Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 37. BERAPA YANG BAPAK MAU?


__ADS_3

Sebutir tablet pink anti mabuk mendarat di tenggorokan Kanaya, lalu ia dorong bersama air mineral membuat Andro menggelengkan kepalanya.


"Gimana kalo saya bawa kamu ke Surabaya, harus minum berapa tablet?" cibirnya memancing delikan sinis dari Naya, "mau ngapain ke Surabaya? Gantiin patung buaya?" sewotnya.


"Pasang seatbelt kamu, nanti kamu merem bikin celaka," titah Andro.


"Bapak janji, kalo saya merem jangan macem-macem?!" ia melotot mengancam seorang Andromeda dengan kepalan kecil yang lebih mirip cimol untuk Andro.


Andro melihatnya dengan tatapan malas, "jangan kepedean," cebiknya menyalakan mesin mobil yang terdengar begitu halus di telinga Naya.


Kanaya menatap Andro dengan getir dan penuh sorot berkaca-kaca, merasa jika pertemuan secara tak sengajanya dengan Andro menjadi sebuah pertemanan terasa begitu indah, seumur-umur ia belum pernah merasakan perasaan yang seperti ini saat bersama dengan lelaki, bahkan Salman sekalipun, dan kali ini ia merasa jika hari ini adalah hari terakhirnya bisa bertemu Andro, "pak. Kalo saya ngga bisa balik lagi kerja, nanti hutang-hutangnya saya cicil aja kalo pas punya uang ya..." ucapnya masih memikirkan hutang.


Ada perasaan tak percaya diri dalam diri Kanaya sekarang, bagi Kanaya dihina dan dikucilkan orang kampung sudah biasa. Namun, harus kembali mengubur angan-angannya berkuliah, membuatnya seketika menelan kekecewaan mendalam.


Mau tak mau Andro mengulas senyuman tipis, senyuman yang langka ia berikan untuk siapapun kecuali bocah. Bukan berarti Andromeda abnormal, tapi karena menurutnya anak kecil itu tulus dan murni, tak mungkin juga kan? Ia bermuka datar bin seram pada bocah, yang ada satu dunia akan berisik karena tangisan para bocah termasuk para keponakannya. Ia semacam malaikatnya para bocah, tapi penjaga kubur bagi manusia dewasa.


Baru 15 menit berkendara, Kanaya sudah terlelap di kursi samping Andro. Berkali-kali Andro menatap gadis cantik berusia 19 tahun di sampingnya, ia ingat dengan obrolannya semalam bersama pak Akbar,


"Mas, sebaiknya dipikirkan lagi saja. Bisa ngobrol baik-baik sama keluarga Kanaya, mungkin saya juga akan bantu."


Obrolan yang terjadi tak lama setelah bapak Naya melabrak ke rumah pak Akbar, ia langsung menghubungi Andro jika ayah Naya meminta Naya kembali. Pak Akbar sudah menjelaskan jika sebenarnya Andro pun tak tau Kanaya akan senekat itu menyusul ke Jakarta di hari lamarannya, tapi kembali pak Akbar malah mengingatkan pak Acep jika semua yang terjadi karena ulahnya sendiri, tak ada sangkut pautnya dengan Andro apalagi dirinya, justru Andro hanya membantu Kanaya. Tapi tetap pak Acep tak mau mendengar apapun alasannya, sebagai bentuk pelampiasan kekesalan.


Gurat wajah manis dan menggemaskan dibalut sifat absurd dan polos sayang jika harus dikecewakan, karakter kuat dan berani bermimpi didukung pikiran maju tak pantas untuk dimatikan.


Ada rasa kasihan, sayang terhadap Kanaya dari Andro. Kanaya gadis kuat, di tempa dalam kehidupan sulit dengan dikucilkan dan dihina pihak sana-sini tapi masih memiliki mimpi mulia yang belum tentu semua gadis miliki.


"Kalau bapak kamu tetap keras kepala, maka saya yang akan meminta kamu." Ucap Andro saat Kanaya terpejam diantara mimpinya.



Perjalanan menuju desa Giri Mekar tak terlalu lama, namun Kanaya sepertinya masih enggan untuk terbangun, seperti bank kai... Guncangan yang Andro berikan tak berpengaruh apapun, gadis di sampingnya hanya menggeliat kecil mengganti posisi kepalanya dan kembali diam dalam mimpi.



"Kamu ngga takut saya apa-apain, Nay?" kekehnya. Mendengar suara mobil Andro, pak Akbar keluar dari dalam rumah untuk menyambutnya.



Langkahnya turun dari mobil, tak membawa serta Kanaya yang masih anteng terpejam dengan AC mobil menyala.



"Mas," angguknya, sedetik kemudian ia melihat kembali ke arah mobil Andro, berharap gadis yang tempo hari menggegerkan kampung ikut turun.



Andro ikut melemparkan tatapannya ke arah mobil, "Kanaya ada di dalem mobil, pak. Tapi dia tidur, kasian."



