
Sapuan pandangan tertuju pada halaman rumah Naomi, "masih rame mas."
Andro melirik arlojinya, "padahal kata momy acaranya tadi ba'da dzuhur harusnya sih udah selesai jam segini..."
"Itu udah pada keluar mas," tunjuk Naya dengan bibir yang dimanyunkan.
"Ya udah kamu turun aja duluan, mas parkir mobil dulu."
Anggukan Naya adalah jawaban untuk perintah Andro, ibu-ibu tetangga dan pengajian masjid sekitar terlihat keluar membawa serta bingkisan dan nasi kotak.
Belum lagi gen Kurawa dan anak cucu yang bikin rumah mirip isian baso merapi, beluber! Rame kaya pasar minggu.
Tumpukan sandal mulai menyurut meskipun sudah berpencaran liar antara yang kanan dan yang kiri, terinjak juga tertendang dengan tak sengaja, untung saja ngga ada si rembonya tuk dalang.
"Assalamualaikum," Naya masuk ke dalam ruangan depan yang telah berserakan bungkus cup minuman dan remahan makanan, kayanya ibu-ibu makan sambil guling-guling dan rebahan, soalnya bekas makanan sampe mirip taburan bunga, nyampah. Naya masuk lebih dalam lagi yang ternyata kedua onty sedang membagikan bingkisan pada ibu-ibu yang masih berjajar.
Ada onty Melan dan onty Niken disana, "Nay, baru datang. Andro mana?"
"Ada tante, lagi parkirin mobil. Momy?" tanya Naya balik.
"Di belakang di dapur. Makan gih, udah makan belum?"
Naya mengangguk, "tante..Nay ke momy dulu..."
"Heem deh. Di dapur sana!"
Naya berlalu meninggalkan Melan dan Niken. Mencari dimana ibu mertuanya berada, melewati ruang keluarga, dimana foto Naomi dan sang suami yang notabenenya seorang fotografer ternama terbingkai manis.
Naya ingat, jika ia dan Andro tak memiliki potret berdua yang dibingkai frame selain dari foto nikahan. Ia sangsi juga si bapak-bapak hot itu mau dipotret orang lain.
Dilihatnya momy Sha sedang bercengkrama dengan Naomi dan Leli, sementara yang lain belum hadir semua karena kesibukan masing-masing. Di pojokan berbeda ayah bersama Deni, suami Naomi, Niko, dan Hendra disajeni kopi juga kue negitu asik bercengkrama.
"Mii,"
"Nay, sini-sini! Makan dulu gih, atau mau nyemil?" tawar momy Sha.
Naya mengangguk, "Nay mau ini mii," ia tak sungkan mengambil kue dari meja di dapur.
"Nay, berapa bulan? Wah Shania cucunya udah mau ngebentuk tim voli!" ujar Leli.
"Baru juga ngegumpal dedaknya mas Andro, tante..." jawab Naya.
Bayi mungil nan lucu dalam gendongan Naomi itu membuat Naya terpesona, sementara si sulung sedang menggelayuti ayahnya.
"Ih lucu, teh! Boleh gendong ngga?"
"Ya boleh dong! Sini kamunya, kaya gini biar dianya nyaman!" ujar Naomi mengalihkan si bayi ke pangkuan Naya, dengan sangat hati-hati Naya menerima bayi gemoy berselimutkan kain berwarna ungu. Ia menggeliat kecil hingga wajahnya memerah.
Ada senyuman bahagia, mungkin seperti ini rasanya nanti jika ia menimang anaknya sendiri dan Andro.
"Teh, lahiran tuh sakit engga?" tanya Naya, karena hal itulah yang paling ia takutkan saat ini.
"Enak!" jawab Naomi membuat Naya mencebik, "boong.." Naomi tertawa begitupun Shania dan Leli.
"Bukan enak, tapi ada kenikmatan tersendiri!" ralat Shania.
"Ah masa?" Naya menoleh tak percaya kemudian ia kembali menyentuh dan mengusap bagian kepala kecil yang diselimuti topi itu.
Andro baru ikut bergabung disana dan langsung duduk di sebelah Naya setelah sebelumnya masuk kamar mandi terlebih dahulu.
"Lucu ya mas," kekeh Naya menepuk dan mengusap bagian pan tatnya, namun alisnya mengernyit ketika merasakan sesuatu yang hangat dari sana, "yahhh kamu pipis ya!" ucap Naya bermonolog pada bayi yang matanya saja terpejam.
Andro tertawa, "baru juga megang bayi udah dipipisin, muka kamu kali kaya wese!"
Mata Naya sontak memicing, "enak aja."
"Yah, pipis ya?" tanya Naomi.
"Emang ngga dipakein pampers, Nom?" tanya Leli, Naomi menggeleng, "engga mam, agak lecet pa hanya."
Shania tertawa, "ngga apa-apa, basah kena celana engga?"
"Pake aja celana punyaku dulu, Nay."
Ada lingkaran basah di bagian pa ha Naya, membuatnya harus mengganti celana dan meminjam milik Naomi.
"Assalamu'alaikum! Sepadaaa!"
Kawanan perusuh satu persatu datang ke rumah Naomi, hari yang bertambah senja bukannya semakin sepi malah semakin ramai.
Udah mirip antrian sembako, bawa anak cucu.
Gale pun tak kalah hebohnya membawa si kembar dan Arion yang langsung ditangkap tantenya Naya.
"Kak Fifah, kak Liyah main bola yuk!" ajak Eza, cucu dari Guntur, ia datang bersama Revan sang ayah dengan membawa bola plastik biru.
__ADS_1
"Nay ikutan ah!" Naya beranjak lalu menaruh Arion di pangkuan momy Sha, "mii nitip Arion!"
