Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 92. KEBOHONGAN BUMIL


__ADS_3

Naya masih mematung di depan pintu masuk, ia tak sebo doh itu untuk menciptakan nerakanya sendiri. Ia menghitung dengan jarinya sendiri yang mau bagaimanapun jumlahnya tak akan berubah jadi 30.


Naya segera berbalik arah, ia lebih takut Andro ngamuk ketimbang dijauhi teman-teman sekelas, cakep! Karena baginya sekarang, ridho Allah ada di ridho Andromeda, bukan ridho rhoma apalagi riski ridho.


Naas, sungguh naas! Baru akan mengetik pesanan ojol, dirinya sudah disambar gledek di hari berpelangi.


"Lagi ngapain disini?" Andromeda melipat tangannya di depan. Feelingnya memang bagus dalam mengenali sosok yang tadi tepat di depan pintu masuk.


Untung saja dirinya hendak keluar, berniat menjemput Naya karena ternyata meeting yang dilakukan tak begitu lama.


Namun belum Andro keluar dari cafe, ternyata Naya sudah duluan datang kesini.


Naya membeliakan matanya bak melihat Izrail, "mas hehehe! Udah kelar meetingnya? Naya nyusulin mas loh, kesini!" serunya memutarbalikan fakta.


"Kamu, kesini?"


Naya mengangguk cepat seraya nyengir lebar.


"Ya udah, makan siang dulu kalo gitu!" ajak Andro menarik tangan Naya untuk masuk. Sontak saja ia tertahan, bisa kacau kalo makan siang disini. Bohongnya nanti mubadzir!


"Mas, kenapa ngga makan di rumah aja?" tanya Naya memberikan Andro second option agar mereka tak bertemu dengan teman-teman Naya yang baru saja masuk.


"Kenapa harus makan di rumah? Kejauhan. Toh disini juga ada makanan berat," jawab Andro memudarkan cengiran kuda jadi senyum mangga muda, masam.


"Kan biar jauh....kalo ada yang jauh kenapa harus yang deket," gumamnya.


"Ngaco! Kebalik sayang...kalo ada yang deket kenapa harus cari yang jauh," cubit Andro di pipi Naya.


Mau tak mau Naya masuk mengikuti Andro dengan menunduk dan mencoba berlindung di balik badan suaminya itu.


Niat hati sih biar ngga keliatan temen-temennya, tapi apa daya, badan segede gitu tak akan mampu disembunyikan, kecuali ia menciut sebesar peniti.


"Naya, disini!" teriak Geby. Bukan Naya yang menoleh tapi Andro, "mereka manggil kamu?"tunjuk Andro melihat Naya.


"Salah orang kali mas, nama Naya kan banyak!" ia benar-benar memalingkan wajah ke lain arah.


"Si Kanaya, pake pura-pura kagak liat! Nay! Lo sama siapa sih?" kini Zidan yang angkat bicara.


Andro benar-benar melihat Naya dengan alis terangkat sebelah kaya jungkat-jungkit, "Kanaya..."


Naya mendongak sambil nyengir, "iya mas, mereka temen Naya..."


Geby beranjak dari duduknya dan menghampiri Andro serta Naya, "Nay, dipanggilin dari tadi juga, lama amat sih di luar. Lo sama....?"


"Kamu ngapain disini?" tanya Andro.


"Anuuu mas,"


Andro memutar badannya dan masuk ke ruangan yang lebih dalam.


"Mas! Aduhhh,"


"Sorry Geb, itu suami Naya!" ucap Naya.


"Ha? Kamu udah merit?" Naya mengangguk cepat, "Geb, kayanya kamu sama yang lain aja dulu, Naya ada perlu sebentar!" Naya segera pergi ke dalam menyusul Andro.



Naya berdiri di depan meja kerja Andro, seperti terduga sab ung ayam. Menunduk malu, layaknya pejabat yang baru korupsi bermilyar-milyar.

__ADS_1



"Oh, bumil muda punya banyak temen tongkrongan sekarang...." lirih Andro berat menyindir, bahkan kiloan Naya aja kalah berat dengan suara Andro.



Mungkin figura foto di dinding menertawakannya sekarang, ketauan boong kok rasanya mirip-mirip gejala demam berdarah!



"Niatnya cuma bentar mas, biar ngga dikira ngga berbaur." ia masih bisa beralibi.



