Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 57. KITA COBA!


__ADS_3

Kanaya memicing, matanya mendelik tajam melihat Andro, habis manis sepah dilepeh...mungkin kata itu yang patut diberikan untuknya sekarang.


Naya mengumpulkan dan meraup sisa-sisa kesadaran yang hampir hilang kembali, kan ngga lucu kalo nanti tiba-tiba muncul berita di tv penganten tepar abis malam pertama gara-gara kelaparan, "mas baju Naya, ih!" pintanya memohon merujuk ke arah setumpuk baju yang tadi ia taruh begitu saja, remuk redam sudah badannya yang sudah tak menyisakan tenaga sedikit pun.


Andro yang merasa terpanggil menoleh singkat untuk kemudian membantu mengambilkan pakaian Naya yang tadi ia tinggalkan dekat koper, "tadi bilang laper kan? Mas udah pesen makan buat kamu."


Naya mengerucutkan bibirnya dan berucap ketus, "buat aku atau buat mas? Keliatannya mas lagi khusyuk nih? Sampe orang yang tadi minta makan aja ngga dibangunin," desisnya seperti ular sepaket wajah nyinyir nan judes.


Andro terkekeh merapikan rambut Naya yang sempat ia jambak waktu lagi war tadi, untung ngga langsung botak!


"Kamunya tidur pules, masa aku bangunin, kasian. Ya udah akhirnya mas mikir, kalo laper nanti juga bangun sendiri!" jawab Andro, yes 100 buat Andro! Jangan sampai suami-suami di dunia modelannya seperti Andro jika tak ingin besok mendengar kabar menggemparkan, lembah beracun penuh sama suami yang dilempar istrinya sendiri.


"Ish!" Naya mengelak dan menjauhkan tangan Andro dari kepalanya, saat ini ia tak ingin dihujani kata-kata menyebalkan karena yang sekarang Kanaya butuhkan adalah makan.


Kanaya langsung memakai bajunya sat--set tanpa melihat apakah beha nya itu terbalik, atau pakaiannya jadi beda merk, yang penting dia ngga makan sambil telan jankk.


Ia beranjak menyingkirkan selimut, agak sedikit mengganjal, perih, dan berdenyut tentunya saat ia berjalan, Kanaya sampai duduk tak nyaman pada awalnya di sofa kaya orang ambeien. Tapi berhubung nasi hangat, sop buntut dan beberapa makanan lain sudah melambai minta dilahap, ia tak mempedulikan rasa itu.


"Kalo mau mandi, nanti mas siapin air angetnya buat berendem," ujar Andro, lelaki ini berubah jadi manis dengan membukakan segel air mineral untuk Naya kemudian kembali duduk di sofa samping Naya untuk meneruskan sisa suapan makan di piringnya. Kanaya mengangguk singkat dan memilih meneruskan pesta rakyatnya bersama sang lambung.


Ia yang sudah resmi menyandang status sebagai nyonya Andromeda seutuhnya makan begitu lahap, kaya abis puasa 7 purnama.


Di sela-sela pekerjaan yang tetap dikerjakan, Andro membuka web salah satu universitas lalu menggeser laptop ke depan Naya, "Muhammadiyah, Pertanian...ada agronomi, termasuk program studi barunya agroteknologi...." tembak Andro tanpa aba-aba atau mukadimah terlebih dahulu memberikan penawaran.


Kanaya menjelikan penglihatan meski tangannya terus saja menyendok nasi, gambar slide yang terus berganti menampakan bangunan kampus beserta keasrian tempat dan beberapa ruang fakultas membuat Kanaya tertegun.


Ia manggut-manggut tanda puas dan tertarik, "mahal?" pertanyaan pertama yang tanpa disadari menjadi kebiasaan Kanaya jika akan memutuskan sesuatu dan itu sukses membuat Andromeda melirik tak percaya, "kalo untuk ukuran sebuah pendidikan, ilmu, dan ijazah, sebanding...mas coba daftarin kamu," tanpa mau repot-repot menunggu persetujuan Kanaya, Andro langsung masuk ke situs webnya, ia bahkan menyimpan nomor kampus itu berniat untuk menghubunginya nanti selepas kepulangan mereka dari Kep.Riau.


"Eh, bentar dulu mas. Sebandingnya tuh berapa? Pikir-pikir dulu deh, takut mas ngga ada uang," balas Naya terlihat ragu dan menahan lengan Andro.


