
"Mangga---mangga, silahkan masuk bapak, ibu..." ujar ibu dan bapak Kanaya mempersilahkan para tamu rombongan Andro untuk masuk. Sementara anak-anak, malah asik melimpir ke halaman tepat di samping rumah Kanaya dan memainkan buah kemiri yang berjatuhan dari pohonnya, bak menemukan taman bermain baru. Cuaca cukup terik siang ini, namun suasana kampung yang masih banyak pohon membuat hawa begitu sejuk nan asri.
Tak ada lagu romantis yang mengiringi penyambutan keluarga Andro, hanya nyanyian dari suara gemerisik dedaunan yang tertiup angin dari sekitar rumah beserta lonceng angin terbuat dari bambu sebagai bass'nya yang tergantung di pojok kanan depan rumah Kanaya.
"Maaf kondisi rumahnya hanya seadanya, kurang layak buat dijadikan tempat kumpul," kelakar bapak Kanaya tertawa sumbang.
"Ngga apa-apa pak, rumah kita juga hampir sama, 11 12 lah..." jawab Shania.
"Alhamdulillah!" seru Guntur duduk bersila membuka sepatunya di karpet, "ampir-ampiran gue ngesot di jalan tadi!"
"Disini sejuk ya bu, enak loh!" akui Inez diangguki Melan.
Para orangtua sedang mengatur posisi duduk agar ruangan ini cukup menampung mereka beserta ketidakwarasannya, karena baik itu Roy atau Ari sudah ingin menempatkan dirinya untuk rebahan, maklum lah kalo orangtua ye kan?! Ngga kuat entep pindang!
Mendengar suara riuh tinggi tepat di balik pintu, Kanaya mendadak dilanda gugup, tangannya mendingin bahkan berkeringat deras, mungkin air keringatnya sampe bisa dipake buat bikin sayur sop!
Gale sempat keluar sebentar untuk memanggil anak-anak dan mengantarkan beberapa penganan dari sekian banyak piring berisi penganan, namun ia tidak menganjurkan mereka untuk masuk beramai-ramai, karena besarnya ruang tamu tak akan cukup menampung mereka semua, ditambah karakter mereka yang aktif sangat riskan untuk keselamatan rumah Kanaya. Ia juga khawatir anak-anak justru akan merepotkan dan mengganggu jalannya acara lamaran. Entah bagaimana cara mereka, namun kini Puspa pun ikut bergabung dan bermain bersama anak-anak gen Kurawa, Pandawa.
"Kak Gale, biar anak-anak Naomi yang jaga aja...kayanya seru ikut mainan disamping, sejuk anginnya!" tunjuk Naomi dan istri Refan.
"Oke. Titip twin Nom," ujar Gale menggendong Arion, dan memegangkan pisang ke dalam kepalan tangan Arion.
Andro duduk diantara Shania dan Arka, ia yang biasanya keep calm menghadapi apapun kini mendadak diserang gugup, apakah Kanaya merasakan euforia lamaran yang serupa? Ngomong-ngomong dimana gadis itu? Jangan-jangan ia kabur lagi?!
Ia menatap sopan pak Acep yang kemarin melihatnya penuh murka, namun ada yang aneh! Kini wajahnya bak sisi mata uang yang berbeda, ia jadi lebih....menghangat, bahkan terkesan sopan dan ramah, seperti bukan pak Acep yang ia temui kemarin.
Dari pihak Kanaya, bapak, ibu, pak Akbar dan bu Dewi sudah duduk berjejer.
Bu Dewi mengangsurkan beberapa gelas kopi hitam dan teh manis yang masih mengepulkan asap dan aroma khasnya, juga air mineral kemasan lalu mendorongnya mengelilingi keluarga Andro.
"Macet pak?" tanya bapak pada Arka.
"Alhamdulillah lancar, pak..." jawab Arka mengulas senyum tipis, seperti biasa.
Tuhan seperti melancarkan apapun hambatan di hari ini bagi Andro.
