
"Kamu kapan balik ke Arab lagi?" Naya membuat teh manis untuk Wati, ia juga membuat kopi untuk Andromeda, sementara Wati duduk di kursi kebesaran bapak yang kakinya udah pincang di meja makan. Tangannya itu tak mau diam, dengan membuka tutup saji yang dalamnya tak ada apa-apa.
"Engga tau ceu, Wati belum teken kontrak lagi kemarin." Gadis itu meredup dengan senyuman getirnya. Naya mendorong gelas berisi teh manis ke depan Wati, gadis berambut blonde made in salon Giri Mekar ini menyentuh dan memutar jari telunjuknya di bibir gelas.
"Enaknya kalo disana tuh, majikannya baik, keluarga disini terjamin ngga kelaperan, Wati tau dunia luar kaya cita-cita kita dulu ceu....tapi Wati teh perempuan, ngga mungkin terus-terusan banting tulang jadi tulang punggung,"
Naya duduk di sebrang Wati dan memegang tangan-tangan terampil yang sejak muda sudah bekerja keras, "karena sejatinya perempuan itu adalah tulang rusuk, ngga bisa jadi tulang punggung."
Wati manggut-manggut setuju, "kalo lagi sakit lebih kerasa ngenes ceu, jauh dari keluarga harus bisa ngurus diri sendiri sama kerjaan. Belum lagi kalo lebaran, liat orang-orang mah ngumpul sama keluarga, sementara Wati?"
Masa muda Wati terenggut dengan bekerja.
"Tapi ya! Hidup mah harus terus berjalan ceu! Kalo Wati melow gini siapa yang mau kasib makan Wati sekeluarga?! Setelah bapak ngga ada! Kayanya Wati mah ngga akan nerusin di Arab, Ceu!" wajah yang semula melow berubah kembali menjadi cerah, secerah hari si musim summer.
"Maksud kamu?"
"Wati mau ke Korea, ceu! Mau nyoba kerja di sana, tempatnya cowok-cowok ganteng bintang pelem! Mau ngejar Kang Danil!" ujarnya berapi-api.
Naya berdecih, "kang danil---kang danil, kang cilok kamu mah!"
Wati tertawa, "sirik! Oh iya ceu, kang Andro teh kerja apa? Kemaren Wati sempet jalan ke depan kampung, eh...ada pembangunan yang ngawasinnya teh pak Akbar sama si Agus, katanya teh itu cafe punya kang Andro, bener eta teh?!" tanya Wati menyeruput teh manis sedikit-sedikit.
Naya mengangguk, "iya. Mas Andro mau bangun cafe disini kebetulan teh lokasinya deket sama pabrik tapi masih ada unsur alamnya, ngga terlalu jauh juga dari jalan gede."
"Kira-kira gajinya berapa kalo kerja disana? Kalo ijazah smp/sederajat diterima engga?" tanya Wati.
Naya menghela nafasnya, "engga tau. Masalah itu Naya ngga ikut urusin, emangnya buat siapa?"
"Buat Sukmawati Bryan Adams!" jawab Wati tertawa.
"Ck, bukannya kamu teh mau ke Korea, ngejar Kang cimol?!"
"Kang Danil ceu, Kang Danil !!!!" sewot Wati.
"Nanti kalo orangnya udah balik tanya aja sendiri, kalo kerja sama Naya emangnya kamu ngga mau?" tanya Naya.
Wati tertawa, "ngga usah ngarang, kamu emangnya punya apa?!"
"Jadi ke bo di sawah punya Naya!" kikik Naya.
Terdengar suara Arif dan Upa berseru masuk, rupanya Andro sudah datang membawa serta satu karton minuman botol dan Arif yang membawa satu kresek makanan.
"Ceu! Tolongin aduh!" aduh Upa yang membawa kresek berisi makanan-nya. Naya langsung membantu gadis kecil itu sementara Andro menaruh dus berisi minuman di bawah kaki meja.
"Mas serius beli sekarton gini?" tanya Naya, Arif pun tak kalah kepayahan meski ia terlihat excited karena kapan lagi ia berbelanja borongan begini.
"Sisanya buat di rumah, takut besok-besok ada tamu lagi."
Naya melongokan kepalanya ke dalam kresek Upa, begitupun Wati.
"Kenapa es krim, masa tamu mau dikasih es krim?" tanya Wati.
"Itu punya Upa, teh Wati!"
Naya mengeluarkan makanan yang ada di kresek Upa, sontak saja para pemilik makanan itu langsung merebutnya, "punya Arif, ceu!"
"Punya Upa, mang!" tunjuk Upa.
