Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 66. 1-2, I WIN


__ADS_3

Bibi masih terkikik sampai ke rumah, padahal yang di rumah sudah khawatir setengah hidup menunggu mereka.


Shania melihat Naya masuk dengan mengerutkan jidatnya menjadi beberapa lapisan mirip mille crepes, menantunya itu datang dengan senyuman selebar pinggang gajah menyeret daun pisang ke dalam rumah dalam keadaan sehat wal'afiat, seperti dan tanpa keluhan, seperti tak habis terjadi apapun, wajahnya saja cerah kaya abis dapet undian berlian dari ciki.


Dibelakangnya disusul Andro dan bi Yani dengan raut wajah berbeda-beda, yang satu datar yang satu cekikikan persis orang kurang sekilo.


"Gimana ularnya?" tanya momy Sha menaruh secangkir teh manis di meja untuk ayah Arka. Untung saja ayah tak memiliki riwayat diabetes karena tiap pagi minum teh manis sambil mandangi istrinya yang manis.


"Ular? Adanya juga ular kadut mii," jawab Naya se-enteng kapas, kemudian gadis itu membersihkan daun pisang, menyobeknya jadi beberapa lembar untuk bungkus ikan yang akan dipepes. Ia juga mulai mengeluarkan bumbu serta mengolah ikan yang tadi sempat ia simpan.


"Ini tuh gimana? Ular kadut apa?" alisnya bahkan semakin berkerut. Andro memutar bola matanya, lantas bergegas kembali ke kamar untuk melakukan ibadah yang sempat ia lewatkan sebelum habis waktu subuh.


"Bi, gimana...ada ularnya? Segede apa, berbisa ngga? Matok apa dimatiin?" tanya Shania menjeda pertanyaannya, namun sebelum bi Yani menjawab, ia kembali bersuara.


"Tuh, mas. Harusnya mas bilang sama pak rt, suruh tegor yang punya tanah, jangan dibiarin kaya belantara gitu lahannya....takut bahaya ada hewan liar masuk ke rumah warga!"


Bi Yani menceritakan semuanya pada sang majikan hingga Shania tergelak di samping Arka, sementara orang yang sedang dibicarakan hanya bisa senyam senyum mendengar moment tadi diceritakan kembali.


"Kamu teh, orang mau nanem saham di gep, atuh benihnya uprat-apret kemana-mana mubadzir," tawa Shania langsung dihadiahi tatapan horor Arka dan cubitan pelan suaminya itu. (kebuang-buang berceceran)


Dan boom! Ketiga wanita ini tertawa layaknya genderuwo lagi nonton stand up comedy.


"Momy ih!"


Arka menggelengkan kepala, "anak jaman sekarang, kelakuannya ngelebihin jin."


"Udah lah, kamu mah cocok gantiin satpam disini buat ngamanin komplek, neng." Ujar Shania.



Kanaya masuk ke dalam kamar setelah selesai memasak lalu menyambar handuknya saat melihat si ganteng kalem sudah klimis dan wangi.



Tak butuh waktu lama sampe tangan pada keriput atau ngelupas sebadan-badan mirip ular ganti kulit, Kanaya sudah kembali dengan keadaan basah, segar dan wangi tentunya.



"Nay, nanti mas anterin kamu sampe bandara buat jemput teteh, setelahnya kamu ikut sama pak Akbar, sama bapak dulu ke rumah sakit, nanti mas yang jemput." Sosok lelaki yang sudah rapi dengan stelan kemeja dan jas hitam senada itu terlihat semakin tampan nan kinclong di mata Naya. Apakah Andro memakai semir?



"Mas kalo jas'an begini nambah ganteng deh, apa kalo kerja sehari-hari gini juga?" tanya Naya terang-terangan seraya menyentuh dan mengusap kerah jas Andro.



Tercium aroma segar dari tubuh Kanaya, merangsang kinerja otak dan haz ratnya, apalagi kini Naya cuma handukan, wanita-nya itu semakin hari semakin sexy saja, padahal usianya masih terbilang muda, dan tentunya ia juga semakin pandai menggoda iman.



"Engga. Tiap ketemu klien aja," jawabnya menyentuh pipi sekenyal yupi, "klien?" alisnya terangkat, Andro mengangguk, "makanya ngga bisa nemenin kamu ketemu teh Marni."


__ADS_1


"Ngga apa-apa, urusan keluarga Naya jangan ganggu kerjaan mas Andro," jawabnya tersenyum manis.



Cup!



Daripada penasaran dan ngga bisa keluar rumah karena ngga nyium si nakal nan magicnya, akhirnya Andro mendaratkan kecupannya lama di kening Naya, menghadirkan sensasi hangat dari si tuan dingin, namun lama ia terbuai seraya melingkari pinggang Naya, hidungnya mencium aroma segar yang sangat ia hafal, "Nay..."



"Hm?"


Andro mengendurkan tangannya di pinggang Naya.



"Kamu pake sampo yang mana?" tanya Andro mengernyit seraya mencomot-comot rambut Naya dan kembali membauinya.



"Naya ambil sampo yang di rak bawah, abisnya botol sampo mas banyak, Nay bingung...."



Andro tertawa terkikik terkesan tergelak, ia lalu menaruh punggung tangannya di kening Naya, "sakit ternyata!"




Andro meraih ponselnya dan memasukan itu ke dalam saku jas, "itu sampo mobil sayang, makanya sebelum make baca dulu," Andro mencubit pipi Naya lalu meninggalkannya di kamar sepaket dengan keterkejutan Naya seraya tertawa renyah.



"Hah?! Masa?!" jerit Naya langsung menjiwir rambut-rambut basahnya dan melihatnya.



