
Naya menjepit semua data dirinya dengan clip menjadi satu bundel map mulai dari ijazah, akte kelahiran, nilai raport meski tak sampai melampirkan ukuran beha.
Untuk awal, ia akan memakai jalur akademik dengan melampirkan nilai raportnya selama di SMA, nilai hasil usaha kejujurannya selama ia di bangku sekolah yang penuh drama setan boncengan diatas pulpen. Ia ingat betul saat murid malas dengan peringkat paling rebahan doyan tawuran mendadak jadi jenius termasuk Wati yang sampe bakar-bakar kertas buku biar bisa dicampur ke kopi, padahal ujung-ujungnya dikasih contekan dari lembar jawaban yang tersebar entah darimana asal muasalnya.
Sementara Kanaya benar-benar berusaha menghafal sampai otak ngebul dan aus, bermodalkan do'a bapak-ibu meski ngga sampe gelar sukuran, bisa lulus dengan hasil murninya.
Andro keluar dari kamar mandi dengan menggosok rambutnya menggunakan handuk kecil, ia lantas merebut map dari tangan Naya untuk memeriksanya kembali.
"Udah lengkap?" tanya nya meneliti satu persatu, sementara Naya mengambil kaos dari dalam lemari, ia mengangguk cepat, "udah kayanya...mas liat dulu coba?! Takut ada yang Nay lupain," balasnya menyerahkan kaos berwarna merah, biar dikata mirip cabe kalo yang makenya enak diliat mah bagus-bagus aja.
Andro membuka map dan lembaran demi lembaran persyaratan, bibirnya terulas melengkung tipis saat mendapati foto di ijazah Naya.
"Kenapa sih mas?" penasaran dengan apa yang dilihat Andromeda sampai senyam-senyum jijay gitu, Naya memanjangkan lehernya, "apa sih?!"
Matanya membeliak dan sontak mencoba merebut kembali ijazah miliknya di tangan Andro, "ih! Jangan diketawain!"
Namun seperti belum puas melihat, Andro mengangkat itu tinggi-tinggi agar Naya tak dapat menjangkaunya karena kalahnya tinggi, "wah...wah....bocah ini nih yang pengen kuliah! Dulu pake poni ya?!" kekehnya.
"Mas ih! Balikin, udah ah!" Naya sampai melompat-lompat dan memukuli Andro yang terkekeh-kekeh usil. Meski akhirnya Naya memiliki ide usil lainnya dengan menahan tubuh Andro dan meraba ke bagian bawah tubuhnya.
"Oke ngga apa-apa, kalo Nay ngga bisa dapet yang atas...Nay bisa pegang yang bawah," gadis nakal itu menaik turunkan alisnya seraya menelusupkan tangannya dengan lihai seperti ular ke dalam karet celana Andro dan meraih ular yang lain disana.
"Ohh, mau mancing!" ujar Andro. Kanaya terkikik melihat Andro yang tak dapat melarang atau menepis tangan bebasnya. Wanita ini, ck! Andro menyeringai.
"Abisnya mas duluan!" Naya tersenyum lebar mengusap lembut milik Andro, hingga refleks si ular mulai mengeras. Setelah benar-benar bangun sempurna, Naya perlahan menarik tangannya, "balikin mas...."
Andro menggeleng bersiap mendekap Naya yang telah memancing-mancing di air keruh membuat sang junior minta masuk kandang. Pengalaman memang guru terbaik, dan Naya telah belajar itu maka sebelum Andro bertindak ia telah peka duluan jika Andro akan berbuat sesuatu, wanita itu langsung melepaskan tangannya dan berlari keluar dari kamar meninggalkan Andro dengan segala hawa panasnya tanpa bertanggung jawab, "kaburrr!" serunya tertawa.
"Nayaa!" teriaknya.
Naya dan Andro sudah menunggu di depan lobby, hingga sosok Upa yang digandeng ibu bersama Arif dan pak Akbar mengekori muncul dari pintu masuk, "ceceu!" panggilnya berseru.
"Macet bu?" tanya Andro pada ibu.
"Alhamdulillah engga, bapak mana ceu?" tanya ibu menerima salam dari anak dan menantunya.
"Di kamar inap teteh," balas Naya melihat ekspresi tak sabar dari ibu, ada raut wajah khawatir juga takut disana hingga Naya mengusap lembut tangan ibu, "teteh ngga apa-apa, bu. Alhamdulillah udah sehat, makanya hari ini pulang," jelas Naya seakan menjawab pertanyaan yang tak diloloskan mulut ibu, wanita paruh baya dengan jilbab hijau segiempat ini mengangguk paham, "syukur alhamdulillah kalau gitu."
