
Perahu yang ditumpangi tak begitu besar, berasa jadi si Farel dan Luna di film heart. Sayangnya ada orang ketiga disana bapak-bapak pemilik perahu yang lagi nyengir kuda.
Kawasan hutan mangrove yang ada disini adalah terbesar dan terlengkap se-Asia Tenggara, Kanaya terpukau dengan sorot mata berbinar penuh kekaguman. Ia memasukan tangannya sebatas 2 buku jemari, merasakan dinginnya air berwarna coklat kehijauan yang beriak saat dilewati perahu motor, tak akan ada hiu yang menyambar kan?
Ia tak sadar jika Andro sudah merogoh ponselnya dan memotret moment manis nan sederhana itu, dress biru langit pemberian Andro benar-benar cocok dipakai Kanaya, pilihannya memang tak pernah salah.
There is a kind of beauty in imperfection, and simplicity is the key to a beautiful soul.....
(Ada kecantikan dalam ketidaksempurnaan, dan kesederhanaan adalah kunci dari jiwa yang indah...)
"Pak, kalo jam segini tuh air laut udah pasang ya?" tanya Naya.
"Sudah bu, biasanya sih dari sebelum jam 12 aja air sudah mulai naik," jawab si bapak.
Andro menarik senyuman tipis mendengar beberapa pertanyaan Kanaya pada si bapak pemilik perahu yang begitu penasaran.
Mesin perahu dimatikan saat mereka telah sampai di kawasan trek jalan kaki. Titian kayu berdiri kokoh membelah hutan mangrove, tidak begitu ramai namun tidak juga sepi karena beberapa perahu lain memiliki tujuan yang sama rupanya dengan Andro---Naya, terlebih mereka turis dari luar negri yang sengaja berlibur ke Bintan.
Andro membantu Naya untuk naik demi menyusuri trek berjalan mengitari kawasan hijau ini, sejauh mata memandang pohon-pohon bakau mengisi pandangan, buah-buah mangrove yang berjatuhan dan dedaunan yang berguguran berserakan di atas permukaan air memberikan kesan rawa-rawa, kira-kira hewan apa saja yang hidup di bawah sana? Sinar berwarna jingga teduh mengintip di sela-sela pepohonan bakau.
Cocok, tak terlalu terik, mengingat mentari bersiap kembali ke peraduannya. Para turis begitu excited, hanya saja sayangnya Naya tak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Yang ia dengar hanya mereka mengobrol dengan bahasa negaranya, tertawa dan mengagumi tempat ini seperti dirinya.
"Mas, ini ngga akan bobrok kan?" Naya memanjangkan lehernya ke arah samping bawah trek kayu dengan berpegangan pada pegangan kayu, mencoba mengukur kedalaman dengan kasat mata.
"Kalo bobrok paling pada nyemplung," enteng Andro.
Naya mendesis seraya mendelik, "ish! Yang bener aja!" salaknya marah. Memang lelaki ini selalu menjawab dengan kata-kata menyebalkan, namun anehnya Naya masih saja selalu bertanya hal yang tak penting.
Keduanya berjalan bersampingan dengan sesekali memperhatikan sekeliling, "kira-kira ini jembatannya berapa ratus meter, mas?" tanya nya kembali sungguh-sungguh.
"Coba tanya guide si bule!" tunjuk Andro dengan dagu.
"Ih, ngga mau atuh! Katanya nanti siapa elo, nyewa guide juga engga?!" cebik Naya ditertawai kecil Andro.
"Nanya doang mah ngga bayar, daripada sesat di jalan?! Lagian itu guide udah masuk paketan tiket perahu tadi."
"Masa?"
"Tau gitu ngapain Nay nanya-nanya sama mas, mas kalo jawab nyebelin!" perempuan itu memukul lengan suaminya yang kembali tertawa tanpa suara seraya menepuk-nepuk kepala Naya.
"Excuse me," seorang turis mancanegara mencolek Andro membuat keduanya menoleh, "can you help me, please?"
"Ya?"
__ADS_1
"Bule euy! Ganteng lagi!" gumam Naya. Rupanya si bule meminta Andro untuk memotret dirinya bersama teman-temannya, dan Andro bersedia melakukannya.
Naya yang berada di samping Andro tersenyum gemas melihat bule-bule ganteng di depannya, "mas...bule mas, ganteng-ganteng!" akuinya gemas menggoyang-goyangkan lengan Andro seraya mencengkram greget, sontak saja Andro menoleh horor pada Naya, "gantengan mana sama mas?" tanya Andro bernada ketus.
"Gantengan mas lah," jawab Naya membuat hidungnya terkembang. Si bule menyerahkan kamera miliknya pada Andro.
