Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 43. TAK PERNAH BERTELE-TELE


__ADS_3

Kanaya meminta ijin Andro untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Tak mungkin juga kan, ia mengantar Andro ke rumah pak Wahid dengan memakai kebaya.


Gadis itu back to nature, rok lipit selutut dan kaos yang dimasukan ke dalam karet rok beserta kepangan satu khas kembang desa di belakang sukses membuat Irvan berdehem akibat ampas kopi yang tak sengaja terseruput olehnya. Untung saja ngga nyeruput sama gelas-gelasnya, mungkin saja ia berminat gantiin personel debus!


"Ck, pantes si kalem datar kepincut! Cantiknya bukan pake pengawet, udah lulus uji bpom!" tawa Faisal berbisik diantara Lila, Andini, Irvan dan Gale.


"Bapak Ivan aja sampe niat matiin hape takut diganggu bini !"


"Hahahaha!" tawa Pandawa menggelegar termasuk Gale.


"Saravvv, engga weyy!" Irvan mendorong pundak Faisal.


"Ck," Gale berdecak, ngga tau umur! Berasa usia SMA aja kalo udah kumpul begini. Pandawa yang memilih santai, menjadikan acara hari ini ajang refreshing diri dari kegiatan padat di ibukota.


"Kapan-kapan emang harus sering ke tempat-tempat kaya gini nih, biar stress ilang!" Andini memutar tulang lehernya mengurai kepenatan dan ketegangan dari penuhnya jadwal pekerjaan.


"Sekalian bawa laki, Don.."


"Kuylah investasi beli tanah di kampung?!" ucap Irvan.


Lain Pandawa lain pula Kurawa yang justru kembali ke masa dimana mereka lebih muda lagi dari usia SMA.


"Coba jitak kemiri punya nya grandpa?!" ujar Roy pada anak-anak, krucil-krucil itu tertawa-tawa seolah menemukan permainan mengasyikan bareng grandpa Roy.


"Mau kemana Ndro?" tanya Shania yang terpaksa menoleh saat Kanaya mengekori Andro keluar bersama pak Akbar yang sudah pergi duluan sebelumnya.


"Pak, Naya mau pinjem sepedanya dulu sebentar...mau ke rumah pak Wahid bareng...ekhem.." tiba-tiba Kanaya tercekat, tenggorokannya seperti tak rela menyebut kata mas pada Andro, malu!


Kanaya menunduk dan menunjuk ke arah samping kanan belakangnya, "sama siapa neng? Akang sayang, baby, honey?" goda Guntur. Semakin saja wajah Kanaya memerah dibuatnya.


"Bareng pak Andro," Naya berucap, Andro memutar bola matanya, bapak lagi!


"Boleh," jawab pak Acep.


"Bwahahahah, fix! Lo berdua kembaran Sha!" Melan tertawa bersama Inez, pasalnya kedua orang ini yang paling tau untuk pertama kalinya bagaimana hubungan Shania dan Arka bermetamorfosis dari panggilan pak guru, pak Kalajengking, bapak, sampai mas sayang.


"Apa sih, Sha panggil mas Arka...sayang kok, ya mas ya?" kekeh Shania melirik Arka yang menatapnya meragukan, ia menarik sebelah alis ke arah istri nakalnya itu, "umur tua bikin amnesia makin menjadi ya mii?" tanya Arka yang sontak mengundang tawa Kurawa, sementara Shania mengerucutkan bibirnya.


Andro segera menarik Kanaya keluar, obrolan ini tak akan beres meski sampe lebaran mo nyet, jika keluarganya yang mengobrol.


"Dimana sepeda bapak?" tanya Andro masih memegang pergelangan tangan Kanaya yang kini sudah dihiasi untaian gelang cantik simbol pengikatnya. Bukan hanya pergelangan tangan, leher Kanaya pun nampak berkilau dari kalung emas yang menjuntai menggantung indah.


