Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 52. RESEPSI JAKARTA 1


__ADS_3

Andro tak perlu repot-repot membangunkan Kanaya layaknya bangunin singa sampai harus gontok-gontokan gelut atau cakar-cakaran. Toh, gadis ini sudah lebih dulu bangun darinya.


Semalam, setelah moment bocor itu, Andro terpaksa kerja bakti menurunkan kasur dari ranjangnya hingga sepasang pengantin baru itu tidur melantai.


Belum lagi daerah kasur yang basah membuat keduanya tidur dengan posisi mepet-mepet kaya lagi naik kopaja.


"Waaa, ceu! Bagus ini!" imbuh ibu mengangkat pakaian tidur dari salah satu kotak lalu membentangkan pakaian tidur model dress berbahan satin. Sejak subuh Naya membongkar barang-barang seserahan untuk nantinya mengklasifikasikan--yang mana yang akan dibawa dan yang mana yang ditaruh.


Oke! Sepertinya tas channel semalam akan ia bawa menggantikan tas selempang yang selama ini sudah menemani hari-hari penuh perjuangannya.


Mendadak ruangan depan rumah ini penuh dengan kain tile dan kotak-kotak yang berserakan karena acara unboxing seserahan ceceu, Arif saja sampai harus tidur tersudutkan di pojok bawah dekat lemari bufet kaya tikus.


Naya membuka tali pengikat di kotak yang paling besar, dari luarnya saja sudah terlihat lipatan bed cover berwarna ungu, seolah yang ngasih ngajakin bobo bareng. Ngomong-ngomong soal bobo....Kanaya memicingkan matanya ke arah leher ibu yang sejak tadi menampakan noda membandel yang bahkan digosok dengan detergent terbaik di dunia saja tak akan hilang dalam waktu sehari.


"Hihihi! Asik, kotaknya buat Upa ya ceu?! Buat mainan!" seru Puspa yang mendapat anggukan manis dari Naya.


"Ceu, nurut sama suami. Harus bisa bawa diri di rumah mertua, keluarga mas Andro tuh orang-orang baik, orang-orang terpandang..." ia yang awalnya berwajah antusias kini menyendu dengan sederet pesan ibu.


"Sering-sering tengokin Cianjur," bapak yang baru saja muncul dari dapur dengan handuk di tangan menggosok rambutnya ikut menimpali, ia kemudian masuk kamar untuk berpakaian dan menunaikan kewajiban.



Tangan mungil itu menaruh segelas kopi yang masih menguarkan aroma segarnya, memenuhi setiap sela-sela kamar selagi Andro mengangkat dan merapikan kembali kasur bekas semalam.



"Sudah siap? Barang mana aja yang mau dibawa?" Andro menghampiri Naya yang bersandar di meja rias demi meraih gelas bening berisi kopi panas.



"Udah di depan. Tinggal dibawa ke mobil..."



Andro mengangguk tanpa menjawab dan lebih memilih menyeruput kopi di tangannya.



*Tok! Tok ! Tok*!



"Ceu, mas Androoo....kata ibu sarapan dulu!" teriak Arif.



Pak Akbar dan bu Dewi sudah seperti keluarga bagi Naya dan Andro, pagi ini mereka ikut diboyong ke Jakarta demi menemani keluarga Kanaya mengenal keluarga besar Mahesa, pasalnya resepsi di Jakarta ini adalah puncaknya silaturahmi, mengukuhkan jikalau status Andromeda sudah tidak jomblo lagi.


Rencananya keluarga dari Surabaya dan Bandung hadir hari ini, begitupun dengan rekan bisnis, karyawan, teman-teman juga tetangga.


Kanaya meloloskan nafas lelahnya sebelum benar-benar terlelap di bangku samping pengemudi. Sepertinya hari ini akan sama melelahkannya dengan kemarin.



Sekali lagi, riasan tebal buah karya tangan dari MUA ternama melekat di wajahnya, baju kebaya dan high heels telah disiapkan untuk Kanaya.


__ADS_1


Pintu hall dibuka menyuguhkan dirinya dan Andro dalam balutan pakaian raja dan ratu sehari, ruangan ballroom seluas mata memandang telah disihir menjadi tempat acara mewah, di sisi pojok kanan pelaminan terdapat panggung sepaket weeding band.



Acara hari ini tak ubahnya acara kemarin saat di Cianjur, namun entah kenapa Kanaya merasa lebih gugup, mungkin karena ia yang akan bertemu dengan keluarga besar Andromeda.



"Wehehehe penganten baru! Gimana---gimana ngang kang ngga jalannya?!" tawa Guntur dengan terang-terangan melihat ke bagian bawah Andro dan Naya membuat Naya malu, sejak kemarin tema percakapan orang-orang sekitarnya adalah malam pertama.