"Eh mau kemana?! Kamu mah ngga usah lah, lagi hamil muda juga!" sewot Shania. Gale saja yang sedang menyendok nasi ke dalam mulutnya terkejut jika bumil ini begitu energik.
"Energic sama pecicilan beda tipis, Nay!" teriaknya diantara kunyahan.
"Ampun itu si Nay. Mak, mantu lo tuh aduh kok ngilu sendiri ya gue!" gidik Melan.
"Yuk main bola yuk, yang mau ikut suruh kumpul buat hompimpa!" titah Fifah pada Eza, sontak saja bocah itu mengangguk mantap, "Asik, boleh!"
"Heyyyy! Main bola hayuk!" teriak Eza.
"Tante Nay yakin mau ikutan? Bukannya kata bunda tante lagi melendung?" tanya Liyah.
"Yakin lah, ngga apa-apa deh kayanya." Jawan Naya.
Bukan hanya cucu-cucu dan anak lelaki saja yang menyerbu namun cucu perempuan pun ikut tertarik untuk bermain.
"Nay! Astagfirullah!" Shania menggelengkan kepala, sementara Gale tertawa di tempatnya.
Andro belum tau dan masih bersama ayah, tapi saat anak-anak beranjak berlari menyerbu satu tujuan, ia ikut penasaran.
"Azil mau kemana?" tanya Andro saat bocah itu beringsut turun dari pangkuan kakeknya, Ari.
"Mau ikut main bola sama tante Nay!" tunjuknya ke arah halaman rumah, dimana Naya sudah mengumpulkan pasukan bocil termasuk si kembar.
"Oke ulang--ulang, tante Nay di timnya Eza, aku sama dek Liyah bareng Ayesi..." atur Fifah.
"Oke!" jawab Naya merapikan ikatan rambutnya dan membuka kemeja miliknya lalu menyimpannya di kursi.
Dengan menggunakan bola plastik milik Eza, Naya sudah bersiap.
"Tante Nay jadi kipel aja!" pinta Eza mengatur-atur.
"Ih engga mau lah!" jawab Naya berdecih, si kembar sampai tertawa, Eza memang tipe anak pengatur bahkan disekolahnya.
"Eza aja jadi kiper,"
"Engga mau, Eza mau jadi Marselino sama Beckham. Ya udah Azil aja jadi kiper!" ucapnya berapi-api, bahkan urat lehernya saja sampai keluar.
Azil mengangguk saja pasrah, "pritttt!" suara dari mulut Roy yang menemani mereka bermain membunyikan peluit bibirnya.
Naya berlari dengan bertelan jank kaki sambil menggiring bola menghindari kakak dan adek, para pasukan bocil yang notabenenya kurang mengerti permainan bola hanya tertawa bersama mengejar bola, seperti kawanan bebek.
"Hahaha, ampun gue mah sakit perut!" Roy berteriak pada cucunya, "oper! Oper ke kaka Liyah!" tapi cucunya malah mendongak diam, "hah?!! Apa opa?!"
__ADS_1
Naya langsung merebut bola darinya saat lengah, yang membuat bocah itu menangis, "aaahhhhhh bolanya diambil tante Nay!!!! Huwaakkkk!"
Andro melipat tangan di dadha melihat begitu pecicilannya Naya.
"Awas jagain Yesi! Jaga gawangnya dari tante Nay!" teriak Afifah yang menghadang Naya, namun Naya keburu menendangnya ke arah Eza, dan Eza berhasil memasukan ke gawang Yesi.
"Gollll! Gollll!" Naya berlari mengitari lapangan bersama Eza layaknya pemain bola sungguhan.
"Hooohoooo!"
"Tos!" seru Naya pada timnya.
"Om! Om Andro ikutan Om!" ajak Yesi, "kalo ada om Andro pasti menang!" rengeknya.
"Ndro, itu istri kamu ih! Momy mah ngilu! Takut kenapa-napa," Shania menggertakan giginya agar Andro mau menegur Naya, namun bukannya melarang Andro malah ikut menanggalkan jas.
"Andro yang jagain mii," balasnya.
"Hey, om Andro ikutan!"
Naya yang sedang berselebrasi menoleh tajam pada suaminya.
"Kalo gitu hompimpa lagi! Olang gedenya satu-satu!" ujar Eza dengan keringat bercucuran.
"Oke, ayok!"
Mereka kembali berhompimpa ria, hingga akhirnya Naya bersama Fifah, dan Liyah bersama Andro juga Eza.
Naya mencibir Andro, sementara suaminya itu menyeringai.
Bola mulai menggelinding dimainkan, dan Naya mengejarnya, bukan main bola lebih tepatnya mereka ngejar bola rame-rame tanpa siasat ataupun taktik.
Kaki Naya sudah kotor, dan sedang berusaha mencongkel bola dari kaki Liyah.
"Tante Nay, nanti tendang ke aku!" teriak Fifah. Selagi Aliyah menjerit-jerit karena takut bolanya direbut.
"Dek, tendang om dek!" pinta Andro yang sudah melinting lengan kemeja.
Bola berhasil di rebut Naya lalu ia giring ke arah Fifah, tapi sayangnya bola malah out, dan berhasil terebut Azil saat bola berada di kaki Eza
"Tante Nay!" jerit Azil, Naya sudah bersiap menyongsong bola, namun tubuhnya tiba-tiba terangkat ke udara, Andro menggendong Naya dan memindahkan badannya begitu saja di lain tempat, "Za ambil bolanya!"
"Mas ih! Curang ah!"
"Om Androoooo!" teriak Afifah geram, sementara Liyah dan Eza sudah tergelak senang.
.
.
.
__ADS_1
.
.