Deni langsung saja membuka acara dengan menyampaikan maksud dan tujuan dari pihak Andro, sebelum Ari dan Guntur kebablasan menghabiskan penganan di depan mereka.
"Njirrr, gue pikir mah tadi ini teh mirip kue cucur...tapi lebih enak bro!" bisik Roy pada Guntur.
"Kampungan..." desis Inez mencubit perut Roy. Shania sudah melotot beberapa kali pada teman-temannya itu agar tak banyak tingkah.
__ADS_1
"Yang malu-maluin pesen kavlingnya paling cepet!" desisnya ke arah Guntur. Melan sekuat mungkin melipat bibirnya, definisi orang kota yang malu-maluin ya begini! Welcome to Kurawa and Pandawa's Family.....
"Kedatangan keluarga kami kesini, adalah dengan maksud baik...untuk meminta putri rumah ini yang bernama Kanaya Dewi Kusuma....." Deni melirik Andro.
"Ningrum, Kanaya Dewi Kusumaningrum," jawab Andro mantap.
Kanaya tersenyum merona dari tempatnya, begitu jelas suara sedalam lautan tak berdasar milik si bapak-bapak hot itu menyebutkan namanya dengan lengkap, ingatannya kuat bak otak gajah. Rasanya Naya baru sekali menyebutkan nama lengkapnya, namun Andromeda begitu fasih dan ingat.
"Ah iya.. Kanaya Dewi Kusumaningrum untuk putra kami Andromeda Putra Mahesa," imbuh Deni.
Dilatari sayup-sayup suara anak-anak yang berceloteh dan tertawa dari luar, suasana di dalam justru terasa begitu khidmat dan serius namun penuh dengan tata krama kesopanan, Arka dapat melihat meski keluarga calon besannya bukan berasal dari keluarga berpendidikan dan kaya, namun memang ia akui di daerah kempung begini attitude begitu masih dijaga dan itu terlihat dari sikap pihak keluarga Kanaya.
"Neng !" panggil bapak.
Kanaya cukup tersentak dengan panggilan bapak, ia menghela nafasnya. Langkahnya sekarang adalah langkah yang ia ambil untuk nasib masa depannya ke depan.
Sedikit demi sedikit pintu itu terbuka, menampilkan seorang gadis dalam balutan kebaya sederhana dan make up tipis, tak seperti kemarin yang memakai sanggulan bak sinden yang bebannya seberat beban dosa para koruptor, kali ini Kanaya hanya mencepol rambut dan menjepitnya dengan jepitan-jepitan kecil bunga.
Jika kemarin gadis 19 tahun ini terlihat seperti wanita 26 tahun maka kali ini Kanaya terlihat seperti seorang gadis yang baru saja menerima kelulusan wisuda SMA.
Cantik ! Andro akui itu.
Kanaya berjalan hanya menatap ke lantai, ia tak berani mendongak, ia belum berani unjuk wajah di depan Shania dan Arka, ataupun Gale dan juga yang lainnya.
"Ngeliatin apa atuh neng di bawah? Kan calonnya ada disini?!" goda Shania memantik tawa kecil yang lain. Gadis itu mendongak dan duduk di samping ibunya, bukan raut bahagia yang ia tunjukan, ia memang tersenyum tapi terlihat begitu tak nyaman, Andro merasakan itu.
"Ahayy! Bisa ae mama camer!" seru Ari sambil menyuapkan rengginang ke dalam mulutnya, datang ke rumah Kanaya yang banyak tersaji kudapan khas kampung bak perbaikan gizi untuk para aki-aki yang sedang tumbuh kembang ini.
"Good job nephew! Dapet daun muda!" bisik Ari dari samping Andro.
"Kanaya, saya beserta keluarga datang kesini untuk meneruskan maksud putra saya Andromeda yang ingin meminang kamu. Seperti dalam aturan agama yang tidak baik menunda-nunda niat baik, juga tidak dianjurkan hanya berdekatan yang akan mengundang perbuatan zina. Jika berkenan dan diperkenankan, maka lamaran ini akan berlanjut ke tahap yang lebih serius secepatnya."