"Sebentar, Naya ambil dulu...soalnya ada di belakang," Kanaya segera ke samping rumah menuju halaman belakang untuk mengambil sepeda tua bapak.


Ban yang hampir gundul, dan cat besi terkelupas menjadi ciri khas sepeda bapak Naya. Gadis itu memapahnya sampai ke depan.


"Sepeda tua sih, tapi lumayan lah! Masih kuat kalo keliling kampung mah, daripada harus jalan kaki, agak jauh..." ujarnya.


"Bapak duduk di belakang aja, saya yang gowes deh!" tawarnya seraya naik ke atas jok sepeda dan menepuk jok boncengan di belakang.


"Masa kamu yang bawa?!" Andro mengerutkan dahinya tak terima.


"Emang kenapa, saya kuat kok?! Bapak udah pake kemeja, sepatu pantofel gitu sama celana, sayang kalo harus gowes sepeda..." balasnya.


"Yang bener aja, masa perempuan yang bawa, lagian nanti kaki saya ngegantung! Turun, kamu di belakang."


"Nanti kalo celana bapak robek lagi gimana?" tawa Kanaya.

__ADS_1


Andro berdecak, masih ingat saja!


"Engga, yang ini kuat saya gowes ngga akan sampai split...minggir biar saya yang bawa..."


Kedua insan ini malah rebutan sepeda di depan rumah, adegan ini tak luput dari pasang mata orang sekitar, entah disadari atau tidak seperti dunia ini hanya tercipta untuk mereka saja.


"Ya udah, tapi bapak jangan pake sepatu gitu...pake sendal jepit aja, soalnya ada jalan licin nanti di depan, lewatin pematang sawah dikit..." Kanaya mengambil sendal jepit milik bapak lalu menaruhnya di bawah kaki Andro, membantu Andro melepas sepatunya.


"Ck! Ck! Belum apa-apa udah bikin orang ngiler! Nikah lagi yuk sayang!" ajak Deni pada Leli, yang mendapat cebikan si bontotnya Kurawa itu.


"Aahhhh, abang ngga ikut ihhh! Gue mau meluk siapa kalo gini!" Gale hanya bisa memeluk Arion, dimana wajah Fatur terlukis jelas.


Gale mencapit kedua pipi anak bungsunya, "pulang yuk sayang, bunda kangen ayah!" ujarnya pada Arion yang mengulas senyuman lebar hingga memejamkan matanya.


Shania tersenyum melihatnya, akhirnya ketakutan dan kekhawatirannya selama ini berkurang, Andro menemukan seseorang yang ia yakini bisa melengkapi hidup Andromeda, ia menggantungkan harapan besar pada Kanaya.


Kanaya menaruh sepasang sepatu pantofel bersama sepatu lainnya di depan pintu rumah lalu kembali dan naik di boncengan sepeda.


Tangannya terulur merambat memegang ujung kemeja Andro, ada sengatan kecil yang menjalar menelusup ke dadha memicu reaksi pompaan da rah yang begitu cepat nan deras di area jantung, sepertinya Andro harus segera konsultasi pada kakak iparnya, jangan sampai ia mengidap penyakit yang sama dengan ayah Arka, padahal usianya masih muda.


"Udah, pak."


"Om Andro ikuttt!" teriak Afifah di ekori Aliyah.


"Eh jangan dulu, ini sepedanya ngga cukup!" jawab Andro pada twins.


"Tapi nanti kakak mau pinjem juga sepedanya, ya?!"


"Boleh, nanti Naya ajak kak Fifah!" tunjuk Naya ke arah Afifah, ia begitu berusaha keras mengingat yang mana Afifah dan Aliyah.


"Sama dek Liyah!" tunjuk Kanaya ke arah Liyah tepat.


"Bener! Udah ini ya, semoga pada belum pulang," jawab Naya.


"Ya udah, om pergi dulu sebentar. Jangan nakal...ajakin Upa main, titip yang lain, jangan diusilin!" tatap Andro ke arah kedua keponakannya, diantara mereka si kembarlah yang paling besar.


