
Helaan nafas hampir tak terdengar, Naya mendorong pintu kaca sebuah apotek, ia juga meminta pak Samsul mengantarnya dahulu ke toko jamu.
"Pak, nanti mampir dulu ke toko jamu ya..." katanya diantara deru angin siang. Siang ini Naya dijemput pak Samsul karena Andro masih di Angkringan.
"Siap neng,"
"Mobil siapa ini pak?" tanya nya berbisik selagi pak Samsul memasukan motor ke dalam.
Lelaki paruh baya itu menggidikan bahunya, "kurang tau neng, mungkin mobil partner bisnis ibu atau bapak," jawabnya mendapat anggukan dari Naya.
Naya mengurungkan niatannya masuk lewat pintu depan, kelihatannya momy Sha sedang bertemu dengan partner bisnisnya, ia lantas nyempil-nyempil diantara mobil dan motor di dalam garasi dan masuk lewat sana yang langsung ke dekat dapur.
"Bi, bi Yani...." ketuk Naya, karena ternyata pintunya dikunci.
*Ceklek*
"Kenapa atuh neng lewat sini?"
"Ada tamu, ngga enak lewatnya." Naya membawa serta kresek miliknya, dilihatnya si kembar di belakang menikmati minuman dingin dan camilan selepas pulang sekolah di area taman belakang bersama Gale dan Arion.
"Assalamu'alaikum!"
"Kak Kartini! Wih bawa apa tuh?!" tembak Afifah merujuk pada keresek.
"Ih jangan ini lah! Ini mah rahasia perusahaan!" Naya menyembunyikan kereseknya di balik badan.
"Cih, pelit! Liat doang!" ujar Aliyah manyun.
"Maaf, usia anda masih di bawah umur, jadi demi kesehatan jiwa dan raga mendingan nanti aja kita jajan di luar! Kalo mau Naya traktir sih, mumpung pada lagi disini!"Naya menawarkan dan memberikan pilihan agar para keponakan Andro ini tak kecewa.
"Mau! Beneran ya kak?!"
__ADS_1
"Bener! Tapi bentar dulu, Naya ganti baju sama istirahat bentar lah capek!" keluhnya diokei si kembar.
"Oke, salaman dulu takut ngga jadi?! Deal, ya!" pinta Afifah disambut tangan Naya.
Ia lantas membawa barang-barang miliknya ke atas dan masuk kamar, tak sabar untuk segera mencoba dan mengetahui faktanya. Jika memang rejekinya dan Andro mungkin hasilnya akan dua garis.
Tanpa ba bi bu, Naya masuk kamar mandi dengan membawa tes kehamilan.
"Hoft! Bismillah!" Ia membuka celananya dan mengambil cup kopi yang tadi ia bawa sebelumnya dari dapur.
Tangannya mendadak dingin membuka bungkusan tes kehamilan, besar harapannya positif, menurut artikel yang ia baca tadi anak adalah sebuah tali tak kasat mata yang akan lebih mengeratkan ikatan tali pernikahan, dan tentu saja kehadiran buah hati akan menjadi *alat keharmonisan* tersendiri bagi pasangan menikah.
Naya mencelupkan dengan tangan yang bergetar, lebih mendebarkan ketimbang saat ia mengharapkan diterimanya di universitas kemarin.
1 menit, 2 menit hasil mulai keluar. Namun sampai menit ke 10, Naya menunggu tak ada garis tambahan di samping garis pertama.
Air mata lolos begitu saja, saat ia mendudukan diri di atas closet dengan badan loyo.
Naya terisak dan mengusap jejak-jejak air matanya, do'a yang baik versinya ternyata bukan yang terbaik untuk nasibnya. Seharusnya do'a nya adalah meminta yang terbaik dan menyerahkan semuanya pada Kuasa Tuhan.
Ia baru sadar, jika dulu ia terlalu egois. Yang menurutnya rencana terbaik ternyata ia sesali kini.
Andro memarkirkan mobilnya di carport, aga sedikit kesulitan mengingat disana ada 2 mobil lain.
"Ya, mundur dikit mas! Op! Sip!" pak Samsul mengangkat jempolnya di udara, Andro keluar dengan menenteng laptop dan ponsel, "Naya udah pulang, pak?"
"Udah mas tadi," angguknya, diangguki Andro, "makasih pak, maaf ngerepotin."
"Oh ngga apa-apa mas,"
"Buat uang rokok," ia menyerahkan selembar biru pada security rumahnya itu.
"Waduh, makasih mas matur nuwun!" Andro mengangguk singkat dan masuk.
