan berpantofel.


"Maaf parkir sebelah sana, pak." Salman mengangguk paham, ia mencari tempat parkir diantara puluhan mobil mewah yang berjajar.


"Siapa sih nak Andromeda ini pak? Dia cuma suruhan yang punya cafe aja kan? Tapi kok yang datang pake mobil mewah semua," tanya bu lurah.


"Setau bapak sih gitu, waktu minta surat perijinan buka usaha di Giri Mekar, dia katanya cuma bantu nyari dan ngurusin jalannya usaha," jawab pak lurah.


"Kayanya mah bukan orang sembarangan bu, masa tamu yang datang aja kaya begini. Bisa make masjid Agung juga," sela Desi.


Keempatnya turun dan diarahkan untuk masuk ke dalam area masjid setelah sebelumnya ditembak thermogun di kening dan diberikan cairan handsanitizer, juga sekantung kecil berpita permen rasa buah dan mint agar tamu tak merasa bosan.


Bu Lurah menelan salivanya, sekaligus mendesis lirih.


"Wah, keren ya a!" gumam Desi memuji.


Entah memang bawaan tempat ibadah itu selalu khusyuk dan khidmat atau memang pihak WO yang pintar membuatnya menjadi seperti itu.


Sekejap mereka merasa seperti berada di taman bunga mawar yang harum dan sejuk, para tamu VIP pun duduk rapi membentuk U mengelilingi area tengah ruangan. Suasana syahdu diiringi musik melow.


Tak lama setelah itu, pihak keluarga terutama Kurawa sudah berdatangan.


"Jadi pengen kawin lagi gue!" Melan merengek menyusut sudut matanya.


"Elah! Udah nenek-nenek juga!" dorong Guntur.


Fatur menatap masjid yang disulap menjadi tempat sakral Andro dan Naya, "dejavu ya bang kalo liat masjid?!" Gale tertawa.


"Dari masjid lah kaka, adek, sama Rion bermula!" balas Fatur. Kurawa datang dengam dresscode yang sama, kebaya dan batik berwarna hijau mint dan hijau botol.


"Wahhh, bunga! Liat Rion!" Afifah memetik satu mawar dari pot yang ada si sekitar karpet merah.


Mobil Shania yang dibawa oleh Deni dengan berhiaskan karang bunga di kap mobil akhirnya sampai.


Didampingi oleh keluarga serta kerabat Andro turun dengan gagahnya, stelan jas putih menjadi kostum di acara sakral sore ini berlatarkan langit jingganya senja ia berjalan melewati karpet merah di apit Shania dan Arka.


"Echo 1, pengantin lelaki udah datang! Ganti!" gumam seseorang dari walkie talkienya.


"Informasi diterima."


Kembali bu Lurah terperangah dengan adanya WO no abal-abal ini.


Beberapa orang berpakaian rapi pun memberi kode dan aba-aba agar menginterupsi para tamu, yang saat itu juga langsung diam.

__ADS_1


Bersama pak penghulu yang telah datang Andro berjalan diekori oleh Kurawa dan Pandawa lengkap dari kakek nenek sampai cucu membawa seserahan barang-barang yang kotak kemasannya saja cantik berisi peralatan untuk Kanaya mulai dari peralatan mandi, skin care, hingga baju dala maan, sampai tas bermerk.


Gleuk!


Salman merasa dirinya sesak, sejak kedatangannya menginjakan kaki di masjid ia merasa tak percaya diri, padahal awalnya ia menganggap Andromeda tak jauh berbeda dari pak Agung yang cuma kaki tangan kepala bagian di pabrik Kinoy's.


Kanaya hanyalah gadis desa, baginya sosok lelaki idaman adalah dirinya, hanya dirinya! Tapi kini jelas ia sudah melampaui batasan.


Andro sudah duduk di tempatnya bersebrangan dari penghulu hanya berbatas meja kotak kecil.


"Done!" ujar seorang MUA yang merias Naya.



"Ceu, jangan mabok atuh! Dari hotel ke masjid teh deket jaraknya. Masa udah dandan dari pagi ancur cuma gara-gara mabok!" Arif kini sewot dan cerewet.