"Mas, ikut ke Cianjur ngga? Kalo ikut Arif ikut mobil mas aja lah!" ujar Arif. Andro menyunggingkan senyuman, "boleh."
Naya dapat lihat anak-anak cepat akrab dan begitu menyukai Andro, padahal suaminya itu terkenal dingin, termasuk dirinya! Apakah Andro punya semacam sihir tersendiri untuk anak-anak?
"Mamah mana ceu? Liat, upa bawa boneka yang dari om Andro, buat diliatin ke mamah!" Upa menunjukan boneka miliknya pada Naya dan Andro.
__ADS_1
"Om Andro kakak Fifah sama kak Liyah mana?" tanya Upa.
"Kak Fifah sama Liyah sekolah, Upa mau ketemu? Kalo mau nanti om Andro ajak ke rumah mereka?" tawar Andro.
"Mau!" angguk Upa.
Naya serta Andro membawa ibu dan Upa ke ruangan teh Marni. Sebuah pesan sampai di ponsel Andro jika Gemilang sudah memasukan berkas laporan pada pihak kepolisian, maka setelah ini surat panggilan akan sampai di pihak KBRI Arab pada personal yang dituju.
Andro menghela nafasnya, mungkin dengan begini ia harus bersiap dengan kemungkinan yang ada, pasalnya menurut Gemilang orang yang mereka tuntut bukan orang sembarangan.
Naya dan Upa berlari kecil seperti bocah yang riang gembira, persis-persis si kancil lagi jatuh cinta masuk ke ruangan teh Marni. Ia tersenyum mendengus, membayangkan jika Naya akan seperti itu bersama anak mereka kelak.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam, Upa!"
"Mamahhh!" bocah perempuan itu langsung menghambur ke arah ranjang pasien, dimana teh Marni sudah melepas selang infusan dan siap dengan swetter rajut juga kerudung miliknya.
Kanaya tertawa mendengar itu saat pandangan mendelik usil dilemparkan teh Marni padanya.
Ibu menatap meneliti dengan seksama, meski kondisi teh Marni sudah membaik namun tetap saja, tak akan meninggalkan bekasnya dengan cepat, ia tetap bisa melihat bekas-bekas kebe jatan dan kekejaman majikan putri pertamanya itu.
"Marni,"
"Bu, maafin Marni ya bu!" Keduanya berpelukan membuat suasana mendadak haru.
"Pak, Naya bantuin beres-beres!" Naya memilih mengalihkan perhatiannya pada bapak yang tengah merapikan barang. Begitupun pak Akbar yang sedang mengobrol dengan Andro, "gimana pak? Masalah kemarin beres? Kata Yudha ada sedikit kendala?"
Pak Akbar mengangguk, "biasa mas, kalo ada pembangunan tempat usaha, ngga di kota ngga di desa preman setempat mah ada aja yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan,"
__ADS_1
"Agus cs?" tanya Andro. "Kalo cuma sekedar uang rokok mah kasih aja pak, biar sekalian jagain keamanan. Tapi kalau uang minuman, jangan dikasih...kalo ngeyel nanti saya minta tolong rekan aparat yang cukup saya kenal," balas Andro.
Pak Akbar mengangguk, "siap mas, tenang saja. Sejauh ini masih aman," pak Akbar mengangguk paham.
"Yuk ah! Betah amat di rumah sakit! Mau pulang engga? Nanti lagi aja pelukannya di rumah!" ujar Naya mengganggu hari biru ibu dan teh Marni.
"Ceu!" panggil Upa.
"Apa?" tanya Naya.
"Hamil itu punya bayi kan? Tapi kok ceceu perutnya masih kempes?" tanya Upa membuat alis Naya naik sebelah, sontak saja matanya langsung mendarat di perut ratanya.
"Kenapa Upa nanya itu?"
"Itu ceu, di rumah! Katanya bu Kholil, ceceu udah hamil duluan sama a Salman tapi nikahnya sama om Andro!"
"Hah?!!!"
Andro pun cukup terkejut mendengarnya.
"Upa!!"
"Ada apa sih?! Siapa yang bilang?! Bu?!!! Minta *digendir* ini mah!!!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Noted :
\*digendir : di ketok palu gada.