"Nay, mulai sekarang kamu ngga usah mikirin masalah uang. Biar itu jadi urusan saya. Kamu cukup belajar bener-bener, urus rumah---" jedanya menatap bibir merah Naya dan mengusap pipi yang tengah menggembung dan mengunyah itu dengan jempolnya.


"Dan urus saya." Tambahnya.


Kanaya menegakan badannya mendengar itu, hatinya merasa tergelitik setiap kali Andro berkata begitu. Memang wajahnya itu kelewat datar kaya lagi baca undang-undang dasar '45 tapi perkataannya itu loh! Bikin orang pengen garuk-garuk tembok!



Tak ada unboxing lanjutan, karena pada kenyataannya sepasang pengantin baru ini malah adu sepak di atas ranjang, saking lelahnya aktivitas beberapa hari belakangan ini.



Tak mau menunda sampai warga bikinii bot tom menyerang Cianjur, Andro memakai hadiahnya dari Gale untuk hari ini. Jadwal kedatangan keduanya dijadwalkan pukul 1 siang di bandara Haji Fisabilillah.



"Mas," berkali-kali Naya meloloskan nafas dari mulut persis orang mau lahiran, ia panik nan gugup.

__ADS_1



"Takut mabok? Pesawat lebih enak," jawab Andro menggeret koper, ia cukup senang menggusur koper karena akhirnya seragam kebangsaan yang awalnya Naya enggan untuk bawa pada akhirnya terselip juga diantara baju-baju mereka.



Tak ada keluarga yang mengantar atau melepas keduanya di bandara, karena bukan mau berhaji atau jadi tki.



"Saya ke gerai sebentar, Nay tunggu sebentar disini," tunjuk *pria-nya* dengan stelan celana chino dan t shirt hitam juga topi ke arah gerai roti dan kopi.



"Iya. Jangan lama-lama mas nanti dipanggil," ujar Naya memainkan ponselnya sebentar untuk memberi kabar pada keluarga, lalu memasukannya kembali ke dalam tas.



Andro mengangguk singkat dan meninggalkan Naya beserta koper mereka.



Naya mengedarkan pandangan ke arah sekeliling dengan mendekap tas selempang channel di pangkuannya. Ia ingat pertama kali dan terakhir datang ke tempat ini adalah saat mengantarkan teh Marni untuk bekerja ke Arab, ada perasaan sedih dan kecewa dengan keadaan, beda halnya dengan sekarang, "teteh kapan pulang, teh?" gumamnya lantas memainkan kuku-kuku tangan yang bersih.




"Minum dulu," Andro kembali membawa secangkir kopi dan dua buah paper bag berisi roti beraroma kopi.



"Makasih," jawabnya menerima, lalu membukanya.



"Kita berapa hari di Bintan, mas?"



"5 hari," balas Andro singkat menikmati roti miliknya.



"Lama amat, ngapain aja?!" alisnya bertaut.


__ADS_1


"Bikin anak."



Uhukkk! Uhukkk!



Kanaya langsung meninju lengan Andro keras, "katanya mas mau masukin aku ke universitas, kok malah disuruh bikin anak?!" ketusnya menggerutu.



"Emangnya ada aturannya jadi mahasiswi ngga boleh hamil?" tanyanya.



"Ya engga gitu mas, maksudnya kan---" ucapan Naya terjeda dengan lengu han nafas. Hanya tak terbayangkan saja ia kuliah dengan perut yang membesar, pasti hari-harinya akan cukup berat.



"Atau justru kamu ngga mau hamil anak saya?" tanya Andro penuh selidik dengan aura yang mendingin, membuat Naya *hipotermia* dadakan.



Kanaya menggeleng, "engga...engga gitu mas maksud Nay, cuma....gimana rasanya ya kuliah sambil hamil?" jujurnya bertanya mengkhawatirkan---ini dan itu.



"Kalo gitu kita coba," balasnya enteng menyeruput kopi. Kanaya lupa jika ini adalah Andromeda, pria yang tak suka dengan penolakan.



Suara announcer sudah bergema di setiap sudut bandara untuk segera boarding. Andro menarik tangan Naya dan sebelah lainnya menggeret koper.


.


.


.


.


.


Noted :


\* hipotermia : penurunan suhu tubuh secara drastis akibat lingkungan yang bersuhu dingin.

__ADS_1


__ADS_2