Kanaya melihat Arka sebagai lawan bicaranya dengan kedua bola mata beningnya, kemudian bergantian menatap Andro dengan kernyitan di dahi seolah sedang meminta sebuah saran. Tentu saja Andro mengangguk mantap dari tempatnya, lalu Kanaya melihat ke arah ibunya, dan saat moment itu kedua pasang mata, baik Kanaya ataupun ibu sama-sama menitikan air mata.
"Ibu cuma bisa bilang apapun keputusan ceceu, ibu ikut mendo'akan yang terbaik. Selama ini ceceu sudah banyak berkorban, ceceu selalu menekan ego demi keluarga...." Kanaya memeluk ibunya sebelum sempat menyelesaikan ucapannya. Begitu besar cinta Kanaya untuk ibunya bahkan untuk bapak, meski terkadang ia juga banyak bikin ulah.
Shania refleks memegang tangan Arka, merasakan haru melihat Kanaya, jika ibunya sampai menangis terisak melepas anak gadisnya itu maka itu artinya Kanaya memang baik dan sayang keluarga.
"Mas," tatapnya melow pada Arka, begitupun yang lain sama-sama merasakan haru.
"Naya...." ia menatap Andro lama yang juga tak sabar menunggu jawabannya.
__ADS_1
"Naya terima," 2 kata itu lolos dari mulutnya, suara bersyukur terucap dari dalam ruangan bersama senyuman terukir dari semuanya, Kanaya hanya berharap keputusan yang diambilnya benar.
Shania membuka kotak cantik berisi satu set perhiasan yang ia pesan kemarin secara dadakan.
"Ini mah bukan mahar atau barang seserahan ya neng, bapak, ibu...hanya sekedar simbol pengikat biar Naya ngga kabur-kaburan lagi," kelakar Shania.
"Ibu ih!" Naya menutup mulutnya dengan sebelah tangan sementara sebelah tangan lainnya dipasangi gelang oleh Shania, "jangan ibu atuh sekarang mah panggilnya, momy...sama kaya Andro.."
"Emak aja lah emak!" timpal Roy mendapat cebikan Shania.
"Ini teh kakak--kakaknya bu Shania, atau adiknya pak Arka?" tanya pak Akbar yang belum sempat berkenalan satu persatu dengan keluarga Kurawa.
"Kita mah adik-adik pungutnya pak Arka, pak...suka-suka bapak nyebut aja lah! Mau nyebut kembaran Andro juga boleehhhh..."jawab Guntur memancing gelak tawa keluarga Kanaya.
"Nak Andro banyak paman sama bibi'nya. Keluarga besar...." tatapan pak Acep nyalang ke arah Andro, bukan takut ataupun tak enak hati, namun ia yakin jika Naya akhirnya menemukan seseorang dan sosok keluarga yang tepat untuknya, semoga kamu bahagia ceu...
Namun saat mereka mulai menghangat dan ramai, dari luar suara gaduh dan membuat panik mengacaukan kesyahduan acara.
"Neng Naya!!!!" teriaknya sampai ke dalam rumah.
"Neng, ngga boleh nikah kalo bukan sama aa, neng!" teriaknya.
"Siapa itu?!" tanya Adiba mengernyit dan memanjangkan lehernya ke arah pintu rumah.
Kanaya menatap Andro, pak Akbar, dan bapaknya, "Agus..."
"Neng, aa bakalan nekat acak-acak acara neng Naya!!" teriaknya mengancam.
"Anak-anak diluar miii!" seru Gale, bukan hanya Gale dan Andro yang keluar ataupun Roy dan Hendra yang dekat dengan pintu, namun Kanaya sudah melompat duluan keluar dengan membawa sapu lidi.
.
.
.
.
.
Noted:
__ADS_1
*entep pindang : berjajar rapi seperti ikan pindang dalam kukusan.