Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 85. REMUK


__ADS_3

Sesekali Naya berhenti untuk beristirahat, lumayan jauh juga. Mirip sama perjalanan mudik lah! Meskipun bisa sat-set dan tak semacet saat masa mudik.


"Ini kenapa bawaannya mual terus ya?!" gumamnya kembali meneguk air mineral di sebuah pom bensin. Naya menepuk-nepuk saku celana jeans dan kemeja lalu menthesah lelah, "duh, hape lupa!"


Tak berapa lama ia melanjutkan perjalanan yang hanya tinggal sebentar lagi, cukup lama bahkan hari sudah senja.


"Tanggung ah! Takut kemaleman," Naya menggeber motor trailnya hingga beberapa waktu gerbang desa terlihat dari kejauhan, senyumnya terbit. Naya melihat ke arah halaman rumah pak Akbar, masih terparkir mobil Andro dan Gemilang, itu artinya mereka masih berada di sana.


"Assalamu'alaikum!" Naya mengetuk pintu rumah pak Akbar.


"Wa'alaikum----Naya?!" bu Dewi cukup terkejut ketika melihat Kanaya sekarang, gadis ini----maksudnya mantan gadis ini terlihat semakin cantik dan gahar dari terakhir kali bertemu.


"Eleh--eleh! Ini teh kamu?! Ck---ck! Meni bikin pangling lah, tampilannya !" bu Dewi berdecak kagum melihat sosok gadis lugu yang terbiasa memakai baju lusuh kini sudah bertransformasi jadi gadis metropolitan yang patit dipuja-puja.


"Iya atuh bu, da ngga mungkin atuh Lesti bintang mah!" jawabnya membuat bu Dewi tertawa.


"Beda, Nay!"


"Beda, embek sama kuda gitu?" seloroh Naya.


"Ck!"


"Bu, mas Andro sama bang Gemilang masih di rumah Naya?" tanya nya, sontak saja bu Dewi menautkan alisnya, "ai kamu, masa suami sendiri ngga tau! Oh iya, kamu teh datang pake motor?" tunjuknya melihat ke arah belakang Naya, Naya mengangguk.


"Astagfirullah Nay, jauh atuh?! Bisa kamu teh naik motor gede gitu, badan segede biji kacang merah gini?!"


Naya mencebik, "ih ibu! Ya bisa atuh, kalo ngga bisa mah itu motor kesininya gimana, terbang?!"


"Keren lah! Suami kamu ya masih di rumah kamu atuh," bu Dewi lalu menceritakan kejadian saat si bule Arab mendatangi rumah bapak untuk melabrak teh Marni.


(..)


"Terus sekarang gimana? Si onta Arab nya kemana? Minta diulek sama terasi ini mah!" geram Naya.


"Kayanya tadi siang teh datang lagi, kata si bapak mah begitu bilangnya. Sekarang lagi beresin masalah dulu sama pihak lawyer teteh kamu, sampe jam segini bapak belum pulang, berarti bule arabnya belum balik," jawab bu Dewi.


Naya tak tunggu sampai negri angin kedatangan nobita lagi, ia segera berlari ke arah motor dan pamit pada bu Dewi, "bu, Naya balik dulu! Assalamu'alaikum!"


"Eh, Nay! Wa'alaikumsalam...si Naya kebiasaan!" ia melambai dan kembali masuk ke dalam.


Naya melewati jalanan berkelok yang lebarnya tak begitu besar, belum lagi tekstur jalanan yang banyak bebatuan menuju rumah.



"Kamu tidak berhak membawa Puspa, tidak ada bukti hukum yang menguatkan jika Puspa adalah anakmu,"



Teh Marni sudah menangis mendekap Upa di kamar, sementara Andro bersama Gemilang dan bapak juga pak Akbar masih di ruang tengah berhadapan pria paruh baya yang seharusnya tak bisa pergi ke luar negri karena pihak Saudi sudah melarangnya, akan tetapi entah bagaimana lelaki ini bisa datang ke Indonesia.



Gemilang benar, lelaki ini memang bukan orang sembarangan dan memiliki koneksi dengan orang pemerintahan dan pejabat.