"Ngang kang lo pikir manten su nat!" dorong Ari. Keluarga Kurawa selalu ada di setiap acara.



"Nih, hadiah dari onta---onty Kurawa!" Bukan lagi satu atau dua, sepertinya amplop bukan lagi jadi barang utama dalam memberi pasangan pengantin yang baru menikah, karena terbukti kerabat dan keluarga Andro kebanyakan memberi kado ketimbang amplop, sudah tak terhitung kotak-kotak besar yang dibawa WO ke dalam kamar Andro---Naya.



Mungkin nanti setelah resepsi ini berakhir, Naya dan Andro akan disibukan dengan acara bongkar kado di kamar.



Musik band dengan lagu-lagu pop, dangdut dan beberapa pilihan lagu pop rock mengiringi acara respsi kali ini. Bukan hanya jago bercanda namun Deni yang notabenenya sudah tua tetap menyumbangkan kemampuannya di atas panggung, bahkan Galexia, Naomi, Pandawa ikut menyumbangkan suaranya meskipun suara mereka pas-pas'an, yang jelas hari ini mereka bahagia.



"Om Den! Jangan tebar-tebar pesona, lo!"




Anak-anak begitu sibuk mengerubungi stand cemilan manis dan es krim begitupun Upa yang bergabung bersama twins dan keponakan lain.



"Mang Arif! Sini, upa mau marshmallow coklat, sini antri!" Upa melambaikan tangannya gemas seraya menghentak-hentak kaki kesal karena Arif malah santuy saja disaat antrian semakin banyak.



"Upa! Ini mau engga?" tunjuk Liyah ke arah es krim. Gadis itu mengangguk mantap, seolah kapan lagi ia merasakan banyak makanan enak!



"Mau kak! Nanti Upa kesitu!"



Kruyukkkk----


Kanaya hanya bisa memelas di atas podium tanpa bisa menjamah seluruh hidangan respsinya, padahal sejak tadi ilernya sudah netes-netes melihat Upa kesana--kemari nyicip keseluruhan penganan.



"Mas, Naya lapar...pengen itu!" tunjuknya ke arah siomay dan es krim.

__ADS_1



"Biar Upa, Arif atau kakak-adek yang bawain kesini..." balas Andro. Naas sekali.....disaat orang-orang berlomba-lomba mencicipi kudapan sampai beberapa tamu tertangkap membawanya pulang, Kanaya justru cuma bisa ngiler di atas sini.



"Mas, anak-anak lama ah! Naya sendiri aja kesitu!" ijinnya tak sabar, tapi baru saja ia ingin melangkah segerombol manusia berpakaian batik datang dengan teganya naik ke atas podium hendak menyalami pasangan pengantin baru.



"Pak Androoo!"


"Mas Andro!"



"Selamat ya pak! Bu!" tangan Kanaya diraih beberapa orang yang ia tak kenal, bibirnya hanya bisa manyun dan mengerucut kaya topi kurcaci. Andro terkekeh melihatnya.



"Foto dulu sama penganten! Abis itu makan, yuk!" interupsi seorang, sontak mengundang tamu yang notabenenya karyawan Route '78, Angkringan dan Pawon Kurawa.



"Bu," sapa mereka tersenyum. Tentu saja Naya hafal dengan wajah-wajah ini, toh mereka pernah bekerja bersama meski baru sebentar.



Podium kini dipenuhi oleh crew Route '78, Kanaya yang pernah mengalami ini, langsung melihat ke arah podium yang tengah ditempatinya, "eh...eh jangan banyak-banyak!" selanya memiliki trauma tersendiri dengan foto pengantin. Andro terkikik dalam diam melihatnya, "trauma neng?"



"Takut roboh mas," ia berpegangan pada lengan kokoh Andro, kali aja lengan Andro lebih kokoh ketimbang podium sekarang, Naya bahkan sudah bersiap melompat bilamana diperlukan.



Padahal sebenarnya gadis ini tak perlu mengkhawatirkan podium, karena yang sedang dipijakinya sekarang bukanlah berbahan kayu rapuh macam di resepsi Salman. Kanaya kembali bisa tersenyum lebar karena tamu yang hadir sudah berlalu ke barisan mencourse, tangannya hampir lecek kaya duit pattimura kembalian terasi kebanyakan disalamin.



"Mas, aku mau ikut ngantri disana ya? Mas mau titip apa?" tanya Naya kembali dengan senyuman lebar.



"Apa aja," jawab Andro, namun kembali...senyum Naya harus luntur begitu Shania mencolek dan menahan tangan Kanaya untuk melihat arah telunjuknya, "keluarga dari Bandung, neng...."



"Andro menyemburkan tawanya melihat muka masam Naya, "sabar...biar aku yang panggil Upa atau kakak--adek."


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2