Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 27. PENGANTIN YANG HILANG


__ADS_3

Kanaya mengangguk paham, "oh iya makasih bu," jawabnya.


"Sama-sama," angguknya ragu, nih orang ngga punya modus jahat kan ya?! Benaknya berbicara seraya memperhatikan Kanaya.


Gadis ini memencet tombol bel, mestinya sih ia selametan atau paling engga bikin nasi bancakan bareng urab lah persis nasi pincuk selametan anak baru bisa jalan. Untuk pertama kalinya seumur hidup, baru saja ia memencet sebuah bel rumah! Kanaya terkekeh sendiri, apakah harus ia pencet lagi?! Wah, suatu hari jika ia memiliki rumah, ia harus punya bel rumah dengan nada mabok janda.


🎢🎢🎢


Dan benar! Ia kembali memencet bel untuk kedua kalinya, "punteun! Assalamu'alaikum! Anybody home ?!"


"Asik!" tukas Naya yang so ng'english!


Setidaknya ia tau little-little lah bahasa inggris biar ngga dikata anak kampung malu-maluin!



"Siapa tuh di depan?" Shania menatap Arka saat masih mengunyah moci.



"Tamu kayanya. Soalnya kalo kurawa kan ngga pernah mencet bel, langsung aja masuk," balas suaminya itu, emang ya! Kalo orang kalem sekali jawab masuk akal!



"Apa tukang paket? Ada yang pesen barang ngga sih disini?" Shania bertanya dengan menjatuhkan netra ke setiap penghuni rumah.



"Yang jelas bukan maling atau orang jahat mom!" jawab Gale.



"Darimana kamu tau?" sela Guntur.



"Ngga ada ceritanya maling se-sopan itu mencet bel om gledek,"



*Plak*! Deni menggeplak kaki Guntur.



"Otak lo, bener ya! Kemampuan manusia semakin berkurang seiring bertambahnya faktor usia---" ujar Deni.



"Lo juga udah tua mo nyonk!" sarkasnya membalas.



"Kaka, coba liat di luar ada siapa?!" pinta Arka pada Afifah.



"Adek Liyah aja opa, kaka tanggung lagi makan!" tolaknya menunjukan keranjang kecil moci di tangannya.



Tentu saja sang adik kembar mencebik, "ko aku?" matanya membeliak menyalahkan namun tak berani bersuara.



"Dua-duanya, biar adil! Kalo disuruh tuh langsung gercep kenapa sih?!" Fatur buka suara dengan alis menukik sengit, ekspresi inilah yang ia lemparkan saat kedua putri atau istrinya bandel. Gale terkekeh kecil melihat si kembar diomeli Fatur, padahal mah biang kemalasannya ya ibunya sendiri, si dokter anak satu itu.



Baru akan beranjak kedua bocah itu mengurungkan kembali niatannya, "biar opa Deni aja!" imbuh Deni beranjak.



"Oke deh opa kece!" Afifah kembali duduk di samping ibunya.



Pria paruh baya yang telah dikaruniai 2 anak dan 1 cucu ini keluar dari rumah menuju pintu pagar, gaya maskulinnya tetap terlihat keren meski usia sudah tak muda lagi.



Kanaya yang merasa kalau seseorang datang dan hendak membuka pagar rumah segera mundur dan menaruh kedua tangannya di depan dengan rapi setelah sebelumnya membawa anak rambut ke belakang telinga.



Suara besi yang bergesek dan di dorong berbunyi seiring terbukanya pagar, kini nampaklah sosok gadis lengkap dengan kebaya putih dan jarik coklat yang semrawut sepaket wajah lelah dan tas yang tersampir di sebelah pundak sedang tersenyum manis di depan Deni.


__ADS_1


"Pagi pak---eh apa siang ya? Jam berapa ini ya? Masih pagi atau udah siang?!" Naya malah bermonolog lalu terkekeh kecil membuat Denial semakin mengerutkan dahinya, *wah nih cewek sakit kayanya*!



"Pagi menuju siang," jawab Deni tak ingin ikut tertawa seperti Naya.



"Apa betul ini rumahnya Shania Cleoza Mahesa, yang punya atau yang kerja di Pawon Kurawa?" tanya Naya menunjukan kartu nama Shania yang hampir lecek karena selalu ia genggam hampir sejak subuh tadi, seolah itu adalah benda paling berharga yang ia miliki.



Deni semakin mengernyit saat ia mengucapkan nama Shania seraya menunjukan kartu nama Shania.



"Kamu siapa? Ada urusan apa?"



"Bapak yang namanya Shania?" tanya Naya. Sontak saja Deni mengernyit, "yang bener aja, Shania kan nama perempuan!"



"Kalau gitu saya ngga perlu kasih tau bapak urusan saya, soalnya saya mau ketemunya sama mbak Shania..." balasnya tersenyum.



*Benar juga sih! Si al*, Deni mendengkus.



