Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 44. KAU HAPUSKAN KENANGAN PAHIT


__ADS_3

Jarang-jarang manusia millenial sekarang pacaran boncengan sepeda tua begini, bahkan moment Kanaya dan Andro yang sepedaan menjadi sorotan orang-orang sekitar yang melihat kebersamaan keduanya.


How sweet, keduanya itu! Hanya tinggal menempelkan ucapan just married di belakang sepeda dan kaleng bekas susu, biar semua warga pada geger ngedenger pasangan baru selanjutnya, paling-paling kena omel sama yang lagi sakit gigi. Fix! Pasangan baru ini akan menjadi couple goals'nya desa Giri Mekar. Baru bertemu, berkembang-kembang, tau-tau memutuskan menikah, tak ada drama janji manis berbuah penghianatan sampe bikin mata bengkak dan dompet kering, apalagi sampe gontok-gontokan hingga ujung-ujungnya lapor-laporan pihak berwajib.


Apakah ini rasanya jatuh cinta?


Apakah ini rasanya jatuh cinta kembali?


...Kau hapuskan kenangan pahit yang kufikir tak bisa kuhapuskan.......


...I'm in love.......


...Ini yang kurasakan........


Naya dengan sebelah tangannya memegang pinggang Andro dan tangan lain ia bentangkan menyentuh rerumputan pinggiran jalan seraya menikmati suasana sore, biar dikata ada ulet nyangkut di sela-sela jari juga rasanya indah aja! Paling pulang-pulang bentol setangan-tangan sampe tangan mirip tangan si hellboy!


"Kita kelamaan ngga ya mas? Naya udah janji mau ajak jalan Afifah sama Aliyah jalan-jalan keliling kampung," ujar gadis ini menarik kembali tangannya takut kesamber kendaraan lain, atau nabok orang lewat.


"Ngapain? Ngambilin kersen? Nangkep impun?" Andro terkekeh, membuat Kanaya ikut tertawa, "bisa jadi!"


Tapi nyatanya, sekembali Kanaya dan Andro ke rumah, rupanya keluarga besar tengah duduk beralaskan tikar di halaman rumah sambil bakar ikan bareng-bareng di bawah pohon kemiri.


"Panjang umur diomongin!"


"Momy sama yang lain lagi pada botram?" tanya Andro memarkirkan sepeda milik bapak Naya.


"Eh, sini---sini Nay! Ini nih, enak pisan karedok kacang panjang bikinan ibu Naya..." ujar Shania menyuapkan nasi dengan tangannya ke dalam mulut Arka.


"Ndro! Kata bapak Naya kamu beli tanah disini?! Mau bangun rumah disini ngga bilang-bilang! Tau gitu ikut nyari!" Deni angkat bicara.


Kanaya melirik Andro yang juga melihatnya, "iya onta. Barusan..." Andro menunjukan map hijau yang ia cantelkan di stang sepeda, surat tanah dan tanda bukti pembelian dari pak Wahid.


"Shania udah punya tanah Pondok buat masa tua, kita?" Leli memiringkan kepalanya ke arah Deni.


"Kita mah nanem saham banyak anak aja tot, tau ngga pepatah banyak anak banyak rejeki?!" tanya Ari.


"Si alan," desis Leli yang malah diikuti cucunya sendiri, Jojo, "ci alan!"


"Ehhhh!" seru mereka, Deni menyentil bibir Lelicia istrinya, "kebiasaan! Gini nih kalo ngumpul bareng Kurawa, guru terburuk sepanjang masa."


"Mel, coba contact WO adek lo...buat 3 hari ke depan." Ucapan Shania sontak mengundang reaksi kaget dari yang lain.


"Heh.... to the my God?!" seru Dini dan Lila.


"Tante, ngga kecepetan?" Faisal menelan kunyahan makanannya sulit. Jangankan Faisal, Andini dan Lila, Kanaya saja terkejut bukan main jika ternyata nikahnya dadakan macam orang yang nabung duluan.


"Maaf bu, emangnya ngga kecepetan?" tanya Kanaya membeo.

__ADS_1


"Salaman dulu....Salaman dulu!" Kanaya yang masih terbengong malah ditarik Niken dan Melan ke arah Shania sambil tertawa.


"Salam kenal sama mama mertuamu, Naya! Yang apa-apa itu suka dadakan," lanjut Niken.


"Dia mah waktu hamil aja, si Gale sama si Andro masih di perut diomelin suruh buruan keluar!" tukas Guntur, membuat tawa kembali tercipta.


"Mass," gumam Naya menatap memelas pada Andro, seolah sedang mengibarkan bendera SOS namun Andro malah menertawakannya tanpa suara.


"Loh, niat baik kan harus di segerakan...iya kan?! Mau minggu depan atau 3 hari sama aja, nikah---nikah juga, mahar udah ada, penganten udah ada, penghulu, saksi oke! Nunggu apa lagi? Nunggu avatar turun ke bumi?" tanya Shania.


"Nggeh suhuuu! Biar yang mulia diem, yang kerja dayang-dayang aja," Gale menyalami momynya seraya menunjuk ke arah Kurawa saat menyebutkan dayang.


"Hahaha, kamvrettt emang nih emak sama anak!" tawa Ari.


