Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 60. BARANG YANG SUDAH DIKEMBALIKAN TAK BISA DIAMBIL LAGI


__ADS_3

Kanaya masih komat-kamit mirip mbah dukun gara-gara foto si abang bule tak ada, padahal rencananya ia akan pamer pada Arif kalo ia pernah liburan bareng bule, bagian muntah sampai tepar mungkin akan ia skip dan menceritakan pengalaman yang bagus-bagusnya saja, seperti naik perahu motor dan menelusuri hutan mangrove, serta menginap di resort dengan harga selangit.


Andro memang sengaja tak menyimpannya di memory ponsel Naya setelah memotret pose kemarin, tak penting.


Sekarang Kanaya hanya bisa meratapinya saja, nasi sudah menjadi bubur. Guling-guling di ladang ranjau pun tak akan mengembalikan moment itu lagi. Gagal sudah rencana pamernya itu.


Satu yang ia tau, kesalnya seorang Andromeda memang menyebalkan! Kanaya mendelik setajam pisau, namun yang ditatap justru sedang tertidur dengan nyenyak karena asupan vitamin dari Naya. Benar! Kanaya tak mungkin berani misuh-misuh di depan orangnya langsung, takut dikutuk!


Vacation memang surganya dunia, kayanya Naya betah dan ngga mau pulang, ia berasa jadi putri disini. Makanan langsung tersaji, ngga perlu susah-susah dan repot nyari dulu, kerjaannya rebahan dan menikmati keindahan yang hakiki sambil nyeruput secangkir kopi tanpa perlu lagi mendengar ocehan bapak yang bikin kuping panas plus hati perih, tau-tau tagihan bikin dompet bolong mirip punggung suketi, beruntung akomodasi liburan kali ini sudah dibayar oleh Galexia.



Semilir angin pagi membawa serta rambut yang melambai menyapu kulit, pagi-pagi kamarnya sudah diketuk oleh karyawan resort yang berniat mengantarkan makanan.



Ia melahap sarapan dengan mata yang sesekali memicing ke arah Andro gara-gara kejadian kemarin di hutan bakau, tidur tak nyaman, makan tak enak...pokoknya kejadian kemarin mempengaruhi seluruh sistem kerja otak, pencernaan, ketenangan dan kenikmatan. "Mas jahat ih!" sinisnya melahap potongan-potongan besar panekuk dengan saus coklat dengan tanpa berbudi, bukan sebagai appetizer atau dessert namun hanya camilan, sebagai orang Indonesia asli, lambungnya belum bisa dikatakan sudah makan jika belum makan nasi, heran...itu lambung apa lumbung?!


"Ngga usah ngambek. Masih banyak waktu buat jalan-jalan," jawab Andro enteng menggosok rambutnya dengan handuk kecil, kemudian menaruhnya begitu saja di atas kasur dan mengecup singkat mulut yang mengomel itu agar berhenti ngambek saat sedang makan. Selepas subuh ia kembali menyerang istrinya itu, sampai-sampai Naya berniat membuang semua jaring ampas tahu bermerk Victoria Secret's itu ke pojokan ruangan.


Kanaya membuka hidangan utamanya berupa nasi goreng seafood lalu melahapnya, "tau ngga, selera makan Naya tuh jadi berkurang gara-gara mas usilin terus!"


Hap!


Oke, berkurangnya versi Kanaya itu sepiring nasi goreng dan panekuk juga teh tawar panas. Andro hanya menatap mencibir melihatnya, karakter yang sama dengan momy Sha, bibir nyeroscos tapi mulut ngga berenti ngunyah. Kini lelaki itu duduk di depan Naya dan mengambil piring miliknya.


"Hari ini kita kemana mas?" tanya nya lagi yang katanya ngambek.


"Maunya kamu kita kemana?" Andro balik bertanya.


"Mana Naya tau, ini bukan Giri Mekar. Jadi Naya ngga tau,"


"Ada situs Vihara patung 1000 wajah, ada desa budaya Senggarang, desa nelayan (Sebung), pantai, gurun pasir Busung----bekas penambangan bauksit, Trans studio, cuma nanti sore mas ada janji sama..." Andro menjeda ucapannya demi meneguk air minum.


"Bule," lanjutnya.


"Naya mau beli oleh-oleh buat orang rumah, mas." Jawab Naya selalu mengingat rumah.



Jadilah siang ini keduanya hunting oleh-oleh di pusat perbelanjaan setelah sebelumnya jalan-jalan ke gurun pasir Busung.



"Momy, kak Gale, om--tante Kurawa, teh Ganis, tante Yeni, tantw Nengsih, tante Reni, ibu, pak Akbar, kakak-kakak Pandawa ada berapa ya, mas?" Naya mengabsen seluruh anggota keluarga, begini nih susahnya Andro, kalo sekalinya beli oleh-oleh emang paling repot!



