
Bapak bangkit dari duduknya untuk menyambut teman, "Gung, masuk atuh!" ia memiringkan badan untuk menyembulkan kepala lalu sejurus kemudian melebarkan daun pintu selebar pan tat kebo demi melihat penampakan sesosok pria yang menurutnya meski hampir seumur namun cocok dijadikan mantu.
Sayangnya keinginan bapak itu gugur di tengah jalan gara-gara anaknya kabur dan insiden itu sempat membuat hubungan bestie mereka rungkad, lalu kemudian akhirnya pak Agung mau berbaik hati memaafkan kembali keluarga pak Acep terkhusus Kanaya.
Ia keluar dan bercengkrama sesaat, basa-basi ajojing dengan pak Agung biar dikata ngga sombong, sudah punya mantu kaya.
Arif tertawa terbahak, "ceu! Ada pak Agung mau nagih janji!"
Andro menjatuhkan pandangan pada sosok pria paruh baya yang dulu namanya sempat membuat Kanaya kabur ke Jakarta menyusulnya sambil kebayaan.
"Masuk Gung!" ajak ibu.
Pria itu tersenyum ramah meski bukan ambassador iklan pasta gigi namun senyumnya begitu tulus senyum Indonesia, bahkan untuk Andro sekalipun.
Tapi pesona Indonesianya itu justru tak mampu membuat Kanaya bertekuk lutut dan malah ngibrit.
"Pak," Andro mengangguk dibalas anggukan sopan.
Rambutnya disisir rapi belah pinggir kaya saluran irigasi buat sawah, belum lagi saat tersorot cahaya lampu bikin rambutnya kinclong karena minyak rambut.
"Assalamu'alaikum," salamnya masuk dengan membungkuk dan membawa buah tangan.
"Wa'alaikumsalam."
Mereka menggeser duduknya bak berada di angkot termasuk Andro, sementara Naya hanya mengintip manja, enggan bertemu pak Agung. Semacam ada trauma dan rasa bersalah tersendiri darinya, untung saja tuh bapak-bapak ngga bunuh diri pake tali tambang waktu ditinggal kabur olehnya.
Ia duduk di samping Arif yang ada di sebelah Andromeda.
"Ini..." tanya nya mengulurkan kedua tangan untuk salam.
"Saya Andromeda," jawab Andro.
"Oh, suami Naya..." ia mengulas senyuman tipis dan mengangguk paham, ia sudah ikhlas menerima jika memang gadis itu bukan jodohnya.
Dari gestur dan sikapnya, pria paruh baya ini memang sopan dan baik, itu kenapa bapak mengatakan jika pak Agung memang baik.
"Kopi bu, buat Agung." pinta bapak, ibu mengangguk dan beranjak, namun teh Marni menahan, "biar Marni aja bu," ia pergi dari ruang depan.
"Ceceu mana?" tanya bapak, Arif kembali tertawa, "ceceu lagi solat tobat, pak!"
Andro tersenyum usil dan beranjak, "maaf saya ke kamar sebentar...." Andro kini undur diri dan membuka handle pintu kamar dimana Naya sedang mengintip sambil menguping.
__ADS_1
Naya cukup terkejut saat pintu terbuka begitu saja tanpa permisi, ia mengelus dadhanya, "mas ih!"
"Kamu ngapain?" alis Andro bertaut.
"Lagi piknik!" jawabnya menarik Andro ke belakang badannya dan kembali melanjutkan kegiatan mengupingnya.
Andro sampai menggeleng melihat Naya, apakah perempuan emang doyan ngepoin urusan orang lain?
"Udah malem Nay, kita pulang sekarang." ajak Andro mengganggu keasyikan Naya. Terang saja wanita ini memberenggut, "mas tuh ih! Emang cocok jadi malaikat! Seneng ganggu orang lain pas lagi bikin dosa!" akuinya, Andro tertawa kecil, "dan kamu manusia nakal yang harus terus diawasin dan ditegur, besok kamu kuliah..." bujuknya mengajak Naya pulang.
Bibir Naya manyun, "Nay udah ijin mas, cuti sakit!" jawab Naya, terang saja alis Andro terangkat, "cuti sakit? Kamu sakit?"
Naya mengangguk, "Nay muntah-muntah terus dari pagi, ngga bisa masuk nasi..." jelasnya mengadukan keluhannya hari ini.
"Terus sekarang, masih?"
Naya menggeleng untuk kali ini, "engga. Cuma tadi aja waktu di rumah Wati, aneh tau mas! Giliran udah ketemu mas sama makan nasi garem Naya setrong lagi! Hahaha!" tawanya kembali menempelkan daun telinganya di pintu.
