
Shania sedang tak di rumah, tadi siang ia langsung meluncur ke rumah sakit, saat Leli mengatakan kalau Naomi melahirkan dengan proses caesar.
"Bi, momy kemana?" tanya Naya menuruni tangga lalu berbisik seperti hantu, ia celingukan kaya maling tv mencari-cari dimana ibu mertuanya itu berada.
"Ibu Sha ke rumah sakit neng dari tadi siang, katanya neng Nom-nom lahiran," jawab bi Yani seraya mengelap tangannya dengan lap di atas wastafel selagi Naya sibuk berohria.
"Kalo gitu bi Yani punya minyak zaitun engga?" tanya nya lagi semanis kucing kalo lagi minta ikan asin.
"Buat apa neng?" tanya bi Yani mengerutkan alisnya, "mau bikin apa pake minyak zaitun, neng?" ia mencari-cari di lemari dapur, jika memasak untuk Arka biasanya Shania akan menaruhnya disini.
"Buat bikin salad Andromeda," tawanya membuat bi Yani mengukir senyuman dan tawa, "ah ada-ada aja, kalo gitu salah!" ia kemudian berjalan ke arah kotak P3K dan mengambil botol berbentuk unik dengan penutup akar kayu, "nih kalo buat mijit ini aja!" serahnya.
Naya mengangguk, "bi Yani tau aja kalo Naya mau mijit mas Andro!"
"Pengalaman orangtua," balasnya mengehkeh.
Naya bukanlah terapis berpengalaman ataupun tukang pijat bersertifikat. Kendati demikian, pijatan tangannya cukuplah bikin kuda yang keseleo sampe patah tulang, "maasss! Yuhuuu! Sok dibuka bajunya, Naya pijit sampe mele hoy lah! Pake jurus andalan, totok sakti!" teriaknya.
Andro membuka kaosnya hingga menampakan lekukan dan pahatan yang mampu bikin Naya ngiler, slurrppp!
"Mas, telungkup!" Naya membawa itu dan naik ke atas ranjang dengan menggoyangkan pan tatnya menghampiri Andro mirip guguk yang nyamperin majikannya.
Alis tebal itu tertarik sebelah lalu bertanya, "ada minyaknya?"
"Nih, minyak zaitun kan...bukan minyak goreng bekas goreng ikan?!" kikiknya.
"Ya udah, kamu buka baju juga."
Naya mencebik dengan raut wajah sewot, "kok Naya, kan mas yang mau dipijit? Nay mah engga apa-apa, ngga pegel, ngga cape juga." kilahnya menolak telan jangan. Oh ayolah, baru juga jam setengah 8 malam! Tukang bakso aja masih keluyuran, cicak aja masih pada gelar la pack dagangan baju cimol.
Namun Andro tak kehilangan akal untuk merayu istrinya itu, "kan kamu sering nyuciin baju mas, masak juga, persiapan buat ke kampus juga pasti bakal capek! Kita gantian, biar adil..." tariknya pada ujung piyama Naya, "kalo mijit mas juga kan pasti gerah, capek...mendingan dibuka aja bajunya! Pake si merah biar semriwing,"
Kanaya tertawa renyah sekaligus geli, "iya nanti aja, kalo udah gerah nanti Naya ganti pake tank top. Si merah baru dicuci kemaren mas," tolaknya.
"Buka Nay,"
"Nanti aja mas,"
Keduanya malah berdebat saling tarik dan dorong. Sampai Andro menghentikan aksinya dan meminta Naya untuk naik ke punggungnya, ia tak menyerah begitu saja.
*Maju kena mundur kena, kalo gini*! Karena ujung-ujungnya Andro meminta plus-plus, acara pijit malam ini hanyalah alibi saja, mau nolak takut dosa!
Entah memang usia Andro sedang masa-masanya bergelora, dengan usia pernikahan yang baru menginjak 1 bulan, atau memang seperti itulah lelaki jika sudah menikah, tak pandang sifat. Dan Naya hanya bisa menurut mengikuti kemauan Andro yang memancing libi donya.
"Perempuan apa lelaki, mii?" tanya Andro.
__ADS_1
"Laki, nanti kalo mau jenguk ke rumahnya aja Ndro pas pulang, kalo sekarang masih penuh sama keluarga dari suaminya." Jawab momy Sha.
Andro mengangguk.
"Bagusnya ngasih apa ya mii? Kalo barang kayanya teh Nom-nom udah lengkap," ujar Naya memutar bola matanya berpikir.
"Mentahnya aja Nay, biar bisa dibeliin yang belum punya atau lagi butuhnya apa," jawab Arka.
Naya mengangguk paham, namun Andro langsung mengangsurkan ponsel miliknya di kolom m-banking, "tulis aja nominalnya, terserah kamu."
Kedua alis Naya terangkat, "berapa mas, ih. Naya ngga tau, pantesnya berapa...." Naya kebingungan pasalnya Nom-nom bukanlah orang lain dan warga Giri Mekar yang kalo ngamplop 150 ribu aja udah berasa gede.
