Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 49. HATTRICK!


__ADS_3

Satu detik terasa 1 jam, jarak 5 meter saja berasa ngga nyampe-nyampe kalo lagi malu begini. Ia sampai tak berani melihat wajah tampan bak pangeran milik Andromeda, hanya saja tangannya mencengkram kuat di baju Andro, tak peduli jika nanti akan kusut.


Yang Kanaya tau, kini dirinya tiba-tiba merosot dari gendongan Andro dan kaki-kaki putihnya menginjak area parkiran masjid, lelaki itu membuka pintu mobil agar Kanaya dapat masuk. Karena posisi pijakan yang cukup tinggi begitupun kain samping ketat melilit Naya, gadis itu cukup kesulitan untuk naik.


"Aduh mas, ini aku susah naiknya. Tolongin ih!" ia mencoba mengangkat kakinya tinggi-tinggi namun tetap saja pergerakannya terbatas oleh lebar kain, "ih tau gini mas tuh sediain aku daster ibu aja!" gerutunya mengomel, mungkin setelah ini...ia dan kebaya akan menjadi musuh besar.


"Coba naikin sedikit-sedikit, jangan dipaksain nanti sobek." Dengan entengnya Andro mengangkat pinggang Naya hingga menyentuh ke area bo kongg, sontak saja Kanaya melotot sengit, "eh, mas ih! Jangan dipegang itunya!" wajahnya seketika memanas, aduhhhh! Tak taukah ia, meskipun tidak sebesar- besar balon yang tadi diterbangkan, itu adalah aset yang ia miliki dan begitu ia banggakan?!


"Katanya minta dibantuin, baru aja dipegang dari luar udah sewot, kalo saya pegang di dalem gimana?" decak Andro kemudian menyeringai, ia tebak Kanaya akan menjadi wanita yang galak-galak manja, tapi entahlah! Andro belum yakin jika gadis ini akan langsung menyerahkan begitu saja aset itu padanya, who knows? Will see....


Kanaya lebih memilih diam, belum---sama sekali belum terpikir sampai situ! Ia memang setuju untuk kembali membuka hati dan lembaran baru bersama Andro namun otaknya belum sampai ke level itu, meskipun ia juga penasaran dengan bentukan bapak-bapak hot satu ini, dari luar aja udah bikin ngiler, gimana kalo dalemnya, mungkin ilernya bakalan bikin banjir kamar!


Deni, Shania dan Arka sudah menyusul ke dalam mobil. Kini yang jadi masalahnya adalah bagaimana Kanaya, apakah ia akan baik-baik saja di dalam mobil? Andro benar-benar lupa!


"Mas," tangannya mencengkram tangan Andro begitu Deni menyalakan mobil.


"Ini deket apa jauh tempat resepsinya?" tanya Shania, ia pun sama halnya Kanaya yang dibantu Andro untuk naik ke atas mobil.


"Deket, Sha. Cuma 15 menit lah. Waktu balik dari lamaran kemaren gue langsung cek bareng gledek sama Andro." jawab Deni melirik sepasang pengantin baru di jok belakang.


"Cuma 15 menit," ucap Andro, meloloskan nafas lelah Naya.


Mobil Andro akhirnya melaju keluar dari kawasan masjid, selama 5 menit pertama ini kondisinya cukup aman, namun Naya mulai merasakan keringat dingin dan rasa pusing di kepalanya, tanpa disadari tangannya sejak tadi menggenggam tangan Andro, seakan tak ingin melepaskan.


Ia mendadak jadi pendiam selama di mobil, padahal Shania, Deni dan Arka membuka forum obrolan seru seputar jerih payah mereka selama mempersiapkan pernikahannya dan Andro yang terkesan dadakan tentu jelas menghebohkan semua anggota keluarga, termasuk keluarga di Bandung dan Surabaya.


Kepalanya menyender di lengan Andro dengan sendirinya, dan Andro tak mengelak untuk itu. Bahkan kini Naya tak segan lagi menghirup aroma Andromeda dalam-dalam yang terasa memabukan dan sedikit meredakan rasa pusingnya. Mungkin Deni dan Shania yang berulang kali menangkap moment itu secara tak sengaja tersenyum geli karena menganggap Kanaya begitu manja pada Andro, padahal keduanya tak tau saja jika mantu baru keluarga Mahesa itu sedang mabok.


Tahan Naya, sayang make up! Kasian si mbak-mbak MUA nya!


"Anak momy hebat lah! Momy aja udah nahan nafas sampe mau semaput takut kalo kamu salah ucap atau lidahnya kebelit-belit baca ijab sama maharnya Ndro.." tawa Shania memberikan sedikit ulasan tentang mahar Andro untuk Kanaya.


"Mantap lah! Percaya sih gue mah, kalo anak pak Arka!" tatap Deni dari spion pada Andro seraya terkekeh. Andro mengulas senyumannya bangga lalu melirik Kanaya yang ternyata tengah melihatnya dengan kedua alis terangkat.

__ADS_1


Ngemeng--ngemeng mahar, Kanaya tak tau mahar apa yang diberikan Andro padanya, berhubung ia datang saat semuanya sudah melafalkan do'a.


"Apa?" tanya Andro.


"Mas Andro ngasih mahar apa?" tanya Naya lirih terdengar oleh Shania dan Arka serta Deni.


