Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 38. CALON BESAN MAU DATANG NIH!


__ADS_3

Andro mengangguk menyanggupi syarat dari pak Acep, membuat Kanaya menganga dibuatnya. Bukan karena tak percaya dengan mahar di luar Nurul yang kurang aj ar permintaan bapaknya yang ngga ada akhlak, atau Andro yang sanggup untuk memenuhi itu. Kanaya percaya Andro akan sanggup karena yang akan diminta bapaknya tak akan sampai membuat Andro langsung jatuh miskin apalagi sampai minta saham Pawon Kurawa, ia tau watak bapak yang ber'otak dangkal tak akan sampai kesitu pikirannya, banteran minta juga sejumlah uang, sawah, rumah atau kambing.


Tapi Naya masih tak percaya jika Andro mau-maunya menikahi dirinya yang bukan siapa-siapa, hanya untuk menolongnya.


Wajahnya mengenaskan bak tahu bejek, di kurung bapak sejak kejadian deal tadi, agar ia tak kabur kemanapun lagi. Bahkan sejak perdebatan hebat pagi menuju siang tadi, ia langsung diseret masuk ke dalam kamar oleh bapak membuat ibu, Upa dan pak Akbar histreris kaya abis liat adegan horor. Sementara Andro, kini berada di rumah pak Akbar dan mungkin ia sedang mengatur teknis acara lamaran.


Kanaya mendengus kesal, kali ini ia benar-benar tak memiliki muka di depan keluarga Andro, mukanya digadaikan bapak untuk sebidang tanah berikut bangunan beserta isinya. Apa yang akan ia katakan pada Shania dan Arka nanti saat bertemu? Rasanya maaf saja tak akan cukup, apakah hidupnya akan seperti tokoh-tokoh protagonis terzolimi di sinetron ikan terbang, pintu doraemon? Menantu yang tak diharapkan. Kanaya menunduk lesu. Apakah nantinya Shania akan merebusnya lalu mengecor tubuhnya dengan semen? Hahaha! Bisa jadi!


"Ceceu," panggil Upa dari balik pintu kamar. Suara kecil itu selalu mampu membuat Naya menurunkan ego.


"Iya..."


"Abah kenapa marah-marah terus sih sama ceceu? Kenapa ceceu dikunciin, Upa mau masuk tapi kata abah ngga boleh..." adunya, bocah perempuan itu sudah siap dengan baju muslim dan kerudung berwarna birunya, membawa serta sebuah Iqro dan alat penunjuk bacanya.


Kanaya tersenyum mendekati pintu kamar, lalu duduk disana, "iya. Abah marah sama ceceu karena ceceu nakal, ngga pulang kemaren...ngga apa-apa, malam ini Upa bobo sama enin aja dulu ya, mungkin abah lupa naro kuncinya dimana..." jawab Kanaya, ia tak ingin menanamkan sifat dendam dan benci di diri Puspa atas bapak.


"Kalo gitu Upa ngaji dulu ya ceu," pamitnya.


"Iya. Bilang mang Arif, jangan lupa jemput Upa dari tajug, jangan repotin terus a Sigit." Pesan Naya pada keponakannya.


Dari tempatnya Upa mengangguk, "iya ceu." Hingga terdengar teriakan Upa yang telah menjauh, "mang Arifff! Kata ceceu----"


Shania terkejut di tempatnya, saat Andro tiba-tiba pulang dan memantik huru-hara dengan mengatakan jika ia ingin meminta keluarga datang untuk melamar Kanaya, secepatnya. Bahkan baso yang sedang ia makan sampai lompat dari mulutnya pengen ngajak dangdutan.



Andro membuka kemeja, menyisakan t shirt hitam band Gun's and roses. Seperti kebiasaannya yang langsung menyerbu kulkas demi mengambil air mineral dingin.



Arka sang ayah saja sampai mengerutkan keningnya berlipat-lipat mirip crepe mille.



"*That's my nephew*! Tos!" seru Roy.



"Tunggu dulu!" sela Melan, "maen tos aja! Dikira bolu ketan, dadakan gini?!"



