Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 75. SARJANA I'M COMING!


__ADS_3

Gebethhh!


Naya dengan rambut basah sehabis mandinya mengibaskan air dari baju-baju yang baru saja ia cuci.


Terbiasa mencuci dengan tangan, Naya menolak modern! Shania yang melihat menantunya mencuci sambil jongkok di kamar mandi sepulang dari Giri Mekar sempat menyuruh menantunya itu menggunakan mesin cuci namun Naya menolak katanya baju yang barusan ia pakai kotor karena tanah jadi harus disikat.


Langit malam ini cukup indah meski tak banyak di hiasi bintang, dengan sesekali baju basah yang ia gantung tertembak udara malam. Hanya bajunya dan baju Andro, tak banyak.


Naya membawa kembali ember masuk ke dalam dan menutup pintu. Di ruang tengah, momy dan ayah lagi debat masalah berita nasional yang sedang ditayangkan. Sementara bi Yani sudah masuk kamar, mengingat jam bangunnya yang awal.


Ia melangkahkan kakinya ke lantai atas untuk masuk kamar, namun perhatiannya teralihkan melihat ruangan berisi suaminya yang tengah fokus di depan laptop.


Naya lantas masuk ke dalam ruang kerja Andro dimana pintunya terbuka sedikit. Sejak ia menginjakan kakinya di rumah ini, Naya belum pernah sekalipun masuk kesini.


"Mas, masih kerja ya?"


Andro mengalihkan pandangan ke arah Naya datang, "iya."


"Sini," Andro jelas sedang meminta Naya untuk duduk di pangkuannya, karena ia menggeser kursi dan memberikan ruang agar Naya bisa duduk.


Aroma tubuh Naya lembut menyapa bersama kulit lembut istri usilnya itu, "congrats! Istri mas akhirnya camaba...." Andro menggeser laptopnya menghadap Naya dengan ia yang menempelkan wajahnya di lengan Naya.


Naya tersenyum lebar, "finally! My dreams come true! Satu persatu cita-cita Naya mulai keliatan hilalnya," jawab Naya.


"Aamiin," angguk Andro mengecup kulit semulus pualam.


Naya menoleh ke arah Andro dan menggeser duduknya sedikit, kedua tangan yang masih harum pelembut pakaian itu menangkup wajah tegas Andro.


"Makasih mas, udah datang di hidup Naya. Udah bikin Naya percaya lagi sama cinta dan lelaki." Naya dengan beraninya mengecup lembut kening Andro, matanya bahkan terpejam demi mengingat awal perjumpaan dengan Andro yang terbilang memalukan, ia mengu lum senyumannya, menahan tawa saat potongan moment di kebun juragan Jamal terbayang, saat ia menganggap Andro ka cung Jepang.


"Jangan seneng dulu," jawab Andro, Naya melepaskan kedua tangannya dari wajah Andro, "mas bisa ngga sih jangan ngerusak moment? Selalu aja ih!" bibirnya mengerucut. Andro tertawa renyah lalu mengeratkan tangan yang melingkari pinggang Naya, "bisa kan kamu ngucapin makasihnya geser ruangan dulu? Ke kamar gitu?" tanya Andro.


"Mas ih, kesitu terus ujungnya!" gumam Naya tau sifat mesum Andro.


"Kan emang ke situ tujuannya, bener kata Wati, noda kerak nerakanya harus penuh!" jawab Andro.


"Mas Naya belum datang bulan," bisik Naya.


"Harusnya tanggal berapa?" tanya Andro.


"Harusnya 2 hari yang lalu, tapi nanti tunggu aja kalo udah agak lamaan, takutnya bukan karena hamil tapi karena lagi telat aja...." jelas Naya tak mau Andro berharap lebih saat ini.


Andro mengangguk paham, "iya. Tunggu aja, jangan terlalu terburu-buru."


"Terus kapan mas ada waktu buat ajarin aku motor? Karena ngga mungkin Nay minta anter jemput terus mas Andro."


"Lusa sore aja, mas ada waktu. Kita belajar di komplek rumah aja, lumayan mulus jalannya ngga terlalu rame juga," ia beranjak dengan menggendong Naya keluar dari ruangan setelah sebelumnya mematikan laptop.


Ia turun dari jok belakang yang spacenya sempit, namun tak masalah karena Andro adalah mahromnya.



Hari ini Andro memilih mengantar Naya terlebih dahulu. Naya meminta untuk diantar dengan motor Andro saja dengan dalih agar tak terlalu macet juga untuk mengingat jalanan yang akan ia lewati nantinya setiap hari.



Wanita ini menyapukan pandangan ke area kampus yang cukup besar, dimana ia akan berkuliah nantinya. Naya begitu excited!