__ADS_1


Ia berbisik pada seorang penerjemahnya, "tuan Ahmed bilang ia akan segera melakukan tes DNA pada Upa,"



Selembar kertas dengan pulpen di atasnya tergeletak di atas meja beralaskan map rapi, dengan isi surat pernyataan agar teh Marni mau mencabut tuntutan atas dirinya, Ahmed juga akan menikahi Teh Marni jika terbukti Puspa memang da rah dagingnya, ia akan bertanggung jawab atas Puspa.



Teh Marni benar-benar sudah buntu dan tak tau harus berbuat apa, hingga ia terpikirkan ide gila yang menurutnya adalah ide terbaik untuk saat ini.



"Upa, dengerin mamah." Ia menangkup wajah putri kecilnya itu di tepian ranjang kamar ibu, sementara di luar sana mereka sedang berdebat alot.



"Jangan pernah keluar dari sini, diem sama enin! Apapun yang terjadi, Upa jangan pernah keluar dari sini. Ngerti kan?"



"Kenapa gitu, ma? Itu teh di luar siapa sih, kok marah-marah?" tanya nya, karena sejak kedatangan si bule arab itu Puspa langsung diseret masuk kamar dan tak dibiarkan keluar oleh teh Marni dan ibu. Yang ia dengar hanya para lelaki dewasa itu saling berceloteh yang ia tak mengerti, hanya satu yang ia bingungkan, namanya dibawa-bawa dalam obrolan mereka, yang jelas-jelas tak dikenali Upa.



Upa hanya mengenal abah, pak Akbar, om Andro, dan om Gemilang.



"Marni, kamu teh mau apa?! Jangan nekat, biar masalah ini kita serahkan sama pak Gemilang dan kawan-kawan, disana juga ada Andro, pak Akbar, pak Lurah, pak hansip, sama a Salman."




"Kamu gila? Kamu mau nyerahin Upa, atau mau cabut tuntutan?!" tanya ibu menjengkat. Marni menggeleng, tak mungkin ia menyerahkan Puspa.



Bunyi engsel berdecit memecah obrolan itu, teh Marni keluar dari kamar membuat senyuman miring jelas tercetak di wajah bule Ahmed.



"Marni, ngapain kamu keluar?!" tanya bapak.



"Puspa bukan anakmu!" ucap Marni berapi-api.



"Jadi kamu tidak perlu meminta tes DNA atas Puspa, untuk urusan tuntutan akan saya cabut segera, dan kamu silahkan kembali ke negaramu!" ucapnya membuat semua tersentak kaget apalagi Gemilang. Marni tanpa aba-aba mengambil keputusan sepihak dan itu salah besar.



"Marni!"

__ADS_1



"Puspa anaknya, bahkan dia akan menikahi Marni dalam waktu dekat, jadi mister tidak usah repot-repot untuk bertanggung jawab!" tunjuk teh Marni pada Andro menambah keterkejutan semuanya.



"Marni!" sentak bapak.



Marni melangkah dan duduk di samping Andro, "teh," tanpa bisa dielak, dalam gerakan cepat teh Marni melingkarkan tangannya di lengan Andro dan menaruh kepalanya bersandar di lengan Andro, "teh, apa-apaan?!" sontak saja Andro berontak,



"Maaf, teteh pinjem sebentar nama kamu, Ndro." pintanya memohon.



Naya melolong di tempatnya berdiri, tepat di gawang pintu rumah.



Ia tau teh Marni dan Andromeda tak mungkin mengkhianatinya, tapi melihat begini, hatinya mendadak remuk.



"Naya?!"



"Ceuceu,"



Mereka semua menoleh ke arah gawang pintu pada sosok wanita yang baru saja tiba dengan badan lemas dan kuyu karena hampir beberapa jam berkendara.



"Sorry, sorry...Naya ganggu!" Ia berbalik. Andro melepas tangan teh Marni dan langsung menyusul Naya. Begitupun teh Marni yang ikut menyusul, "ceu! Dengerin teteh dulu!"



"Aduh kenapa jadi gini?!"



Wanita itu sudah naik ke atas motor kembali, dan menyalakan mesinnya lalu pergi.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2