"Cukup aja weh Nay, cukup buat ikut patungan acara aqiqah..." timpal momy Sha. Naya mengangguk paham, sebenarnya bukan nominalnya yang penting, namun rasa kekeluargaannya.
Sore ini, Andro membawa Naya ke komplek paling ujung, tempat yang paling jarang di ramaikan di komplek ini, namun ternyata perkiraannya salah....sore ini mendadak ujung komplek ramai oleh ibu-ibu yang lagi momong anak sambil nyuapin.
"Waduh, rame mas kalo disini! Salah-salah, nanti Naya malah nabrak orang!" ia memiringkan kepala berbicara pada Andro, Andro setuju dengan Naya lalu memutar stir motor trail miliknya kembali melewati jalan rumah.
Namun alih-alih pulang, Andro membawa Naya keluar dari kompleknya dan masuk komplek sebelah, ia cukup tau dengan area sepi disana.
"Mau kemana kita, mas?"
"Komplek sebelah, ada jalan yang ngga terlalu rame, penghuninya ada di rumah kalo pagi sama malem aja, jarang pada keluar kalo bukan weekend."
Andro menarik kopling saat menginjak persneling dan tancap gas masuk ke komplek sebelah.
Andro turun dari motor bersama Naya, ia membalikan pad topi ke belakang nampak begitu cool seperti anak muda, "standarnya di miringin dulu. Biasain pijakan kaki di kiri, karena kaki kiri biasanya lebih kuat, ngga mudah roboh." Naya memperhatikan suami gantengnya di bawah suasana sore, jujur saja ia tak konsen karena gaya Andro sekarang membuatnya lebih muda beberapa tahun.
"Hadeuhh!" Naya menggelengkan kepalanya cepat, menepis keterpesonaannya, "kalo gurunya ganteng gini mah, Naya susah fokus atuh mas!"
Andro mendorong kepala istri usilnya itu, lalu menempelkan jidatnya dengan jidat Naya, "ngga usah ngerayu, kalo ngga mau dimakan!"
"Coba dulu kamu naik, sebenernya kalo kamu bisa naik motor gigi mah pasti cepet bisanya, walaupun ngga pernah naik motor cowok begini!"
"Tinggi mas, nanti kalo motornya berenti gimana?" tanya Naya.
"Ya kaki kamu harus mau turun, posisinya aga dimiringin biar sampe."
Naya mencoba naik saat posisi standar, lalu Andro berdiri di sampingnya dan menyentuh setiap bagian penting, "ini persneling..." kakinya menginjak tuas kiri dekat footpeg.
"Ini kopling," Andro menarik tuas di sebelah kiri stang motornya.
__ADS_1
"Yang ini gas," kemudian ia menarik tuas di sebelah kanan stang motor, Naya begitu seksama memperhatikan.
"Ini rem depan," ucapnya menarik tuas di sebelah kanan stang di atas throttle. "Dan ini rem belakangnya," Lelaki itu berputar menekan pijakan kaki kanan.
"Ngerti ngga? Diinget-inget, jangan sampe nanti kamu blank waktu lagi ngendarain?"
Naya mengangguk lalu mengulangi apa yang Andro katakan tadi, "oke dimengerti pak guru!" ucapnya.
"Oke, liat mas duluan. Abis itu kamu, tapi mas lepas sendiri..." entah sudah berapa kali Naya mengangguk cepat. Ia turun membiarkan pak gurunya ini memberikan contoh.
"Ini kopling penting banget, kamu tarik ini sampai mentok nyentuh stang setiap mau injek persneling buat mindah gigi, atau waktu mau berenti....tarik kuat tapi hati-hati karena biasanya suka kesentak-sentak, jangan dilepas sekaligus biar mesin ngga mati," Andro benar-benar seperti instruktur motor trail yang mau off road di gunung.
"Turunin gigi teken ke bawah kalo mau naik, congkel ke atas."
"Sip!" jawab Naya. Sebenarnya Naya adalah gadis yang mudah paham secara teori, meskipun tak tau praktiknya seperti apa nanti.
Setelah Andro menjajal satu putaran, ia kemudian turun dan membiarkan istrinya itu yang mengambil alih.
Naya menghela nafasnya kasar lalu naik ke atas motor, "bismillah!"
Kanaya menyalakan mesin motor lalu menarik koplingnya dengan tangan kanan siap sedia di tuas rem.
"Mas takut...." gemasnya.
Naya menginjak tuas persneling gigi seraya melepaskan kopling begitu saja.
*Jegrek*. Mesin mati.
"Loh mas?!!!!"
"Mas bilang apa tadi??!!! Sap--sip, sap---sip?!" omel Andro, memiliki murid seperti Kanaya bikin pengen ngunyah.
"Calm down---calm down mas, biar cukup motor aja yang ngegas, mas jangan! Oke sekarang mah paham!" jawabnya, namun kemudian Naya terdiam.
"Kenapa?" tanya Andro sangsi.
"Gimana ya mas ini teh, Naya lupa lagi?!" tanya nya dengan polos.
__ADS_1