"Ampun! Ini teh punya kalian?!" tanya Naya, kedua anak itu mengangguk senang. Seumur hidup belum pernah Naya melihat Upa dan Arif se senang ini kecuali saat lebaran dan dapat kiriman teh Marni.
"Banyak amat, jajannya!" sewot Naya.
__ADS_1
"Biarin weh atuh ceu! Orang mas-nya Arif yang kasih!"
Ceceu mengernyit meringis, "mas-nya kamu?"
Naya dan Wati membawa makanan juga minum ke depan, langkah Naya tak luput dari tatapan para penghuni ruangan, termasuk ketika Andromeda ikut bergabung.
Berbeda dengan yang lain, Naya sengaja membawakan kopi yang sudah ia buat untuk Andro.
"Mas," bisik Naya.
"Hm?"
"Nay mau liat pembangunan cafe sama Wati boleh engga? Sebentar aja," tanya Naya.
"Yakin? Mau ngapain liat orang lagi kerja?" tanya nya. Naya meraih tangan Andro dan memainkannya, "katanya Wati mau liat, Nay juga penasaran gimana bentukannya."
Andro mengangguk singkat menciptakan senyuman di wajah Naya, "makasih mas!" ia mengecup punggung tangan Andro, Salman, bu Lurah, pak lurah, dan bu Kholil melihat moment manis itu dan langsung mengalihkan pandangannya.
Naya beranjak dari duduknya kemudian bersama Wati, keduanya seperti mengenang masa lalu saat keduanya masih selalu bersama kemana-mana kaya ati sama ampela, nempel!
Entah itu waktu nyolong nangka, duren atau sama-sama menerbangkan pesawat kertas berisi harapan dan mimpi masing-masing.
Hingga langkah kedua gadis yang sudah berubah ini hampir mendekat, bangunan rangka pembangunan cafe milik Andro dan kawan-kawan sudah terlihat.
"Sebenernya sih bukan punya mas Andro sendiri, Wat. Tapi ownernya tuh ada temen-temen mas Andro juga, kalo cafe cabang punya keluarga mas Andro adanya di deket alun-alun kota, termasuk toko roti punya mama mertua Naya," jelas Naya mencabut tanaman liar di sepanjang jalan dan memainkannya, jika dulu keduanya berjalan melewati jalanan ini dengan sendal jepit butut. Lantas sekarang flatshoes cukup mahal terpasang di kaki-kaki keduanya.
Wati manggut-manggut paham, "beruntung kamu ceu, Allah ngasih kang Andro sama keluarganya sebagai rejeki kesabaran kamu," Wati tersenyum ikut senang.
Naya mengangguk, "semoga nanti kamu juga dapet jodoh yang baik kaya Naya."
"Aamiin!" seru Wati. "Apa Wati harus kaya kamu dulu, ya ceu? Kejebak cinta anak lurah terus disakitin, dihina-hina, di fitnah sampe di cibir ibunya terus ditinggal nikah dan ternyata si lelakinya teh udah berkhianat duluan?"
Naya mendorong kepala Wati, "be go! Ya jangan atuh! Naya aja awalnya susah move on, udah berasa mati rasa sama laki-laki! Sampe mas Andro yang dingin datang nolong Naya waktu semua orang hina-hina Naya, sama mas Andro aja berantem dulu sampe akhirnya Naya menemukan rasa indah itu kembali, kaya semacam menjelajah cinta sampai ke Andromeda!" tawa Naya.
Langkah mereka terhenti saat dari beberapa puluh meter melihat segerombol pemuda tengah mencegat laju mobil bak terbuka yang mengangkut pasir ke arah pembangunan cafe, sementara pak Akbar tak ada disana karena memang tengah berada di rumah Naya.
"Ceu! Liat itu," tunjuk Wati menepuk pundak Naya. Kanaya lantas menyipitkan matanya.
"Anak-anak si Agus bukan?!" tanya Wati.
Melihat gelagat premanisme, Kanaya berdecak. Otoy, Atep dan Ujang meminta supir toko material turun.
"Wah, cilaka kayanya mah lagi di jegal jalannya ceu! Harus disamperin!" ujar Wati hendak maju, namun Naya menahannya, "sebentar Wat, jangan langsung dicegat gitu! Ngga rame kalo langsung pergi mah!" imbuh Naya.
Wati yang memang se-server menyeringai lebar, keduanya langsung bersembunyi, "kamu ajalah ceu! Meni kebiasaan Wati jadi tumbal nya ah!"
"Kamu lebih cocok jadi orang ngga waras! Baju kamu atuh pake dress putih, cocok jadi demit!" jawab Naya. Naya membantu mengacak-acak rambut Wati dan menaburkan beberapa jumput tanah juga rumput liar disana, Wati juga ikut membaluri kakinya dengan tanah hingga guling-guling disana mirip ke bo.