__ADS_1



Lahan parkiran yang berada di depan melewati gerbang utama kampus, Andro sengaja membawa Naya berjalan dari sana agar wanitanya itu dapat mengeksplore area kampus yang akan menjadi tempatnya menuntut ilmu nantinya.



Langkah Naya sesekali melambat saat ia mengingat gedung yang dilewati. Mulai dari Fakultas agama, gedung rektorat sampai foodcourt dan Gor yang ternyata tak jauh dari gedung fakultas pasca sarjana serta fakultas pertanian.



Kampus ini cukup lengkap bahkan sampai memiliki stadion sepakbola dan rusunawa asrama putra.



"Berarti nanti fakultas Naya yang ini ya, mas?! Ngga terlalu jauh lah!" tunjuknya ke arah fakultas pertanian. Banyak pula mahasiswa yang berlalu lalang disana, dan Naya akan menjadi bagian dari mereka.



Fokus Naya buyar ketika seseorang menyapa keduanya, "Andromeda."



"Lagi apa disini? Ini...." tunjuknya pada Naya.



"Bel," angguk Andro singkat, "ini istri saya, Naya..."



"Ohh, waw! Ini!" ia mendekat dan memperhatikan Kanaya dari atas sampai bawah, seolah sedang mencari kekurangan Naya dan kelebihan Naya, "sorry! Aku lupa kalo kamu udah nikah....sorry ngga datang, kemaren Bela ada acara seminar di kampus luar kota, terus sibuk banget periksa tugas mahasiswa soalnya jadi ngga sempet ke rumah atau ke Route 78 buat ucapin. Tapi akhirnya ketemu disini...kenapa-kenapa nih ada yang bisa dibantu?" tanya nya.




"Ngga apa-apa. Kanaya kuliah disini," jawab Andro.



Wanita berpakaian rapi layaknya pegawai kantor ini mengangkat kedua alisnya, "oh, baru calon mahasiswa?" Andro dan Naya mengangguk.



"Fakultas apa, ambil prodi?"



"Pertanian, ambil agroteknologi." Jawab Naya. Naya menoleh ke arah Andro meminta penjelasan, "Nay, ini temen mas...Bela, dia dosen disini."



"Dosen fakultas ekonomi dan bisnis, sayang banget beda prodi jadi ngga bisa bimbing," jelas wanita itu, "calon penemu, pengembang atau konsultan pertanian nih," goda Bela, "udah regis ulang?"



"Ini baru mau," jawab Andro terlihat datar saja seperti biasanya, Bela mengangguk paham, "oke deh lanjutin aja, aku ada kelas bimbingan skripsi buat mahasiswa," jawabnya. Andro mengangguk singkat.

__ADS_1



"Dia temen apa mas?" Naya kembali berjalan bersama.



"Temen kuliah dulu waktu di kampus kuning," jawab Andro.



Naya berohria, ia bukan cemburu namun ada rasa seperti minder saat wanita itu menatapnya seolah meremehkannya, "temen mas hebat-hebat." akui Naya. Andro menghentikan langkah keduanya, "kenapa?"



"Kenapa apanya?" Naya bertanya balik.



"Itu tadi barusan mukanya ditekuk gitu?" tanya Andro.



Naya menggeleng, iya juga! Kenapa ia harus minder?! Kok gini sih?! Biasanya ia akan cuek bebek, tak peduli jika dunia menghujat dan mencibirnya sekalipun!



"Engga ah, perasaan mas aja kayanya! Panas ah cepetan jalannya mas !" Naya berjalan duluan.



Naya tersenyum lebar memegang kartu registrasi miliknya, setidaknya ia tak akan minder lagi jika bertemu dengan teman-teman Andro, ia akan mantap menjawab mahasiswi! "hoho, sarjana pertanian i'm coming!" teriaknya menciumi kertas itu membuat Andro terkekeh dan mengacak rambutnya.


"Ngga mau bilang makasih gitu?" tanya Andro, membuat Naya menoleh, "kan udah semalem."


"Terus ucapan makasihnya cuma gitu doang?"


Naya semakin mengernyit, "terus maunya apa?"


"Mas mau dipijitin nanti," jawab Andro menyinggingkan senyuman miring.


Kanaya menyipitkan matanya curiga, pasalnya lelaki dingin ini selalu mesum akhir-akhir ini tidak seperti ka cung Jepang seperti saat mereka pertama bertemu, si Candi Cangkuang yang judes.


"Dipijit doang kan?" tembaknya.


"Iya." jawab Andro.


Naya melebarkan senyuman, "oke! Naya pijitin nanti sampe mas tidur deh!" serunya bahagia.


"Kalo bisa pas mijit kamunya pake si merah," kekeh Andro langsung memudarkan senyum Naya.


"Kalo gitu mah bukan pijit aja!" Andro tertawa kecil, "udah siang. Mas mau ketemu Yudha dulu."


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2