Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 69. OON'NYA SI GEMBLONG


__ADS_3

Wati keluar duluan untuk mengangkat panggilan dari ibunya, emak-emak paling seneng kalo anak yang jauh pulang, terutama ibu Wati. Seneng, soalnya dompet berjalan udah balik, bisa minta ini-itu.


Bapak memutuskan untuk menunggui teh Marni di rumah sakit. Sementara di kampung sana gadis kecil tengah merengek ingin bertemu sang ibu.


"Enin, hayuk atuh Upa mau liat mamah! Hayuk atuh enin, Upa mau pake baju bagus, mau bilang sama mamah kalo Upa punya maenan baru."


Ibu hanya mengulas senyuman terhangat untuk cucu tersayang, "Upa, kata abah... mamah lagi disuntik dulu, kalo Upa nyusul mamah sekarang, nanti Upa ikutan disuntik....mau?" gadis kecil itu menggeleng seraya mendekap barbie pemberian Andromeda dan Naya, mengecup kepalanya sekilas.


"Terus kapan Upa bisa ketemu mamah, nin? Katanya disana juga ada ceceu sama om Andro?" gadis ini begitu tak sabar untuk menemui orang-orang terkasih yang ia tau jika sedang bersama mereka, ia selalu dimanjakan.


"InsyaAllah, nanti kalo abah telfon ke nomor bu Dewi kita ke Jakarta," jawab ibu, sebenarnya dalam hati ia pun begitu ingin pergi menemui Marni, ingin mengetahui kondisi putri tertuanya, seperti apa.



Andro masuk ke dalam kamar inap teh Marni, "Nay, mau pulang sekarang?" tanya Andro. Sebenarnya Naya ingin berlama-lama disana, tapi mendengar ajakan Andro ia cukup tau jika suaminya itu mau ia pulang bersamanya.



"Pak, teh, pak Akbar, Naya sama mas Andro pulang dulu, besok Naya kesini lagi," pamitnya meraih punggung tangan bapak, kemudian tangan teh Marni.



"Iya ceu,"



"Pak, biar nanti untuk makan akan ada karyawan cafe yang anter makanan kesini, jadi bapak ngga usah beli keluar."



"Makasih Ndro," jawab bapak.



"Ceu, Andro makasih banyak." Teh Marni berkata lirih.



"Sama-sama," jawab Andro, teh Marni memandang Andromeda dan tersenyum simpul, jika saja Andro bukan suami adiknya, mungkin ia akan jatuh cinta, Andro terkesan tak banyak bicara namun entahlah! Ada hal tersendiri yang membuat wanita siapapun akan tertarik macam kumbang.



"Pak, salamin buat Wati. Naya pulang dulu..."



Setelah kepergian Naya dan Andro, Wati ikut pamit undur diri, "si ceceu mana?! Meni sombong, punya suami aki-aki aja di dekepin terus! Sampe ngga pamit sama temen sendiri!" kesalnya manyun.



"Nanti di Cianjur ketemu lagi, Wat." balas bapak.



Beberapa hari teh Marni berada di rumah sakit, dan Gemilang langsung mengirimkan tim lawyernya selagi ia dalam perjalanan ke Jakarta dari kota angin mamiri setelah menyelesaikan kasus yang ditanganinya.


Shania dan Arka berniat menjenguk Marni hari ini ditemani Naya, kondisi Marni sudah jauh lebih baik sekarang. Pihak kepolisian dan KBRI pun beberapa kali datang untuk meminta pihak rumah sakit melakukan visum dan kesaksian Marni.


"Gem hari ini ke rumah sakit, Ndro?" tanya Arka.


"Iya, yah. Sebenernya timnya udah di Jakarta dari 2 hari yang lalu, tapi Gem baru sempet ke Jakarta hari ini, katanya kasus yang dipegangnya baru selesai kemarin," jelas Andro.


"Berarti bareng Gem, nanti biar Gem istirahat disini aja ya mas," timpal Shania bertanya pada Arka.


"Ya suruh disini aja lah." balas opa kece ini merapikan kemejanya.


"Wati udah dikasih tau kan, Nay? Kalo Gem minta Wati datang," tanya Andro.

__ADS_1


Naya mengangguk seraya melahap sarapannya, "udah mas."



Dimana ada emak, disitu ada kehectican, Shania tak pernah lupa membawa buah tangan jika akan menjenguk, sampe-sampe Naya ikut keteteran membawa makanan dari mertua untuk kakaknya itu.



"Mas hari ini ke cafe?" tanya Naya.



"Iya. Nanti siang mas mau ajak kamu," Andro mengambil satu paper bag yang dibawa Naya dan menaruhnya di bagasi.



"Kemana?"



"Liat kampus," jawabnya singkat. Naya mengangguk paham, otewe mahasiswi!



Sekarang Naya tau caranya agar meredakan sedikit rasa mual saat berkendara, setidaknya jarak dari rumah ke rumah sakit ia tak sampai memuntahkan isian perut.