"Ngga inget sama pesan mas tadi pagi?" tanya Andro lagi menyenderkan pan tatnya di meja menatap istri yang mulai nakal.



"Maaf."



"Udah dimaafin terus nanti diulang lagi, manusia kan gitu."



"Engga. Janji!" balas Naya.



"Jangan mudah mengumbar janji, nanti ngga bisa tepatin kamu sendiri yang repot."




Andro hanya menatapnya lekat, hingga ketukan pintu memutus eye contact Andro.



"Mas Andro uhuyyy!" panggilnya.



"Iya."



"Makan siang pesenan mas Andro udah siap!"



"Eh ada ibu!" sapa karyawan disana saat Andro melebarkan pintu.



Naya tersenyum ramah, "kok ngga duduk, bu?" Decky menaruh menu yang dibawanya ke meja di ruangan Andro.


__ADS_1


"Lagi latihan upacara bendera!" jawab Naya ngasal. Decky tertawa, "ah ibu ada-ada aja! Latihan upacara bendera mah nanti bulan Agustus, di lapang bu!"



Naya menatap menu yang ada di depannya, cukup menggugah selera tapi sebelum ia cicipi, hidungnya memilih untuk membauinya terlebih dahulu mirip kucing dan guguk.


"Kenapa? Masih bau juga?" tanya Andro di sampingnya.


Naya tersenyum dan menggeleng, "engga." dan ia langsung melahap apa yang di depannya, "padahal Naya tuh pengen ayam geprek loh mas, kalo dikasih beginian kurang selera!" ocehnya melahap makanan dengan suapan besar-besar.


"Ini apa?" tunjuk Naya pada puding susu tiramisu dibubuhi biskuit dan potongan buah dan siraman fla.


"Puding," jawab Andro hanya gerlihat gurat wajah geli melihat Naya yang lahap, dengan menatap Naya makan begini saja ia sudah senang.


"Iya tau puding, masa mas yang punya cafe ngga tau ini puding apa? Best seller bukan?"


Andro mengangguk, "menu pilihan momy yang jadi best seller. Kata kak Gale ini cukup buat memenuhi gula nya kamu."


"Oh, padahal tadinya kalo mas ngga ngajak makan gini sih, Naya mau pesen sendiri dibayar pula, jadi masuk kantong mas lagi kan?!" ocehnya lagi menyendok puding sekali hap, begitu enak.


"Ya udah, kalo memang niatnya gitu kamu tinggal bayar aja sekarang,"


Naya menoleh pada Andro, "mana ada...kan niatnya tadi kalo makannya disana sama temen-temen,"


Kini Andro yang menyendok nasi di piringnya dengan tenang, "tadi sama sekarang apa bedanya? Toh kamu makan-makan juga."


"Ya beda lah! Kalo sama temen-temen kan bayar masing-masing, kalo sama mas kan dibayarin suami, masa Naya bayar sendiri. Emangnya berapa sih, palingan juga 50 ribu!" jawabnya meremehkan.


"Gegabah, 50 ribu tuh cuma puding kamu doang!" kekeh Andro menutup mulutnya yang sedang mengunyah.


Sendok puding bahkan masih di mulutnya, "hemmm?" mata Naya seketika keluar dari tempatnya siap menggantikan buah kelengkeng dalam gelas sop buah.


"Mahal amat! Puding segede upil gini 50 ribu?!" kagetnya menjerit. Apa kabar dengan dirinya dulu yang 50 ribu aja dapetnya seminggu sekali, kalo jajan di cafe Andro auto jual ginjal.


"Mas, Naya kasih tau ya! Mas bikin cafe di Giri Mekar kalo harga satu menunya segitu, ngga akan laku!" Naya menaruh sendok di pinggiran piring puding.


"Tau. Kita liat aja nanti," balas Andro.


"Minggu depan, cafe dan angkringan udah siap launching...itu artinya kita mesti nginep di Cianjur," ujar Andro.


"Cepet banget mas, emang yang kerjanya udah dapet? Perasaan bangunannya juga terakhir Naya liat masih belum beres..."


Andro mengulas senyum tipis, "the power of money, darling..."


"Cih," Naya berdecih seraya menghabiskan pudingnya dan berlanjut ke sop buah.


"Sepulang dari sini, kita udah ditungguin di rumah Nom-nom," imbuh Andro diangguki Naya, "iya."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2