"Ya emang maunya ceceu! Siapa juga yang mau mabok!" Kanaya yang sejak tadi pagi dilanda rasa tegang semakin tegang saja, bahkan ia tak berani melihat jam dinding apalagi ponsel.



"Sudah siap?" tanya pak Akbar ikut masuk ke dalam kamar Naya.



"MasyaAllah!"


"Ya Allah! Ceceu cantik!"




"Meni pangling bapak Nay, ini teh anak gadis yang suka gembalain kambing, jadi cantik gini!" dari pak Akbar sampai bu Dewi berkelakar menggoda Naya yang memang tampil bak bidadari surga, tangan MUA berhasil menyulap wajah cantik Naya semakin manglingin, meskipun kebaya yang dipakai begitu sederhana dan simpel, kebaya milik Shania, yang ia pakai saat menikah dengan Arkala dan peenah dipakai Galexia juga saat ia menikah dengan Fatur, kini dipakai juga olehnya sesuai permintaan Andro.



Kanaya bahkan sampai tak percaya jika ini adalah dirinya, ia sampai puluhan kali melihat pantulan dirinya di depan cermin.



"Yuk atuh, keburu sore, nanti telat." Ajak bapak, Kanaya didampingi oleh keluarga dan keluarga pak Akbar pergi menuju masjid.



"Macet, euy!" decak kesal pak Akbar, Kanaya sudah meloloskan nafasnya panjang sejak tadi dsmi mengusir rasa gugup, tangannya bahkan mendingin. Hari ini...semuanya akan berubah, ia akan menyandang status seorang istri dari Andromeda Putra Mahesa, seluruh hidupnya dan rumahnya adalah bapak-bapak hot itu.



"Aduh, gimana ini mah macet pisan, ngga maju sama sekali!" tanya pak Akbar, ia bahkan mencoba menghubungi pihak Deni namun tak jua diangkat.



"Macet apa pak?" tanya ibu.

__ADS_1



"Sebentar!" bapak sampai turun dari mobil untuk melihat penyebab macet parah yang terjadi. Suara bising klakson bersahutan menggema di jalanan.



"Naya belum sampe ya, Le?" bisik Shania.


"Macet katanya mii," jawab Gale yang memegang ponsel Andro.


Fatur bahkan harus membawa Arion beranjak karena bayi itu sedikit cranky, begitulah Arion jika ada bapaknya. Beberapa kali Andro melirik arloji.


Ia melirik Gale dan menggumam, "masih dimana?"


"Amerika!" balas Gale tertawa.


"Yang mau merid udah ngga nahan!" tawa Ari.


"Kebelet liat manten cewek!" tawa Roy, disaat seperti ini mereka masih sempat-sempatnya berseloroh.


"Udah, mendingan ngafalin dulu aja Ndro...mas kawin lo kepanjangan tuh, takut ngga lulus!" kekeh Guntur.


Tapi kemudian seorang WO menerima kabar dari rekan lainnya yang berada di area depan masjid.


"Echo 1, masuk bisa ke depan sebentar, ada problem... ganti!"


"Diterima, roger!"


Andro mengangkat sebelah alisnya saat Deni yang berada di dekat seorang anggota WO bertanya serius, "kenapa?" tanya Deni, lalu tak lama Deni ikut keluar bersama anggota WO tersebut.


"Ada apa?" para tamu saling berbisik bak lebah.


"Loh, Naya kemana?" bisik Desi bertanya.


"Kabur lagi meren, si Naya'nya..." cibir bu lurah julid pada Salman dan Desi, sementara pak lurah berada di dekat Andro.


Sekitar 7 menit Deni keluar, kini ia kembali bersama anggota WO dan seorang lainnya.


Andro mengerutkan dahi, begitupun semua yang ada disana, karena pak Acep hanya datang sendiri dengan wajah gugupnya.


"Bisa dimulai saja sekarang, nak Andro...pak...takut keburu telat?" pak Acep duduk di tempat yang sudah disiapkan.


"Kanaya mana, pak?" tanya Andro.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2