Hendra yang menemani Melan disana ikut bersuara, "weits! Anak gadis buntung mana nih Ndro?" ia mengambil sebotol air mineral lain dari kulkas dan bergabung menyender di mini bar area dapur bersama Andro dan menepuk-nepuk pundak Andro sambil terkekeh, "akhirnya jagoan ayah Arka niat kawin juga, ini nih yank...gong'nya Kurawa Pandawa! Pasti lah nikahannya lebih mewah dari nikahan anak presiden!" tawa Hendra.



"Beruntung abang, ah! Buntung!" omel Melan.



"Orang Anjurwater country," jawab Shania membuat Hendra bingung, kawasan itu di sebelah mananya Indonesia? Kini Shania mulai menghubungi satu persatu personel Kurawa lainnya dan Galexia, meminta mereka untuk datang ke rumah. Jika kemarin-kemarin Kanaya membuat heboh satu kampung Giri Mekar, maka kini Andro yang membuat heboh Kurawa dan Pandawa, dan ini lebih dahsyat dari kerusuhan Mei 98. Melan tertawa melihat kerutan di dahi suaminya, "Cianjur, sayanggg... Ci itu kan Cai...alias air," jelasnya.



Hendra tertawa mendengar penjelasan konyol itu, "sesadhhh---sesadhhh!"



Satu persatu Kurawa dan Pandawa berdatangan, rumah mak Malin ini udah mirip kaya bale desa yang lagi pemilihan lurah, rame! Andro sampai pusing dibuatnya, niat hati hanya ingin melamar Kanaya secara sederhana dan hanya keluarga inti saja tapi yang datang udah kaya supporter timnas Indonesia.


"Wih, adek ketemu gede gue akhirnya married juga! Gue kira nunggu gue janda dulu," tawa Lila dicebiki Faisal, "omongan lo astaga! Gue aduin sama laki lo,"


"Ih jangan! Becanda gue!" manyun Lila.


"Kapan rencananya, Sha?" tanya Inez.


"Besok onty," jawab Andro, semakin membuat emaknya mengurut jidat, mendadak ia pusing 7 putaran.


Byurrrrr!


Gale menyemburkan air minum miliknya ke arah si kembar, "bunda ih!"

__ADS_1


"Yang bener aja! Lo pikir lagi jajan cilor gitu?! Lo tuh mau lamar anak gadis orang njirrr! Bukan lagi minta jambu orang, gue belum ajuin cuti, abang juga punya janji temu sama pasien-pasiennya?!" protes dilayangkan kakak cantik satu-satunya.


"Tahu bulat! Di goreng dadakan, gurih-gurih enyoy!" tawa Ari mencomot keripik sambil bernyanyi.


Ia mengacungkan keripik di tangannya, "yang dadakan emang paling gurih ya Ndro?!" Hap! Keripik ia lahap dan kriukkk---kriukkk, "anjirrrr gigi gue!"


Leli dan Niken tertawa, "aki-aki ngga tau umur!"


"Mas, gimana atuh?! Jangan diem aja...anak mas tuh mau minta anak gadis orang, masa kaya gitu sih?! Kita belum siap-siap loh!" adu Shania dengan menukikan alisnya.


Arka menghela nafas, bicara di depan personel Kurawa dan Pandawa tak akan bisa serius dan selesai.


"Bisa ayah ngomong sebentar?" Arka beranjak dari duduknya dan berlalu duluan ke arah ruang kerjanya, semua penghuni disini mendadak diam, hanya suara anak-anak saja yang berisik main bareng si denok dan family.


"Wah! Wah! Kalo pak Arka udah turun, masalah kelaarrrrr!" ujar Guntur.


"Sha ikut, mas!" ia ikut beranjak. Gale ikut mengekor ke arah ruang kerja Arka.



Andro duduk di kursi sofa yang ditaruh later L dekat dengan rak-rak berisi buku-buku koleksi ayahnya. Frame besar menjadi suguhan pemandangan utama ruangan ini, dimana fotonya dan Shania yang melakukan fotoshot saat kehamilan keduanya dulu. Shania tampak masih cantik sampai sekarang untuk Arka.