"Bukan tero ris kan? Ada niat jahat? Atau mau nyuri?!" tembak Deni, Kanaya mengurut dadhanya, "astagfirullah, pak. Saya emang orang ngga punya, tapi ngga ada niat jahat. Kalo saya punya niat jahat, ngapain saya nyengir lebar sama bapak sambil salam, harusnya kan nodong bapak pake golok," Jawab Naya merapikan tampilannya.



Deni menyipitkan matanya meneliti Kanaya, *cantik! Cukup pintar, cerewet! Tapi----- First impression*.



"Abis parade dimana?" tanya nya pada Naya.



"Balai kota," jawab Naya sekenanya singkat, dan Deni percaya saja dengan manggut-manggut.




"Eh, pak!" Naya menghela nafasnya. Jangankan dipersilahkan duduk terus dikasih minum, disuruh masuk aja engga, lantas Naya memilih berjongkok saja di depan rumah Shania kaya orang lagi mangkal di toilet.



Masih belum percaya, Deni sengaja memanggil si pemilik rumah untuk keluar.



"Sha! Ada tamu, tapi aneh! Manusia aneh mana lagi yang jadi temen lo, Sha?" ucapnya lantang membuat orang-orang menoleh ke arahnya.



"Aneh gimana onta?" tanya Gale. Sementara Shania mengerutkan dahinya, "aneh?"



"Lo liat aja sendiri di luar, pake bawa-bawa kartu nama lo segala. Cewek lah, masih kecil kayanya pake kebaya abis parade kartinian kayanya!" kekeh Deni kembali duduk. Ucapan Deni membuat Shania, Gale, Fatur, si kembar dan Arka juga Guntur mengernyit penarasan.



"Coba liat mii, ko Gale penasaran."



"Awas orang gila, oma! Sekarang kan banyak orang gila baru, banyak orang stress karena beban hidup!" ujar Aliyah. Shania beranjak dari duduknya dan keluar dibarengi Gale.



"Ini pak Samsul belum balik gitu? Lama amat!" gumamnya seraya berlalu.



Gale ikut mengekori Shania demi menuntaskan rasa penasaran.



"Siapa sih?" gumam nenek 3 orang cucu ini.

__ADS_1



Ia membuka pintu pagar dan mendapati seorang gadis yang baru saja beranjak dari posisi jongkoknya seraya tersenyum lebar persis orang yang mau minjem duit.



"Bu Shania?" tunjuk Kanaya.



"Iya." Alisnya terangkat sebelah meneliti tampilan wayang orang ini.



*Alhamdulillah*, gumam Kanaya.



"Kamu?"



"Saya Kanaya Dewi Kusumaningrum, bu. Jauh-jauh dari desa Giri Mekar, Cianjur. Eh---engga jauh-jauh amat sih, mau ketemu ibu atas rekomendasi seseorang."



Galexia ikut melebarkan pagar, lantas ia melipat bibirnya melihat Kanaya, begitu polos dan menggelikan.



"Siapa?" tanya Shania awalnya masih judes.



"Pak Andromeda," ia menyerahkan kartu nama Shania yang hampir lecek.



"Ohhhhhh!" Gale dan Shania beroh panjang, namun kemudian keduanya tersenyum usil. Dari ujung rambut sampai ujung kaki Kanaya begitu diperhatikan Shania dan Gale.



"Jangan bilang kamu kesini karena Andromeda udah janji nikahin, terus malah ditinggal jadi kamu malah nyusul?!" mata Shania membola mengingat jika benar kelakuan Andro seminus itu, ia akan menggantungnya di tiang jemuran.



Kanaya menggeleng, "oh bukan bu! Maaf, tadi sempet ada acara di rumah terus saya belum sempet ganti baju karena buru-buru..." nyengir Kanaya.



Andro baru saja keluar dari ruang gym, lalu ia menyerbu dispenser untuk mengambil air minum dengan keringat bercucuran.



Hingga suara Galexia mengejutkannya yang tengah minum, "ayah!!!! Anak bujang ayah bawa kabur penganten orang! Atau justru bikin manten orang kesemsem gagal move on, kaya yang udah-udah?!" cibirnya tertawa sambil masuk, sementara di luar sana Shania membawa Kanaya masuk.



Uhukkk!


Uhukkk!



"Apa?"



Gale meninju bahu adiknya yang tengah kebingungan, "gila lu brother! Lo diem, sekalinya bertindak, wewww! Lebih dahsyat dari ketukan tongkat nabi Musa!" tawa kecil Gale.



"Ada apa?" tanya Fatur diangguki Arka, Guntur dan Deni yang semakin kebingungan, "yang tadi? Calon penganten ?! Muka gile!"



"Ayah sama abang liat aja sendiri!" jawab Gale.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Mau speak dikit ya guys. Makasih banyak atas ucapan serta do'a yang melimpah buatku, ngga bisa balas satu-satu karena begitu banyaknya orang yang begitu perhatian dan peduli sama aku, Alhamdulillah rejekiku dilahirkan diantara para sahabat pembaca sekalian 😘 semoga do'anya diijabah oleh Allah, aamiin πŸ™ insyaAllah mulai hari ini update kembali rutin ya, emak baru comeback dari masa cuti πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2