"Om gans kuhhhh!" si kembar menyalami om kesayangan begitupun Arion yang sudah bisa berjalan meskipun masih belum bisa berjalan dengan baik masih oleng-oleng kaya perahu, ia tak mau kalah dengan kedua kakaknya yang berlari, seraya nyengir menampakan gigi-gigi susu yang hampir penuh dan saliva menetes-netes saking excitednya ketemu ayah keduanya.
__ADS_1
"Hay jagoan! Le, ini Arion lo seka kenapa sih!" tangannya menaruh laptop di pantry terlebih dahulu dan meraih tissue untuk membersihkan saliva Arion.
"Om, kakak Kartini suruh cepetan keluar kek. Lama amat tidur apa gimana? Katanya mau ngajakin jalan sambil jajan?!" pintanya pada Andro.
"Masih capek kali, ih kalian berdua tuh! Kak Naya baru balik ngampus, bentar lagi juga keluar!" Gale buka suara.
Andro kembali berdiri dari posisinya dan menyerahkan tissue pada Gale, "Naya udah lama balik?"
"Engga terlalu lama juga, lagi ganti baju atau rebahan kali!" Gale menggendong Arion dan kembali ke halaman belakang, demi melihat tanaman-tanaman dapur dan apotik hidup yang mulai tumbuh, "Ndro, ini siapa yang nanam? Naya?!" tanya Gale.
"Iya." angguk Andro langsung melesat ke lantai atas.
"Nay," lirihnya memanggil.
Naya tersadar dari lamunan dan bergegas membereskan cup kopi juga bungkus tespeck.
"Iya mas!" ia membuang semuanya ke tempat sampah lalu memasukan alat berhasil megatif itu ke dalam saku celana. Ia menyeka seluruh wajahnya dengan air dan pembersih muka.
Namun tetap saja tak dapat menyembunyikan raut kusutnya.
Pintu kamar mandi terbuka sedikit demi sedikit, "mas mau aku ambilin minum sama baju ganti?" tanya Naya bergegas menghindari kontak mata langsung dengan Andro. Namun Andro tau ada yang tak beres dengan istrinya, pasalnya wajah Naya agak sembab.
"Coba sebentar," ia menahan lengan Naya dan menariknya agar bisa melihat wajah istrinya itu, "kenapa? Kamu nangis?"
Naya menggeleng, "engga, Naya ketiduran kayanya mas..." ia berkilah.
"Di toilet?" tanya Andro sangsi, dengan wajah datar, mode-mode jutek Andro, tangannya masih enggan melepaskan tangan Naya, dan justru lebih intens nan dalam memandang Naya.
"Mas," Naya menghambur memeluk Andro lalu kembali menumpahkan rasa kecewanya.
"Naya negatif mas," ucapnya teredam dadha Andro.
Ia memang tak percaya diri sekarang, ucapan Bela cukup menyentil hatinya, membuat Naya takut jika ia belum bisa memenuhi keinginan Andro bukan tak mungkin Andro akan mencari wanita lain yang lebih segalanya dari Kanaya.
Andro mendengus terkekeh, "kirain kenapa,"
"Mas tuh gimana sih! Berarti kan yang telat berapa lama ini cuma php, Naya belum bisa kasih mas anak dalam waktu dekat." dumelannya keluar.
"Jodoh, rejeki, anak, itu semua ketentuan Allah. Manusia cuma bisa berencana, berdo'a dan berusaha sisanya biar tangan Tuhan yang bekerja," jelas Andro.
"Ngga usah mewek cuma gara-gara hal kecil, masih banyak waktu buat berusaha. Yang ngga ada waktu lagi tuh, di bawah....kakak sama adek nungguin kamu dari tadi, katanya kamu ngajakin mereka jalan sambil jajan?"
Kanaya membeliak, "Naya sampe lupa, mas! Iya, ya..."
"Mau jalan kemana?" tanya Andro, Naya menyeka hidungnya dengan mengusapkan pada kemeja di bagian dadha Andro, "ngga tau mas, tadi sih cuma ngasal ajak aja, biar kakak adek ngga kecewa karena Naya ngga ijinin liatin kresek punya Naya."
"Emang kamu abis beli apa? Tespek?"
Naya mengangguk, "ada jamu manja kani juga mas,"
Andro tersenyum usil, siapapun yang membuat Naya memikirkan hal se-privat itu, ia berterimakasih! Kalo perlu Andro akan beri voucher makan gratis di Route 78.
.
.
.
.
__ADS_1
.