Pak Akbar mengulas senyumannya, "oh. Mangga atuh mas, masuk dulu ke dalam."



.....


Kanaya menggeliat, sayup-sayup suara musik klasik mengalun di telinganya bak nyanyian nina bobo, pantas saja Kanaya lama terlelap karena Andro menghidupkan pemutar musik. Ternyata selera musik Andro sekalem orangnya.



Naya yang sedang mengumpulkan kepingan-kepingan nyawa'nya mulai menyadari jika kini mobil sudah berhenti, perlahan ia juga mengerutkan dahinya mengenali tempat dimana ia berada, "Giri Mekar..." gumam Naya terkejut, "udah nyampe?! Cepet amat!"



Ia melirik ke arah bangku pengemudi, "loh! Pak Andro kemana?!" serunya membuka seatbelt lalu turun dari mobil. Melihat pintu rumah pak Akbar terbuka, ia langsung saja melangkah masuk.



Kehadiran Kanaya sontak membuat para penghuni ruang tamu menoleh, "nah ini dia biang keladinya!" seru pak Akbar langsung beranjak dan menjewer telinga Naya sampai ia mengaduh.



"Adududuh, pak! Ampun! Tau bakalan dijewer gini, Naya ngga akan masuk. Mendingan nunggu di mobil aja," dumelnya mengaduh.



"Naya---Naya," bu Dewi keluar dengan membawa senampan gelas kopi.



"Kamu teh udah bikin geger satu kampung Naya, bikin heboh keluarga kamu sama keluarga pak Agung...tau ngga, kalo pak Agung sampe nyewa angkot sama pick up buat bawa keluarganya dari desa sebelah?! Bapak kamu sampe lapor rt, rw buat nyariin kamu...."



Bukannya menyesal Kanaya malah tertawa puas, "rame pasti ya?!"



Pak Akbar tak bisa untuk tak tertawa juga jika mengingat chaosnya tempo hari, saat Giri Mekar kehilangan satu kembang desanya.



"Si Agus ikut riweuh! Katanya kamu teh diculik *jurig*, dibawa ke kebon bambu deket *walungan*!" bu Dewi bercerita dengan berapi-api, semakin membuat Kanaya tertawa sampai memegang perutnya.

__ADS_1



"Taunya kamu teh, malah jalan-jalan ka kota!" tambahnya mencebik, Naya duduk di samping Andro sementara bu Dewi di samping pak Akbar, "maafin Naya ya bu, pak...karena ulah Naya, ibu sama pak Akbar jadi ikut kena imbasnya di tegur bapak..." Kanaya menunduk, "Naya cuma mau nyari kerja ke kota, mau gapai cita-cita sambil bantuin biaya rumah tangga ibu. Padahal kan bapak tuh ada perjanjian sama Naya, dalam waktu sebulan Naya bisa dapet kerja, bapak ngga akan nuntut nikahin Naya...tapi bapak *jalir*..." jelas Naya. Andro melihat Naya seraya menyimak cerita gadis ini.



"Ah, emang dasar aja bapak kamu yang *gelo*! Ngga tau udah dikasih apa-apa sama pak Agung. Dulu teteh kamu yang mau dinikahin sama duda bangkotan si pak Uum, yang sekarang istrinya 3 itu, yang sakit-sakitan tapi juragan kayu putih...sampe teh Marni kabur ke Arab, maksain jadi tkw...eh, kabur bukannya ngerubah masa depan jadi baik, malah bawa...." jelas bu Dewi tak melanjutkan ucapannya, karena jelas akan menyakiti Naya. Kanaya tersenyum getir mendengarnya.



"Iya."



"Udah. Ngga usah bahas yang udah-udah...sekarang mau gimana, mau bapak samperin bapak kamu atau kamu yang kesana?" tanya pak Akbar.



"Kita yang kesana." jawab Andro cepat menyela, membuat Kanaya menoleh horor dan menautkan alisnya seolah bertanya.



"Ngga sopan kalo orangtua yang nyamperin anak. Harusnya anak yang nyamperin orangtua, tunjukin kalo kamu memang punya etikad baik..." Pak Akbar tersenyum dengan jawaban Andro yang terkrsan bijak juga dewasa meski telah difitnah bapak Kanaya.



"Kalo gitu mau sekarang apa gimana?" tanya pak Akbar.



"Boleh, sekarang aja..." lirik Andro lagi, diangguki ragu oleh Kanaya.



"Tapi motor cuma ada satu, mas."



"Kita jalan aja pak. Deket ini lah!"



Sepanjang jalan menuju rumah Kanaya, gadis itu memantapkan hatinya, akan berusaha membela diri di depan bapak.



Jarak yang tak terlalu jauh, membuat perjalanan ini semakin mendebarkan, dapat Andro lihat wajah gugup Kanaya.




Dari depan Naya hanya dapat melihat sandal Upa dan ibu saja, itu artinya Arif dan bapak tak ada di rumah.