"Oke, ready?!" tanya Andro mengarahkan lensa kamera ke arah mereka yang sedang berpose.
"1, 2, 3..." Andro memencet tombol saat sudah memberikan aba-aba dan menemukan angle yang cocok.
"Done,"
"Thanks sir."
"Sir, wait!" pinta Naya menahan salah satu bule yang ingin beranjak. Andro cukup mengernyit, apakah maksud Naya ia ingin bergantian meminta si bule memotret dirinya dan Andro juga?
Naya mengatupkan tangannya di dada, untuk seterusnya Naya meminta sesuatu yang Andro tak jelas mendengarnya, si bule tersebut mengangguk tersenyum.
"One more please?" pinta Naya.
"Oke,"
Kanaya mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas selempang, di luar dugaan...ia malah menyerahkan ponsel itu pada Andro, "mas fotoin Naya sama bule mas! Kapan lagi kan, foto bareng bule ganteng?!"
Wajah Andro langsung mendung, kan ! Kan ! istri minus !!
"Mas! Mister, miss, please come here! Can you help me, come take a picture?!"
"Mas ih!" Kini Kanaya melongo di tempatnya saat mereka yang barusan sudah berjalan duluan, kini kembali menghampiri dan mengambil posisi untuk berpose.
"Maksud Nay cuma berdua, mas..." manyunnya bergumam.
Andro memberikan aba-aba, tak peduli dengan wajah cemberut Naya.
"1, 2, 3 ! Say chesse!" pinta Andro.
CHESSE!
"Bo do amat!" ucap Naya.
"Thanks a lot," ucap Andromeda.
Naya masih memandang Andro dengan wajah merengut saat Andromeda memberikan ponselnya, "nih."
__ADS_1
"Mas ih!" Naya menghentak kakinya sekali sedikit keras, bersyukur jembatan ngga langsung roboh menenggelamkan seluruh yang ada di atasnya.
"Makasih mas," cibir Andro mencubit pipi Naya.
"Katanya lebih gantengan mas, tapi minta fotonya sama bule?" Andro bertanya namun ia pun sudah kembali melanjutkan langkahnya.
"Kalo foto sama mas kan sering, kalo sama bule kan jarang bahkan ngga pernah," Naya kembali memasukan ponselnya ke dalam tas.
"Terus salah mas dimana?" tanya Andro.
"Maksudnya berdua aja sama yang tadi...toh Nay ngga nempel-nempel kan?!" ujarnya.
"Kan kamu mintanya foto sama bule, kurang baik apa coba? Kamu minta foto sama bule, mas bawa bule satu rombongan dibonusin sama guide-guidenya." Jawab Andro. Masalahnya Naya jadi dejavu kejadian lalu, ternyata karmanya dibayar tunai hari ini.
"Kenapa? Jadi inget kelakuan seseorang ya?!" tembak Andro. Jika mengingat itu kembali Kanaya tak bisa untuk tak tertawa, wajah menyedihkan Salman masih terbayang dalam otaknya.
"Oke, kalo gitu! Sekarang Naya mau foto bareng cowok ganteng!" imbuhnya mengedipkan matanya pada Andro.
"Oke, gini!" kini giliran Andro yang mengeluarkan ponsel.
"Selfie gitu, mas?" tanya Naya. Andro menggeleng, ia celingukan mencari sesuatu, dan akhirnya meminta Naya melepas tasnya, menaruh itu di tengah-tengah jembatan sebagai tumpuan menegakan ponsel Andro. Kemudian Andro mengatur timer agar kamera memotret secara otomatis.
Andro bergegas dan menarik Kanaya agar saling berhadapan tanpa berjarak.
Refleks ia mendongak menatap Andro, merasakan aliran da rah yang semakin deras nan hangat, "mas......"
"Mas juga sayang kamu," balasnya lirih.
Jepret!
DEG! Kanaya benar-benar spechless dibuatnya, bahkan saat Andro sudah melepaskan tangannya untuk mengambil ponsel dan tas Naya, ia sempat membisu beberapa detik, "coba Nay liat mas!"
Sebuah potret sempurna Kanaya dan Andro dilatari hutan bakau dan jembatan kayu juga jingganya senja.
"Nanti kirim Nay," ucap Naya memeriksa ponselnya, ia juga tak lupa melihat icon galeri untuk melihat foto sebelumnya.
Namun alis Naya mengernyit begitu dalam, "loh! Foto yang sama bule tadi mana? Mas ngga simpen?!!!" teriaknya meledak, Andro sudah berjalan duluan meninggalkan istrinya yang baru menyadari jika foto bersama bule tadi tak ada.
.
.
.
__ADS_1
.
.