Keempatnya berjalan menuju ruangan inap Marni, melewati beberapa bangsal dan ruang periksa dokter, hingga tatapan Naya sempat jatuh pada pasien-pasien yang menunggu di koridor bernuansa pink dan hijau mint, perut mereka buncit berteman pasangan.



Ia terkekeh kecil, mungkin sebentar lagi ia lah yang akan duduk di ruang tunggu itu, tak terhitung sudah berapa ribu kecebong Andro yang masuk ke dalam dirinya.




"Sebentar lagi juga kamu gitu," entengnya berbicara.



"Sambil kuliah gitu, bawa-bawa nyawa balonan gitu?! Ngga kebayang," jawab Naya menggelengkan kepala.



"Kalo gitu kamu harus sering sharing sama momy sama kak Gale," angguk Andro.



Kanaya mengernyit, "kenapa?"



"Mereka survivor pendidikan di tengah perut buncit!"



"Iya gituh?!" Naya cukup terkejut dengan jawaban Andro.



Andro mengangguk dalam, "waktu masuk semester 7-8 momy mengandung mas, kak Gale apalagi... waktu ikut tes UTBK perutnya lagi buncit si kembar,"



"Waww!" Naya terkikik kagum.

__ADS_1



"Kamu harusnya bersyukur, mas kasih kamu kompensasi, hamilnya waktu udah kuliah, bukan pas tes!" Andro terkekeh, yang sontak dihadiahi pukulan di lengannya oleh Naya, "bangga!"



"Assalamu'alaikum!" Kanaya masuk bersama Andro, Arka dan Shania.



"Wa'alaikumsalam."



Marni dapat melihat betapa beruntungnya nasib Naya yang dikelilingi oleh orang-orang baik, *teteh selalu berdo'a ceceu selalu bahagia*.



"Ceu, mertua kamu teh meni baik pisan. Beruntung kamu ceu, harus bisa bawa diri," ujar teh Marni. Terang saja, momy Sha bawa buah tangan seabrek-abrek mirip mau nengokin korban bencana alam.


"Iya teh. Teteh kapan pulang? Gimana sama Upa, ya?! Pasti heboh pingin kesini." Naya duduk di kursi samping Marni, sementara bapak, Arka, Andro dan Shania bercengkrama di kursi membicarakan masalah perkembangan kasus selagi menunggu Gemilang.


"Aduh, momy mah pengen ke toilet, sebentar!" ujar Shania beranjak ke arah toilet.


Drrtttt!


Tertera nama Gemilang memanggil di layar ponselnya, "yah, Gem kayanya udah di depan. Andro jemput dulu!"


"Iya." angguk ayah.


"Kenapa, mas?" tanya Naya.


"Bang Gem udah di depan lobby, mas jemput dulu."


"Oh iya,"


"Mau sama bapak aja, Ndro?" tawar bapak, Andro menggeleng, "ngga usah pak, biar Andro saja."


"Oh ya sudah."


Andro meninggalkan kamar inap menuju lobby rumah sakit bersamaan dengan Wati yang ternyata sudah datang, "assalamu'alaikum everybody! Salam ya ukhti ya akhi!" sapanya berseru meriah, arah pandangannya langsung menyapu ruangan dimana ada bapak, teh Marni, Kanaya dan....sosok bapak tua asing.


"Ceu! Ini suami kamu?!" hebohnya langsung nyelonong masuk ruangan mirip bebek abis itu nyosor makanan orang terus aja b3rak dimana-mana.


"Hay! Saya Wati, temen ceceu! Maaf waktu nikahan ngga datang, biasalah kalo wanita tangguh, pahlawan devisa, tulang punggung keluarga mah lagi mencari sesuap nasi di negri orang!" jelasnya panjang bervolume pada ayah Arka.


Naya melongo di tempatnya, bukan hanya menegur, Naya bahkan sampai melepas flatshoesnya pada Wati.


PLUK!!!


"Aww ih! Apa-apaan sih ceu?! Masa nyapa suami kamu aja ngga boleh?! Ya kan pak, eh apa ya saya manggilnya, ayang'nya Naya..." Wati tersenyum simpul, bapak Acep sampai blank harus bagaimana selain dari menggertakan giginya pada Wati.


"Ai kamu apa-apaan Wati?!" sungut Naya melotot.


"Aduh yah, maaf ya..." ujar Naya meringis tak enak hati.


Tapi Wati bukannya sadar dengan aksi kedua bapak dan anak ini malah semakin liar berbicara, "aduhh ya Allah, meni sweet ih! Manggilnya sampe ayah-ayahan! Ayah bunda atau ayah sayang?" ia menepuk-nepuk pundak Kanaya dengan gemas, Arka hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya tersenyum tipis.


"Gemblong! Eta teh mertua Naya!!!" teriak Kanaya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2