Sontak saja Shania terkejut jika Kanaya tak mengetahuinya, "kamu ngga tau dikasih mahar apa? Kirain momy kamu tau, momy nyangkanya itu hasil kesepakatan kalian? Ini gimana sih, Ndro?"


Andro tertawa kecil, "Kanaya ngga tau mii. Dia cuma bilang apapun maharnya dia terima dengan ikhlas," jawab Andro namun tatapan matanya jelas menatap lekat Kanaya seraya menyunggingkan senyuman.


"Ampun kamu mah neng!" sewot Shania.


"Kalo anak momy cuma ngasih mahar sendal jepit bekas gimana? Kamu kena tipu laki-laki!" sewotnya lagi.


"Elunya aja yang mata duitan Sha," cibir Deni.


"Ya mikir aja atuh! Anak perawan ting-ting dituker sendal buluk! Kasian yang gedein da, ngasih makan aja pake beras!" omel Shania yang langsung dibekap Arka, "kamu ngajarin ngga bener sama mantu, mii."


Andro tertawa renyah, momy memang benar, Kanaya begitu polos!


Kedatangan mobil pengantin sudah disambut tim WO bersama satu sanggar kesenian. Suara degung sunda beserta instrumen modern bersatu padu membuat harmonisasi yang ciamik!


Mereka langsung melihat ke arah luar jendela mobil.


Rasa mual dan pusing seketika sirna, saat mobil berhenti dan terbuka.


Mereka turun dengan Andro membantu Kanaya, namun sebelum benar-benar keluar dari mobil, Andro menghentikan gerakannya, kedua tangannya kini meraih tangan Naya dan menatapnya dalam, "saya terima nikah dan kawinnya Kanaya Dewi Kusumaningrum binti bapak Acep Budiman, dengan mas kawin seperangkat alat solat, logam mulia seberat 25 gram, 4 petak sawah atau masing-masing luasnya adalah 30×40 meter, tanah kebun seluas 250 meter persegi dan hewan ternak berupa 3 ekor sapi dan 4 ekor kambing, tunai."


Kanaya langsung menarik kedua tangannya dan membekap mulut yang ternganga seketika, "mas mau bikinin venue olahraga buat Naya?!"


"Bapak bilang itu semua adalah cita-cita kamu untuk bikin kebun sayur agrowisata, sekalian rumah di masa tua. Kalau kurang, nanti kita nabung lagi seiring waktu, karena uang mas menipis untuk saat ini, belum lagi siap-siap masukin kamu ke universitas."


"Tapi itu berlebihan, mas!"

__ADS_1


Andro mendengus, "kalo kamu anggap itu berlebihan, maka seharusnya mas dapat yang sepadan kan?" senyumnya kini usil menyeringai membuat Naya mengernyit tak mengerti.


"Udah, ngga usah pura-pura oon...mas tau kamu ngerti! Ada mahar ada kewajiban, neng..." Andro mengerling membuat Naya sewot, "ih! Apaan tuh matanya ngedip-ngedip gitu! Kelilipan! Sini Nay tiup sama orang-orangnya sekalian biar terbang!" gerutunya, padahal Naya sudah merasakan jika wajahnya memerah dan panas, Andro tertawa mendapati reaksi sewot sepaket bibir mengerucut dan alis menukik Naya, ia senang sekali bisa menggoda gadisnya habis-habisan, ia semakin menggemaskan. Jangan salahkan Andro jika nantinya ia khilaf merayu Kanaya.


"Yu turun! Biar mas minta selop lagi," ajaknya membawa Kanaya turun dari mobil.


Upacara mapag panganten bersama nini dan aki lengser menyambut Naya---Andro, diiringi tarian merak hingga ia duduk di atas pelaminan bersama Andro.


Rampak kendang tak luput menjadi sajian kesenian lainnya bersamaan dengan hadirnya kerabat dan tamu. Andro menyiapkan segalanya dalam kurun waktu 2 hari saja.


Mobil-mobil mulai berseliweran menyusul mobil rombongan pengantin, ini baru acara Cianjur...untuk keluarga, Shania meminta mereka datang di resepsi keesokan harinya di Jakarta.


Para tetangga desa Giri Mekar berbondong-bondong hadir di acara yang boleh dibilang spektakuler ini, bukan dangdut ataupun organ tunggal yang menjadi hiburan namun jaipong, degung sunda, kecapi suling khas tanah priyangan, dan rampak angklung yang disajikan malam ini.


Para tamu juga dimanjakan dengan suasana resto yang syahdu dan makanan-makanan lezat, mulai dari makanan berat sampai stand-stand cemilan berderet sepanjang tempat acara. Mulai dari makanan khas tanah sunda hingga khas surabaya bikin para tamu kleyengan buat milih.


Bu lurah turun menyaksikan kemegahan acara Kanaya, sementara Desi sibuk menukarkan kartu pada pihak WO untuk mendapatkan cinderamata pernikahan Andro-Naya yang berupa satu set pengharum ruangan dengan berbagai aroma citrus--wood, pinus--lemon, vanilla---cinnamons, dan lavender--mint, Desi terkikik dengan kemasan cantik di tangannya, "lucu ih! Jarang banget cinderamata kaya gini, wangi...A!" ujarnya.


Namun satu lagi yang kemudian membuat kagetnya bu lurah lengkap.


...TIDAK MENERIMA AMPLOP...


"Pak, pulangnya beli dulu koyo..."


Hattrick buat Kanaya Andro!


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2