Andro tak mau diribetkan dengan urusan emak-emak satu itu, biar Kanaya saja yang mengurus masalah itu, bagi Andro ia cukup keluar uang saja.



"Disitu aja mas coba," tunjuk Naya berseru ke arah sentra oleh-oleh yang paling ramai pengunjung.

__ADS_1



"Kenapa mesti cari yang desek-desekan gitu, disini toko banyak...jangan disitulah, nanti susah...liat berjubel gitu!" gidik Andro seraya merangkul bahu Naya. Aneh!



"Justru itu mas, kalo tempatnya rame itu artinya ada apa-apanya, bisa jadi lebih murah, atau lengkap, atau mungkin makanannya lebih enak?!" jawab Naya cukup masuk akal.



"Tapi itu penuh gitu, mana ngantri..." melihatnya saja sudah bikin Andro ngelus dadha. Lebih tepatnya sih kaya emak-emak lagi tawuran, penuh, sesak dan saling berebut.



"Ngga apa-apa, mas tunggu aja di deket meja kasirnya, biar Nay yang belanja sama ngantri!" senyumnya lebar.



"Bener?" tanya Andro meragukan, namun Naya tetep kekeh.



"Udah, mas duduk ganteng aja disana, mas mah taunya tinggal bayar-bayar aja!" dorong Naya memasuki arena war.



Badan kecil itu kini melesak masuk dengan membawa beberapa keranjang, yang pertama dilakukannya adalah mengingat kudapan khas apa saja yang tadi sempat ia searching dari mesin pencari ponselnya, lalu mengambil itu sejumlah orang yang akan dibaginya. Kanaya tidak langsung mencari ke tempat lain, melainkan mendorong terlebih dahulu keranjang miliknya ke arah jejeran kasir memberikannya spasi diantara orang-orang yang hendak membayar.




"Oke!" Kanaya kini melenggang santai mencari penganan lain sambil nunggu antrian bagiannya, tak peduli orang yang di belakangnya diam tak bergerak maju.



Wanita ini cukup sat set dalam berbelanja, mencari apa yang memang ia cari saja, hanya bingung saja varian rasa yang enak.



Antrian mengular di belakang keranjang milik Kanaya sementara di depannya sudah hampir kosong.



"Ini tuh punya siapa ya, kok ngga maju-maju dari tadi?!" decak seorang pembeli lain yang sudah selesai memilih barang beliannya dan tinggal membayar. Sementara si empunya masih asik memilih kudapan khas lainnya.



Andromeda hanya bisa menggelengkan kembali kepalanya melihat kelakuan istri usilnya itu.



Kanaya berjalan agak pelan, mencari merk yang memang sepanjang memilih tadi banyak dibeli para pelancong.

__ADS_1



"Ah ini!" serunya berbinar, namun ketika ia hendak mengambil seorang ibu lainnya ikut mengambil juga, alhasil jumlah milik Naya kurang karena sisa produk tersebut tinggal beberapa saja.



"Eh kurang," gumamnya. Melihat keranjang ibu di sampingnya pas untuknya, Naya tak kehilangan akal.



Ia mengambil dan menaruh kembali produk amplang tenggiri miliknya ke atas rak, "ah bukan yang ini! Yang enak tuh merk yang di rak sana....ck!" ucapnya, sontak saja gumaman mengeluh itu diperhatikan si ibu di sampingnya, "kenapa dibalikin mbak?"



"Kata guide saya yang enak bukan merk ini bu, tapi tadi yang disana merk apa tuh sinar bahari gitu kalo ngga salah," jawabnya.



"Oh iyakah?" katanya bertanya, ia pun mengambil barang yang sudah ia ambil dari keranjangnya dan mulai ragu.



"Katanya yang itu apek, bu." ujar Naya.



"Oh gitu, saya juga ngga jadi deh ah kalo gitu! Sinar Bahari ya?!" tanya nya diangguki mantap oleh Naya.



"Iya deh, mau bareng ngga mbak?" tanya nya lagi, Naya menggeleng.



"Ibu duluan aja, nanti saya nyusul mau naro dulu yang ini," jawab Naya menunjukan keranjang berisi amplang.



"Oke." angguk singkat si ibu , tentu saja si ibu itu menaruh kembali miliknya dan mulai mencari merk yang dikatakan Naya. Senyum lebar dan tawa renyah tercipta, "maaf ye bu," gumamnya mengambil amplang yang dikembalikan si ibu.



"*Barang yang sudah dikembalikan tak bisa diambil lagi*," kekehnya kini menuju meja kasir.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2