
Hari sudah malam, keduanya berangkat di hari ke 4 honeymoon mereka. Jadwal yang dipilih adalah sore biar sedikit santai, alhasil mereka sampai Jakarta malam hari dan langsung meminta Adit, asisten Andro untuk menjemputnya memakai mobil Andro.
Adit melambai di area parkir saat sosok atasannya bersama sang istri yang ia lihat tempo hari saat resepsi berjalan ke arahnya seraya mencari-cari dirinya. Adit langsung berlari menyerbu dan membantu Andro membawakan barang bawaan mereka yang kaya abis pulang mudik.
"Banyak amat, mas...honeymoon apa mudik?" kekehnya berseloroh. Pemuda berusia 25 tahun itu sudah 2 tahun menjadi asisten pribadi Andro untuk urusan Route '78 terkadang Adit juga merangkap pekerjaan Andro di Angkringan.
"Mulai sekarang lo harus biasain Dit, kalo bawa nyonya pasti bawaannya kaya abis rampok toko!" jawab Andro dengan nada datar namun ia tersenyum mendengus.
Sementara Naya yang disebut-sebut hanya diam saja, "cepetan ah! Naya capek, pengen buru-buru rebahan!" matanya bahkan masih teler karena pengaruh obat. Otak si kadal kalo kena anti mabok ngga mau bales candaan orang, maunya rebahan di kasur. Ia terlalu lelah untuk menanggapi ocehan Adit dan Andro.
"Siap mbak Nay..." ia memasukan tas terakhir, selagi Andro memberikan tip untuk porter.
Beberapa lampu taman berpendar menjadi penerangan halaman depan rumah Arkala Mahesa bersama neon di teras rumah menekankan rasa hangat. Namun suasana sejuk dari pepohonan dan pot-pot berisi tanaman hias memberikan sentuhan adem untuk kediaman ex guru kimia ini, disertai suara serangga malam yang bermukim di dalamnya jika malam hari.
Andro tidak langsung membawa Naya ke Cianjur, karena memang harus menempuh jarak cukup jauh dan berkendara lagi dari bandara, jadi ia lebih memilih membawa Kanaya ke rumahnya saja.
"Teteh masih di rumah sakit di Arab, belum pulang ke Indonesia, biar nanti kamu jemput langsung ke bandara kalo teh Marni pulang," ucap Andro.
"Iya," angguk Naya.
"Mas yakin, kalo udah ditangani sama pihak KBRI teteh bisa pulang secepatnya," ujarnya lagi, sebelumnya Andro sudah menghubungi Gemilang, meminta bantuannya jika nantinya diperlukan pendampingan hukum untuk kasus teh Marni. Adit sesekali melirik rear-vision mirror demi mendengar obrolan atasannya bersama sang istri.
Bunyi suara klakson mobil memekik di depan gerbang, "malam mas," anggukan hormat dengan iringan senyuman dari pak Samsul.
"Malam pak," jawab Andro diangguki Kanaya juga saat satpam rumah itu kini tersenyum sopan melihat majikan barunya.
"Mas Andro, gue langsung balik aja ya?!" Adit menarik tuas rem dan mematikan mesin mobil Andro tepat di carport rumah Arka.
"Iya Dit, thanks udah jemput. Baliknya gimana?" tanya Andro memanjangkan tangan demi meraih handle pintu mobil bagian Kanaya, agar istrinya itu bisa keluar. Kanaya terlihat sudah tak enak duduk karena mual kembali menyerang.
"Tuh motor gue mas," tunjuknya ke arah motor matic keluaran teranyar di samping motor trail Andro.
"Kang Adit, makasih ya udah mau repot-repot jemput dari bandara!" ucap Naya yang sudah di luar.
"Sama-sama mbak Nay..." Adit ikut keluar dan membantu mengeluarkan barang bawaan sepasang pengantin baru ini dari bagasi ke dalam rumah.
Belum Naya dan Andro masuk, Shania sudah keluar duluan.
"Kok udah pulang lagi? Bukannya mestinya lusa?" Shania mempersilahkan Adit masuk membawa barang-barang Naya.
"Iya mii, ada masalah yang harus diselesain."
"Kenapa neng?" tanya Shania melihat wajah kuyu Naya.
"Lemes mii, pusing, mual..." Naya meraih punggung tangan Shania dan mengecupnya sayang dengan pipi.
"Hah?! Hamil gitu, apa gimana?! Meni tokcer baru 5 hari udah jadi lagi?!" serunya heboh malam-malam bikin geger orang se-Jakarta.
__ADS_1
"Mabuk kendaraan mii," ralat Naya.
"Oh, hahaha ya udah atuh masuk ah angin!" ajaknya.
Ayah, meski usia sudah senja namun tetap terlihat masih fit, sekarang saja ia sedang berada di depan laptop dengan kacamata, membantu momy merekap laporan Pawon Kurawa.
"Assalamu'alaikum," Naya beralih menyalami Arka.
"Wa'alaikumsalam."
"Bukannya Gale bilang 5 hari, Ndro?" tanya Arka menaruh laptop di meja, membuka kacamata bacanya.
"Iya. Ada urusan darurat..." jawab Andro.
"Nay, ambil satu pack buat Adit." Naya mengangguk, kemudian ia mengambil satu pack berisi 4 macam camilan oleh-oleh yang sudah Kanaya rapikan untuk setiap anggota keluarganya sebelumnya di resort.