"Mas?!!! Yang bener?!" karena penasaran Naya langsung berlari kembali ke dalam kamar mandi dan melihat produk yang tadi ia gunakan,



...*CAREERA*...


...*Dual action*...


...*Membersihkan dan merawat body mobil*....


*Wangi segar dan tahan lama*.


__ADS_1


Andro masih mengulum bibirnya saat turun dari lantai 2 ke arah meja makan, aroma bumbu kunyit dan kemangi tercium begitu harum di hidungnya, begitupun pemandangan yang disuguhkan adalah kedua orangtuanya yang sibuk mengupas daun pisang pembungkus pepes ikan buatan Naya.


"Ha! Momy dapet chef baru," ujar momy Sha, bi Yani mengeluarkan sisa pepes dari kukusan ke atas piring.


"Ndro, cobain! Pepes ikan buatan istri kamu, enak kalo menurut momy, gimana mas? Ngga bau bumbu mentah," imbuh Shania memberikan penilaiannya. Andro percaya, jika momy'nya bilang enak sudah pasti makanan itu memang enak, ia langsung saja membalikan posisi piring dan makan bersama ayah yang sudah khidmat menikmati pepes buatan Naya.


"Naya mana?" tanya Momy.


"Masih pake baju, mii. Sebentar lagi juga turun," jawab Andro menyendok daging putih ikan yang terbalut bumbu khas pepes, tak mau menunggu lama menyusul ayahnya, ia bukan tipe manusia manja yang makan aja mesti sampe diambilin piringnya oleh tangan Naya, toh sebelumnya pun Kanaya sudah menyiapkan piring dan minum untuk Andro tanpa harus diperintah.


Naya turun dari kamar sudah dengan dress, bukan ia yang so so'an jadi feminim, namun Naya berusaha menerima semua pakaian yang Andro belikan untuknya, menghargai pemberian dari sang suami. Ia juga tak segan memoleskan blush on meski hanya setipis usapan angin, hadiah dari barang seserahannya.


Naya melapisi dressnya dengan swetter rajut, ia tidak langsung menyerbu meja makan namun langsung mengambil cangkir dan mengisinya dengan bubuk kopi juga gula dan air panas sesuai petunjuk bi Yani. Naya berusaha sekeras mungkin untuk jadi istri yang soleha biar Andro ngga kabur atau nyari sosok bini baru, meski Andro sudah menyatakan cinta dan kesetiaan, tetap saja selalu akan ada hati yang takut dan tak percaya diri, namanya juga manusia.


Sebelum Naya bertanya momy sudah bersuara, "enak, Nay! Belajar dari ibu?" tanya nya mencomot bagian daging ikan yang sudah dipisahkan dari durinya oleh Arka.


"Kok momy ngga ngambil sendiri, ini kan ikannya masih banyak mi?" tanya Naya duduk di samping Andro.


"Momy kamu ini ngga bisa misahin daging sama durinya, bukan ngga bisa tapi ngga niat lebih tepatnya," jawab Arka angkat bicara.


"Biarin! Sengaja, biar bisa romantis-romantisan," balas Shania nyengir di depan Arka.


Naya terkekeh lalu melirik Andro yang begitu khusyuk menikmati makanannya, itu artinya suaminya itu suka, namun kembali Naya belum sempat bertanya Andro sudah bersuara, "kenapa, mau juga diambilin daging ikannya? Atau justru mau makan bekas lepehan dari mulut mas, kaya anak bayi yang belum tumbuh gigi biar ngga keselek?"


Naya bergidik ngeri dan jijik, "mas ih! Jorok. Lagian Naya bisa makan sendiri, ngga perlu mas luma tin, Naya cuma mau bilang nanti pulangnya mampir dulu ke supermarket buat beli perlengkapan mandi Nay."


Naya mengambil piring untuknya sendiri lalu mulai menyusul mereka makan.


"Loh, emangnya barusan mandi pake sabun sama sampo siapa, Nay?" tanya mom Sha. Andro mengulum bibirnya selagi Naya meliriknya mendelik.


"Punya mas Andro, mii." bohong Naya kakinya sudah menginjak kaki Andro di bawah sampai-sampai si empunya melotot tajam ke arah Naya.


Tapi senyuman usil terbit dari wajah cantik itu, Naya dengan usilnya menjelajahi kaki Andro mulai dari ujung kaki naik ke atas sampai pa ha Andro dengan gerakan lambat berniat menggoda Andro sambil melipat bibirnya, membuat suaminya itu melirik dengan menukikan alisnya, "nakal kamu, awas aja nanti..." gumamnya tanpa bersuara, Naya terkekeh tanpa suara di tempatnya, puas karena sudah membalas dendamnya tadi, wanita itu seolah menantang, tak kapok dengan melakukan hal itu terus, tanpa Naya duga Andro menurunkan tangannya yang bebas dan menangkap kaki nakal istrinya itu.


Hep!


"Emmh!" Naya cukup dibuat terkejut oleh gerakan kilat Andro dan menutup mulutnya.


"Kenapa neng?" tanya momy.


"Keselek duri? Minum atuh!" tambahnya. Kanaya segera menyambar segelas air miliknya dan meneguk itu, Andro menyunggingkan senyuman, Kanaya salah memilih lawan.


Bahkan Andro kini menyapukan tangannya itu naik sehingga dress Naya cukup tersibak ke atas pa ha, membuat si empunya merinding disko.


"Mas ih!" geramnya melotot tapi yang dipelototi malah terkekeh, "1-2, i win!" ucapnya mengedipkan sebelah mata.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2