"Siap!"


Andro mulai menggowes sepeda keluar dari halaman rumah ke arah kiri.


Andro dan Kanaya tak sengaja berpapasan dengan sebuah motor byson yang dikenali Naya. Dan benar saja, sepertinya Salman baru saja menjemput Desi pulang dari bekerja.


Kanaya berusaha memalingkan wajahnya, hal itu sengaja ia lakukan karena malas melihat wajah Salman. Namun rupanya usaha Kanaya digagalkan oleh Desi yang melihatnya.


"Kanaya?!" sapanya seraya menepuk-nepuk pundak Salman beberapa kali untuk menghentikan laju motor. Mau tak mau Kanaya membalas sapaan Desi.


"Eh, teh Desi...a Salman? Apa kabar teh?! Baru pulang kerja?" basa basi bonengnya agar tak terlihat sombong atau arogan.


Salman menatap Kanaya dengan sorot mata penuh rindu, namun Kanaya yang menyadari itu tak mau lagi memusingkannya, ia telah menganggap tak memiliki urusan apapun dengan anak kades itu. Baginya kisah mereka telah usai tak perlu menyisakan apapun kecuali hikmah dari perpisahan.


"Iya, Naya mau kemana sama...." tunjuknya pada Andro yang sama-sama diam seperti Salman, karena obrolan ini hanya terjadi antara Kanaya dan Desi saja. Sementara dua lelaki itu diam, lebih memilih menjadi pendengar serta melihat ke sekeliling saja.


"Mau ke rumah juragan Wahid, teh."


"Oh, teteh denger Naya habis lamaran? Kemaren pada geger nyariin Kanaya satu kampung karena Naya kabur. Iya kan A? Aa sampe mau telfon polisi segala..." ujar Desi mengadukan kepanikan satu kampung disaat Kanaya tak ada.


Salman hanya berdehem mengusir rasa tak nyaman di tenggorokan kepergok khawatirin mantan, sementara Kanaya dan Andro saling melempar tatapan acuh tak acuh.

__ADS_1


"Kanaya bukan kabur teh, tapi main ke rumah calon mertua..." akuinya sukses membuat Salman melihat ke arahnya dengan alis menukik.


"Kamu mau nikah?" pertanyaan itu lolos dari mulut Salman setelah sekian lama diam.


Kanaya mengangguk, "mungkin besok bapak sama pak Akbar mau urusin surat-suratnya ke rumah rt, rw sekalian ke kelurahan..." tatapnya tegas.


"Sama siapa, pak Agung?" tanya Salman lagi, Desi sampai melihat suaminya yang begitu ingin tahu.


"Saya," jawab Andro singkat.


"Wah, undang-undang atuh Nay...di sini apa di Jakarta?" tanya Desi, Kanaha tersenyum meringis, "belum tau teh, Naya ngikut mas Andro aja,"


"Nay, keburu sore...mas ngga bisa lama-lama, kasian keluarga pada nunggu di rumah, pak Akbar juga pasti udah nunggu di rumah pak Wahid," ujar Andro menyudahi obrolan tak berfaedah ini.


"Iya. Kalo gitu Naya sama mas Andro pamit dulu a...teh.." pamitnya memegang kembali ujung kemeja Andro tanpa melihat Salman.


Obrolan pak Akbar dengan juragan Wahid sudah berjalan setengah jadi saat Andro dan Kanaya sampai.


Jika dulu saat bersama Salman, hubungannya terkesan diam-diam dan ditutup-tutupi, namun kini Kanaya patut berbangga diri, Andro tak sungkan menyebutnya calon istri, meskipun hampir seantero kampung tau siapa Kanaya, si kembang desa dengan sejuta mimpi ketinggian.


Tawar menawar berjalan lancar, tak butuh waktu lama untuk Andro dan juragan Wahid mengatakan kata sepakat. Dalam hitungan menit saja sejumlah uang sudah Andro transfer ke rekening juragan Wahid.


"Alhamdulillah."