Arka duduk di kursi kebesarannya, satu keluarga inti dan utuh dimana mereka sudah berbeda dari puluhan tahun lalu. Ia yang sudah pensiun dari jabatan kepala sekolah, semakin hari semakin tua. Shania tersayang meskipun tak berubah keabsurd'annya namun sudah menjadi wanita dewasanya yang sukses jadi bussines women sekaligus istri dan ibu yang the best, sesuai cita-citanya dulu, *the best wife and mother every year*! Galexia yang telah menjadi seorang dokter spesialis anak, dan Andro....yeah! Ia adalah tumpuan Arka, Arka menggantungkan seluruh impiannya pada Andro.



Bujangnya itu sudah menjadi seperti apa yang dicita-citakan, hanya satu yang belum yaitu memiliki pendamping, lalu sekarang....mungkin sudah saatnya Andro memiliki pasangan hidup yang akan mengurusnya, melengkapi ibadah separuh agamanya.



"Kamu sudah bicara dengan keluarga Kanaya?" tanya Arka.



"Udah yah."




"InsyaAllah, kalau ayah sama momy juga kak Gale merestui..." jawabnya. Gale manyun karena ia bingung sendiri dengan acara dadakan Andro, bisa-bisanya Andro menganggap remeh moment sepenting ini.



"Ya sudah. Besok kita datang....kosongkan jadwal kamu, mii..." ujar Arka pada Shania.



"Mas ih! Ini gimana, kita belum siapin apa-apa loh!" serunya sewot.



"Mii, kalo untuk permintaan bapak Kanaya...udah Andro urus." Balas Andro.



Arka menatap Andro dengan alis menukik, "apa yang beliau dan Kanaya minta?"



"Kanaya tidak meminta sepeser pun, apapun yang Andro bawa dan berikan sekalipun itu hanya barang bekas bakal ia terima. Justru ia titip pesan buat ayah, momy, kak Gale sama onta Deni dan onta Guntur tadi....katanya minta maaf." jeda Andro cukup tercekat dengan jawaban Kanaya saat ia menanyakan mahar, termasuk Shania dan Gale yang bergumam, "ya Allah."



"Bapak Naya meminta hunian, hewan ternak dan sawah."



Gale melongo, "njirrrr! Itu---" ucapannya terpotong oleh tatapan Arka.

__ADS_1



Sementara Shania tau apa yang terjadi sebelumnya, "kamu yakin Ndro?"



"Yakin, mi." Jawab Andro, ia tau ketakutan orangtua dan kakaknya.



"Rumah tangga itu bukan hanya menyatukan dua insan, Andro. Tapi juga dua keluarga...apa kamu yakin keluarga Kanaya bisa satu frekuensi sama keluarga besar kita?" tanya Gale.



"Yakin." Andro menatap kakaknya dengan mantap.



Gale menghirup nafas panjang, "oke kalo lo yakin. Gue yakin lo ***pinter! Ngga akan sampe di bo do-bo doin orang***," jawabnya memiliki artian sesuatu yang Andro, Shania dan Arka mengerti dan setujui.



"Jadi...kita bawa apa? Masa momy ngga bawa apa-apa sama calon besan?!"



"Bawa saja yang kita punya, apa adanya..." Arka kini ikut beranjak dari kursi.



"Besok, biar beberapa saja yang ikut. Jangan semua, Pawon Kurawa harus ada yang handle...jangan merepotkan mereka yang memang punya kerjaan penting," lanjut Arka.



"Iya mas." angguknya ikut keluar, namun baru sedetik keluar dari ruang kerja Arka ia sudah berteriak heboh, "Mel!!! Coba tolong telfon jewelry langganan lo! Si nci siapa tuh namanya yang mirip pacarnya si boboho?! Gue mau dateng kesana sekarang, siapin satu set emas putih!"



"Oceh!" jawab Melan.



"Asik, emak gue mau mulung mantu!" seru Guntur.



"Mulung darimana, Tur?" tanya Roy.



"Dari.....Dari matamu kulihat-kulihat...."



"Ada belek!" Seru Pandawa meneruskan.



"Saravvv njirrr ah! Udah pada punya buntut anak--cucu juga masih pada ngga waras," gumam Gale mengomel sambil terkekeh.


.


.


.


.


.


Noted :

__ADS_1


\* tajug : masjid kecil.


__ADS_2