"Saya dengar Marni pulang, namun dengan kondisi kurang sehat, saya ikut prihatin mendengarnya. Kalau tidak keberatan daripada harus mengalami kembali kejadian buruk. Bekerja di negri sendiri lebih enak....insyaAllah jika dek Marni mau, dek Marni bisa memasukan lamaran ke Kinoy's..."
Naya mengerjap beberapa kali dan mencibir, "dek Marni...sejak kapan adek-adek ketemu gede?!"
Andro melipat tangannya di dadha, "kamu cemburu calon suami ngga jadi manggil teh Marni pake sebutan adek?"
"Ngapain? Mas ngga sakit." Jawab Andro.
"Kan orang pintar minumnya begituan, biar mas makin pinter!" tukasnya.
Andro mendudukan pan tat di ranjang lalu merebahkan dirinya berbantalkan lengan, "kayanya asik nih kalo ada moment ranjang berderit tengah malem, biar kamar kamu ini penuh kenangan!" ucap Andro kembali membuat Naya menoleh, "ya udah pulang aja! Pulang yuk sekarang mas!" Naya menarik-narik Andro agar terbangun.
"Mas ih, ayok! Katanya ngajak pulang, di jalan jauh loh! Nanti keburu kemaleman!" paksanya berusaha membangunkan Andromeda, namun Andro bersikukuh berbaring dan menahan Kanaya, niatnya sih usil untuk membuat Naya kesusahan dan kesal.
Namun ide mesum melintas begitu saja seperti iklan di otak Andro dengan menarik Naya ke atas ranjang dan berbaring bersama.
"Mas ih!"
"Kamu udah mandi Nay, wangi..." Andro mendusel-dusel hidungnya di badan Naya.
"Mas, geli ih! Awas, Naya sesek!"
"Naya besok mau istirahat aja dulu di rumah mas, ngga akan ke kampus, kepalang tanggung cuti..."
__ADS_1
"Ke dokter aja gimana?"
Naya menoleh, "Buat apa? Cuma masuk angin doang palingan juga, cuma asam lambung..." alih-alih curiga Naya menepis ucapan hati kecilnya yang berharap jika mualnya adalah mual bahagia.
"Kalo ternyata bukan?" tanya Andro.
"Naya ngga mau banyak berharap dulu, mas. Takut zonk!" kini tatapan Naya menyiratkan kesedihan dan kepasrahan, Andro menopang kepalanya dengan tangan di bantal agar posisinya lebih tinggi dari kepala Naya, "ngga usah terbebani. Tapi mencoba itu tidak ada salahnya, namanya juga usaha..."
Naya menatap Andro dengan mata malas, "terserah mas aja, tapi mas yang beli. Naya males masuk apotiknya, bau obat! Terus kalo sekarang pulang, motor gimana?"
"Titip aja disini, buat kalo jalan-jalan disini. Selesai proyek cafe, giliran rumah kita yang dibangun disini, biar kalo kamu pingin kesini, kita ada tempat buat tidur..." Jawab Andro kini bangkit.
"Terus kalo motor ditinggal, Naya pake apa ke kampus?"
"Mas yang anter," singkatnya.
"Berarti hasil jerih payah belajar motor sampai nyuksruk ke selo kan sia-sia dong?!"
"Ya engga lah! Nanti kalo kamu disini mau ke warung atau jalan-jalan bisa pake motor itu..."
Naya tertawa, "ke warung doang pake motor trail!"
"Mas, Naya pengen mangga...yuk pulang sekarang sambil cari mangga di jalan," ajaknya.
"Jam segini?"
"Emangnya kenapa? Emangnya ada aturannya kalo makan mangga ngga boleh abis magrib? Biar apa coba?!" tanya Naya.
Andro tergagap, "ya engga. Cuma ngga wajar aja. Ada angin apa mendadak mau mangga?"
Naya merotasi bola matanya, "emhhh....pengen yang seger-seger! Lidah Naya pait abis muntah seharian!" jawabnya enteng.
"Ya udah pamit dulu sama yang lain," Naya mengangguk, "weekend nginep sini ya, mas?!" diangguki Andro.
"Mesti bawa peredam suara jangan?" kekeh Andro bertanya.
"Ck," Naya merotasi bola mata dan membuka pintu, didapatinya pak Agung yang dulu sempat akan menjadi calon suaminya sedang bercengkrama bersama keluarganya, Teh Marni juga nampak akrab.
.
.
__ADS_1
.
.