"Kang Adit, buat cemilan di rumah!" ia menyerahkan satu pack rotan pada Adit.
"Aduhhh, makasih mas, mbak Nay! Rejeki anak soleh!"
"Buat nyemil sambil nonton bola, Dit..." ujar Arka.
"Mas, mbak, om, tante momy, Adit balik dulu," ijinnya pamit.
"Ya Dit,"
"Ati-ati Dit,"
"Makasih kang Adit, hati-hati,"
"Kalo jatoh bangun lagi sendiri Dit," kekeh Andro mengambil air dari kulkas dan langsung meneguk dari botolnya.
"Mas, kunci di meja!"
"Sip!" Andro tak kalah berteriak, diantara sisa-sisa kesadaran Naya dapat kembali melihat sisi Andro lainnya, lelaki yang kini telah menjadi suaminya itu begiru datar, dingin dan kaku di luar, ia tak banyak bicara, tapi rupanya itu tidak berlaku di rumah, diantara orang-orang yang telah mengenalnya, dan ranah privat. Ia sosok yang cukup menyenangkan dan cukup humoris.
"Sok atuh kalo mau istirahat mah, langsung aja ke kamar Andro...kasian meni udah lusuh gini," Naya mengangguk.
Namun sebelum Naya benar-benar beranjak, Shania menahan tangan menantunya itu, "Andro gimana?" alisnya naik turun tersenyum usil, Naya tau wajah itu...wajah-wajah bermode mesumnya Andro.
"Jantan mii, Nay sampe ngga boleh keluar kamar waktu masih di hotel!" kikiknya.
Shania mengerutkan dahi namun kemudian ia meledakan tawanya, "astagfirullah neng! Kayanya kamu mah masih mabok asmara, maksud momy tuh bukan itu!" Shania tertawa tergelak di malam hari.
__ADS_1
Naya menaikan kedua alisnya, namun tak lama ia ikut tertawa, "ih momy! Kirain Nay itunya----" kedua mertua-menanti itu tertawa membuat Andro dan Arka terbengong-bengong tak mengerti.
"Apa sih, tiba-tiba langsung ketawa?! Ini rumah ada hantunya apa gimana?" tanya Andro menyerahkan sebotol air minum yang masih tersisa banyak bekasnya untuk Kanaya minum.
"Kayanya kamu butuh minum," imbuh Andro.
"Gini nih kalo se frekuensi, ngga butuh waktu lama buat sadar kalo otak kamu sama momy mah sejalan!" jelas Shania pada Naya yang masih menertawakan ke-oon'annya.
"Ada-ada aja kamu mah, kalo untuk urusan itu mah ngga perlu kamu kasih tau juga momy udah tau, dari Andro brojol juga udah momy pegang-pegang!"
Kanaya semakin tergelak dibuatnya.
"Udah ngga beres, pisahin--pisahin Ndro!" ucap Arka yang mengetahui arah bicara istri dan menantunya itu.
"Kamu kayanya masih setengah sadar setengah engga, masuk kandang Nay..." Andro tak sungkan lagi memangku Naya di depan momy dan ayahnya.
"Aduh mas ih!" keluh Naya mengaduh, karena Andro yang selalu menggendongnya bak sekarung gabah.
Naya menyapukan pandangan ke seluruh inci kamar Andromeda, yang kini menjadi kamarnya juga.
"Mas, baju Naya masih di koper, itu juga ngga banyak kayanya pada kotor juga," adunya sambil memegang beberapa barang milik Andro.
"Pake aja baju mas dulu, coba cari kaos yang sesuai. Mas ke bawah ambil koper kamu," balas Andro kembali keluar.
Kamarnya begitu rapi mencerminkan jika si empunya pun berkarakter bersih nan rapi. Seprainya bersih nan wangi, seperti belum pernah ditempati atau memang momy Sha baru saja menggantinya, yang jelas sprei itu tercium aroma wangi segar citrus woody.
Tangan lentiknya menyentuh beberapa buku yang tergeletak di atas meja, *ekonomi dan bisnis*, hm---yeahh! Andromeda memang seorang bussinesman. Beberapanya juga berbahasa inggris yang tentu saja jika Naya membacanya pasti langsung pusing. Mungkin nanti jika ia sudah kuliah, jumlah buku disini akan bertambah. Kemudian ia beralih ke arah samping yang belum tereksplore.
Rak buku yang menempel di dinding bagian atas samping meja sepanjang kira-kira 1 meter berisi buku-buku tebal pedoman bisnis dan coffe, tersusun rapi menurut ketebalan dan klasifikasi tertentu, sungguh tertata rapi.
Ada gitar di samping bawah dan bola basket, apakah suaminya itu seorang dengan musikalitas tinggi dan olahragawan juga? Jadi apakah Andromeda itu semacam manusia multi talenta? Atau justru ia malaikat...malaikat Naya tentunya!
Ting!
*Assalamu'alaikum Naya---mas Andro, alhamdulillah Marni sudah sadar, ada kabar dari KBRI jika Marni bisa pulang ke Indonesia dan menjalani perawatan di rumah sakit Indonesia lusa*.
Naya menaikan alisnya dan mengulas senyuman, "alhamdulillah!" namun ia kembali menautkan alisnya, "sadar? Emangnya teteh kenapa sampe ngga sadar?!" gumam Naya.
.
.
.
.
.
__ADS_1