"Da aku mah apa atuh! Cuma dokter yang kerjanya melayani dan mengutamakan pasien, jadi...ngga mau tau! Acaranya mesti sore ke malem Andro! Soalnya gue sama abang nugas pagi!" gerutu Gale.


Melihat keterkejutan dan kebingungan Kanaya, Shania meraih tangannya, "tenang aja, om-omnya Andro kita berdayakan, neng! Udah tua harus banyak olahraga," senyum Shania, kemudian Kanaya melirik tangan yang dipegang Shania begitupun Shania, "alahhh siah lupa! Tangan momy belum dicuci bekas sambel!"


Kanaya ikut terkekeh, "ngga apa-apa bu," Shania langsung melepaskannya, "hampura bin maaf neng..." nyengirnya.


Emak-emak satu ini memasukan tangan ke dalam baskom kobokan seraya mulur yang terus nyeroscos, "mungkin bapak---ibu, mau ada request sesuatu? Sok dipersilahkan, mau nanggap wayang, pongdut, tarling, degung, angklung, satu sanggar kesenian, singa depok, kuda renggong, debus, benjang, odong-odong barangkali?!" Shania menjabarkan beberapa kesenian tanah sunda, sebagai sesama mojang priangan ia pasti tau tanahnya sendiri.


Ibu Kanaya tertawa dengan calon besannya yang ternyata bodor, definisi cantik-cantik somplak, ya ibunya Andromeda dan Galexia ini.


"Anjirrrr lah! Tante Sha segala disebutin!" Revan bersuara.


Andromeda menghampiri bapak Kanaya, saat membiarkan momynya mengambil alih suasana bersama Kanaya disana.


"Pak Akbar akan langsung mengajukan pembalik namaan kepemilikan surat tanah, nanti bapak tinggal urus sama pak Akbar," ucap Andro, namun di luar dugaan pak Acep tersenyum penuh arti, "Kanaya, tanah itu biar atas nama Kanaya Dewi..."


Ucapan pak Acep sukses membuat Andro menautkan alis, "Kanaya?"


Pak Acep mengangguk, "bapak sudah punya tanah dan gubuk sendiri, yaahhh meskipun jelek begitu.....tapi lumayan buat berteduh di masa tua bersama ibunya Naya, terimakasih telah melampaui batas ekspektasi saya sebagai seorang ayah..." pak Acep menepuk pundak Andro seraya tersenyum dan kemudian pergi meninggalkan Andro dan semua hal yang sedang ia cerna.


Acara lamaran sore itu ditutup dengan acara makan semi piknik di halaman samping rumah.



"Saya pulang. Biar undangan saya kirim besok malam, mau ada request warna atau model undangan?" tanya Andro. Kanaya menggeleng, karena jujur saja otaknya nge-blank dengan semua yang serba dadakan ini, padahal ia sudah merencanakan semua agendanya ke depan dengan matang dan penuh perjuangan, tapi rupanya Tuhan memiliki rencana indah lain untuknya.



"Apa aja."



"Oke. Untuk biaya, saya juga sudah koordinasikan dengan ibu, bapak, bu Dewi, juga pak Akbar. Teh Marni?" tanya Andro, bahkan Kanaya saja sampai melupakan kakaknya itu.

__ADS_1



"Biar nanti Naya telfon teteh lewat hape pak Akbar aja....*mas*." Ia sedikit meringis mengucapkan kata terakhir, hampir saja Kanaya menggo rok lehernya sendiri saking gelinya. Tapi melihat perlakuan manis Andro padanya, pada keluarganya Kanaya cukup sadar diri untuk bersikap. Mungkin nanti juga terbiasa....



Andro menarik senyuman usilnya melihat Naya, kemudian ia dengan sengaja mencondongkan badannya ke depan hingga wajahnya kini maju mendekati wajah Naya, sontak saja gadis yang tak biasa di dekati lelaki itu refleks bersiap dengan kepalan-kepalan kecil tangannya di depan wajah seraya memundurkan wajah, "weitsss! Mas Andro mau apa?!"



Andro tertawa tergelak melihat refleks Kanaya, "ngga usah geer! Gini-gini juga saya masih bisa tahan nav suu untuk 3 hari ke depan!" ucap Andro.



Kanaya mendorong Andro dengan tekanan di bahu lelaki itu, "jangan deket-deket! Nanti hidung mas nusuk mata aku!" alibinya berkilah, padahal ia sudah kepedean jika Andro akan melakukan hal yang geli-geli.



"Sembarangan,"



Andro kembali menatap wajah bulat dengan mata bening bak kucing persia di depannya, "sampai ketemu 3 hari lagi," ia menyunggingkan senyumannya, senyuman yang lebih lebar dari biasanya. Hawa nafasnya saja mampu membuat Kanaya merinding sebadan-badan. Dahsyatnya pesona bapak-bapak hot!



*Imanmu kuat Nay! Kuat!!!! Ya Allah kok bumi berasa muter*?!!!!


.


.


.


.


.


Noted :


\* hampura : maaf.


\* pongdut : jaipong dan dangdut.


\* tarling : gitar dan suling.


\*botram : makan lesehan rame-rame.

__ADS_1


__ADS_2