"Assalamu'alaikum!" Naya berjalan duluan dan membuka handle pintu rumah, hingga matanya berbinar melihat Upa tengah menggelar mainannya di tengah rumah.



"Ceceu!" serunya berteriak, gadis itu beranjak dan menghambur memeluk tantenya.



"Upa...."



"Ceceu darimana aja, ceu? Semua pada nyariin ceceu?!" bocah itu pun tak luput mengkhawatirkannya.



Dari balik badan Naya, Andromeda dan pak Akbar berdiri, "om Andro?!"



"Hay Upa?!" sapa Andro.



"Enin! Ceceu pulang!" teriaknya.



Kanaya menatap nyalang pada sosok ibu yang datang dari gawang dapur, "bu?!"



"Ceu?! Ya Allah!"



Kanaya tak bisa untuk tak menitikan air matanya dan memeluk ibu, "ibu maafin ceceu, ceceu teh nekat kabur karena ngga mau nikah! Ceceu sengaja pergi ke Jakarta nyusul pak Andro yang nawarin kerja, bukan pak Andro yang ngajak...tapi ceceu yang nyusul buat nyari kerja. Pak Andro yang bantuin ceceu, ceceu dapet kerjaan bu di toko kue! Pak Andro juga yang nyariin kontrakan buat ceceu," jelasnya, ibu masih terisak dan mengusap mata dengan ujung bajunya, ia lantas mengangguk-angguk mengerti, ibu pernah mengalami ini, karena ini pula yang terjadi dengan Marni dulu.

__ADS_1



"Yang penting kamu masih sehat wal'afiat! Alhamdulillah,"



Dari arah luar, bapak yang baru saja datang entah darimana langsung berjalan cepat dengan dadha yang membusung pertanda marah, "kurang aj ar! Balik juga kamu sama lelaki ini!" ucapnya.



Ucapan itu bak petir di siang hari bagi Kanaya.



"Diajak kabur kemana kamu hah?!! Kumpul ke bo?!" teriaknya menjerit siap-siap menghantam Andro, pak Akbar sigap pasang badan menengahi Andro dari bapak Naya, begitupun Kanaya yang langsung menghalangi. Namun Andro sepertinya tak bergeming. Matanya bahkan tak mengerjap ketakutan dan terkesan kalem saja.



"Bapak! !" teriak Kanaya.



"Jaga omongan bapak! Jangan jadiin kejadian teteh, penilaian bapak buat Naya juga!" gadis itu sudah tersulut emosinya.



"Kamu teh kepincut sama lelaki kota ini karena ganteng, Naya?!"



"Sadar ceu! Mau kamu? Sakit hati lagi kaya yang sudah-sudah?!" tanya nya melotot, urat leher lelaki yang beruban di beberapa area rambutnya ini menonjol saking emosinya.



"Alhamdulillah sadar pak! Cukup sadar kalo hidup Naya teh begitu berharga dari cuma nikah sama duda kolot yang jadi ka cung pabrik! Cukup sadar kalo hidup Naya teh sia-sia kalo manut sama *keinginan kolot* bapak!" jawabnya tak kalah keras kepala. Andro menyentuh pundak Naya sebagai pengingat untuknya menurunkan emosi dan nada bicara.



"Cuih!!!" ia membuat gerakan meludah.


"Udah untung pak Agung teh mau sama kamu, yang penting kamu ada yang nafkahin Naya! Ngga kurang apa-apa, bisa kejamin hidupnya nemu makan tiap hari!"



"Kalo cuma buat makan doang mah, Naya bisa nyari sendiri, kalo emang bapak udah keberatan nanggung makan Naya! Bapak janji sama Naya, bapak kasih waktu sebulan, dan terbukti....sekarang Naya kerja di toko kue!" balasnya tak kalah sengit.



"Udah diapain kamu teh sama dia, Naya? Bilang!" tunjuk bapak pada Andro.



"Pasti udah mau diapa-apain?! Pokoknya kamu harus tanggung jawab! Saya ngga mau tau!" sarkas pak Acep pada Andro.



Andro yang sejak tadi diam kini angkat bicara, namun sepertinya tidak usah sampai mengeluarkan urat lehernya, ucapan kalem itu sudah seperti sambaran petir bagi semua yang ada disana.



"Berapa mahar pernikahan yang bapak mau untuk Kanaya? Kapan keluarga saya bisa datang kesini buat meminta Kanaya?" tanya Andro.



"HAH?!!" pak Akbar dan Kanaya tergelonjak kaget.



Kini Andro memandang Naya, "sebenarnya urusan mahar adalah urusan antara calon pengantin lelaki dan perempuan, kalo gitu saya mau nanya kamu, berapa mahar yang kamu mau?"



Kanaya melolong di tempatnya.


.


.


.


.


.


Noted:


\* jurig : hantu


\* walungan : sungai.


\* jalir : ingkar.


\* gelo : gila.

__ADS_1


__ADS_2