Dengan bukti hitam di atas putih beserta materai, nama tanah siap dibalik namakan secepatnya. Kembali, Andro mempercayakan itu pada pak Akbar. Andro melirik arloji yang menunjukan pukul 4 sore. Langit disini menampakan bias kejinggan dengan rasa hangat menerpa kulit.


Gowesan di pedal sepeda Andro hentikan sejenak demi melihat beberapa petak sawah di depan yang terhampar, masih hijau memang...namun membuat mata sejuk. Ia turun barang sekejap untuk menghirup udara disini.


"Ini yang masih banyak rumput gajahnya, tanah yang barusan bapak beli?" tunjuk Naya ke samping sawah.


Andro mengangguk, bapak lagi! Tadi aja mas. Sekarang kenapa bapak lagi?!


"Pak," panggil Naya, matanya sendu kembali teringat dengan beban hatinya sejak kemarin.


"Hm?" Andro memutar badannya ke arah Naya.


"Maaf. Karena sikap bapak Naya yang kurang aj ar, pak Andro sekeluarga jadi kena imbasnya, kalau pak Andro merasa keberatan, Naya ikhlas jika nanti pak Andro menceraikan Naya....Naya sadar pak, ekspektasi keluarga bapak untuk calon pak Andro bukan di diri Naya, bukan gadis kampung yang ngga punya apa-apa dan ngga berpendidikan, Naya juga bakal ganti semua uang yang sudah pak Andro keluarkan untuk menyanggupi permintaan gila bapak."


Andro baru mengingat jika tadi saat lamaran Kanaya sempat tak tersenyum dan menunduk, apakah ini alasannya?


Andro memang tak memiliki pengalaman apapun tentang caranya menghibur seseorang, namun ia yakin dengan memegang tangan Kanaya, setidaknya ia bisa menyalurkan ketenangan untuk gadis ini. Maka diraihlah kedua tangan Kanaya ke dalam tangan besarnya.


"Saya tau ini akan terdengar arogan di telinga kamu, tapi memang seperti ini karakter saya Kanaya, saya tidak pernah bertele-tele dan banyak mengumbar janji atau penuh basa basi tak penting, dalam hidup hanya ada dua pilihan hanya iya atau tidak. Jika saya suka maka saya lakukan, jika tidak maka saya akan tolak mentah-mentah. Jika kemarin saya menerima permintaan bapakmu untuk menikahi putrinya dengan cepat maka itu artinya saya mau. Jika hari ini saya datang membawa keluarga melamarmu dan memintamu dengan mahar yang pantas maka saya mampu, dan jika besok saya benar-benar mengucap janji setia di depan Allah, maka saya menyukaimu...umur saya tidak lagi muda, bukan waktunya untuk bermain-main...suka atau tidak suka kamu harus menerima, karena saya tidak pernah menerima penolakan sebelumnya."


Kanaya menatap Andro dengan alis bertaut, sorot matanya masih nyalang nan getir, menunjukan sebuah keraguan.


"Bukalah lembaran baru, jadikan semua rasa sakit yang telah berlalu sebagai pengingat untuk mawas diri, seseorang tak akan melangkah maju jika terus terbayangi masa lalu... Otak manusia tidak diciptakan untuk melupakan, tapi untuk mengolah rasa sakit, kesalahan yang lalu menjadi pelajaran berharga untuk menjalani hidup ke depannya," Andro memangkas jarak diantara siluet hari yang semakin menguning, anak-anak rambut yang mencuat berterbangan menyapu pipi kemerahan Kanaya, memicu rasa tertarik Andro untuk mencoba menempelkan punggung telunjuknya ke permukaan pipi selembut kue moci Kanaya dan mengusapnya, jantung nya berdegup kencang diperlakukan se int im ini oleh seseorang yang bahkan belum lama dikenalnya, wajah itu semakin bersemu merah.


"Kamu bisa memulai dengan panggilan mas," tambah Andro, seketika bibir Kanaya terku lum geli.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2