"Sok, Naya traktir makan di resto all you can it abis ini!"
"Udah belum, ceu?" tanya Wati, saat kini tampilan Wati mirip orang gila.
"Sip!" jawab Naya memegang flatshoes milik Wati. Wati dan Naya mencari pohon terdekat dengan lokasi mereka.
"Tuh, pohon sukun!" tunjuk Naya. Wati dan Naya berjinjit, kemudian dalam hitungan 3, Naya membantu Wati naik ke pohon.
"Untung Wati teh dulunya atlit panjat tebing, ceu! Tapi ntar dulu, kenapa aga susah gini sekarang mah naiknya euy!"
Naya terkikik setengah nyengir, "buru anjayy! Kamu berat Wati!" Kaki Wati berpijak di batang pohon sukun lalu memilih satu cabang besar untuknya bertengger sambil ongkang-ongkang kaki.
"Siap?" tanya Naya, diokei Wati.
__ADS_1
Naya berlari ke arah mereka, "a! A Otoy!" mereka menoleh dan mengernyit, awalnya mereka kaget plus panik mendapati istri yang punya bangunan ada disini, dan mereka kepergok sedang mencegat supir pengangkut pasir.
"Naya," gumam Atep.
"Sok kang, lewat buru lah!" ia mendorong bahu si supir pengangkut pasir itu untuk berlalu dan menyingkir.
"Neng, neng Naya kenapa? Lagi apa disini?! Mantau pembangunan?"
"A, bisa tolongin Naya engga?" tanya Naya.
"Apa?"
"Itu disitu, tadi teh uang Naya jatoh disitu...rencananya mah mau ngasih snack buat yang kerja," alibinya.
Seolah mendapatkan angin segar, lumayan kan buat uang rokok dan minum, ketiganya saling melirik dan menaik turunkan alis.
"Sok atuh, dibantu dicariin sama a Otoy, yuk!"
Naya menghela nafas lega, "yuk atuh a, tolongin Naya," Naya berjalan duluan dan membawa mereka ke dekat pohon sukun.
"Tadi teh Naya sempet neduh disini, tapi uang dari saku tiba-tiba ngga ada, apa disini teh ada se tan duitnya gitu ya, a?!" Kanaya menunduk dan mencari barang yang sebetulnya memang tak ada.
Otoy, Ujang dan Atep ikut membungkuk mencari-cari uang, "berapa atuh neng uangnya?" tanya Ujang.
"500 ribu, seratus ribuan 4 lembar, lima puluh ribunya 2 lembar."
"Uluh geningan gede!" kagetnya. Atep dan Otoy saling melirik sengan senyum jahat.
Baru beberapa detik mereka mencari seraya bercengkrama suara berdecak dan terkikik pelan terdengar, membuat suara obrolan mereka lama-lama memelan dan senyap.
"A, denger engga?" tanya Naya berbisik.
"Toy," gumam Atep menelan salivanya sulit, hari yang bergulir menuju senja membuat angin sepoi-sepoi membawa serta bulu kuduk yang merinding.
"A Otoy sama a Atep tau ngga kalo katanya disini teh dulunya pernah ada yang buang mayit?" tanya Naya.
"Ah masa, neng?! Seumur-umur jadi pemuda desa Giri Mekar bareng Agus belum pernah denger berita itu, padahal kan suka kelayapan malem-malem!" tepis Ujang mengenyahkan pikiran negatif dan rasa merinding disko yang seolah menghantarkan rasa takut semakin besar.
"Iya atuh neng Nay, mana ada itu mah hoax! Mana neng Naya mah kan udah pindah dari sini, tau gosip darimana?"
"Eh, bener A! Potong kuping kucing kalo boong! Lagian Naya cuma bilang ada yang buang mayit, bukan ada se tan gentayangan!" jawab Naya meyakinkan.
Mereka tertawa mendengar gosip Naya, "hoax neng hoax! Mana ada buang mayit di area lapang gini, ya meskipun semak belukar disini cukup tinggi-tinggi.
"Lucu ya, kang?!" tanya nya cempreng lalu terkikik dengan suara yang melengking serendah mungkin seraya menggoyangkan kakinya mirip sosok kuntilanak, sontak mereka mendongak ke arah sumber suara.
Diantara tawa puas dan tergelak, sesosok perempuan dengan rambut semrawut nan panjang dengan tampilan kotor mendadak jatuh eh turun dari pohon dengan melompat, meski tak seperfect tokoh-tokoh demit di film-film namun moment kamvrett itu sukses bikin mereka berlari, karena Wati langsung menggeram dan membuat gerakan seperti macan gila.
"Se tan!"
"Nu geloo!"
"Demit!"
.
.
.
.
__ADS_1
.
.